
“Tidak bisakah kau bekerja lebih cepat? Aku sedang terburu-buru!” teriak seorang pria tua pada seorang pemuda di hadapannya.
“Tutup mulutmu itu! Aku berusaha secepat mungkin mengambil puluhan tanaman obat yang kau pesan dasar pak tua!” pemuda tersebut merasa tidak terima dan membentak balik pria tua di hadapannya.
“Apa tempat ini begitu buruk dalam mencari pekerja?” keluh pria tua tersebut.
“Maafkan pekerja kami, Tuan. Dia baru saja bekerja beberapa hari.” Shema datang melerai keduanya.
“Huh! Cepat ambilkan saja semua pesananku!”
“Tuan Da Feng, biar aku saja,” bisik Shema.
Da Feng mengumpat dalam hatinya. Akhir-akhir ini Da Feng merasa bosan karena terus-terusan berlatih sehingga iseng melayani pembeli yang datang, tidak disangka dirinya malah bertemu dengan pria tua tidak sabaran yang membuat emosinya naik.
Selama seminggu ini Da Feng tidak menemukan keberadaan anggota Sekte Teratai Emas di sekitar mereka, artinya Laohua akan aman dalam waktu dekat.
Da Feng pergi keluar dari Balai Obat dan masuk ke restoran kecil yang berdiri tepat di samping Balai Obat.
“Bawakan aku arak, tidak usah yang terlalu mahal.”
Gadis pelayan segera pergi setelah Da Feng menyebutkan pesanannya, tidak lama segera kembali dengan sebotol arak.
Da Feng menuang arak ke cangkir, sesaat menatap pantulan dirinya dari cangkir kecil tersebut.
“Gadis gila, kapan kau kembali.”
Arak di cangkir kecil tersebut habis dalam satu tegukan. Da Feng memang menghabiskan waktunya untuk berlatih, tapi pikirannya terus memikirkan keadaan Weiruo. Apa yang harus ia katakan pada permaisuri jika Weiruo tidak kembali? Da Feng frustasi memikirkan hal itu.
“Hum?”
Da Feng memperhatikan kerumunan, merasa melihat sesuatu. Tidak lama Da Feng beranjak dari tempatnya.
Sekeping emas ia lemparkan ke gadis pelayan yang melayaninya sebelumnya, gadis tersebut berusaha menghentikan Da Feng karena yang dibayar terlalu banyak, tapi Da Feng tidak peduli dan pergi begitu saja.
“Gadis gila!” teriaknya.
Seorang di antara kerumunan menghentikan langkahnya ketika mendengar panggilan Da Feng, ia sedikit membuka penutup kepalanya dan menyadari jika Da Feng sudah berada tidak jauh darinya.
Belum sempat gadis tersebut membuka mulutnya, Da Feng sudah menggenggam erat kedua bahunya, mengguncanganya pelan sembari melontarkan begitu banyak pertanyaan.
__ADS_1
“Gadis gila, kemana saja kau selama ini? Kenapa begitu lama? Apa kau terluka? Aku harap kau baik-baik saja, ayahmu akan membunuhku jika kau mati.”
Weiruo tertawa kecil melihat sikap Da Feng. Padahal biasanya Da Feng akan bersikap menyebalkan dan kurang sopan santun, tidak menyangka Da Feng memiliki sisi seperti itu.
“Ayo kembali.”
Da Feng mengikuti Weiruo, sesekali melirik tajam pada Shulong yang berjalan beberapa langkah di belakang mereka.
Sesampainya di balai Obat Weiruo disambut oleh Shema, Qi Jia, serta Laohua. Setelah menenangkan Laohua, Weiruo mengajak Da Feng untuk berbicara.
Shulong akhirnya bertemu dengan Laohua dan Chie, akhirnya penantiannya selama ratusan tahun untuk bertemu semua teman-temannya sedikit demi sedikit mulai terkabul.
Weiruo dan Da Feng berbincang di ruang pribadi miliknya. Semua yang terjadi pada Sekte Teratai Emas ia ceritakan pada Da Feng, sepanjang Weiruo bercerita Da Feng mendengarkan dengan baik, cangkir di tangan pemuda tersebut pecah setelah Weiruo menjelaskan alasan Ca Hongqi menculik Laohua.
“Seharusnya dia menelan Racun Penghancur Tulang,” ujar Da Feng.
***
Kembalinya Weiruo dengan selamat bersama dengan Laohua membuat Xuan Riuyi begitu bahagia, tak hentinya wanita tersebut mengecup wajah Weiruo saking khawatirnya.
