Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 50-Desa Kecil


__ADS_3

“Kita akan pergi.” Weiruo menghampiri Da Feng yang sibuk berlatih pedang.


“Ke mana?” tanya Da Feng tanpa menghentikan ayunan pedangnya.


“Daerah perbatasan, terjadi penyerangan di sana.”


“Tanpa membawa prajurit?”


“Kita hanya akan memeriksa hingga pasukan tiba, kita bisa tiba lebih cepat dari pasukan dari istana.”


Da Feng menghentikan latihannya, sepertinya Weiruo akan mulai aktif bepergian mulai sekarang, dan pemuda tersebut akan ikut kemanapun Weiruo pergi.


Keduanya pergi sore hari setelah menyiapkan beberapa hal, mereka pergi tanpa menggunakan kuda karena baik Da Feng maupun Weiruo sudah mempelajari teknik Langkah Angin yang dapat meningkatkan kecepatan lari mereka, ditambah dengan kemampuan bela diri mereka, tidak sulit bagi mereka mendahului lari dari seekor kuda biasa.


Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Weiruo segera berangkat.


Seperti yang Weiruo katakan, gadis tersebut tiba di desa kecil yang dimaksud esok pagi harinya setelah perjalanan satu malam tanpa istirahat.


“Ukh—“ Weiruo menutup hidungnya rapat-rapat setibanya mereka di gerbang masuk desa.


Aroma busuk serta bau anyir tercium begitu kuat dari dalam desa kecil tersebut.


Weiruo dan Da Feng berjalan masuk dengan penuh kewaspadaan, sepanjang jalan yang mereka lihat hanyalah mayat berlumuran darah dengan luka menganga di tubuh mereka.


Tidak ada tanda-tanda kehidupan setelah Weiruo dan Da Feng memeriksa seluruh desa.


“Aku akan mencari siapapun yang melakukan ini,” gumam Weiruo.


“Aku menemukan jejak.”


Weiruo segera mengikuti Da Feng, keduanya berjalan cukup jauh memasuki wilayah hutan. Namun, jejak yang mereka ikuti hilang begitu saja begitu melewati sungai besar.


Da Feng tidak berhenti begitu saja, pemuda tersebut berusaha mencari jejak lain di sekitar tempat tersebut.


“Keluar kalian!”


Da Feng menghunuskan pedangnya ke arah semak belukar yang tumbuh tinggi di bawah pohon besar.


“Keluar atau kulempar pedang ini,” ancam Da Feng.

__ADS_1


Akhirnya semak tersebut bergerak, seorang gadis keluar dari semak tersebut menunjukkan dirinya pada Da Feng.


“Hanya aku sendiran, tidak ada orang lain selain diriku,” ucap gadis tersebut.


Weiruo datang setelah mendengar keributan. Melihat penampilan gadis di hadapannya sekarang membuat Weiruo yakin jika tidak semua orang di desa tewas pada malam kemarin.


“Aku adalah anggota kekaisaran, aku datang untuk membantu kalian. Katakan, berapa banyak orang banyak yang selamat, lalu di mana mereka semua?”


Gadis tersebut tetap bungkam dan tidak menjawab pertanyaan Weiruo.


“Aku tidak berbohong, katakan saja padaku.”


“Tida—“


“Kak Ying! Kaki Chuhua digigit ular!” teriak anak laki-laki kecil yang berlari ke arah mereka.


Yang dipanggil dengan panggilan ‘Kak Ying’ tersebut segera menoleh pada anak laki-laki tersebut dengan panik.


Anak laki-laki tersebut juga dengan cepat memahami arti tatapan Ying, tubuhnya membeku saking takutnya melihat pedang di tangan Da Feng.


“Kami tidak akan melukai kalian, bawa kami ke tempat anak bernama Chuhua itu, sepertinya keadaanya gawat.”


“K-Kakak akan menyembuhkan Chuhua, ‘kan?” tanya anak laki-laki tersebut dengan ragu.


“Tentu.”


Merasakan tidak ada bahaya dari Weiruo, anak kecil tersebut mengantar Weiruo ke tempat persembunyiannya serta anak-anak yang lain.


Segera setelah tiba Weiruo segera memberi pertolongan pertama pada gadis kecil yang terbaring menahan sakit di kakinya yang tergigit ular.


Dengan tenaga dalam Weiruo berhasil mengeluarkan racun ular dari kaki anak perembuan tersebut, setelah berhasil mengeluarkan racun tersebut Weiruo langsung membalut luka gadis kecil tersebut dengan kain.


