Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 36-Kekuatan Roh Bela Diri


__ADS_3

Deru napas terdengar jelas di tengah heningnya hutan, Zhang Qinzie dengan susah payah berusaha menyamakan langkah kakinya dengan Weiruo agar tidak tertinggal. Sebenarnya kaki Zhang Qinzie sudah mulai terasa begitu nyeri, tapi gadis tersebut tetap melanjutkan langkahnya, karena jika dia tertinggal sedikit saja mungkin Zhang Jin akan datang dan menangkapnya.


Zhang Qinzie juga menyadari jika Weiruo sudah memperlambat langkahnya agar dirinya tidak tertinggal, ia tentu tidak ingin menambah masalah untuk Weiruo.


“Aku sudah bertemu kakakmu, semua akan baik-baik saja.”


Zhang Qinzie tersentak, kemudian seutas senyum muncul di wajahnya.


“Ah!”


Tubuh Zhang Qinzie jatuh tersungkur ke tanah setelah tersandung batu. Secepat mungkin Zhang Qinzie segera bangkit sekalipun napasnya sudah tidak beraturan dan keringat membasahi tubuhnya.


Tiba-tiba Weiruo menarik Zhang Qinzie dan menggendong gadis tersebut begitu saja. Wajah Zhang Qinzie langsung memerah karena malu, baru pertama kali dirinya digendong selain oleh keluarganya.


“T-tolong turunkan aku ... aku berat.”


“Diamlah sebentar.”


Weiruo segera berlari dengan cepat meninggalkan tempat tersebut, Zhang Qinzie terkejut karena Weiru tetap dapat bergerak dengan cepat sekalipun tengah menggendong dirinya.


Dalam waktu singkat keduanya tiba di sebuah jembatan yang sudah cukup tua, jembatan tersebut terlihat dapat putus kapan saja. Zhang Qinzie kebingungan, tidak mengetahui tujuan Weiruo membawanya ke tempat tersebut.


“Menyebranglah, di sana sudah ada seseorang yang menunggu,” perintah Weiruo.


“Menyeberang? Tanpamu? Ayo kita pergi bersama!”


Zhang Qinzie menarik lengan pakaian Weiruo dan mengajaknya menyeberang bersama.


“Tenanglah, aku tidak sendiri.”


Weiruo melambaikan tangannya, dari balik pepohonan Shema bersama dengan sekelompok prajurit istana munucul. Zhang Qinzie mengenali lambang pada zirah prajurit tersebut sedikit lebih tenang. Namun, gadis tersebut tetap ragu meninggalkan Weiruo.


“Kakak Jin itu sangat kejam ... aku takut kau akan terluka,” lirihnya pelan.


“Aku akan menyusulmu nanti.”


Zhang Qinzie tidak punya pilihan lain, ia harus segera pergi sebelum Zhang Jin datang dan menangkapnya kembali. Sebelum pergi Zhang Qinzie berpesan kepada Weiruo agar gadis tersebut menyusulnya ke istana setelah semua usai.


Weiruo hanya mengangguk, setelah Zhang Qinzie pergi melewati jembatan, Weiruo memutus jembatan tersebut. Ujung jembatan tertutup oleh kabut sehingga akan sulit untuk Zhang Jin jika ingin melompat begitu saja ke sana.

__ADS_1


Tidak berselang lama Zhang Jin sudah menyusul dengan belasan orang di belakangnya.


“Siapa kau? Berani sekali ikut campur!”


“Kebetulan aku mengenal gadis itu.”


“Kurang ajar! Serang!”


Weiruo mengeluarkan pedangnya, menyambut serangan yang datang padanya. Pertarungan berlangsung cukup sengit di antara kedua belah pihak.


Dalam jumlah pihak Weiruo lebih unggul, sedangkan dari segi kekuatan pihak Zhang Jin lebih unggul.


Shema dengan mudah mengalahkan orang-orang Zhang Jin, di sisi lain Weiruo terlihat kesulitan karena perbedaan kekuatan yang begitu jauh. Namun, Weiruo masih dapat mengimbangi gerakan Zhang Jin karena Weiruo sudah cukup berpengalaman bertarung.


Dalam beberapa bulan terakhir Weiruo mempelajari cukup banyak jurus bela diri sehingga kemampuan bela dirinya terus meningkat dari waktu ke waktu.


“Argh!”


Zhang Jin melangkah mundur, sebuah luka tebasan terpampang jelas di dadanya, tapi luka tersebut tidak terlalu dalam sehingga tidak membuat Zhang Jin menyerah begitu saja.


“Kuakui kemampuanmu, Nona. Tapi bisakah kau menahan ini?”


