
“Arrgh!”
Satu per satu pendekar Sekte Laut Darah tumbang di sepanjang jalan yang Weiruo lewati. Tidak ada ampun, Weiruo terus menebas musuh di hadapannya tanpa berpikir dua kali.
Trang
Pedang Weiruo ditahan, seorang pendekar muda menghalangi jalan Weiruo dan menangkis tiap serangan yang dilancarkan dengan mudah.
“Kau kuat! Sepertinya kau Tetua baru,” ucap pemuda tersebut.
Weiruo tidak menjawab dan melancarkan serangan lain, tapi berhasil dihindari oleh pemuda tersebut. Dia melangkah ke belakang menghindari tebasan Weiruo sebelum tertawa lepas.
“Sepertinya pertarungan ini akan menarik!”
Aura membunuh langsung menyerang Weiruo, tapi gadis tersebut bergeming tak sedikitpun terpengaruh dengan kuatnya energi yang dikeluarkan oleh pemuda di hadapannya itu.
Tangan Weiruo menggenggam erat pedangnya, hari ini tujuannya datang adalah membunuh Gun Donghai, tak peduli siapapun yang menghalanginya, Weiruo akan tetap pada tujuannya. Siapapun itu akan ia hadapai tak peduli jika harus kehilangan nyawanya nanti.
Pemuda tersebut menyeringai dan melompat ke arah Weiruo, ia berputar mengayunkan kedua belati di tangannya.
Weiruo menangkis serangan itu, tubuhnya sedikit terdorong mundur karena tiap tebasan yang dilancarkan padanya mengandung energi yang begitu kuat.
“Gadis cantik! Aku suka menebas gadis cantik!” celotehnya penuh kegembiraan.
Weiruo menangkis belati pemuda tersebut, kemudian menebas tepat ke arah lehernya.
Namun, serangan Weiruo berhasil ditahan olehnya. Pemuda tersebut tersenyum, terus menyanyikan lagu aneh yang membuatnya senang.
Weiruo menangkis anak panah yang melesat ke arahnya, di saat bersamaan melemparnya jarum beracun ke arah seorang wanita yang memanah dari kejauhan.
“Jangan berpaling dariku!” kesal pemuda tersebut melihat Weiruo yang melihat arah sekitar.
Weiruo menghindari terjangan pemuda tersebut, tak berhenti sampai di situ saja, pemuda tersebut langsung memutar menebas ke arah Weiruo.
Suara dentingan pedang dan belati yang saling beradu, pemuda tersebut menyeringai bahagia melihat Weiruo yang kesulitan menghadapinya.
Serangannya cepat dan mematikan, pemuda tersebut merupakan tetua termuda sepanjang sejarah Sekte Laut Darah, kemampuannya sudah tidak usah diragukan lagi.
Satu serangan meleset, Weiruo menginjak belati tersebut hingga tenggelam di tanah, kaki kanannya langsung saja menendang pemuda tersebut hingga terpental jauh darinya.
“Belati yang bagus, bahkan lebih baik dari Belati Bintang Kembar.”
Weiruo memperhatikan ukiran di atas belati tersebut, terlihat mengerikan, tak menutupi apa fungsi belati tersebut.
__ADS_1
“Kau pikir aku akan melemah kehilangan satu belati?” pemuda tersebut segera bangkit.
Ia mengeluarkan belati lain. Sebuah belati dengan mata belati berwana hitam kemerahan. Pedang tersebut tidak terlihat ditempa dengan rapi sehingga ujung tajam belati tersebut tidaklah rata dan terlihat seperti telah terkikis.
Namun, justru bagian itulah yang ditakuti. Weiruo hanya melihat sekilas, tapi tahu betul jika rasa sakit yang dihasilkan dari belati tersebut dapat berkali-kali lipat dari belati biasa.
Pemuda tersebut menjilat belati tersebut dengan seringai tajam.
Weiruo bersiap, ia dapat merasakan sedari tadi pemuda di hadapannya itu tidak serius menghadapinya. Mustahil Weiruo dapat mengalahkannya tanpa luka serius, ditambah ia juga harus menyimpan tenaganya untuk menghadapi Gun Donghai nanti.
“Biarkan aku mencabik kulitmu!”
Pemuda tersebut melepaskan energi yang begitu besar dan menunjukkan roh bela diri berwujud belalang sembah.
Matanya merah menyala, kedua kaki depannya terbuka dan tertutup beberapa kali. Tubuhnya sedikit membungkuk, membiarkan pemuda tersebut mengelus kepalanya.
“Tenanglah Xiayu, aku masih bisa mengatasi ini,” bisik Weiruo.
Energi milik Xiayu akhirnya sedikit lebih tenang sesuai perintah Weiruo.
Gadis tersebut melirik sekitar, semua pendekar di sekitar mereka sebelumnya kini menjauh akibat kuatnya energi yang dikeluarga oleh pemuda di hadapannya itu.
