Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 37-Kabar Buruk


__ADS_3

Zhang Qinzie berdiri di depan gerbang istana, menunggu sang kakak kembali membawa kabar baik.


Para pelayan dan penjaga di sana sudah meminta gadis tersebut untuk beristirahat, tapi Zhang Qinzie menolak dan mengatakan jika dirinya akan menunggu kakaknya kembali bersama Weiruo.


Dari kejauhan terlihat sekelompok pasukan datang, Zhang Qinzie mengenali sosok yang memimpin pasukan tersebut.


Namun, senyuman Zhang Qinzie hilang seketika ketika melihat Weiruo yang tidak sadarkan diri.


“Cepat panggil tabib istana!”


“K-Kakak, apa yang terjadi pada Nona Ruo?” tanya Zhang Qinzie khawatir.


“Akan kuceritakan nanti.”


***


Hari berganti, Weiruo mendapat perawatan dari tabib istana sehingga kondisinya pulih dengan cukup cepat.


Shema terus berada di samping gadis tersebut hingga Weiruo sadarkan diri. Sesaat setelah sadarkan diri Weiruo menghembuskan napas kesal dan langsung duduk bersila untuk melatih tenaga dalamnya.


Melihat sikap Weiruo, Shema hanya diam dan pergi meninggalkannya sendirian di kamar tersebut.


“Nona Shema?”


Shema menghentikan langkahnya, berbalik dan melihat sosok Zhang Qinzie yang sudah berada di belakangnya. Tatapannya meneliti gadis tersebut sejenak sebelum bertanya apa tujuan Zhang Qinzie memanggilnya.


“Bagaimana keadaan Nona Ruo?”


“Tuanku baik-baik saja, dia sedang berlatih jadi tidak perlu terlalu khawatir.”


“Nona Ruo langsung berlatih setelah sadar?” Zhang Qinzie terkejut dengan jawaban Shema.


“Tidak, aku sudah cukup beristirahat.”


Zhang Qinzie hampir saja melompat saking kagetnya, sementara Weiruo hanya tersenyum tipis.


“Aku harus kembali, sampaikan salamku pada Kakakmu.”


“Kembali? Kenapa begitu cepat? Kakak sudah menyiapkan pesta kecil untuk menyambut Nona.”


“Tidak perlu repot-repot. Ada hal yang harus kulakukan sehingga aku harus segera kembali. Sampaikan saja salamku pada Kakakmu.”


“Baik.”

__ADS_1


***


Kabar kegagalan pemberontakan Pangeran Kedua Zhang Jin menjadi topik hangat selama beberapa hari terakhir, berita tersebut menyebar dengan cukup cepat bahkan dengan cepat sudah mencapai Kekaisaran Xifeng.


Weiruo memacu kudanya agar berlari lebih cepat, sudah tiga hari ia menempuh perjalanan kembali ke Kekaisaran Xifeng.


Beberapa hari kemudian Weiruo sudah tiba di ibukota, perjalanan lebih cepat dari sebelumnya karena Weiruo mengurangi waktu istirahatnya, tidak seperti sebelumnya di mana Weiruo banyak berhenti di desa ataupun kota kecil untuk beristirahat.


Jalanan menuju istana cukup ramai dan Weiruo memilih untuk turun dari Baise. Di tengah keramaian orang berlalu lalang, Weiruo mendengar satu hal yang cukup mengganggu telinganya.


“Kudengar ada penyerangan di istana tadi malam.”


“Benar, kabarnya ada beberapa orang yang terluka.”


Langkah Weiruo terhenti, hatinya tidak tenang setelah mendengar percakapan beberapa orang yang berpapasan dengannya tadi.


Buru-buru Weiruo menaiki Baise dan memacu kuda tersebut ke Balai Obat. Sesampainya di sana Weiruo segera menemui Yu Shuyan, sayangnya pria tua tersebut masih dalam latihan tertutupnya.


Akhirnya Weiruo bertanya pada seorang gadis ahli pil yang sebelumnya pernah bertemu dengan Weiruo.


Setelah perbincangan singkat Weiruo tanpa pikir panjang langsung kembali ke istana.


Penjagaan di gerbang selatan meningkat sehingga cukup sulit bagi Weiruo mencari celah untuk masuk secara diam-diam.


“Apa latihan tertutup Nona berjalan dengan lancar?” tanya Yinyi begitu Weiruo mendatanginya.


“Ya. Apa yang terjadi sebelum aku keluar dari latihanku? Aku merasa ada energi asing.”


Yinyi terlihat ragu, tapi setelah Weiruo meyakinkan gadis tersebut, Yinyi akhirnya mulai bercerita.


