Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 77-Ingatan Masa Lalu


__ADS_3

Angin yang begitu kencang berputar disekitar sebuah bangunan. Dari kejauhan Weiruo melihat angin kencang tersebut dengan teliti.


Sudah hampir dua minggu sejak Da Feng memasuki latihan tertutup untuk memasuki tingkat yang lebih tinggi.


Untuk menjadi Pendekar Roh membutuhkan proses yang tidaklah sebentar. Seorang pendekar akan memasuki dunia bawah sadar untuk membentuk roh bela diri mereka.


Sebenarnya Weiruo sudah bisa memasuki tahap Pendekar Roh. Namun, ia merasa sedikit tidak yakin dengan fondasi tenaga dalamnya.


Weiruo kemudian beralih pada Laohua yang sibuk memakan manisan di sampingnya.


Selain pendekar manusia, pendekar dari ras siluman juga dapat membentuk roh bela diri, Shema contohnya, wanita tersebut memiliki roh bela diri berwujud ular putih besar.


“Nona mau ke mana?” tanya Laohua.


“Aku harus menyambut keberhasilannya.” Weiruo tersenyum tipis dan melompat keluar lewat jendela.


Angin yang begitu kuat sempat mendorong Weiruo untuk mundur. Namun, sesaat kemudian angin tersebut menjadi cukup tenang dan menghilang sedikit demi sedikit.


Tidak ada suara dalam beberapa saat, sebelum akhirnya pintu dibuka perlahan dan nampaklah Da Feng dari balik pintu.


“Bagaimana? Apa berjalan lancar?” tanya Weiruo menyambut Da Feng.


“Ya ... lihat ini!”


Aliran energi mengitari Da Feng, perlahan membentuk wujud seekor ular raksasa yang mengitari mereka berdua. Ular tersebut menggosokkan kepalanya manja pada Da Feng.


Walaupun hanya sebatas roh, interaksi ular tersebut dengan Da Feng terlihat begitu akrab.


“Bagaimana pencarianmu?” Da Feng menarik energinya dan bertanya tiba-tiba.


“Tidak ada perkembangan. Mungkin dia tidak ingin keberadaannya diketahui.”


Weiruo sedikit murung, sudah begitu lama mencari. Namun, tidak sedikitpun ia temukan keberadaan Xing Jinzi. Dua minggu berlalu sejak hilangnya wanita tersebut, entah apa yang terjadi padanya di luar sana.


...***


...


“Kunjungan Kaisar?”


“Benar.” Xuan Riuyi menyeruput teh hangat di cangkirnya. Seperti biasa senyum wanita tersebut begitu menenangkan bagi Weiruo.


Kunjungan Kaisar adalah acara rutin yang selalu dilakukan tiap setahun sekali oleh kaisar. Tujuan Kunjungan Kaisar tidaklah selalu sama tiap tahun, tahun ini ayahnya akan mengunjungi satu kota di wilayah barat.


“Ayah, tolong berhati-hati, bawa banyak pengawal bersama anda.”

__ADS_1


“Tentu, Putriku!”


Weiruo membetulkan rambutnya, gadis tersebut berpamitan ada kedua orang tuanya karena akan melakukan latihan tertutup dalam jangka waktu lama.


Akhirnya setelah penantian yang cukup lama, Weiruo merasa jika fondasi tenaga dalamnya cukup kuat untuk membentuk roh bela diri.


Weiruo tidak perlu merasa khawatir membiarkan ibunya pergi tanpa dirinya, toh ayahnya tidak mungkin membawa prajurit biasa untuk mengawal mereka, pastinya Panglima Gong akan menjadi bagian dalam pengawalan itu.


Yinyi akan ikut bersama mereka, dia akan membantu permaisuri menyiapkan apapun yang dibutuhkan selama perjalanan nanti.


Weiruo kembali ke tempat pelatihan. Karena akan melakukan latihan tertutup, gadis tersebut memberikan beberapa teknik berpedang pada murid-muridnya.


Perkembangan latihan dari Ying cukup baik, dia gadis yang cerdas, setiap penjelasan yang diberikan oleh Weiruo akan ia ingat dengan baik dan dilatih puluhan kali hingga benar-benar menguasainya.


Da Feng mendampingi gadis tersebut hingga tiba di pintu tempat latihan tertutup.


“Berhati-hatilah,” pesan Da Feng sambil menggaruk kepalanya.


“Tentu.”


Weiruo melangkah masuk, kemudian Da Feng menutup pintu ruang kecil tersebut.


Ruangan sederhana dengan penerangan di tiap sudut dari batu cahaya.


Dalam beberapa menit pertama Weiruo hanya duduk bersila diam di tengah ruangan, hanya ada keheningan. Namun, Weiruo bisa merasakan kehadiran seseorang di balik pintu yang ada di hadapanny sekarang.


Weiruo mengumpulkan tenaga dalamnya ke satu titik kemudian mulai memejamkan matanya dan memasuki alam bawah sadar.


