
“Aku akan membantumu selama sisa hidupku,” wanita ular tersebut berkata dengan penuh keyakinan.
Weiruo menaikkan alisnya, tentu merasa heran karena wanita ular di hadapannya sekarang dapat mengatakan hal itu dengan mudahnya.
“ ‘Sisa hidup’? sepertinya kau sedang sekarat?” Weiruo tersenyum tipis.
“Itu ... aku akan segera mati, jadi aku ingin setidaknya menjalami kehidupan yang tenang walau sesaat. Aku akan membalas kebaikanmu sebelum aku mati, aku berjanji.”
“Jangan bersikap menyedihkan.”
Weiruo menurunkan pedangnya, menghapus batas di antara keduanya.
“Kau begitu kuat, bagaimana kau bisa mati dengan begitu mudah?” tanya Weiruo.
“Itu sudah cukup lama....”
Wanita ular tersebut mulai bercerita, sebuah cerita singkat tentang hidupnya sebelum tiba lembah kecil ini.
Lima tahun lalu, Shema, wanita ular di depan Weiruo sekarang, hidup sebagai seorang prajurit di Suku Ular Perak, suku siluman ular yang reputasinya cukup terkenal di Kekaisaran Shui.
Memiliki musuh adalah hal yang wajar bagi Suku Ular Perak, tapi suku tersebut tidak menyadari siapa lawan mereka.
Ketua suku secara tidak sengaja menyinggung sebuah sekte aliran hitam yang ahli di bidang racun. Pada awalnya ketua suku hanya berpikir jika semua masalah akan terselesaikan dengan mudah seperti biasa. Namun, tidak disangka sekte tersebut datang dengan ratusan pendekar tingkat tinggi dan melakukan pembantaian pada Suku Ular Perak.
Shema adalah satu-satunya orang yang selamat, tapi dirinya juga mendapat sebuah serangan yang mengakibatkan luka dalam yang begitu parah serta racun mematikan tertanam di dalam tubuhnya.
Racun Darah Hitam, sebuah racun yang akan menggerogoti tubuh seseorang dan membuatnya menderita dari waktu ke waktu.
Sebuah keberuntungan bagi Shema karena dirinya sudah bertahan selama lima tahun. Dengan bantuan pil dirinya mampu menahan pertumbuhan racun tersebut selama tiga tahun lamanya.
Namun, Shema mengalami sedikit masalah dua tahun lalu sehingga harus bertarung dan mengalami luka dalam, racun di dalam tubuhnya menjadi begitu ganas sejak hari itu.
Shema menemukan lereng penuh tenaman spiritual secaratidak sengaja dan memutuskan untuk mencari tanaman yang cocok untuk menahan racun di dalam dirinya.
Akhir kehidupan yang tenang pikir Shema, tapi beberapa bulan terakhir cukup banyak orang yang datang untuk mengganggu ketenangan Shema dan berusaha merebut lembah tersebut darinya.
“Ini adalah luka terakhir dari mereka.”
Shema mengelus pelan perut kirinya yang terdapat sebuah luka sayatan yang belum mengering.
__ADS_1
“Aku hanya ingin mati dengan tenang di tempat ini, tidak lebih.” Shema tersenyum kecut, terlihat kesedihan di kedua matanya.
“Racun Darah Hitam?”
Weiruo duduk dan mengeluarkan sebuah buku, membuka dan membaca tiap halamannya dengan teliti. Beberapa saat berlalu dan Weiruo menutup bukunya, sbeuah senyum terukir di wajahnya.
“Apa yang akan kau lakukan jika aku membantumu menyembuhkan racun itu?” tanyanya pelan.
Sebuah pertanyaan singkat, tapi membuat tubuh Shema bergetar seketika. Jika Weiruo bisa menyembuhkan lukanya, bukan tidak mungkin dirinya dapat kembali pada sosoknya lima tahun lalu.
Namun, sesaat kemudian Shema kembali lesu. Dia tersenyum tipis, menatap Weiruo dengan tatapan kosong.
“Aku ... sudah begitu lelah dengan dunia ini,” ujarnya pelan.
“Baiklah jika demikian.”
Weiruo menyimpan buku tersebut dan berdiri dari tempatnya duduk. Tidak ada urusan lagi di antara keduanya, Weiruo tidak mempermasalahkan sikap Shema sebelumnya dan Shema juga tidak mempermasalahkan kehadiran Weiruo.
Tidak ada hal yang perlu dilakukan, Weiruo juga harus segera kembali ke Balai Obat.
“Ah, tunggu ... aku....”
