
Weiruo mengamati keempat pil di tangannya, Weiruo menebak jika semua pil tersebut setidaknya memiliki kualitas menengah dilihat dari warnanya.
Setelah membereskan bahan pil yang berserakan, Weiruo mengambil posisi bersila dan menelan satu butir pil. Pil tersebut perlahan mencair di dalam mulut Weiruo dan dengan segera Weiruo mulai merasakan energi menarik energi alam di sekitarnya.
Setengah jam kemudian Weiruo kembali membuka matanya, gadis tersebut bisa merasakan jika tenaga dalamnya kembali dipulihkan berkat pil energi barusan.
Weiruo beranjak dari tempatnya, tiga pil yang tersisa akan ia simpan untuk berlatih nanti malam.
“Yinyi, aku ingin menemui Ibu, pastikan sudah ada air hangat untukku mandi ketika aku kembali,” ucap Weiruo pada Yinyi yang sedari tadi berada di depan kamarnya.
“Baik, Nona.”
***
“Nona, racun adalah hal yang cukup tabu di kekaisaran, tidak bisa menjualnya sembarangan,” ucap seorang pria paruh baya yang tengah berbicara dengan Weiruo.
Weiruo mendengus kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa jika alasannya demikian.
Karena tidak bisa menemukan apa yang ia inginkan, Weiruo akhirnya pergi ke Balai Obat, di mana koleksi bahan pil jauh lebih lengkap.
“Rumput hati, akar bunga embun,...,” Weiruo membaca daftar barang yang akan ia beli.
Antrean masih begitu panjang, mungkin akan memakan waktu hampir setengah hari untuk Weiruo karena hanya ada 2 barisan antrean di dalam Balai Obat, gadis tersebut tidak habis pikir karena tempat seramai ini hanya memiliki 2 meja pelayanan.
‘Tunggu, seharusnya ada sepuluh.’
Weiruo membaca ulang daftar bahan obat di tangannya dan menyadari ada satu barang yang terlewat sehingga Weiruo harus mengingat bahan apa yang diperlukannya sebelum pergi tadi.
“Kyaa!”
Sebuah teriakan menarik perhatian semua orang, dengan cepat mereka melihat ke satu arah dan mendapati seorang pemuda tengah mengarahkan belati ke leher seorang gadis.
‘Apa dia gila?’ pikir Weiruo, tidak ada orang yang cukup gila untuk mencari masalah di Balai Obat yang jelas memiliki nama di ibukota.
“Kalian semua beri aku jalan!” ucap pemuda tersebut dengan lantang.
Para pengunjung langsung membukakan jalan, pemuda tersebut meminta seorang karyawan mengambil bahan obat entah apa, Weiruo tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena jaraknya cukup jauh.
Gadis yang tengah menjadi sandera terlihat ketakutan dan mulai meneteskan air mata.
“Diam!” bentak pemuda tersebut sembari mendekatkan belatinya ke leher gadis tersebut.
Weiruo berjalan keluar dari kerumunan, kemudian dengan cepat melempar sebuah pisau kecil ke arah pemuda tersebut.
__ADS_1
Merasakan ada serangan datang, pemuda tersebut segera menangkis pisau kecil yang dilempar Weiruo, di saat bersamaan Weiruo menarik gadis yang menjadi sandera tersebut ke arahnya.
Weiruo melancarkan sebuah pukulan yang langsung mengarah ke wajah pemuda tersebut, membuatnya langsung terpental cukup jauh.
‘kemampuannya cukup buruk,’ ejek Weiruo dalam hatinya.
Pemuda tersebut segera bangkit dan menyerang Weiruo, tapi Weiruo berhasil menghindari tiap serangan dengan cukup baik.
Tiba-tiba suara yang Weiruo kenali menghentikan keributan di Balai Obat, Weiruo menoleh dan mendapati Panglima Gong berlari ke arahnya.
Dengan cepat Panglima Gong melumpuhkan pemuda tersebut. Segera beberapa prajurit datang dan mengamankan pemuda tersebut, gadis yang sebelumnya menjadi sandera juga sudah aman berkat Weiruo.
“Nona, kau sungguh berani,” puji Panglima Gong.
Weiruo hanya mengangguk, tidak berani berbicara, seorang panglima perang seperti Panglima Gong tentu bisa mengenali suaranya jika Weiruo berbicara.
