
Laohua diperlakukan dengan begitu baik oleh Ca Hongqi, segala yang dibutuhkan oleh Laohua disiapkan oleh pria tersebut. Makanan, pakaian mewah, bahkan perhiasan juga diberikan oleh pria tersebut pada Laohua.
“Bukankah kuning adalah warna yang Ibumu sukai?” tanya Ca Hongqi tiba-tiba ketika Laohua sibuk dengan sarapannya.
“Iya, Ibu suka warna kuning,” jawab Laohua singkat.
Ca Hongqi mengangguk dan pergi begitu saja tanpa berbicara lebih lanjut. Sorenya pada hari yang sama pria tersebut kembali dengan beberapa helai pakaian untuk laohua.
“Ini terlihat begitu cocok untukmu,” ucap pria tersebut seraya mencocokkan pakaian di tangannya dengan tubuh Weiruo.
“Paman tidak usah terlalu repot, Laohua masih punya begitu banyak pakaian yang kemarin Paman beri,” tolak Laohua dengan sopan.
“Tapi kupikir ini cocok untukmu, besok pakai gaun ini, paman akan mengajakmu ke tempat yang indah.”
Laohua tidak begitu mengerti keinginan Ca Hongqi, setelah memberikan begitu banyak pakaian Ca Hongqi pergi sekali lagi.
“Humm ... Laohua lebih suka warna biru,” gumam gadis kecil tersebut.
Keesokan harinya Laohua mengenakan gaun berwarna putih dengan perpaduan biru muda, gaun tersebut terlihat begitu cocok di tubuh Laohua dan menambah keimutan gadis kecil tersebut.
Ca Hongqi datang setelah Laohua menyelesaikan sarapannya, raut bahagia pria tersebut berubah menjadi kemarahan melihat laohua mengenakan gaun selain yang ia berikan kemarin.
“Kenapa tidak memakai gaun yang kemarin kuberikan padamu?” tanya pria tersebut dengan raut wajah masam.
“Laohua kurang suka dengan warnanya,” jawab Laohua.
Ca Hongqi meraih tangan Laohua dan membawa gadis tersebut kembali ke kamarnya.
“Pakai gaun yang kuberikan, tidak akan kuizinkan kau keluar sebelum melakukan apa yang kuperintahkan.”
Ca Hongqi mendorong Laohua masuk dan menutup pintu kamar hingga mengeluarkan suara yang begitu keras.
Mata Laohua berkaca-kaca, gadis tersebut merasa takut melihat Ca Hongqi bersikap demikian.
__ADS_1
Dengan berat hati Laohua mengganti pakaiannya. Semua pakaian yang dibawakan oleh Ca Hongqi kemarin terlihat begitu mewah dengan berbagai macam hiasan di kainnya. Terlihat begitu dewasa untuk Laohua yang masih belum genap berumur sepuluh tahun.
Laohua mengetuk pintu kamarnya dan mengatakan jika sudah berganti pakaian. Pintu kemudian terbuka, Ca Hongqi terlihat begitu senang dengan penampilan Laohua.
“Kau terlihat seperti ibumu.”
Keduanya berjalan keluar dari kediaman Ca Hongqi, tidak banyak yang Laohua mengerti tentang ucapan-ucapan pria tersebut, sepanjang jalan Laohua hanya mendengar Ca Hongqi mengenalkan sektenya.
Hari-hari berlalu dan Laohua semakin dikekang oleh Ca Hongqi, ia harus berpakaian dengan gaun berwarna kuning, tidak boleh yang lain. Pola makan gadis kecil tersebut juga semakin diatur oleh Ca Hongqi. Semakin banyak sayur yang menjadi hidangan, Cha Hongqi melarang Laohua memakan terlalu banyak daging karena takut Laohua menjadi gemuk.
Laohua tidak bisa menolak maupun memberontak, setiap ia berusaha menolak Ca Hongqi akan menggenggam tangannya dengan begitu erat hingga meninggalkan bekas di pergelangannya.
“Kau harus memakan sayur lebih banyak.” Ca Hongqi meletakkan sepotong sayur di mangkuk Laohua.
“Laohua tidak suka sayur....”
“Kau harus menyukainya, ibumu menyukai sayuran.” Ca Hongqi tersenyum manis.
“Tapi Laohua tidak suka, Laohua tidak seperti Ibu ... aku bukan Ibu.”
Ca Hongqi berdiri dari tempatnya dan meraih tangan Laohua, menyeret gadis tersebut keluar dari kediaman ke tempat terpencil jauh dari kediaman Ca Hongqi.
Sebuah bangunan kecil, terlihat begitu tua dan tidak terawat. Ca Hongqi membuka pintunya dan melempar Laohua ke dalam tempat tersebut. pintu tertutup dengan keras, Ca Hongqi mengunci pintu dan menyimpan kuncinya.