Weiruo menghentikan langkahnya, berbalik ketika Shema memanggilnya.
“... pedang ... aku akan menjadi pedang dan perisaimu, jadi tolong sembuhkan diriku.”
“Pedang dan perisaiku? Bukankah itu artinya kau siap mati untukku?”
“Benar ... tapi aku ingin menikmati kesempatanku untuk hidup kali ini. Nyawaku akan menjadi milikmu sepenuhnya.”
“Setelah kau menelan pil ini, racun itu akan menjadi sedikit lebih jinak.”
Weiruo melempar sebuah botol giok berisi tiga buah Pil Teratai. Racun yang ada di dalam tubuh Shema saat ini kurang lebih sama dengan yang ada di tubuh Da Feng sebelumnya, tapi milik Shema jauh lebih kuat.
Setelah meminum satu butir, Shema bisa merasakan kondisi tubuhnya segera membaik, lukanya juga sedikit menutup karena efek pil.
“Mulai sekarang aku, Shema, akan menjadi bawahan Nona Weiruo. Dengan langit sebagai saksi, aku bersumpah setia ini aku berjanji akan menjadi pedang dan perisai yang selalu melindunginya.”
Sebuah guntur tiba-tiba menyambar di angit yang cerah, cukup mengejutkan Weiruo, ia tidak menyangka akan ada petir di siang hari yang begitu cerah.
__ADS_1
“Apa akan ada badai?” tanyanya pada diri sendiri.
“Bukan, itu adalah bukti bahwa langit menjadi saksi sumpah saya. Jika saya memiliki sebuah niat untuk berkhianat dari anda, maka aya akan mendapathukuman dari langit,” jelas Shema.
Weiruo terkejut, berdasarkan penjelasan Shema, berarti wanita tersebut akan menjadi bawahan Weiruo yang tidak dapat berkhianat.
“Sumpah langit akan berakhir ketika orang yang menerima sumpah ingin mengakhiri sumpah tersebut, setelahnya orang tersebut tidak akan mendapat sumpah yang sama dari orang yang sama,” lanjut Shema seolah mengetahui isi hati Weiruo.
“Kenapa kau melakukan sumpah seperti itu?” tanya Weiruo.
“Entahlah ... aku merasa begitu tenang setelah melakukannya.” Shema hanya tersenyum tipis sebelum memberi salam kepada Weiruo sebagai seorang bawahan setianya mulai sekarang.
“Terserah padamu. Hmm ... bolehkah aku mengambil beberapa tanaman spiritual di sana?”
“Tentu, anda bisa mengambil semuanya karena memang mulai sekarang tidak ada yang menguasai tempat ini.”
“Baiklah.”
Weiruo pergi meninggalkan Shema dan kembali ke Kota Gohu. Lalu seperti yang ia katakan, Weiruo kembali keesokan harinya bersama Qi Jia.
Awalnya Qi Jia kebingungan kenapa Weiruo membawnaya memasuki hutan, kebingungannya berubah menjadi keterkejutan ketika melihat Shema yang berada dalam wujud ularnya.
“Dia Shema, bisa dibilang dia adalah bawahanku.”
Qi Jia dengan ragu mengenalkan dirinya, setelah beberapa percakapan kewaspadaannya seidkit menurun dan rasa takutnya juga sedikit menghilang.
Weiruo meminta Qi Jia untuk membantunya memetik tanaman spiritual, serta mengenalkan beberapa jenis tanamaan spiritual padanya.
***
Ada begitu banyak persiapan sebelum membuka Balai Obat, selain tanaman spiritual Weiruo juga harus mencari beberapa orang untuk mengurus pelayanan di tempat tersebut.
“Ada baiknya anda mengambil semua tanaman di sini.”
“Bukankah lebih baik jika membiarkan mereka tetap tumbuh? Aku dapat memanen mereka di masa depan.” Weiruo mencabut satu tanama spiritual dan menatanya di keranjang yang sudah disiapkan.
“Tempat inibegitu jauh dari kota tempat anda tinggal sekarang. Lalu mulai dari sekarang saya akan mengikuti anda, jadi lebih baik mengambil semuanya tanpa meninggalkan apapun.”
Weiruo berpikir sejenak sebelum mengiyakan saran Shema, lagipula tanaman spiritual di lembah tersebut bukanlah tanaman spiritual yang langka.
__ADS_1
“Bukankah itu Qi Jia? Apa yang terjadi padanya?”
Shema memperhatikan Qi Jia yang berlari ke arah keduanya dengan keadaan yang cukup kacau.