Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 27-Laohua


__ADS_3

Sudah sebulan berlalu sejak Weiruo menemukan keberadaan ruang rahasia di bawah kediamannya, sejak hari itu Weiruo banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari ilmu pil dan pengobatan.


Da Feng setelah dibebaskan dari penjara mulai mengikuti Weiruo dan membantu Weiruo dalam seni racun, pemuda tersebut merasa sedikit aneh karena seorang putri mahkota seperti Weiruo mempelajari ilmu racun yang jelas tabu di kekaisarannya.


“Jangan ceritakan pada siapapun, ingat itu.” Weiruo menyimpan satu botol kecil berisi beberapa butir pil racun yang berhasil ia buat.


“Kemampuanmu begitu baik, tanpa seorang guru kau mampu meracik obat serta racun dengan sempurna,” ujar Da Feng, pemuda tersebut mengakui jika kemampuan Weiruo lebih baik dari ahli pil yang pernah ditemuinya.


“Terima kasih atas pujiannya, aku memang gadis yang berbakat,” jawab Weiruo sebelum terkekeh pelan.


“Nona, Permaisuri ingin menemui anda,” suara Yinyi terdengar dari luar.


Mendengar itu Weiruo segera keluar menemui sang ibu dan mengajaknya ke taman karena kamarnya cukup berantakan setelah digunakan untuk membuat pil.


“Ibu akan menjemput Ibu Suri besok, ibu berniat mengajak Ruo’er jika tidak keberatan.”


Weiruo memikirkan jawaban sejenak sebelum mengiyakan, tidak ada salahnya mengikuti ibunya ke luar ibukota. Weiruo juga bisa melihat keadaan di luar ibukota selama perjalanan nanti.


Xuan Riuyi menjelaskan jika perjalanan akan memakan waktu dua hari sehingga meminta Weiruo untuk mempersiapkan diri dengan baik sebelum pergi.


Keesokan harinya Weiruo berangkat ketika matahari baru saja terbit, ada sepuluh orang prajurit yang akan mengawalnya hingga ke Kota Dongfeng, kota tujuan mereka.


Da Feng juga ikut karena perintah dari Weiruo, tentu saja Weiruo tidak ingin pemuda tersebut kabur ketika dirinya pergi.


Weiruo menaiki kuda dan berjalan beriringan dengan kereta kuda yang dinaiki ibunya, sedangkan Da Feng berada tidak jauh dari Weiruo.


Ketika melewati jalanan di dekat hutan, Weiruo memacu kudanya sedikit lebih cepat sehingga mendahului kereta kuda ibunya. Gadis tersebut berhenti setelah cukup jauh memacu kudanya.


Weiruo melompat turun dan buru-buru menghampiri seorang gadis kecil yang tergletak di atas tanah.


Dengan hati-hati Weiruo memeriksa tubuh gadis kecil tersebut, terdapat cukup banyak luka goresan di tubuhnya dan wajahnya terlihat begitu pucat.

__ADS_1


“Ruo’er, ada apa?” tanya Xuan Riuyi dari dalam kereta kuda.


“Ada gadis kecil yang pingsan.”


“Astaga, cepat bawa dia kemari!”


Xuan Riuyi segera membuka pintu kereta kuda dan meminta Weiruo untuk membaringkan gadis kecil tersebut di atas bangku kereta. Aura keibuan Xuan Riuyi terlihat jelas ketika wanita tersebut dengan hati-hati memeriksa luka di tubuh gadis kecil tersebut dan mengobatinya.


Kereta kuda kembali berjalan, Weiruo kembali pada kudanya dan menyusul dari belakang.


Perjalanan terus berlanjut, ketika malam tiba rombongan tersebut berhenti dan beristirahat di desa kecil yang mereka lewati di tengah perjalanan.


Weiruo menyewa seluruh penginapan yang kebetulan sedang tidak ada pengunjung dan meminta semua beristirahat untuk melanjutkan perjalanan esok hari.


Gadis kecil yang diselamatkan oleh Weiruo juga sadar beberapa saat setelah mereka tiba di penginapan.


“Gadis kecil, tenang saja aku tidak akan menyakitimu,” ucap Weiruo agar gadis kecil tersebut tidak takut padanya.


Gadis kecil tersebut nampak ketakutan, dalam satu kali lihat Weiruo langsung memahami jika terjadi suatu hal buruk yang membuat gadis kecil di hadapannya sekarang mengalami trauma ringan.


