
“Aku ingin melihat seberapa jauh kau berkembang, lawanlah Da Feng.”
Ying mengangkat alisnya, ia benar-benar tidak salah dengar Weiruo memintanya melawan Da Feng.
Tentu saja Ying merasa tidak percaya diri jika berhadapan dengan pemuda tersebut.
Ying tahu jika Da Feng adalah orang kepercayaan Weiruo, selalu bersamanya dan ikut dalam aksi apapun yang dilakukan oleh Weiruo. Walaupun Ying tidak pernah melihat Da Feng bertarung secara langsung, gadis tersebut yakin jika kemampuan Da Feng sangat jauh di atasnya.
“Aku tidak akan membunuhmu,” ucap Da Feng melihat raut ketakutan dari Ying.
“Eh? I-iya ... mohon bimbingannya....”
Ying terlihat agak ragu, tapi ia berusaha sebaik mungkin menahan rasa takutnya ketika Da Feng mendekat dengan pedang kayu di tangan kanannya.
Sementara itu Weiruo mendatangi Chuhua serta yang lain, mereka terlihat senang ketika Weiruo mendatangi mereka.
“Nona, saya sangat merindukan Nona!”
Laohua berlari ke arah Weiruo, entah darimana gadis tersebut sebelumnya. Laohua langsung keluar begitu mendengar suara Weiruo, padahal sebelumnya Laohua berencana untuk tidak bertemu yang lain.
“Dari mana dirimu?” tanya Weiruo.
“Saya berlatih tenaga dalam di kamar.”
Weiruo mengelus pucuk kepala Laohua sejenak sebelum menghampiri Chuhua dan yang lain.
“Laohua, aku ingin kau berlatih melawan mereka.”
“Nona, bagaimana jika kita tidak sengaja melukai Laohua?” Heiyu terlihat khawatir.
“Aku akan mengobati siapapun yang terluka saat latihan hari ini.”
Heiyu dan Yubai saling memandang kebingungan. Mereka bertiga tidak banyak bicara dan segera menuruti perintah Weiruo.
Laohua terlihat tenang, ia tidak membawa pedang kayu seperti Heiyu dan yang lain, ia memilih untuk bertarung menggunakan tangan kosong karena lebih nyaman demikian.
“Kalian maju bersama!” perintah Laohua.
Heiyu menoleh pada saudara kembarnya dengan ragu, mereka takut melukai Laohua nantinya. Namun, setelah Laohua berteriak pada mereka untuk kedua kalinya, Heiyu sadar jika Laohua berbeda dengan mereka.
__ADS_1
Yubai akhirnya maju menyerang diikuti oleh Heiyu, keduanya mengayunkan pedang kayu di tangan mereka ke arah Laohua bersamaan.
Laohua menahan serangan itu dengan mudah, salam satu ayunan tangan langsung melempar keduanya mundur.
Heiyu terbelalak kaget, Laohua belum mengeluarkan kemampuannya tapi mereka berdua sudah terlempar dengan mudah tanpa bisa melawan balik.
Sementara anak-anak tersebut sibuk menyerang Laohua, Weiruo beralih pada Ying yang terlihat kesulitan menyerang Da Feng.
Bukan hanya Da Feng mampu menahan semua serangan gadis tersebut, bahkan Da Feng tidak berpindah dari tempatnya setelah semua serangan yang diberikan oleh Ying.
Ying menghentikan seranganya, napasnya sudah tidak beraturan tapi tidak ada satupun serangan yang berhasil mengenai pemuda di hadapannya sekarang.
“Menyeranglah dengan benar, seperti ini contohnya!”
Da Feng mengayunkan pedang kayunya dengan cepat, di saat bersamaan sebuah energi membentuk bulan sabit melesat ke arah Ying.
Ying menggenggam pedang kayunya dengan erat dan berusaha menahan serangan yang datang. Namun, Ying langsung terlempar begitu energi itu mengenai pedang kayunya.
“Kumpulkan energimu ke dalam pedang, lalu lepaskan ketika kau mengayunkan pedangmu,” ucap Da Feng menjelaskan.
Da Feng mengulang gerakan yang sama, tapi ia arahkan serangan itu ke pohon yang berdiri tidak jauh dari mereka berlatih. Bekas tebasan yang dalam langsung terbentuk begitu energi yang dikeluarkan Da Feng mengenai pohon tersebut.
“Tenaga dalammu masih terbilang lemah, mana bisa serangannya sekuat milikku,” celetuk Da Feng.
