
Belasan ribu pendekar bergerak dalam beberapa kelompok terpisah, Weiruo dan Da Feng mengikuti Fu Cheng dalam kelompok utama yang akan berada di barisan paling depan.
Da Feng tak pernah mengalihkan pengawasannya dari Weiruo. Karena entah kenapa rasanya akan menjadi bencana jika melepaskan pengawasan pada gadis tersebut.
“Da Feng?” panggil Weiruo yang menyadari Weiruo melamun di bawah pohon.
Setelah pasukan tiba di wilayah Sekte Laut Darah, Fu Cheng langsung memerintahkan mereka untuk membangun kamp sebagai tempat beristirahat di sebuah hutan.
Penyerangan mungkin akan dilakukan besok pagi, selain karena pandangan malam yang terbatas, sebagian pasukan juga masih dalam perjalanan karena mengambil jalan memutar.
Da Feng langsung tersadar begitu Weiruo menepuk pundaknya.
“Bisa bicara sebentar? Hanya kita berdua.”
Weiruo langsung menyetujui dan mengikuti pemuda tersebut menjauh dari kelompok pendekar Sekte Cakar Naga.
“Ruo ... jujur saja, perasaanku tiba-tiba menjadi buruk, aku rasa penyerangan ini tidak akan berjalan dengan baik,” bisik Da Feng.
Weiruo menjauhkan kepala Da Feng dari telinganya, gadis tersebut tanpa menjawab berjalan menjauh.
“Ini keputusanku. Kembalilah jika masih ragu.”
Weiruo pergi begitu saja setelahnya, meninggalkan Da Feng yang masih bergelut dengan pikirannya.
Pagi datang begitu cepat, burung pengantar surat memberi kabar bahwa seluruh pasukan telah siap mengepung Sekte Laut Darah.
Fu Cheng memerintahkan seluruh pasukannya bersiap karena pertempuran akan segera dimulai.
Weiruo melirik Da Feng yang berdiri di sampingnya, pemuda tersebut tidak banyak bicara dan hanya mengikuti perintah yang Fu Cheng sampaikan.
...***...
Kediaman permaisuri dihebohkan dengan Xuan Riuyi yang berteriak histeris sedari pagi. Wanita tersebut terus memanggil nama putrinya dan meminta sang suami untuk membawanya menemui Weiruo.
“Suamiku ... putri kita pergi berperang ... aku tidak rela dia terluka! Bawa aku ke sana!” pinta Xuan Riuyi dengan air mata yang tak hentinya mengalir.
Xuan Guoxin berusaha menenangkan istrinya, setelah membaca surat di tangan wanita tersebut, Xuan Guoxin segera memanggil Panglima Gong.
Sekte Laut Darah dalam beberapa waktu terakhir benar-benar melakukan begitu banyak kekacauan, entah sudah berapa banyak nyawa melayang karena ulah mereka. Lalu secara tiba-tiba mendapat kabar jika putrinya akan pergi menyerang sekte tersebut, bagaimana bisa Xuan Riuyi tenang?
__ADS_1
“Aku mau menemui Putriku! Antar aku ke sana!”
Xuan Riuyi semakin histeris, dia tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya. Sudah cukup dengan perginya Yinyi, wanita tersebut tidak ingin kehilangan anaknya lagi.
Xuan Guoxin mengelus pipi istrinya dengan lembut demi menenangkannya. Terlihat tenang, tapi sebenarnya Xuan Guoxin juga kebingungan memikirkan bagaimana cara mereka menyusul Weiruo dalam waktu sesingkat mungkin.
“Suamiku ... firasatku mengatakan jika akan terjadi sesuatu yang buruk. Tolong bawa aku menemui Putriku...,” pintanya putus asa.
“Aku mengerti, aku akan mencari cara,” ucap Xuan Guoxin.
Sementara itu di sisi lain Shema juga nampak khawatir setelah membaca habis isi surat di tangannya. Wanita dengan mata merah menyala tersebut menggigit jarinya penuh kekhawatiran.
Jaraknya dengan Sekte Laut Darah sangat jauh, butuh waktu berhari-hari untuk tiba di sana. Jika sesuai dengan isi surat di tangannya itu, maka Weiruo dan Da Feng kini sudah berada di medan pertempuran.
Pantas saja kemarin malam Shema merasakan perasaan yang begitu aneh. Ikatan sumpahnya dengan Weiruo yang sebelumnya memudar, kemarin malam secara tiba-tiba ikatan sumpahnya jauh melemah dari sebelumnya.
Hati Shema tidak senang, wanita tersebut berjalan buru-buru keluar dari kamarnya dan menemui Qi Jia.
“Aku akan pergi menemui Nona, ini darurat,” ucapnya.
“Darurat? Apa terjadi sesuatu?”