Xuan Guoxin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya mengetahui jika Weiruo pergi ke Kekaisaran Huangjin tanpa ada pengawalan, belum lagi memasuki wilayah musuh.
Weiruo duduk di samping ibunya, hanya diam ketika wanita tersebut mengelus kepalanya dengan lembut. Bukan dia tidak bisa pergi, Weiruo merasa begitu nyaman sehingga tetap seperti itu begitu lama.
Da Feng melihat sekitar kebingungan. Tidak ada orang lain selain mereka bertiga, dengan penuh tanda tanya di wajahnya Da Feng menunjuk dirinya sendiri.
“Benar, kemarilah anak laki-lakiku yang tampan.”
Dengan ragu Da Feng mendekatkan dirinya pada Xuan Riuyi, pemuda tersebut duduk di samping Xuan Riuyi dengan agak ragu.
“Terima kasih sudah menjaga putriku, kau sudah bekerja keras.”
Sebuah belaian penuh kasih, mengalirkan sebuah kehangatan yang tidak pernah sekalipun Da Feng rasakan seumur hidupnya. Tubuhnya membeku untuk sesaat, pemuda tersebut hanya menundukkan kepalanya dan tidak berani mengangkat kepalanya sedikitpun.
Malam harinya Weiruo berlatih di ruangan miliknya, sedangkan Da Feng sibuk berlatih di halaman belakang kediaman Weiruo.
Da Feng mengayunkan pedangnya tanpa ragu, membelah udara kosong, tiap ayunan pedangnya mengandung energi dalam yang terus dialirkan oleh Da Feng ke dalam pedangnya.
Gerakan Da Feng terus berlanjut dan semakin lama ayunan pedangnya semakin cepat.
__ADS_1
“... Feng.”
“Da Feng!”
Pedang Da Feng berhenti diayunkan. Deru napas Da Feng terdengar jelas di halaman tersebut, peluh keringat membasahi pelipisnya. Dengan kasar pemuda tersebut menyeka peluh keringatnya dan menghampiri Weiruo.
“Ada apa? Ingin mencari resep racun?” tanya Da Feng.
“Tidak, ayo kita berlatih pedang bersama.”
Weiruo mengeluarkan pedangnya setelah berkata demikian. Da Feng hanya menghembuskan napas pelan sebelum mengikuti Weiruo.
Keduanya saling menyiapkan kuda-kuda sebelum mulai bertukar serangan, dentingan pedang yang beradu mulai memenuhi kediaman Weiruo di tengah heningnya malam.
Berbeda dengan serangan Da Feng yang mengandalkan kekuatan serangan, Weiruo memiliki serangan yang jauh lebih cepat dan mengincar titik vital lawan.
Da Feng menangkis tiap serangan yang datang, tapi lama kelamaan pemuda tersebut muai kewalahan menghadapi serangan Weiruo.
“T-tunggu! Berhenti! Apa kau mau membunuhku?!” teriak Da Feng panik.
Da Feng berhasil membelokkan serangan Weiruo, di saat bersamaan gadis tersebut menghentikan serangannya.
“Kau selalu mengincar jantungku, apa kau berencana membunuhku?” geram Da Feng.
“Aku hanya ingin melihat responmu ketika musuh mengincar jantungmu.”
Da Feng mendengus kesal mendengar jawaban Weiruo. Tujuan Weiruo tidak ada salahnya, melihat respon Da Feng terhadap serangan yang datang, tapi di saat bersamaan Da Feng juga tidak berekspetasi jika Weiruo berniat seperti itu.
Weiruo menyarungkan kembali pedangnya dan menyimpan pedang tersebut ke dalam cincin ruang. Gadis tersebut berjalan ke bawah pohon besar dan duduk di atas batu tepat di bawah pohon tersebut.
“Kemari, aku ingin berbicara.”
Suasana begitu hening, Weiruo dan Da Feng hanya duduk bersebelahan tanpa berbicara, sama-sama melihat langit malam yang dipenuhi bintang.
Weiruo menoleh, memperhatikan Da Feng yang masih mendongak melihat bintang-bintang di langit.
“Langitnya indah,” ucap Da Feng tiba-tiba, pemuda tersebut menyadari gerak-gerik Weiruo.
“Ya. Feng ... boleh aku bertanya satu hal?”
__ADS_1
“Apa?”
“Apa hubunganmu dengan Lembah Darah?”