
Meigui memperlambat larinya, tenaganya benar-benar terkuras habis setelah melawan puluhan pendekar yang mengejarnya.
Tubuh gadis tersebut terluka di beberapa bagian, noda darah hampir memenuhi tubuh Meigui, entah itu darahnya atau dari musuhnya. Tangan Meigui bergetar, selain melindungi dirinya sendiri, Meigui juga harus melindungi Ye Nian yang tentu membatasi tiap gerakannya, jika pertarungan terus berlanjut, bukan tidak mungkin jika Meigui akan tewas.
“K-Kakak ... ayo kita kembali,” rengek Ye Nian.
Meigui tidak menjawab dan melanjutkan langkahnya, sesuai perintah gurunya, Meigui tidak akan menoleh ke belakang apalagi kembali ke sekte hingga pertempuran berakhir.
Meigui membawa Ye Nian masuk ke hutan, setidaknya ia bisa bersembunyi untuk sementara waktu.
“Di sana!”
Meigui tersentak, segera menoleh ke asal suara, terlihat belasan pendekar dari Sekte Kabut berlari ke arahnya.
“Jangan remehkan aku.”
Meigui mengeluarkan beberapa jarum perak yang sudah dilapisi racun pelumpuh, gadis tersebut melempar jarum-jarumnya dan melangkah pergi.
Sebagian jarum beracun tersebut berhasil ditangkis, tapi sebagian juga berhasil mengenai para pendekar Sekte Kabut dan melumpuhkan mereka dalam waktu yang singkat.
Racun yang ada di jarum tersebut memang tidak cukup kuat untuk membunuh, tapi sudah cukup kuat untuk melumpuhkan Pendekar Tingkat Tiga selama beberapa menit.
Para pendekar yang tidak terkena jarum pelumpuh segera mengejar Meigui dan dalam waktu singkat sudah menyusulnya, sehingga pertarungan tidak bisa dihindari.
Selain jumlah, kekuatan Meigui jauh di bawah mereka, dalam beberapa serangan Meigui langsung saja terpojok dan kesulitan untuk menyerang balik.
Sebuah tebasan berhasil mengenai punggung Meigui, membuatnya jatuh ke tanah setelah pertarungan sengit.
Napas Meigui memburu, pandangannya juga mulai kabur karena kehilangan terlalu banyak darah.
“Matilah dengan tenang!”
“Ukh.”
Meigui memeluk erat tubuh Ye Nian yang bergetar karena ketakutan. Jika keduanya mati hari ini, Meigui hanya berharap jika ia mati terlebih dahulu sebelum Ye Nian.
Samar-samar Meigui mendengar para pendekar tersebut berbicara satu sama lain sebelum suara mereka menghilang. Namun, rasa sakit yang Meigui tunggu tak kunjung datang dan membuat gadis tersebut memberanikan diri untuk membuka matanya.
__ADS_1
Yang ia lihat pertama kali bukanlah pendekar Sekte Kabut yang mengepungnya dengan tatapan membunuh, melainkan seorang gadis dengan pedang berlumuran darah di tangannya.
“K-kau ... Nona Ruo?” Meigui bertanya dengan tatapan tidak percaya.
“Apa masih bisa berdiri?”
Meigui tidak menjawab, mulutnya ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya, gadis tersebut sudah begitu lelah setelah melawan puluhan pendekar sebelumnya.
Weiruo mengeluarkan botol pil dan mengeluarkan sebutir pil, tanpa aba-aba langsung memasukkan pil tersebut ke dalam mulut Meigui.
“Sudah lebih baik?”
Meigui mengangguk lemah, dapat ia rasakan jika luka-luka di tubuhnya sudah sedikit membaik setelah menelan pil yang diberikan Weiruo, tenaganya juga sedikit pulih sehingga Meigui dapat menggerakkan tubuhnya dengan lebih mudah.
Meigui melihat sekitar, pendekar-penndekar yang datang menyerangnya kini sudah terbaring tak bernyawa di atas tanah, noda darah juga berceceran di mana-mana. Namun, Meigui merasa aneh karena sebelumnya tidak menyadari kedatangan Weiruo, serta tidak terdengar suara pertarungan, tiba-tiba saja Weiruo sudah berada di hadapannya.
“Nona ... sekte kami diserang....”
