
“Kue ini sangat manis, dari mana Ruo’er membelinya?” tanya Xuan Riuyi.
“Aku membelinya dari pedagang kaki lima, apa Ibu menyukainya?” Weiruo tersenyum kecil sebelum mengeluarkan lebih banyak makanan yang sebelumnya dia beli sepanjang perjalanan.
Gadis tersebut terlihat begitu senang melihat sang ibu yang terlihat menikmati kue darinya.
Keduanya banyak berbincang hingga matahari tenggelam, karena sudah larut Weiruo memutuskan untuk kembali ke kediamannya dan beristirahat.
Keesokan harinya, Weiruo berniat keluar istana untuk pergi ke Asosiasi Teratai Biru, Weiruo penasaran dengan jurus-jurus bela diri sehingga memutuskan untuk mendatangi tempat tersebut dan membeli beberapa buku jurus.
Namun, hari ini Yinyi memaksa untuk ikut karena begitu khawatir jika Weiruo keluar sendirian. Berhari-hari Weiruo keluar tanpa dirinya membuat Yinyi sedikit khawatir.
Weiruo tentu mengizinkan Yinyi untuk ikut, tapi Weiruo meminta Yinyi untuk memakai topeng demi keamanan.
Keduanya menaiki kuda untuk pergi ke Asosiasi Teratai Biru agar lebih cepat sampai.
“Baise, jangan kabur,” ucap Weiruo pada kuda putih di hadapannya, tak lain adalah Baise yang sudah tidak bertemu dengan Weiruo cukup lama.
Entah bagaimana Baise bisa menemukan Weiruo, gadis tersebut juga merasa kebingungan karena tali kekang pada Baise masih sama seperti ketika mereka pertama kali bertemu, itu artinya Baise hidup liar sebelum bertemu kembali dengannya.
Yinyi berjalan mengekor pada Weiruo, gadis tersebut begitu terkejut dengan kemegahan Asosiasi Teratai Biru, terlebih semua pengunjung di tempat tersebut merupakan seorang bangsawan dan pendekar.
“Kita bertemu lagi,” sapa Weiruo pada seorang pemuda yang sebelumnya pernah menemani Weiruo dan Xiao Lang berbelanja.
“Ah, Nona ternyata masih mengenali saya.”
Weiruo mengajak Yinyi ke bagian yang menjual buku teknik bela diri serta senjata, gadis tersebut melihat-lihat beberapa buku teknik dan membeli yang menurutnya cocok dengannya.
Yinyi hanya bisa terdiam melihat betapa mudahnya Weiruo membayar ratusan bahkan ribuan koin emas tanpa pikir panjang, karena bagi pelayan seperti dirinya, satu koin emas sudahlah sangat berharga.
Yang Yinyi tidak ketahui adalah di dunia pendekar ratusan koin emas tidaklah terlalu berharga, mungkin hanya mampu membeli satu tanaman spiritual.
Weiruo mengajak Yinyi melihat beberapa senjata spiritual yang menarik perhatiannya. Di atas meja berjejer berbagai macam senjata spiritual dengan berbagai macam tingkatan.
__ADS_1
“Gelang ini senjata spiritual?” tanya Weiruo pada seorang pria yang menjaga stan senjata tersebut.
“Senjata spiritual memiliki begitu banyak jenis, Nona. Gelang ini berfungsi untuk melindungi pemakainya, bukan untuk bertarung!” pria tersebut menjelaskan tentang gelang yang dimaksud oleh Weiruo.
“Seberapa besar daya tahannya?”
“Gelang ini mampu menahan serangan Pendekar Fondasi Jiwa tahap awal!”
Weiruo melihat gelang tersebut beberapa saat, dirinya mungkin tidak membutuhkan gelang tersebut, tapi tiba-tiba saja Weiruo terpikir sang ibu sehingga membeli dua buah gelang.
Setelah membayar, Weiruo mengajak Yinyi untuk kembali ke istana.
Sebelum kembali, Weiruo mampir ke penginapan tempat Xiao Lang tinggal. Namun, ketika bertanya pada pemilik penginapan, pemilik penginapan tersebut mengatakan jika Xiao Lang baru saja pergi pagi tadi.
Weiruo terlihat sedikit kecewa, tapi gadis tersebut juga mengerti jika Xiao Lang seorang pengembara yang tidak akan menetap lama di satu tempat.
Weiruo mengajak Yinyi untuk segera kembali ke istana, gadis tersebut memacu kudanya pelan karena Yinyi akan kesulitan jika dirinya terlalu cepat.