“Pembuat onar itu akan dikurung di penjara istana, mungkin akan mendapat hukuman berat karena menggunakan racun. Jika boleh tahu apakah aku bisa mendengar kejadiannya darimu?” Panglima Gong bertanya.
Weiruo tidak berbicara, hanya menggunakan isyarat tangan untuk menolak Panglima Gong.
“Ah, maafkan aku, aku tidak tahu....”
Weiruo hanya mengangguk, karena masalah pembuat onar sudah beres, Weiruo segera membeli bahan yang ia butuhkan.
***
Panglima Gong sedikit terkejut dengan ucapan Weiruo karena keributan di Balai Kota tidak terlalu ramai dibicarakan hingga sampai di telinga anggota kerajaan.
“Ya, Tuan Putri, tapi sudah berhasil ditangani.”
“Dia sungguh berani, aku ingin tahu seperti apa wajah orang penuh nyali itu.” Weiruo menatap Panglima Gong dengan tatapan penuh arti.
Yang diajak bicarapun seolah mengerti dan menolak Weiruo dengan halus. “Tuan Putri, pembuat onar itu sepertinya membawa racun, kami belum memeriksanya sehingga takut jika nanti dia melukai anda.”
“Tenang saja Panglima, aku memastikan jika dia tidak akan melukaiku,” ucap Weiruo berusaha meyakinkan Panglima Gong.
“Ayah, lihatlah...,” adu Weiruo pada Xuan Guoxin.
“Rou’er, Panglima Gong benar, dia mungkin saja bisa melukaimu.”
“Aku mau pergi!”
Weiruo nampak kesal dan berusaha untuk membujuk ayahnya, dia jauh-jauh datang ke ruang kerja Xuan Guoxin hanya untuk ini.
__ADS_1
Rasa penasaran Weiruo tentang racun kembali membara ketika mendengar pembuat onar di Balai Obat sebelumnya menggunakan racun, tentu saja Weiruo harus mencari tahu tentang racun yang dipakai.
“Jika Ayah mengizinkan akan kuberi sebuah hadiah.”
“Ruo’er ... tidak bisa.”
“Baiklah.”
Weiruo berbalik dan pergi begitu saja tanpa berbicara lebih panjang lagi, tentu saja gadis tersebut kesal karena penolakan dari ayahnya.
***
Sesosok bayangan melesat dari balik pohon, wilayah barat istana adalah wilayah yang jarang dikunjungi karena menjadi area penjara. Biasanya tahanan di tempat tersebut adalah tahanan dari keluarga kerajaan sendiri, jika ada tahanan dari luar akan dipindah dalam beberapa hari setelah mendapat putusan hukuman dari kaisar.
Dari pintu masuk penjara, terlihat seorang penjaga tengah tertidur, dengan cepat sosok tersebut memasuki penjara tersebut.
“Cih, meminta izin hanyalah keformalan,” gerutu Weiruo.
Sel tahanan berada di bawah tanah, Weiruo dituntun cahaya dari obor segera turun ke lantai bawah dan mencari orang tadi siang.
Setelah cukup lama mencari karena banyaknya sel di sana, Weiruo akhirnya menemukan apa yang dia cari, terlihat pemuda tengah duduk bermeditasi di sudut selnya.
“Hei, kau,” panggil Weiruo pelan.
Pemuda tersebut membuka matanya dan mendapati Weiruo yang berdiri di depan sel.
“Apa kau memiliki racun? Aku membutuhkannya.”
Weiruo melihat pemuda tersebut tidak meresponnya, malah kembali bermeditasi.
“Sepertinya luka di perutmu sulit sembuh.”
Weiruo tersenyum tipis, sedangkan pemuda tersebut langsung membuka matanya dan mendekat ke arah Weiruo dengan cepat.
“Kau ... dari mana kau mengetahuinya?” tanya pemuda tersebut waspada, tidak ada orang lain yang mengetahui hal ini selain dirinya dan satu orang yang menjadi musuhnya.
“Kau melupakanku?” Weiruo mengeluarkan belati miliknya.
Pemuda tersebut terkejut melihat belati di tangan Weiruo, belati tersebut sama seperti yang dipakai sosok yang menghentikan ulahnya tadi siang.
Namun, pemuda tersebut tidak yakin karena weiruo terlihat seperti gadis bangsawan polos yang bahkan tidak tahu cara mengangkat pedang.
“Kau juga terkena racun, kan?”
__ADS_1