“S-saya mengerti!” pipi Ying memerah karena malu, tapi di saat bersamaan gadis tersebut juga sadar jika dirinya tidak sekuat Da Feng.
“Aku harus pergi, ada beberapa hal yang harus kubicarakan dengan Tuan Yu,” ucap Weiruo tiba-tiba.
“Bukankah kita baru saja dari sana? Apa kau melupakan sesuatu?” tanya Da Feng.
“Ya, begitulah.”
Weiruo pergi meninggalkan mereka, Da Feng juga tidak ikut karena Ying masih ingin berlatih dengannya, lagipula Weiruo juga tidak akan lama.
***
Kedatangan Weiruo disambut oleh Yu Shuyan, pria tua tersebut langsung menyambut Weiruo begitu seseorang mengabari kedatangannya.
“Apa yang membuat Nona kembali?” tanya Yu Shuyan.
__ADS_1
“Aku baru ingat tentang Ahli Pil di tempat ini, sepertinya mereka membutuhkan tempat baru, Balai Obat terlalu sempit untuk mereka.” Weiruo mencicipi teh yang disajikan oleh pelayan di mejanya.
Yu Shuyan mengelus janggut panjangnya sejenak sebelum menyetujui ucapan Weiruo, ia juga sadar jika Balai Obat terasa sempit sejak belasan Ahli Pil yang ia latih mulai tinggal di Balai Obat.
“Lalu apa rencana Nona?”
“Buat tempat yang sama seperti yang sebelumnya, sesuaikan saja dengan kebutuhan seorang Ahli Pil. Mereka akan memiliki rumah mereka sendiri setelah itu.”
Yu Shuyan mengangguk paham, pria tua tersebut berencana mencari tempat yang pas setelah urusan Weiruo di tempatnya selesai.
Weiruo berpamitan setelah mengatakan tujuannya mendatangi Yu Shuyan.
Ketika Weiruo kembali, Da Feng menyambutnya dan memamerkan hasil latihan Ying bersamanya.
Weiruo tentu memuji kerja keras Ying, malaupun hanya meninggalkan bekas yang tipis, Weiruo yakin jika Ying sudah berusaha dengan begitu keras untuk hal itu. terlihat juga Ying yang terduduk lemas di bawah pohon saking lelahnya berlatih.
Heiyu, Yubai, serta Chuhua juga tidak kalah lelahnya melawan Laohua, bahkan pedang kayu Heiyu juga patah.
Berbanding terbalik dengan mereka bertiga, Laohua terlihat masih bugar, bahkan tidak terlihat seperti baru saja berlatih bela diri, setetespun keringat juga tidak telrihat pada gadis tersebut.
Weiruo memberikan mereka masing-masing sebuah pil untuk memulihkan energi mereka sebelum kembali bersama Da Feng ke istana.
Waktu berlalu dengan cepat setelah hari itu, Weiruo mendapat surat dari Yu Shuyan jika apa yang diminta oleh Weiruo sudah ia laksanakan dan semua ahli pil di Balai Obat sudah pindah ke tempat yang baru.
Ying juga sering mengirim surat dan melaporkan perkembangan dirinya serta anak-anak yang lain.
Selama beberapa bulan terakhir Weiruo banyak bersantai di kediamannya dan tidak banyak menghabiskan waktu di luar kediaman selain untuk hal-hal penting.
Kadang di sela-sela latihannya, Da Feng akan mengajak gadis tersebut menikmati arak di bawah pohon rindang yang ada di taman belakang Paviliun Anggrek Hitam.
Da Feng tidak terlihat sepert bawahan jika hanya bersama dengan Weiruo, keduanya sangat dekat dan Da Feng cukup mengerti tentang gadis tersebut, bahkan mengerti maksud Weiruo hanya dengan lirikannya saja.
Malam ini keduanya lagi-lagi meminum arak, di bawah pohon rindang dengan pemandangan langit bertabur bintang.
Da Feng menuang arak ke gelasnya dan menghabiskannya dalam satu tegukan. Walaupun sudah meminum cukup banyak arak Da Feng masih belum mabuk, pemuda tersebut termasuk peminum berat.
Di sisi lain Weiruo tidak banyak meminum arak seperti yang Da Feng lakukan mengingat dirinya kurang suka meminum minuman seperti itu.
Keduanya menghabiskan waktu hanya berdua dengan cangkir di tangan masing-masing.
__ADS_1