Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 88-Peperangan V


__ADS_3

Sebuah kepala jatuh menggelinding ke tanah. Weiruo memandang Kong Woonji tanpa ekspresi. Sudah belasan boneka mayat yang berhasil ia tebas kepalanya, entah berapa banyak boneka mayat yang disimpan oleh pria tua tersebut.


Kong Woonji menyeringai miring, pria tua tersebut mengeluarkan pedangnya dan melesat ke arah Weiruo.


Pedang keduanya bertemu, mereka saling bertukar serangan sebelum akhirnya Weiruo melompat mundur karena sebuah luka tebasan menghiasi pundak kirinya.


Tidak berhenti sampai di situ, Kong Woonji kembali menyerang Weiruo bersama boneka-boneka mayat yang baru dikeluarkannya, memaksa gadis tersebut untuk mundur sedikit demi sedikit.


“Matilah!”


Kong Woonji menghunuskan pedangnya ke leher Weiruo, tapi belum sampai pedang tersebut mengenai Weiruo, pedang itu sudah lebih dulu ditangkis oleh Da Feng yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapan Kong Woonji.


“Bagaimana kau bisa berada di sini?” tanya Weiruo kaget.


“Aku sudah baik-baik saja!”


Da Feng mendorong Kong Woonji mundur, pemuda tersebut memegang bahunya yang terasa nyeri. Walaupun mengatakan jika sudah baik-baik saja, namun tak sepenuhnya demikian.


“Haha! Bantuan kecil tidak akan mengubah apapun!”


Kong Woonji mengeluarkan tiga boneka mayat dari cincin ruangnya. Aura membunuh dapat Weiruo rasakan dengan begitu jelas dari ketiga boneka mayat tersebut.


“Sepertinya tidak akan mudah.” Da Feng menelan sebuah pil untuk memulihkan kondisinya.


Keduanya saling memandang sesaat sebelum maju bersama menyerang pria tua tersebut.


Kong Woonji menyeringai, tapak tangannya saling bertemu dan menciptakan tiga buah energi yang masuk ke dalam tiga boneka mayatnya. Mata mereka segera menyala dalam waktu yang singkat dan mulai bergerak sesuai perintah Kong Woonji.


Mereka bergerak bersamaan menerjang Da Feng, pemuda tersebut terpaksa mundur dan bertarung jauh dari Weiruo.


Weiruo langsung menghadapi Kong Woonji, keduanya bertukar begitu banyak serangan hingga sedikit demi sedikit Weiruo terpojok oleh pria tua tersebut.


Darah mengalir dari sudut bibirnya, Weiruo mulai kesulitan menahan tiap serangan yang dilancarkan Kong Woonji padanya.


“Hahaha ... kau sangat mirip dengannya! Padahal puluhan tahun sudah berlalu, tapi aku masih ingat dengan parasnya yang cantik itu!” celoteh Kong Woonji.


“Siapa maksudmu?”

__ADS_1


“Yue Hua, wanita itu menolak kutarik menjadi anggota sekte. Sangat disayangkan dia berhasil kabur sebelum kujadikan boneka mayat!” kesal Kong Woonji.


Kong Woonji memandangi pedangnya, mengingat kenangan ketika dirinya melawan Yue Hua. Pertarungan yang telah berlalu begitu lama, tapi Kong Woonji masih dapat merasakan sensasi pertarungannya saat itu.


“Teknik kalian benar-benar mirip! Tidak salah lagi kau adalah muridnya! Katakan padaku, di mana wanita itu!”


“Entahlah, aku tidak ingin mengatakannya.”


Kong Woonji menggertakkan giginya kuat, sadar jika bertanya pda Weiruo tidak akan mendapat jawaban apapun.


Kong Woonji menggeleng pelan dan kembali menyerang, kali ini dia mengeluakrkan banyak boneka mayat untuk memojokkan Weiruo.


Sementara itu Da Feng juga sedikit kesulitan menghadapi ketiga boneka mayat milik Kong Woonji.


Kekuatan mereka setidaknya setara Pendekar Roh tahap akhir, ditambah tenaga mereka yang tidak akan sedikitpun terkuras sekalipun bertarung selama berjam-jam.


Selama Kong Woonji masih hidup, maka semua boneka mayat tersebut akan tetap hidup dan menyerang. Berbeda dengan Da Feng yang tidak dalam kondisi sempurnanya, ditambah luka-lukanya yang sebagian masih belum pulih.


Akhirnya satu berhasil tumbang, Da Feng menarik napas dalam sebelum mundur untuk mengulur sedikit waktu untuk pil yang dikonsumsinya bekerja.