Weiruo kembali membuka matanya, pandangannya hanya sebatas ruang hitam tanpa batas dengan ratusan bahkan mungkin ribuan cahaya yang terus bergerak. Tubuhnya melayang dan bercahaya, Weiruo berputar melihat ke sekitar. Namun, tidak menemukan petunjuk apapun tentang roh bela diri akan ia bentuk.


Semua cahaya di sekitar Weiruo terus bergerak tanpa arah, mereka seperti cahaya di langit malam yang gelap.


Karena penasaran, Weiruo menyentuh satu cahaya yang berada di dekatnya. Begitu bersentuhan dengannya, cahaya tersebut melesat pergi menjauhi Weiruo.


“Apa kalian sedang bermain kejar-kejaran?”


Weiruo bergerak mengikuti cahaya-cahaya yang terus bergerak tersebut, ia merasa begitu bebas terbang ke manapun yang ia mau.


Ia teralihkan dengan kesenangannya mengikuti para cahaya, hingga tak menyadari ada satu cahaya putih yang terus mengejarnya.


Weiruo mengamati cahaya putih tersebut, ia berputar mengitari Weiru sebelum bergerak perlahan menjauhinya.


Weiruo mengikutinya, ke manapun cahaya tersebut pergi, ia mengikuti tepat di belakangnya.


Keduanya saling mengejar cukup lama hingga akhirnya Weiruo berhasil mengimbangi kecepatan gerak cahaya kecil tersebut.

__ADS_1


Tangan Weiruo terulur meraihnya, ketika tangannya bersentuhan dengan cahaya tersebut, secara tiba-tiba cahaya putih di hadapannya itu bersinar semakin terang dan semakin membesar, memaksa Weiruo untuk memejamkan matanya.


Sesaat kemudian Weiruo kembali membuka matanya. Gadis tersebut tersentak kaget melihat pemandangan di hadapannya.


Seorang gadis kecil, tubuhnya kurus mungil tertutup pakaian yang nampak lusuh.


‘Dia ... bagaimana bisa?’


“Kau! Berhenti!” panggilnya.


Namun, gadis kecil tersebut tidak menggubris panggilan Weiruo dan terus berjalan dengan tas berat di pelukannya.


“T-Tidak! Jangan ke sana!”


Weiruo mengejar gadis kecil tersebut, tangan kanannya berusaha meraih tubuh gadis kecil di hadapannya secepat mungkin. Sayangnya, tangan Weiruo hanya menembus melewati gadis kecil tersebut.


“Ah ... ini ... ingatanku?”


Dengan langkah kecil Weiruo mengikuti gadis kecil tersebut, yang tak lain adalah dirinya sendiri, jauh sebelum dirinya yang sekarang.


Weiruo kecil berjalan melewati gang-gang kumuh menuju rumahnya, tangan mungilnya memegang tas berat berisi botol-botol minuman keras yang ia beli dari toko sebelumnya.


“Sudah sampai ... di rumah?”


Weiruo menembus dinding, mengikuti Weiruo kecil ke ruang tamu. Di sana seorang pria terbaring mabuk di kursi dengan kondisi yang sangat acak-acakan.


“Ayah, ini minumannya!” ucap Weiruo kecil sambil menyerahkan tas berat di tangannya.


“Hmm?” pria tersebut membuka matanya.


Tubuhnya tinggi kurus, ketika berdiri terlihat sedikit menakutkan karena tubuhnya agak bungkuk dengan rambut gondrong yang tidak terawat.


Pria tersebut meraih tas yang diberikan oleh Weiruo kecil. Tangannya menarik keluar satu botol minuman di dalamnya, begitu melihat label motol tersebut, raut wajahnya segera memburuk.


“Kenapa kau membeli ini? Aku tidak memerintahkanmu untuk membeli ini!” bentaknya.


“U-uh....”


“Dasar bodoh!”


Weiruo kecil menunduk ketakutan, tangan mungilnya bergetar. Sedangkan itu di sisi lain Weiruo hanya bisa melihat dari sudut rungan.


Dia ingat kejadian ini, setelah ini dirinya yang lain akan keluar tengah malam untuk kabur dari amukan ayahnya, dia masih ingat dengan jelas kejadian itu.


Makian terus keluar dari mulut pria tinggi tersebut, yang berakhir dengan sebuah gelas kaca yang dihantam langsung ke kepala Weiruo kecil.

__ADS_1


Pria tersebut kemudian pergi dengan mulut yang terus menggerutu, sedangkan Weiruo kecil bersusah payah memunguti pecahan gelas kaca yang berceceran di lantai.


Weiruo menatapnya dalam diam. Apa dia dulu semenyedihkan itu? Gadis tersebut berjalan mendekat, tangannya berusaha mengelus pucuk kepala gadis kecil di hadapannya itu. Namun, tangannya langsung melewati tubuh kecil di hadapannya. Sekeras apapun ia mencoba, hasilnya tetap sama, ini hanya sebatas ingatan, tidak ada yang bisa ia lakukan selain melihat.


__ADS_2