
Peserta hanya diberi waktu tiga jam pada babak pertama, setelah waktu berakhir mereka diharuskan berhenti membuat pil dan menyerahkan pil buatan mereka kepada penilai.
Satu per satu peserta mulai maju dan memberikan pil mereka untuk dinilai.
Weiruo berhasil lolos dengan mudah sekaligus mendapat pujian karena berhasil membuat pil tingkat dua dengan kualitas sempurna. Ye Nian serta Meigui juga berhasil lolos ke babak selanjutnya.
Setelah jeda selama hampir satu jam, babak kedua dimulai, jumlah peserta masih begitu banyak karena sedikit yang gagal pada babak pertama.
Pada babak kedua peserta akan diberi kesempatan untuk memilih tiga dari sepuluh resep pil yang disediakan secara acak. Semua resep pil tersebut merupakan resep pil tingkat tiga.
Tiba giliran Weiruo setelah cukup lama menunggu, gadis tersebut maju dan mengambil tiga gulungan kertas yang telah disiapkan, kemudian kembali ke tempatnya.
Satu per satu peserta maju dan mengambil hingga seluruh peserta mengambil resep pil.
Setelah dipastikan semua mendapat bagian masing-masing, babak kedua segera dimulai.
Tidak ada yang langsung memulai membuat pil mereka, masing-masing sibuk meneliti resep pil seperti apa yang akan mereka buat.
Ye Nian serta Meigui tidak terlihat baik, keduanya tidak terlalu mengenal resep pil yang mereka ambil. Sedangkan Weiruo terlihat tenang, gadis tersebut melihat bahan yang ada di mejanya dan mencocokkannya dengan resep pil di tangannya sekarang.
Di tengah fokusnya, Weiruo merasakan ada seseorang yang menatapnya, segera ia menoleh dan mendapati Mo Yangcen menatapnya dengan penuh niat membunuh dari kursi penonton.
Weiruo hanya tersenyum tipis sebelum memulai proses pembuatan pil miliknya.
Sementara itu di sisi lain Mo Yangcen menguatkan genggaman tangannya setelah menyadari jika Weiruo ada di antara peserta kompetisi yang lihat saat ini.
Mo Yangcen tidak bisa menyembunyikan amarahnya, pemuda tersebut terang-terangan melepaskan energi yang menekan orang-orang di sekitarnya.
Mo Jangyun yang menyadari keanehan pada sikap putranya segera menepuk pundak Mo Yangcen. Tepukan Mo Jangyun dialiri tenaga dalam yang langsung menciptakan rasa sakit ketika bersentuhan dengan tubuh Mo Yangcen.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Mo Jangyun.
Mo Yangcen hanya diam, tapi matanya hanya berfokus pada Weiruo dengan tatapan membunuh yang tajam.
__ADS_1
Mo Jangyun segera menyadari apa yang membuat Mo Yangcen bersikap demikian, pria tersebut kemudian mengirim telepati pada orang-orangnya.
Babak kedua berlangsung selama enam jam lamanya, ketika waktu dinyatakan habis semua segera menghentikan api spiritual mereka dan menghentikam pembuatan pil yang mereka kerjakan.
Sayangnya pada babak kedua Ye Nian dan Meigui gagal membuat tiga pil sesuai resep yang diberikan sehingga mereka tidak bisa melanjutkan ke babak selanjutnya.
Babak ketiga akan dilanjutkan pada hari berikutnya, semua peserta akan mendapat tempat untuk beristirahat di dalam asosiasi.
Sebelum pergi ke kamar miliknya, Weiruo menemui Ye Nian serta Meigui, keduanya terlihat begitu sedih karena gagal melewati babak kedua.
“Jangan menangis, anggap ini sebagai pengalaman baru.”
Weiruo menenangkan Ye Nian yang sudah mulai berkaca-kaca. Berbeda dengan Ye Nian, Meigui bisa mengendalikan dirinya dan menerima kegagalannya dengan lapang dada.
Ye Jinhai dan Da Feng menghampiri mereka, Ye Jinhai memeluk Ye Nian dengan erat dan memujinya karena begitu pandai membuat pil. Bagi pria tua tersebut kemenangan bukanlah hal yang begitu berarti.
Mereka segera berpisah, Weiruo tidak bisa berlama-lama karena ada aturan yang melarang peserta keluar dari wilayah asosiasi selama kompetisi berlangsung.