Belalang sembah tersebut menatap Weiruo tajam. Duri-duri tajam yang menghiasi sekujur tubuhnya membuat sosoknya terlihat mengerikan, belum lagi kaki depannya terlihat begitu tajam tak ubahnya ujung pedang.
Weiruo menghindari serangan-serangan itu. Namun, sekalipun berhasil menghindar, Weiruo juga harus menghadapi pemuda tersebut di saat bersamaan.
Tidak banyak informasi yang Weiruo dapatkan tentang sosok pemuda di hadapannya ini. Namun, banyak berita beredar tentang seornag tetua baru yang menjadi tetua termuda sepanjang sejarah.
Kabarnya usianya bahkan belum genap 25 tahun, tapi kemampuannya setara dengan sebagian tetua di Sekte Laut Darah.
Sebuah luka sayatan berhasil Weiruo terima di lengan kirinya. Darah segera mengalir menetes ke atas tanah.
Pemuda tersebut tertawa dan menyeringai bahagia. Ia menjilat darah Weiruo yang ada di belatinya sebelum tertawa lepas.
“SANGAT MANIS!” ucapnya girang.
Weiruo segera menghentikan pendarahannya, luka tersebut tidaklah terlalu berarti baginya. Ia sudah terbiasa dengan luka, dirinya bahkan masih bisa tersenyum di ambang kematian.
Kematian bukanlah ancaman baginya, dia tidak takut mati, sudah berapa kali gadis tersebut hampir saja bertemu ajal dan kembali membuka matanya, bersikap tak pernah terjadi sesuatu padanya.
Pertarungan kembali berlanjut, pemuda tersebut semakin brutal menyerang sehingga sedikit demi sedikit luka mulai muncul di tubuh Weiruo.
“Uhuk!”
__ADS_1
Weiruo terbatuk pelan, darah menetes ke tanah, Weiruo mengusap bibirnya yang penuh darah tersebut dengan cepat.
“Hahaha! Racunnya bekerja!” tawanya lepas, pemuda tersebut berputar kegirangan melihat Weiruo yang telah terkena efek racunnya.
Tidak menunggu waktu lebih lama, pemuda tersebut melesat maju dan berhasil memukul mundur Weiruo.
Weiruo berusaha bangkit, tapi pemuda tersebut sudah lebih dulu melancarkan serangan keduanya. Tidak sempat melawan, Weiruo kembali terlempar dan terbaring di tanah.
Pemuda tersebut meraih leher Weiruo dan mengangkat tubuhnya dengan paksa.
“Gadis cantik, jadilah bonekaku!” ucapnya.
“Hahahakh—“
Pemuda tersebut memuntahkan darah dalam jumlah yang tidak sedikit, tubuhnya lemas seketika dan langsung jatuh berlutut ke tanah. Roh spitiualnya segera menghilang begitu pemuda tersebut kehilangan kendali atas dirinya.
“K-kau!”
“Kau pikir hanya dirimu yang memiliki racun di dalam senjata?”
Weiruo menunjukkan pedangnya, sebuah garis kehijauan terlihat sepanjang mata pedang. Semua itu adalah racun, dan pemuda tersebut telah terkena tebasan tidak hanya satu kali.
“Kau juga harus mengontrol diri agar tidak meminum darah orang lain,” bisik Weiruo sembari tersenyum tipis.
“Kau! Darahmu—“
Belum sempat kalimatnya selesai, Weiruo sudah lebih dulu memenggal kepala pemuda tersebut. Kepalanya jatuh menggelinding di tanah.
Kematian pemuda tersebut mengejutkan semua orang, mereka menatap tubuh tanpa kepala tersebut penuh rasa ngeri. Para pendekar dari Sekte Laut Darah yang melihat itu lebih memilih menghindari Weiruo daripada langsung melawannya.
Weiruo mendecih pelan, keberadaan Gun Donghai menghilang karena dirinya terlalu fokus ada pertarungannya dengan pemuda tersebut.
Dengan penuh rasa kekesalan akhirnya Weiruo melanjutkan langkahnya mencari Gun Donghai.
“Akh! Sial, tahan dia!”
Dari kejauhan mendengar keributan, gadis tersebut segera menuju ke sana. Pendekar Sekte Cakar Naga adalah rekannya saat ini, sulit bagi Weiruo meninggalkan mereka begitu saja.
Begitu tiba, Weiruo disambut dengan tiga jasad pria, mereka tewas dengan luka tebasan yang mengerikan.
Sesosok pendekar wanita dengan pakaian serba putih adalah satu-satunya yang hidup, ia tidak memiliki tanda pengenal, tapi Weiruo yakin jika sosok tersebut merupakan bagian dari Sekte Laut Darah.
Hanya sepasang mata dingin yang dapat Weiruo lihat, seluruh wajah sosok tersebut tertutup oleh sebuah topeng.
__ADS_1
Mata keduanya saling bertemu, Weiruo segera menyiapkan pedangnya, siap untuk pertarungan kedua.