Qi Jia terkejut membaca isi surat di tangannya. Gadis tersebut menanyakan rencana Shema selanjutnya, karena akan memakan waktu lama jika Shema menyusul Weiruo bahkan jika mengendarai kuda.
“Aku tidak peduli! Aku akan menyusul Nona! Aku telah bersumpah setia padanya! Jika aku gagal melindunginya, maka aku pantas untuk mati!”
Qi Jia terlihat khawatir melihat Shema yang terburu-buru menyiapkan dirinya, gadis tersebut juga ingin mengikuti Shema untuk membantu Weiruo. Namun, dirinya yang sekarang hanya akan menjadi hambatan bagi Weiruo ataupun Shema.
Gadis tersebut melihat Shema yang sibuk dengan persiapannya. Ketika Shema hendak pergi, ia menghentikan langkah wnaita tersebut.
“T-tolong berhati-hatilah. Saya memang tidak bisa membantu tapi saya harap kalian kembali dengan selamat!” ucapnya.
“Tentu, jangan khawatir.”
...***...
“HAHAHA ... HARI YANG TELAH KUTUNGGU AKHIRNYA TIBA!” seru seorang pria tua penuh semangat.
Di hadapan belasan ribu pasukan yang mengepung sektenya, pria tua tersebut tersenyum penuh kesenangan memandangi mereka semua.
__ADS_1
Dia adalah Gang Xue Hai, Ketua Sekte Laut Darah yang begitu terkenal akan kekejaman ketika membunuh musuhnya. Seorang pendekar yang begitu kejam dan tak pandang bulu ketika membunuh, entah sudah berapa banyak nyawa yang melayang hanya karena keinginannya untuk membunuh.
Fu Cheng tertawa kecil, pria tersebut kemudian menyahut ucapan Gang Xue Hai.
“TENTU! AKAN KUPERSEMBAHKAN KEMATIAN TERBURUK UNTUKMU!”
Tidak ada jawaban dari Gang Xue Hai, pria tua tersebut nampak kesal melihat wajah percaya diri Fu Cheng.
Fu Cheng menarik pedangnya, yang berukuran jauh lebih besar dari ukuran pedang pada umumnya. Pria tua tersebut menyangga pedang dengan bahu kanannya. Pedang yang besar, Weiruo memikiran berat pedang tersebut, mungkin di atas 50 kilo jika dilihat dari besarnya.
“KITA LIHAT SIAPA YANG AKAN MATI DI SINI!” teriak Gang Xue Hai.
Pia tua tersebut kemudian memberi perintah pada anggota sektenya untuk maju menyerang.
Seruan penuh semangat terdengan dari ribuan pendekar yang maju menyerang. Fu Cheng masih tidak memberi aba-aba pada pasukan sektenya.
“Nona Ruo, tolong berhati-hati,” ucap Fu Cheng tiba-tiba.
Weiruo terkejut, di tengah ketegangan itu tiba-tiba Fu Cheng berkata demikian. Dia hanya tersenyum dan mengangguk.
Akhirnya Fu Cheng memberi perintah, dua kubu pasukan akhirnya saling bertabrakan. Dentingan pedang langsung terdengar begitu nyaring di udara.
Weiruo berdiri d kejauhan, gadis tersebut menyapu sekitar dengan pandangannya mencari sosok Gun Donghai.
Pandangannya kemudian berhenti pada satu arah, seorang pria yang membelah lautan manusia dengan pedangnya, tak lain adalah Gun Donghai yang Weiruo cari. Namun, jarak mereka sangatlah jauh.
“Aku akan membunuhnya!”
Weiruo berlari ke arah lautan manuasia tersebut, menebas tiap musuh yang berusaha menghentikannya.
Da Feng mengikuti gadis tersebut. Namun, ia harus terpisah karena selusin pendekar menghadangnya secara bersamaan.
“Lihatlah, begitu muda tapi begitu berani mengikuti perang. Apa kau tidak takut mati?” ujar salah seorang pria yang menghadang Da Feng.
“Kalian sudah tua masih mengikuti perang, tidak takut tulang tua kalian patah?” sahut Da Feng.
Da Feng melompat dan melancarkan sebuah serangan yang berhasil ditahan oleh pria tua tersebut, mereka beradu pedang dan melancarkan serangan yang mematikan. Namun, Da Feng tidak terlihat kesulitan dan berhasil menghabisi mereka semua dalam waktu yang begitu singkat.
“K-kau ... pengguna racun!” dengan tenaga terakhirnya, seorang pemuda mengumpat pada Da Feng yang berhasil meracuni dirinya.
__ADS_1
Sudut bibir Da Feng tertarik, pemuda tersebut menyimpan jarum beracun yang dimilikinya sebelum melangkah pergi.