“Kau harus merenungkan kesalahanmu. Aku sudah melakukan yang terbaik untukmu ... sungguh kurang ajar jika kau membantah perintahku.”
Laohua begitu takut dengan ruangan yang begitu gelap dan pengap. Susah payah laohua menggedor pintu tapi tidak respon dari luar, ia juga berusaha menarik pintu tersebut, tapi pintu tersebut benar-benar terkunci dari luar.
“Paman jahat! Keluarkan Laohua dari sini!”
Butiran bening mengalir melewati pipi mungil gadis kecil tersebut, Laohua mulai terisak. Rasa takut menyelimutinya sekarang, tidak menyangka Ca Hongqi akan menguncinya di ruangan yang begitu gelap.
Tidak ada ventilasi udara di ruang kecil tersebut, hanya ada tiang penyangga bangunan serta lukisan menghiasi dinding ruangan. Terlihat seperti gudang, tapi tidak ada banyak barang sehingga ruangan tersebut terasa sedikit luas.
__ADS_1
“Laohua ingin pulang.”
Laohua duduk bersandar di sudut ruangan, entah kenapa penglihatan Laohua perlahan menjadi lebih jelas sekalipun keadaan ruangan gelap gulita.
Sebenarnya sebelum dikurung seperti saat ini Laohua sudah beberapa kali mencoba untuk kabur, tapi usahanya sia-sia karena gerbang kediaman Ca Hongqi selalu dijaga oleh anggota sekte. Mencari jalan lain juga begitu sulit karena Ca Hongqi akan selalu menemukan keberadaannya.
Saat ini Laohua kebingungan apa yang harus ia lakukan untuk keluar dari ruang tempatnya dikurung sekarang. Sekali lagi Laohua meneteskan air mata, merasa bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.
***
Dua orang pemuda-pemudi menunggangi kuda beriringan, keduanya tidak brbincang satu sama lain dan menghabiskan perjalanan dalam keheningan.
Da Feng memimpin di depan sebagai pemimpin jalan, Weiruo berjalan agak di belakang pemuda tersebut.
“Sekte Teratai Emas itu termasuk sekte dengan kekuatan yang cukup besar, seingatku pemimpin sekte itu sudah mencapai tingkat Pendekar Roh setahun yang lalu.”
Weiruo mendengar penjelasan Da Feng, sudah berapa kali pemuda tersebut menjelaskan tentang Sekte Teratai Emas dan Weiruo mengingat tiap penjelasannya dengan baik.
“Bukankah sebentar lagi kau akan mencapai tingkat itu?” tanya Weiruo tiba-tiba.
“Aku sudah bisa memasuki tahap itu sebulan yang lalu, tapi aku merasa jika fondasiku kurang. Jadi aku akan menundanya sampai benar-benar siap.”
Weiruo mengerti penjelasan Da Feng, untuk saat ini dirinya juga menunda kenaikan tingkat bela dirinya karena merasa kurang kuat dalam fondasi energi dalamnya.
Manual Jiwa Dewi Bulan yang Weiruo gunakan sebagai dasar bela diri memungkinkan Weiruo untuk mengolah energi alam menjadi tenaga dalam murni yang kuat. Namun, perkembangan akan sedikit terhambat karena dibanding mengumpulkan energi sebanyak mungkin, Manual Jiwa Dewi Bulan lebih berfokus pada energi yang murni, sehingga sekalipun Weiruo kalah dalam tingkatan bela diri, tenaga dalam yang Weiruo miliki tidak bisa diremehkan kemurniannya.
Kemurnian tenaga dalam cukup berpengaruh terhadap kemampuan seorang pendekar.
Contohnya jika ada seorang Pendekar Tingkat Tiga tahap akhir berhadapan dengan pendekar dengan tingkatan yang sama dan hanya mengandalkan aura, maka yang memiliki energi dalam dengan kemurnian tinggi lah yang akan menang.
selain itu dengan kemurnian tenaga dalam yang tinggi seseorang dapat membentuk Inti Jiwa dengan tingkatan yang lebih tinggi, bahkan ketika menembus tingkat Pendekar Roh dapat membentuk Roh Spiritual tingkat Langit.
Begitu banyak keuntungan dengan adanya Manual Jiwa Dewi Bulan, tapi di saat bersamaan Weiruo juga harus mencari berbagai macam teknik bela diri yang cocok dengan kondisi Inti Spiritualnya.
__ADS_1
Inti Spiritual tanpa elemen, tidak ada kasus yang sama dengan yang Weiruo alami saat ini, mau tidak mau weiruo harus mengandalkan dirinya sendiri untuk menjadi kuat.