Mata Meigui berkaca-kaca, ini adalah kali pertama gadis tersebut bersikap di hadapan orang yang terbilang asing seperti Weiruo. Meigui sudah lelah dan takut dengan semua yang terjadi sekarang.
“Da Feng sedang menuju sektemu.”
Ketiganya keluar hutan dan bergerak menuju Sekte Gunung Hijau. Sepanjang perjalanan Meigui banyak melihat jasad pendekar dari Sekte Kabut, gadis tersebut yakin jika sebelumnya ia tidak membunuh sebanyak itu.
“GROOAR!”
Meigui menghentikan langkahnya, raungan terdengar dari kejauhan, terlihat puluhan pendekar terlempar ke satu arah yang sama.
“Sepertinya dia melepas sedikit kekuatannya,” gumam Weiruo.
Mendengar itu Meigui hampir saja tersandung saking terkejutnya. ‘Sedikit’? membuat puluhan pendekar terlempar hanya sebatas ‘sedikit’ kekuatannya? Meigui tidak habis pikir seberapa kuat pengikut Weiruo, terlebih Da Feng yang pernah ia temui ketika Kompetisi Ahli Pil beberapa bulan sebelumnya.
Di sisi lain Zu Chong, pemimpin pasukan dari Sekte Kabut, hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan amarah melihat ratusan murid sektenya tewas dengan mudah di tangan dua sosok misterius yang muncul secara tiba-tiba.
Awalnya Zu Chong sudah merasa puas membasmi seluruh Sekte Gunung Hijau, tapi setelah mendapat informasi jika ada dua orang yang berhasil kabur Zu Chong segera memimpin pasukan untuk mengejar.
Namun, tidak disangka dua orang misterius muncul dan menghabisi pasukannya dengan begitu mudah. Satu per satu pendekar yang dibawanya tumbang tanpa bisa banyak melawan kedua sosok tersebut.
__ADS_1
Pasukannya terus berkurang, membuat Zu Chong muli berkeringat dingin.
“Tahan mereka!” perintahnya sebelum berbalik dan melangkah pergi.
Zu Chong tidak peduli dengan semua pasukan yang tersisa dan mundur seorang diri, lagipula dendam muridnya sudah terbalaskan.
“Tetua Zu!”
Seorang pemuda berteriak dengan lantang, merasa tidak rela jika Zu Chong pergi, ia bersama ratusan murid lain datang juga karena perintah Zu Chong, lalu pria tersebut meninggalkan mereka tanpa begitu saja tanpa peduli hidup mati mereka!
Belum sempat pemuda tersebut mengatakan kalimat selanjutnya, sebuah pedang sudah lebih dulu menembus dadanya.
Pedang kemudian dicabut, tubuh pemuda tersebut jatuh ke tanah dan darah mulai membasahi tanah di bawahnya.
Da Feng menatap pemuda tersebut sejenak sebelum beralih pada yang lain. Da Feng mengayunkan pedangnya tanpa banyak berpikir, menebas apapun yang ada di hadapannya.
Merasa mustahil untuk mengalahkan dua monster di hadapannya mereka, ratusan pendekar mundur secara teratur. Namun, Da Feng dan Shulong tidak membiarkannya begitu saja dan menghabisi sebanyak yang mereka bisa.
Dari lima ratus lebih pasukan dengan kesombongan mereka, kini tersisa hanya belasan saja yang berlari menyebar ke berbagai arah demi menghindari dua monster haus darah di hadapan mereka.
Da Feng ingin mengejar, tapi seseorang sudah menarik dirinya, memaksa pemuda tersebut untuk berbalik dna membatalkan niatnya.
“Sudah cukup! Lihat dirimu.”
Weiruo membersihkan darah yang mengotori hampir sebagian wajah Da Feng.
Da Feng segera sadar dengan kondisinya, pemuda tersebut menunduk dan melihat penampilannya. Pakaian yang basah karena darah, bau anyir juga tercium kuat dari seluruh tubuhnya.
“Maaf!” Da Feng menggaruk kepalanya dan tersenyum lebar seperti orang konyol.
Weiruo tersenyum tipis, ia tahu jika Da Feng bisa secara tidak sadar bertarung dengan seluruh kemampuannya dan tidak peduli dengan sekitar bak mesin pembunuh, jadi Weiruo kadang harus mengawasinya.
Sama seperti dirinya yang dulu, sosok dirinya yang sudah lama tidak Weiruo tunjukkan.
***
__ADS_1
...(Weiruo)...