
“Apakah itu Qi Jia? Apa yang terjadi padanya?”
Weiruo reflek menoleh ketika Shema berkata demikian, gadis tersebut terkejut melihat keadaan Qi Jia yang cukup kacau.
“Apa yang terjadi padamu?” tanyanya setelah Qi Jia tiba tepat di hadapannya.
“Hah ... Nona hiks ... Putri dibawa pergi oleh pasukan pemberontak ... saya tidak bisa menghentikan mereka,” jelas Qi Jia, napasnya terengah-engah dan bibirnya bergetar ketika berbicara.
“Zhang Jin berhasil menemukan Zhang Qinzie ... artinya ia gagal melakukan pemberontakan.”
Weiruo diam sejenak, sebenarnya urusan Kekaisaran Lanjiang tidak ada sangkut pautnya dengan Weiruo, tapi gadis tersebut juga merasa tidak tega jika Zhang Qinzie dijadikan alat oleh Zhang Jin yang terkenal akan kekejamannya.
“Aku akan pergi.”
“Nona, saya ikut.”
Shema buru-buru menghentikan Weiruo, wanita tersebut bersikeras agar Weiruo mengajaknya.
“Baik, tapi ada baiknya jika kau tidak dalam wujud ularmu.”
Shema mengangguk senang, sesaat kemudian wujudnya yang semula separuh ular kini seutuhnya menjadi sosok manusia dengan paras yang begitu cantik.
Melihat keterkejutan Weiruo dan Qi Jia, Shema hanya tersenyum kecil. Sebenarnya Shema lebih nyaman dengan wujud setengah ularnya, tapi untuk saat ini ia harus dalam wujud manusia.
“Kita akan ke ibukota terlebih dahulu. Qi Jia, kau tetaplah di Kota Gohu, aku akan kembali ketika semua sudah selesai.”
Qi Jia mengangguk paham. Setelah sedikit persiapan Weiruo dan Shema segera pergi ke ibukota.
Jarak dari Kota Gohu ke ibukota terbilang cukup jauh, butuh waktu hampir setengah hari untuk tiba di ibukota. Karena kekacauan akibat pemberontakan, penjagaan di ibukota meningkat, setiap orang yang masuk akan diperiksa.
Weiruo dan Shema masuk ke dalam kereta milik salah satu pedagang yang hendak memasuki ibukota, untung saja pedagang tersebut sudah cukup terkenal sehingga keduanya lolos dari pemeriksaan.
Keadaan ibukota Kekaisaran Lanjiang saat ini cukup kacau, penyerangan para pemberontak berdampak cukup banyak terutama pada istana kekaisaran, sebagian bangunan mengalami kerusakan yang cukup parah akibat pemberontakan.
“Pria itu bertahan dengan cukup baik.”
Weiruo menyusup ke dalam istana, kemudian mencari keberadan Zhang Yin. Beruntungnya Weiruo dapat menemukan pemuda tersebut dengan cepat.
“Siapa kalian?” Zhang Yin menarik pedangnya dan menjadi waspada dengan kehadiran kedua sosok asing di hadapannya.
__ADS_1
“Adik perempuanmu dalam bahaya,” ucap Weiruo singkat sebelum menutup mulut Zhang Yin dan membawanya masuk ke ruangan yang berada tepat di sebelah mereka.
“Lepaskan aku! Aku bertanya padamu sekali lagi, siapa kalian dan apa tujuan kalian memasuki istana?” Zhang Yin memberontak dan bersikap begitu waspada.
“Aku Ruo, kebetulan mengenal adikmu di Kota Gohu, tepat pagi tadi Zhang Jin datang dan menculik adikmu, kau pasti tahu apa tujuannya.”
“Zie’er? Apa maksudmu, Nona?”
“Apa perkataanku kurang jelas?” Weiruo menjawab dengan tak acuh.
“Tidak ... maksudku apakah yang kau katakan benar? Adikku....”
Zhang Yin terlihat panik dan bingung. Weiruo hanya menatap pria tersebut, tentu saja dirinya sudah menduga jika Zhang Yin akan bersikap demikian.
“Dia anak yang baik dan cukup membantuku akhir-akhir ini. Jika kau mau ... aku bisa membantumu.”
***
“Lepaskan aku!” teriak seorang gadis yang terikat dan dikurung di dalam kurungan besi.
Gadis tersebut menatap tajam sosok pria di hadapannya, siapa lagi kalau bukan Zhang Jin.