“Dasar, mungkin aku akan mati hari ini,” gumamnya.


Shema mendarat di atas sebuah batu besar, wanita tersebut memandangi lautan manusia di kejauhan. Bau darah tercium begitu pekat walaupun dirinya berada ratusan meter jauhnya.


“Tuan....”


Wanita tersebut sebuah kalung yang ada di lehernya, itu adalah kalung pemberian Weiruo. Aroma Weiruo masih melekat di sana, Shema sangat menyukainya. Aroma yang begitu menenangkan, entah kenapa hanya dengan memegang kalung tersebut perasaan Shema menjadi tenang.


“Tuan, tunggu aku!”


Shema melompat dengan cepat ke lokasi peperangan tersebut. Matanya menyala, sisik ular segera menghiasi kulitnya, cakarnya memanjang dan kedua taringnya memanjang dengan waktu begitu cepat.


Dia mendarat di tengah pertarungan, tanah tempatnya mendarat langsung retak dan menyebabkan guncangan ringan.


Shema mengeluarkan roh bela dirinya, roh ular putih tersebut menerjang pasukan dan membukakan jalan untuk wanita tersebut.


Matanya menjelajahi tempat tersebut demi menemukan sosok Weiruo, tapi begitu sulit di tengah ribuan orang di sekitarnya. Shema mengayunkan tangannya, merobek leher seorang pendekar yang menghalangi jalannya.

__ADS_1


“Manusia lemah, jangan halangi jalanku!” desisnya.


Shema melanjutkan langkahnya, tiap ada yang berusaha menghalangi, maka leher pendekar tersebut akan robek seketika.


“Siluman rendahan! Tak kusangka Sekte Cakar Naga membiarkan siluman sepertimu masuk ke sektenya!” ucap seorang pria yang berdiri di hadapan Shema.


“Aku hanya datang untuk Tuanku. Manusia, menyingkir dari jalanku!”


Pria tersebut tertawa lepas dan mengangkat pedangnya pada Shema. Dengan suara yang begitu lantang menantang Shema untuk melawannya.


Shema tidak menunggu lebih lama dan maju menyerang, cakarnya yang begitu tajam berhasil ditahan oleh pedang pria tersebut. Namun, serangan shema tidak hanya itu saja. Mulutnya terbuka, meludahkan sebuah racun tepat ke wajah pria tersebut.


“AAAARGH!” teriaknya histeris setelah cairan tersebut mengenai matanya.


“Sudah kukatakan padamu, jangan halangi jalanku!”


Tangan Shema menembus jantung pria di hadapannya itu. begitu ditarik, darah langsung memuncrat ke segela arah.


Separuh tangan Shema berbalut darah, ia merobek kedua lengan pakaiannya yang sedikit mengganggu dan kembali melanjutkan langkahnya mencari Weiruo.


Shema menghentikan langkah ketika sebuah bayangan semakin mendekat, begitu menyadari sebuah batu besar melayang ke arahnya, Shema langsung melompat tinggi demi menghindari hantaman batu tersebut.


“Siluman ular? Kemari! Hadapi aku!”


Shema memicingkan matanya, seorang pria bertubuh kekar nampak berdiri dengan angkuh di kejauhan.


Ia mendesis pelan. Jalannya terus dihadang, waktunya untuk mencari Weiruo akan terus tertunda karena hal itu.


Shema berusaha mengabaikan pria tersebut, tapi ia sudah mendarat di hadapan Shema dan melepaskan sebuah pukulan padanya.


Shema menghindar, untung saja pukulan itu tidak mengenainya, jika sampai Shema menahannya, mungkin tulang kedua tangannya akan patah begitu saja. Wanita tersebut tidak bisa menghindar, mau tidak mau menghadapi pria kekar tersebut.


Sebuah kabut tipis segera menutupi area tempat mereka bertarung. Pria tersebut menoleh pada sekitar kebingungan, begitu menyadari itu adalah ulah Shema, wanita tersebut sudah lebih dulu menghilang di tengah pekatnya kabut.


Pria tersebut tersenyum miring, tangannya mengepal kuat dan meninju tanah di bawahnya. Pukulan yang dialiri tenaga dalam itu langsung saja menyebabkan tanah di bawahnya mengalami kerusakan dan sebuah gempa di sekitarnya.


“Keluarlah! Jangan seperti pengecut bersembunyi di balik kabut!”

__ADS_1


“Manusia, kaulah yang memintanya!”


Sebuah desisan terdengar, kabut semakin menebal, sepasang cahaya merah mengintai dari balik kabut. Tidak hanya satu pasang mata, melainkan puluhan, bersembunyi di balik tebalnya kabut.


__ADS_2