Kamar yang disiapkan tidak begitu luas, tapi sudah cukup jika hanya ditempati 1 orang.
Weiruo membarignkan tubuhnya di atas tempat tidur, hari ini ia tidak akan berlatih dan lebih memilih untuk tidur lebih awal karena rasa kantuk yang menghampirinya.
Malam yang hening, Weiruo terlelap begitu saja. Ketika kembali membuka kelopak matanya, gadis tersebut menyadari jika hari sudah berganti, cahaya matahari pagi masuk melalui celah kecil yang ada pada jendela kamarnya.
Setelah bersiap Weiruo segera keluar setelah mendengar panggilan dari salah seorang pengawas yang memanggil semua peserta.
Pada babak ketiga sekaligus babak terakhir semua meja sudah dipenuhi oleh tanaman spiritual serta tiga gulungan kertas berisi resep pil yang akan mereka buat sebagai syarat kemenangan mereka.
Peserta dibagi menjadi lima kelompok, yang mana tiap kelompok akan diawasi oleh seorang ahli pil tingkat 4 yang akan memberikan penilaian pada proses pembuatan pil.
Babak terakhir segera dimulai dan para peserta langsung membuka gulungan di depan mereka satu per satu.
Weiruo melirik kursi penonton, setelah mencari gadis tersebut menemukan Da Feng di antara penonton lain. Da Feng juga tidak sendiri, disampingnya ada Ye Jinhai, Ye Nian, lalu Meigui yang melihatnya dengan begitu antusias.
__ADS_1
Suara ledakan terdengar dan langsung menarik perhatian para penonton serta peserta di tempat tersebut.
Seorang pemuda bangkit dari tempatnya dan membersihkan abu ledakan dari tubuhnya. Karena salah memasukkan bahan, tunggu berisi pil miliknya mengalami ledakan kecil dan mendorongnya sedikit ke belakang.
Weiruo hanya menggeleng pelan sebelum mulai menyalakan api dan memasukkan bahan sesuai dengan resep yang tertulis.
Seorang peserta di samping Weiruo menyalakan api terlalu besar sehingga tungku miliknya mulai bergetar. Getaran itu semakin kuat dan terlihat akan segera meledak, segera saja pemuda tersebut menepis tungku di hadapannya.
Tungku tersebut terlempar ke arah Weiruo dengan cepat. Penilai yang melihat itu telat bertindak karena tengah memperhatikan peserta lain.
Weiruo mengeluarkan pedangnya dan menepis tungku tersebut dengan cepat tanda menoleh sedikitpun.
Tungku yang tadinya mengarah pada Weiruo berbalik pada pemuda tadi, karena panik pemuda tersebut gagal menghindarinya. Tungku mengalami ledakan kecil, pemuda tersebut jatuh menimpa peserta di sampingnya sehingga keduanya sama-sama gagal membuat pil pertama mereka.
“Kenapa kau melempar tungku yang hampir meledak itu padaku?” teriak pemuda tersebut dengan kesal.
“Aku hanya berusaha melindungi diriku. Kau lihat sendiri tungku milikmu hampir meledak. Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau melempar tungku itu padaku?” Weiruo menghentikan apinya.
Dengan tajam Weiruo memperhatikan pemuda tersebut dari atas sampai bawah, ia hanya tersenyum tipis sebelum memanggil penilai yang mengawasi kelompok mereka.
“Bukankah anda melihatnya sendiri? Dia yang melepar tungkunya ke arahku.” Weiruo menunjuk tungku yang sudah gosong pada beberapa bagiannya.
“Aku hanya berusaha melindungi diriku! Lagipula—“
“Aku juga melakukan hal yang sama,” Weiruo memotong kalimat pemuda tersebut.
Pria tua yang menjadi pengawas kelompok dari Weiruo mengelus janggut panjangnya sejenak sebelum menyetujui ucapan Weiruo.
Pemuda tersebut memang berusaha melindungi dirinya, tapi sikapnya salah karena membahayakan peserta lain.
“Aku tahu tujuanmu mempertahankan diri, tapi jika kau melakukan hal seperti itu, aku tidak akan segan mendiskualifikasimu.”
Pemuda tersebut hanya bisa diam ketika pengawas sudah berkata demikian.
__ADS_1
Sudut bibir Weiruo sedikit tertarik, gadis tersebut menatap ke arah sekumpulan penonton dengan tatapan penuh arti.