Zhang Jin melepas energi dalam yang begitu besar, sesosok bayangan harimau berwarna merah muncul di samping Zhang Jin. Sosok tersebut adalah roh bela diri milik Zhang Jin.


“Ukh....”


Zhang Jin tersenyum miring dan melepaskan lebih banyak energi untuk menekan Weiruo, sesaat kemudian roh bela diri Zhang Jin mengaum dan melempar Weiruo jauh ke belakang.


Weiruo terbatuk pelan, darah segar mengalir dari sudut bibirnya, tubuhnya kini terasa begitu berat untuk digerakkan.


“DASAR MANUSIA RENDAHAN!” teriakan keras terdengar jelas diiringin dengan energi luar biasa membuat semua orang di tempat tersebut diam seketika.


Shema berjalan mendekat, tekanan energi membunuh darinya begitu kuat, bahkan Zhang Jin yang sebelumnya berdiri dengan tegap kini berlutut karena tekanan yang dihasilkan oleh Shema.


Di belakang Shema sosok ular putih besar berdiri dengan kepala tegap menghadap ke arah Zhang Jin, semua energi membunuh Shema ia pusatkan langsung kepada pria tersebut.


Samar kabut putih mulai memenuhi tempat tersebut, Shema masih dalam langkahnya, sedikit demi sedikit mendekati Zhang Jin.


Kini kabut sepenuhnya menutupi tempat tersebut, Zhang Jin panik seketika, tubuhnya teras begitu berat karena tekanan dari Shema, roh bela dirinya pun tidak berani mengangkat kepalanya dengan angkuh seperti sebelumnya.

__ADS_1


“Manusia bodoh ... berani sekali kau menyakiti Tuanku?”


Jari jemari Shema menyentuh leher Zhang Jin, kemudian perlahan mencekit pria tersebut. Tubuh Zhang Jin terangkat, napasnya terasa begitu sesak karena cekikan Shema yang begitu kuat.


Setengah sadar Zhang Jin melihat sorot mata Shema, merah menyala, layaknya monster yang siap menerkam mangsanya.


“Bersiaplah menemui ajalmu, wahai manusia—“


“Shema, jangan membunuhnya!”


Tangan Shema sedikit melonggar, hampir saja wanita tersebut mematahkan leher Zhang Jin dalam satu cengkraman. Mendengar teriakan Weiruo membuatnya menghentikan aksinya itu.


Shema menuruti perintah Weiruo, wanita tersebut membanting tubuh Zhang Jin ke tanah hingga pria tersebut tidak sadarkan diri.


Kabut mulai menghilang, semua orang di tempat tersebut jatuh berlutut ke tanah karena tekanan energi dari Shema yang begitu kuat.


“Nona, anda baik-baik saja?” Shema menghampiri Weiruo dan membantunya untuk berdiri.


“Ya,” jawabnya pelan. “Lumpuhkan semua pasukan Zhang Jin, Shema,” lanjutnya.


“Baik, Nona.”


Weiruo hanya melihat Shema dari kejauhan, pandangannya kabur sebelum akhirnya hilang sepenuhnya.


***


Di sisi lain pasukan dari Zhang Yin sudah mengepung kemah pasukan Zhang Jin. Karena jumlah pasukan yang jauh lebih besar pasukan Zhang Yin melumpuhkan semua yang ada di tempat tersebut dalam watu yang cukup singkat.


Zhang Yin serta pasukannya segera kembali ke ibukota setelah pertempuran itu, kedatangannya disambut oleh penduduk kota di jalanan yang ia serta pasukannya lewati.


Walaupun Zhang Yin sudah melumpuhkan pasukan pemberontak, tapi hati pria tersebut masih tidak tenang mengingat keberadaan adiknya yang sampai sekarang tidak ia ketahui.


Di tengah kekhawatirannya, sebuah suara mengejutkan pria tersebut.


“Kakak!”


Zhang Qinzie melemparkan dirinya ke pelukan Zhang Yin dan menangis begitu keras, Zhang Yin hanya mengelus pucuk kepala adiknya tersebut, mengecup keningnya penuh kasih, merasa begitu lega karena sang adik kembali tanpa mendapat luka.


“Kakak, Nona Ruo melawan Kakak Kedua. Bukankah Kakak Kedua sangat kuat? Kakak cepatlah mengirim orang untuk membantunya!”

__ADS_1


“Kakak akan pergi, kau tunggulah di sini.”


Zhang Yin mengelus pucuk kepala Zhang Qinzie pelan, meminta gadis tersebut untuk tetap berada di istana sampai dirinya kembali nanti.


__ADS_2