
Samar suara isak tangis terdengar, Weiruo perlahan membuka kelopak matanya yang terasa seolah begitu berat. Sesekali ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya di sekitar.
“Ibu? Huh ... ternyata aku selamat,” gumam Weiruo pelan.
“Putriku? Akhirnya kau sadar.” Xuan Riuyi memeluk Weiruo erat dan mulai menangis.
Weiruo melihat jendela yang setengah terbuka, cahaya matahari masuk melewati jendela tersebut, tanda jika sudah berganti hari.
“Aku baik-baik saja,” ujar Weiruo berusaha menenangkan sang ibu yang masih menangis.
“Baik-baik saja? Kau kembali dalam keadaan pingsan dan tubuh penuh luka! Bagaimana bisa kau berkata demikian?!”
Tubuh Weiruo terguncang, di saat itulah ia menyadari jika tubuhnya begitu nyeri akibat luka-luka di beberapa bagian tubuhnya. weiruo mengerti perasaan ibunya, tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terbiasa bertarung hingga tubuhnya penuh dengan luka.
Lebih tepatnya, dulu dia tidak takut melakukan pertarungan hingga mati.
Tiba-tiba Weiruo teringat tentang korban penculikan semalam, dia kemudian meminta izin untuk bertemu dengan Xuan Guoxin.
...***...
“Mereka ayah pulangkan ke rumah masing-masing.”
Xuan Guoxin meletakkan kuas yang ada di tangannya, kemudian menatap Weiruo sejenak.
Rasanya tidak sampai sebulan semenjak kejadian tenggelamnya Weiruo, serta munculnya sifat baru dari gadis tersebut. Semuanya begitu berbeda, jarak antar keduanya kini semakin besar.
“Begitu, ya. Kalau begitu aku pergi dulu.”
Melihat begitu tidak pedulinya Weiruo membuat Xuan Guoxin sedikit sakit hati. Dulu Weiruo selalu melakukan banyak cara hanya untuk mendapat perhatiannya, tapi sekarang berbicara dengannya saja Weiruo seolah begitu malas.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Xuan Guoxin tiba-tiba.
“Baik, bukankah Ayah sudah bertanya sebelumnya?”
“Ayah lupa. Segera kembali dan beristirahatlah.”
Weiruo hanya mengangguk sebelum pergi begitu saja, sementara itu Xuan Guoxin nampak sedih setelah Weiruo pergi, pria tersebut merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.
...***...
Sudah sebulan berlalu sejak tragedi penculikan yang dialami Weiruo, semenjak kejadian itu Paviliun Anggrek Hitam dijaga ketat oleh penjaga istana.
Keadaan itu membuat Weiruo tidak nyaman karena dirinya terbiasa hidup menyendiri.
__ADS_1
“Aku harus membiasakan diri.”
Weiruo membenamkan dirinya di air hangat, rasanya sangat nyaman karena udara di luar terasa begitu dingin.
“Sebentar lagi musim dingin akan berakhir.”
“Nona, anda ingin mengenakan gaun dengan warna apa?” tanya Yinyi dari balik sekat pembatas.
“Apa saja.”
“Baik.”
Weiruo segera mengakhiri sesi berendamnya dan menyiapkan diri untuk bersantai.
Weiruo mengamati halaman kediamannya, salju sudah mulai meleleh, tapi udara masih saja begitu dingin.
Ia berjalan ke gerbang paviliun, ada dua orang penjaga berdiri di sana, mereka nampak asik membicarakan sesuatu.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya weiruo tiba-tiba.
Kedua pria tersebut jelas terkejut mendapati Weiruo sudah berjarak beberapa langkah dari mereka, buru-buru keduanya memberi salam sebelum menjawab pertanyaan Weiruo barusan.
“Tuan Putri, kami berbicara tentang Kontes Perburuan yang akan diadakan dalam 2 minggu mendatang.”
“Kontes Perburuan? Apa itu?”
Kontes Perburuan adalah acara tahunan Kekaisaran Xifeng, diadakan setiap awal musim semi sebagai acara pergantian musim. Peserta tidak dibatasi dari kalangan apapun dan tingkat pendekar apapun.
Semua peserta yang ikut kemudian berburu hewan di Hutan Kabut, baik hewan biasa maupun hewan spiritual.
Peserta yang memiliki poin tertinggi akan mendapat hadiah sesuai dengan posisi yang mereka dapatkan.