Ying begitu senang melihat jika gadis kecil tersebut berhasil ditolong. Weiruo dan Da Feng melihat mereka dalam diam.


“Apa kau melamun?” tanya Da Feng menyadari jika Weiruo melamun.


“Tidak,” Weiruo menjawab dengan singkat.


Sebenarnya memang benar Weiruo melamun, gadis tersebut secara tiba-tiba mengingat kehidupan pertamanya. Dulu sering sekali Weiruo menghadapi momen seperti sekarang ini setelah berhasil membebaskan tawanan dari kawanan *******.

__ADS_1


Weiruo menghampiri mereka, menjelaskan tujuannya datang ke desa tempat tinggal mereka.


Ying mengajak Weiruo berbicara empat mata, Weiruo mengiyakan dan meminta Da Feng menjaga tiga orang anak yang bersembunyi bersama Ying.


Ying mulai bercerita ketika keduanya sudah cukup jauh dari anak-anak.


Awal kejadian tersebut sekitar tiga hari yang lalu, sebuah sekte baru saja dibangun tidak jauh dari desa mereka.


Kemudian sekte tersebut mengirimkan perwakilan mereka ke desa tempat tinggal Ying dan mendiskusikan tentang wilayah sekte tersebut, yang mana mereka berniat mengklaim desa tempat tinggal Ying sebagai wilayah mereka, sebagai gantinya sekte tersebut akan melindungi desa jika terjadi serangan binatang spiritual maupun binatang buas.


Namun, kepala desa menolak, lagipula desa sudah berada di bawah naungan kekaisaran, jika sekte tersebut ingin mengklaim desa di bawah kekuasaan mereka, sekte tersebut harus mendiskusikannya kepada kaisar.


Penolakan dari kepala desa dianggap sebagai hinaan oleh ketua sekte tersebut, sehingga selang beberapa hari kemudian mereka mengirim begitu banyak orang untuk menyerang desa.


“Apa kau tahu seberapa kuat sekte itu?” tanya Weiruo setelah Ying mengakhiri ceritanya.


“Saya tidak terlalu mengerti, tapi dari cerita ayah saya setelah pertemuan itu, ada seorang Pendekar Roh di sekte itu, sebentar lagi akan memasuki tahap selanjutnya, begitu yang saya dengar.”


“Baiklah. Aku akan membawa kalian ke ibukota untuk memberi penjelasan pada Kaisar nanti.”


Weiruo berbalik dan meninggalkan Ying. Jika terdapat Pendekar Roh tahap akhir di sekte tersebut maka Weiruo akan kesulitan jika memaksa menyerang, begitupun dengan Panglima Gong.


Memang benar Panglima Gong sudah berada di tahap akhir Pendekar Roh, tapi melawan sebuah sekte tentu saja sulit baginya.


Weiruo mencari kuda di sekitar desa, beruntungnya ada beberapa ekor kuda yang terlepas di sekitar desa tersebut.


Untungnya Ying bisa menunggangi kuda sehingga mereka bisa segera berangkat setelah makan.


Di tengah perjalanan mereka bertemu pasukan yang dipimpin oleh Panglima Gong. Setelah bertukar informasi dan beristirahat Weiruo melanjutkan perjalanan dan berhenti di sebuah kota kecil untuk beristirahat.


Ying begitu antusias melihat banyaknya orang di kota, selama ini Ying hanya menghabiskan waktunya di desa kecil tempat tinggalnya.


Kekaguman Ying bertambah setelah tiba di ibukota kekaisaran, baru pertama gadis tersebut melihat begitu banyak orang di jalanan serta bangunan mewah yang menjulang tinggi di kota.


Setibanya di istana Weiruo menempatkan Ying di kediaman khusus untuk tamu atau pendatang seperti Ying.


Keesokan harinya Ying menemui Xuan Guoxin untuk dimintai kejadian yang menimpa desanya, dengan begitu Xuan Guoxin dapat mengambil tindakan ke depannya.


Ying begitu terkejut mengetahui jika Weiruo adalah putri pertama kaisar, gadis tersebut tidak menyangka penolongnya adalah seorang tuan putri. Di dalam pikirannya seorang tuan putri hanya menghabiskan waktu untuk merias diri mereka di istana, serta menghabiskan waktu dengan gadis bangsawan sebayanya.

__ADS_1


__ADS_2