Weiruo menurut dan menyerahkan gadis kecil tersebut kepada ibunya. Dalam waktu singkat Xuan Riuyi sudah menjadi akrab dengan gadis kecil tersebut, Xuan Riuyi menanyakan hal-hal ringan sebelum menanyakan kenapa gadis tersebut menerima begitu banyak luka.


“Laohua tidak tahu kesalahan Laohua ... mereka terus mengejar Laohua hiks.” butiran bening mengalir melewari pipi mungil gadis tersebut.


Laohua baru berumur delapan tahun, tapi sudah menjadi incaran orang asing yang berniat jahat padanya. Weiruo tidak habis pikir pada orang yang melakukan hal itu padanya.


“Aku akan mengambil makan malam di bawah.”


Tidak ingin mengganggu lebih lama, Weiruo segera pergi meninggalkan Laohua bersama ibunya agar gadis tersebut kembali tenang.


Xuan Riuyi tidak ingin menghabiskan banyak waktu untuk beristirahat sehingga keesokan paginya segera meminta prajurit untuk menyiapkan kereta kuda.

__ADS_1


“Begitu sepi,” celetuk Weiruo tiba-tiba yang langsung memecah hening di antara mereka.


Sudah hampir dua jam mereka menyusuri hutan dan suasana begitu hening. Sebenarnya hutan yang mereka lewati sekarang bukanlah satu-satunya jalan yang ada, tapi Xuan Riuyi memilih untuk melewati rute ini karena lebih dekat dari rute lain yang membutuhkan waktu lima hari sekalipun menaiki kereta kuda.


“Percepat laju kalian!” perintah Weiruo.


Pandangan Weiruo mengamati sekitar, meminta semua orang untuk waspada dengan sekitar karena gadis tersebut merasa ada sesuatu yang datang mendekat.


Benar saja dugaan Weiruo, sesaat setelah Weiruo berkata demikian sebuah anak panah melesat dengan cepat ke arah kereta kuda, untung saja Da Feng bereaksi dengan cepat dan menangkis anak panah tersebut.


“Percepat laju kuda, awasi sekitar!” perintah pemimpin kelompok prajurit yang mengawal kereta kuda Xuan Riuyi.


Belasan bayangan hitam terlihat melompatdari satu pohon ke pohon lainnya mengikuti pergerakan kelompok Weiruo.


Tiga orang dari mereka maju menyerang diiringi oleh anak panah yang melesat begitu cepat ke arah kereta kuda. Para prajurit berhasil menangkis anak panah tersebut dan segera menahan tiga pria yang hendak menyerang kereta kuda.


‘Apa mungkin ... Laohua?’


Weiruo turun dari kudanya dan segera membantu para prajurit karena jumlah pembunuh yang datang lebih banyak dari prajurit yang mengawal Weiruo, belum lagi terlihat jelas jika kemampuan mereka lebih baik dari semua prajurit yang ada.


Sebuah pisau kecil berhasil mengenai leher salah satu pembunuh yang mendekati kereta kuda, Weiruo tidak ragu menyerang titik vital untuk menghilangkan nyawa musuhnya, karena di dunianya kini yang kuat memangsa yang lemah, jika dirinya ragu maka akan ada nyawa yang melayang nantinya.


“Bibi!” jerit Laohua histeris melihat Xuan Riuyi yang dibuat jatuh pingsan oleh salah satu pembunuh bayaran yang datang.


“Kau....”


Weiruo melempar dua pisau beracun tapi keduanya dapat dengan mudah ditangkis pria kekar yang kini membawa Laohua.


Tebasan demi tebasan Weiruo lancarkan tapi pria tersebut menangkisnya, hanya saja pria tersebut tidak memiliki kesempatan menyerang balik karena kecepatan serangan Weiruo.


Weiruo mengayunkan pedangnya, sebuah tebasan energi muncul dan melesat ke arah pria tersebut. Namun, berhasil dihadang sehingga tidak ada sedikitpun luka di tubuh pria tersebut.

__ADS_1


Mengambil kesempatan ketika pria tersebut menangkis serangannya, Weiruo berhasil merebut Laohua kembali dan berhasil menggoreskan pedangnya pada lengan kiri pria tersebut.


Tanpa pikir panjang Weiruo langsung membawa Laohua pergi dari tempat tersebut dan meninggalkan yang lain.


__ADS_2