“Kurang lebih begitu, sebagian peserta adalah pendekar, mungkin akan cukup sulit untuk orang biasa mengikuti acara itu.”
“Walau begitu Kaisar memberikan kesempatan agar peserta yang gagal dapat menukar hasil buruan mereka dengan uang, setidaknya usaha mereka tidak sia-sia,” sanggah salah satu penjaga.
“Begitu, ya, terima kasih informasinya.” Weiruo pergi meninggalkan keduanya begitu saja.
Ia pergi ke hutan bambu kecil di sebelah kediamannya, sebenarnya wilayah dari kediaman Weiruo sangat luas, hanya saja sebagian besar terisi oleh hutan bambu dan taman lengkap dengan kolam ikannya.
Weiruo segera berganti pakaian dan pergi ke hutan bambu untuk berlatih. Gadis tersebut banyak menghabiskan waktu di dalam hutan bambu untuk berlatih, terlebih setelah ia berhasil merombak bagian dalam hutan bambu menjadi tempat yang cocok untuk berlatih.
“Ya, tidak akan ada yang tahu.”
__ADS_1
Demi menghindari kecurigaan, Weiruo bahkan menanam bambu di sekitar agar tempat tersebut cukup tertutup.
Karena masih ada waktu 2 minggu, Weiruo tidak terlalu terburu-buru ketika berlatih.
Tanpa dirasa seminggu telah berlalu dan Weiruo sudah berkembang cukup baik. Karena tidak memiliki senjata, Weiruo harus membeli senjata dari pengrajin senjata terlebih dahulu.
Seperti biasa Weiruo pergi secara diam-diam demi menghindari pengawalan. Hari sudah gelap saat Weiruo pergi keluar.
Weiruo tidak berharap ada toko senjata maupun pengrajin senjata yang masih buka saat ini karena malam sudah begitu larut. Namun, Weiruo cukup beruntung mendapati sebuah toko senjata yang masih buka.
Toko tersebut terbilang kecil, mungkin lima orang saja sudah membuat toko tersebut terasa sesak.
“Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya pria tua pemilik toko senjata tersebut.
“Aku butuh sepasang belati, usahakan yang ringan dan tajam,” ucap Weiruo tanpa banyak basa-basi.
Pria tua tersebut mengangguk paham dan menunjukkan beberapa buah belati padanya.
“Saya hanya memiliki ini, tidak memiliki yang dibuat khusus sepasang.”
Weiruo mengambil salah satu belati dan mengayunkannya ke udara, kemudian ia mainkan belati tersebut sambil melihat belati yang lain.
“Aku ambil dua belati ini, berapa?”
“Mata anda sangat bagus, harga keduanya adalah 35 koin emas.”
Weiruo mengangguk paham kemudian mengeluarkan kantong kecil berisi uang, setelah menghitung dan menyerahkan koin emas ke pria tersebut, Weiruo segera pergi dari sana.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, gadis tersebut berbalik dan melihat sekitar. Rasanya ia baru saja berpapasan dengan seseorang yang ia kenal tapi entah siapa. Namun, perasaan itu hilang begitu saja, sehingga Weiruo memilih untuk melanjutkan perjalanannya.
Karena berburu akan membuat seseorang banyak bergerak, Weiruo juga sudah memesan pakaian khusus yang didesain agar ia mudah bergerak ketika berburu nanti.
Pakaian tersebut sudah Weiruo pesan beberapa hari sebelumnya dengan Yinyi sebagai perantara.
“Nona, pakaiannya cocok untuk anda,” puji Yinyi melihat weiruo mengenakan pakaian untuknya berburu.
“Ya.”
Pakaian tersebut sudah tiba beberapa hari sebelumnya, tapi Weiruo malas untuk mencobanya. Untung saja pakaiannya cocok dengan Weiruo, ditambah bahannya yang nyaman digunakan ketika melakukan banyak aktifitas.
“Nona, apa anda benar-benar yakin mengikuti Kontes Perburuan?”
“Ya.”
__ADS_1
“Saya harap Nona berhati-hati, saya sering mendengar peserta terluka akibat serangan hewan spiritual. Lalu, kedua adik anda mengikuti acara itu, jadi saya ingin Nona berhati-hati.”
Weiruo hanya melihat sekilas pada Yinyi, sebelum pergi begitu saja. “Aku hanya akan bersenang-senang, tenang saja,” ucapnya sebelum pergi meninggalkan Yinyi.