Kemarin malam terjadi penyerangan oleh sekelompok pendekar asing. Bukannya mengincar keluarga kerajaan, kelompok tersebut mengincar Laohua.


Prajurit di istana segera melawan kelompok tersebut begitu mendengar teriakan Xuan Riuyi yang kebetulan tengah bersama Laohua.


Kelompok pendekar tersebut memiliki tingkat bela diri yang begitu tinggi, para prajurit di istana gagal menghentikan aksi mereka sehingga Laohua berhasil direbut dari Xuan Riuyi.


Da Feng yang mendengar keributan tentu saja merasa penasaran sehingga mendatangi kediaman Xuan Riuyi yang jaraknya cukup jauh dari Paviliun Anggrek Hitam. Mengetahui ada penyusup tentu saja Da Feng tidak tinggal diam dan berusaha menghentikan sekelompok penyusup tersebut sebelum mereka kabur begitu saja.


Melawan satu atau dua orang bukanlah masalah bagi pemuda tersebut, tapi jumlah musuh yang mencapai belasan dengan tingkat bela diri yang jauh lebih tinggi membuat pemuda tersebut kesulitan. Pada akhirnya Da Feng gagal menahan para penyusup tersebut dan mengalami luka yang cukup parah.


Xuan Riuyi mengurung diri di kamarnya sejak kejadian kemarin malam, wanita tersebut merasa bersalah karena gagal menjaga Laohua.


Ketika Weiruo datang Xuan Riuyi tidak terlalu merespon, wanita tersebut duduk di tempat tidurnya, matanya sembab wajahnya nampak sedikit pucat.

__ADS_1


“Ibu....”


Weiruo memeluk Xuan Riuyi, tidak mengucapkan sepatah katapun, hanya memeluk wanita tersebut dan membiarkannya menangis di dalam pelukannya.


***


“Lembah Darah?”


Da Feng mengangguk, kemudian menjelaskan dengan rinci tentang Lembah Darah pada Weiruo.


Lembah Darah lebih dikenal sebagai organisasi daripada sebuah sekte, Lembah Darah bergerak di bawah perintah orang-orang yang telah menyewa mereka. mulai dari pembunuhan, penculikan, serta penyeludupan banyak dilakukan oleh organisasi tersebut.


Da Feng mengeluarkan sebuah lencana yang berhasil ia rebut dari salah satu penyusup tadi malam.


“Aku terluka demi benda kecil ini,” keluh Da Feng sembari memegang bahunya yang terbalut perban.


Weiruo mengeluarkan sebotol pil dan melemparnya pada pemuda tersebut, Da Feng hanya tersenyum kecil sebelum mengonsumsi pil tersebut.


“Jelaskan lebih rinci tentang organisasi ini.”


Da Feng mulai menjelaskan, pekerjaan, hingga para penyewa jasa organisasi tersebut.


“Jadi mereka tidak ingin nama mereka dikenal buruk, ya.” Weiruo memainkan lencana bergambar sebuah lembah dengan warna merah gelap.


“Begitulah cara dunia bekerja,” sahut Da Feng.


“Pulihkan dirimu, kita akan mendatangi mereka.”


Seketika juga Da Feng membuka matanya, terkejut dengan ucapan Weiruo. Lembah Darah bukan organisasi kecil yang gampang dikalahkan begitu saja, ada ratusan orang pembunuh terampil di tempat tersebut.


“Kita hanya akan menyusup sebentar,” lanjut Weiruo melihat respon Da Feng.


Weiruo pergi begitu saja, ketika malam tiba gadis tersebut mulai menghabiskan waktu di hutan bambu untuk berlatih.


Suara ayunan pedang yang membelah udara terus terdengar sepanjang malam, Weiruo terus melatih gerakan berpedangnya tanpa henti. Setelah berlatih begitu keras Weiruo hanya akan beristirahat selama tiga jam sebelum kembali melanjutkan latihannya seperti orang yang tidak kenal lelah.


Selain menyiapkan diri untuk kepergiannya menuju Lembah Darah, Weiruo juga melampiaskan rasa kesalnya setelah pertarungan melawan Zhang Jin.


Weiruo menyadari betapa lemahnya ia sekarang, di dunia pendekar dirinya tidak lebih dari seorang bayi kecil ynag baru saja belajar cara berjalan.


Dibanding dengan luasnya dunia pendekar tentu saja bukanlah apa-apa. Selain kemampuan bela diri dari kehidupan pertamanya Weiruo hanya mengandalkan sikap buruknya yang begitu nekat ketika melakukan sesuatu.


Weiruo bertekad untuk menjadi lebih kuat, jauh lebih kuat dari sosok Xuan Weiruo serta dirinya yang dulu, menjadi lebih kuat hingga tidak ada orang yang meremehkannya.

__ADS_1


__ADS_2