Sesampainya di istana, Weiruo memberikan satu gelang pada Yinyi, membuat gadis tersebut terkejut karena tahu jika gelang kecil di tangannya saat ini memiliki harga yang fantastis.
“Aku tidak membutuhkan gelang ini, aku membelinya untukmu.” Weiruo memasang gelang tersebut ke pergelangan tangan Yinyi.
“Suatu saat mungkin ini akan berguna.”
Weiruo melanjutkan langkahnya, ia pergi ke kediaman permaisuri untuk menemui sang ibu.
...***...
Sebulan telah berlalu semenjak pelelangan dari Asosiasi Teratai Biru. Selama sebulan Weiruo juga terus berlatih dan dan meningkatkan kemampuan bela dirinya. Kini Weiruo sudah berada di tingkat Pendekar Tingkat Satu tahap menengah.
Weiruo berlatih dengan begitu giat, dirinya akan meningkatkan pelatihan tenaga dalamnya di siang hari dan berlatih bela diri ketika malam tiba, kadang Weiruo akan berlatih hingga matahari terbit kemudian tidur selama satu atau dua jam saja.
Selain berlatih bela diri dan meningkatkan pelatihannya, Weiruo juga berlatih tentang obat-obatan serta racun, terutama racun mengingat pada kehidupan sebelumnya Weiruo sering berjumpa dengan bahan-bahan beracun ketika melaksanakan misi.
__ADS_1
Hanya saja Weiruo tidak bisa menggunakan bahan beracun tanpa perintah khusus mengingat dirinya tidak ditugaskan untuk membunuh orang.
Mengetahui jika ada pendekar pengguna racun, Weiruo menjadi cukup pesaran, mungkin dirinya juga dapat menjadi pendekar pengguna racun dan membunuh orang dengan racun.
Sedikit psikopat, tapi Weiruo kadang ingin sekali meluapkan emosinya dengan meracuni orang.
“Ya, tapi racun terlalu beresiko.”
Weiruo membuka buku resep pil dasar yang ia beli sebulan sebelumnya, di dalam buku tersebut terdapat beberapa resep pil serta ramuan yang umum digunakan oleh pendekar tahap awal berlatih.
“Pil Energi, Pil Penguat Tulang,...,” Weiruo membaca tiap jenis pil di buku tersebut.
Karena penasaran dengan ilmu obat, Weiruo akhirnya kembali mengunjungi Asosiasi Teratai Biru untuk membeli beberapa tanaman spiritual serta tungku pil.
Membuat pil bukanlah hal yang mudah, selain membutuhkan teknik api khusus, tapi juga konsentrasi yang tinggi agar tiap bahan tercampur dengan sempurna.
Weiruo membuka buku tentang dasar seorang ahli pil, dengan teliti Weiruo membaca tiap halaman untuk memahami pembuatan sebuah pil.
“Mari kita coba membuat beberapa.”
Weiruo tidak terlalu paham tentang ilmu sihir sehingga dirinya membeli beberapa batu energi untuk membantunya menciptakan api dengan tenaga dalam.
Sebenarnya menggunakan batu energi tidaklah efektif untuk membuat pil, karena batu tersebut digunakan untuk mengubah elemen spiritual dalam waktu yang singkat atau membantu meningkatkan tenaga dalam jika menggunakan jenis elemen yang sama.
Satu batu berharga sepuluh keping emas, harganya terbilang murah karena kualitasnya masih tergolong rendah.
Weiruo menggenggam satu batu dan mengalirkan tenaga dalamnya, perlahan energi terkumpul dan berfokus pada satu titik hingga terbentuklah api kecil di tangan Weiruo.
Setelah berhasil mengendalikan api di tangannya, Weiruo kemudian mengalirkan tenaga dalam untuk memanaskan tungku, di saat bersamaan Weiruo memasukkan bahan pil yang akan ia buat dan mengalirkan tenaga dalam ke tungku di hadapannya.
Perlahan bahan di dalam tungku mulai melebur dan berubah menjadi cairan yang berputar di dalam tungku, pada tahap ini Weiruo harus memfokuskan diri agar setiap bahan tercampur dengan sempurna dan membentuk pil.
Setelah bahan tercampur dan berhasil membentuk pil, Weiruo menarik tenaga dalamnya dan mengecek ke dalam tungku, ada lima buah pil di dalamnya, hanya saja satu di antaranya gagal karena hancur ketika Weiruo mengambilnya.
__ADS_1
“Setidaknya masih ada empat tersisa.”