Zhang Qinzie tidak menyangka jika kakak keduanya tersebut ddapat menemukan keberadaannya dengan cukup cepat.
Qi Jia awalnya berusaha menahan orang-ornag misterius tersebut, tapi orang-orang tersebut merupakan seorang pendekar yang tentu memiliki kekuatan di atas orang lain. Hanya dalam beberapa gerakan tangan Qi Jia terlempar karena energi yang dipeaskan orang-orang tersebut.
Zhang Qinzie kini merasa begitu bersalah karena tidak mengetahui keadaan Qi Jia setelah berusaha menolongnya.
Kini di hadapan kakak keduanya, Zhang Qinzie menjadi begitu tidak berdaya. Tidak ada yang bisa lakukan selain menunggu keajaiban datang padanya.
“Diam, jadilah adik penurut.”
Zhang Jin tersenyum miring dan pergi begitu saja meninggalkan Zhang Qinzie di dalam tenda yang gelap tanpa ada satupun penerangan.
“Ukh ... aku tidak ingin seperti ini,” gumam Zhang Qinzie pelan.
Gadis tersebut merasakan betapa menyedihkan dirinya, ketika hanya menjadi beban untuk kakak pertamanya, hanya menunggu keajaiban datang padanya, ia merasa begitu menyedihkan.
Saat ini Zhang Qinzie benar-benar tidak dapat melakukan apapun selain menunggu seseorang datang menolongnya. Besi-besi yang mengurungnya mengandung energi petir sehingga akan menyakiri Zhang Qinzie jika dirinya memaksa untuk menyentuh besi tersebut.
__ADS_1
Sebuah bayangan melesat di luar tenda, Zhang Qinzie terkejut sehingga langsung melihat ke arah mana sosok tersebut pergi.
Tenda sedikit terbuka, sosok bayangan hitam masuk dengan menyeret seorang pemuda yang sudah tidak sadarkan diri.
“Ssstt....” sosok tersebut mengisyaratkan Zhang Qinzie untuk diam.
“Nona Ruo?”
Sosok tersebut mengangguk pelan sebelum mengikat pemuda yang sudah ia lumpuhkan.
“Ah, besinya mengandung energi petir.”
Weiruo mengangguk paham kemudian mengalirkan energi dalam ke belatinya dan memotong besi tersebut dengan cukup mudah.
“Ikuti aku. Jangan membuat suara dan jangan sampai tertinggal dariku.”
Zhang Qinzhe mengangguk sebagai jawaban. Segera keduanya keluar dari tenda tersebut dan pergi dari sana secara diam-diam.
Namun, keberuntungan sedang tidak berpihak pada keduanya. Karena kecepatan langkah Weiruo, Zhang Qinzie kesulitan mengikuti hingga akhirnya tersandung batu dan jatuh. Tentu saja suara yang dihasilkan cukup untuk menarik perhatian orang-orang Zhang Jin di sana.
“Ayo.” Weiruo memaksa Zhang Qinzie untuk bangkit dan kembali berlari.
“Berhenti kalian!”
Semua yang ada di sekitar termpat tersebut segera mengejar keduanya.
Sementara itu di sisi lain Zhang Jin yang tengah sibuk merencanakan penyerangan merasa terganggu dengan keributan di luar.
“Apa yang terjadi di luar?”
Seorang pria tiba-tiba masuk dengan wajah panik, kemudian segera menjelaskan kekacauan yang terjadi di luar.
“Dasar tidak berguna!” zhang Jin menggebrak meja hingga terbelah menjadi dua, segera pria tersebut keluar untuk mengejar Zhang Qinzie sebelum pergi terlalu jauh.
Pria tersebut tidak sendirian, belasan orang mengikutinya, yang paling lemah di antara mereka setidaknya seorang Pendekar Tingkat Dua.
Entah apa yang dipikirkan Weiruo, menerobos masuk ke markas musuh dan menculik sandera begitu saja.
Raut wajah Zhang Jin terlihat begitu buruk, seolah akan melahap siapapun yang ada di hadapannya sekarang. Jika Zhang Qinzie berhasil kabur dan kembali pada Zhang Yin, itu berarti tidak ada kartu as untuknya.
__ADS_1
Tanpa adanya Zhang Qinzie sebagai sandera, pemberontakan yang dilakukan oleh Zhang Jin akan gagal, mengingat rencana pemberontakan sebelumnya telah gagal.
“AKAN KUCABIK SIAPAPUN DIA YANG BERANI MENGGANGGU RENCANAKU!!”