
Da Feng kembali dalam waktu yang singkat, dia tidak datang seorang diri, melainkan dengan tiga orang pria tua yang berjalan di belakangnya. Ketiganya membawa tas berat berisi gulungan kertas dan alat lukis, mereka memberi salam sebelum memperkenalkan diri mereka sebagai pelukis. Ketiganya adalah yang terbaik di ibukota saat ini.
Weiruo memandangi mereka satu per satu sebelum beralih pada Da Feng yang berdiri di sampingnya.
“Duduklah, aku akan menyiapkan teh untukmu.”
Sebuah kain tipis Da Feng letakkan di atas tubuh Weiruo, kainnya cukup tipis sehingga Weiruo masih bisa melihat keadaan sekitar walaupun wajahnya tertutup oleh kain.
“Terima kasih,” ucapnya pelan dengan suara sedikit serak.
Da Feng pergi meninggalkan Weiruo. Sedangkan gadis tersebut meminta ketiga pelukis tersebut untuk mendekat.
“Kalian, lukislah Yinyi ... dengan kemampuan terbaik kalian. Buat dia terlihat hidup di lukisan itu ... aku akan membayar kalian berapapun yang kalian inginkan!”
Ketiga pria tua tersebut segera mengeluarkan alat gambar mereka, ketiganya melihat jasad Yinyi terlebih dahulu sebelum mulai menggoreskan kuas di atas lembar kertas mereka.
Weiruo memperhatikan mereka, yang sibuk dengan sketsa yang tak kunjung usai.
Da Feng kembali ke aula dengan nampan teh hangat. Pemuda tersebut menuang ke satu cangkir dan memberikannya pada Weiruo.
“Tenggorokanmu sudah lebih baik?” bisiknya pelan.
“Ya.”
Para pelukis bergerak tanpa henti demi menghasilkan lukisan yang sempurna. Tidak hanya satu, mereka membuat banyak lukisan Yinyi untuk diberikan pada Weiruo, semua diterima oleh Weiruo tanpa terkecuali.
Da Feng mengantar mereka kembali setelah pekerjaan mereka selesai. Masing-masing dari mereka mendapat seribu koin emas sebagai bayaran.
Weiruo mengelus pipi Yinyi yang begitu dingin, sekali lagi matanya berkaca-kaca. Gadis tersebut mengeluarkan Bunga Cahaya Bulan dan meletakkannya tepat di samping tubuh Yinyi.
“Beristirahatlah dengan tenang, adikku,” bisiknya sebelum menutup peti kayu tersebut.
...***...
Hari berganti, Yinyi dimakamkan setelah upacara penghormatan untuknya selesai. Ia dimakamkan di makan keluarga kekaisaran sesuai dengan permintaan sang permaisuri.
Kini Paviliun Anggrek Hitam Hitam terasa begitu sepi. Tidak ada suara langkah kaki Yinyi, tidak ada suara lantunan lagu dari gadis tersebut ketika mengerjakan pekerjaannya di paviliun.
“Da Feng...,” panggil Weiruo.
“Ya?”
“Menurutmu, apa aku yang sekarang bisa membunuh Gun Donghai?” tanya Weiruo.
__ADS_1
Pertanyaan itu tentu mengejutkan Da Feng. Dari info yang ia dapatkan, Gun Donghai sekarang sudah berada di tingkat Pendekar Bintang Enam, dalam waktu dekat akan memasuki tahap tujuh yang tentu bukanlah tandingan Weiruo.
“Tidak! Mustahil!” jawab Da Feng cepat.
“Bagaimana jika aku bisa?” tanya Weiruo sekali lagi.
Da Feng tidak menjawab, sekalipun ia jelaskan, Weiruo akan terus menanyakan hal yang sama, gadis tersebut telah dibutakan oleh amarah.
“KATAKAN PADAKU!” teriak Weiruo.
“Mustahil, kekuatannya jauh lebih kuat darimu!” Da Feng berusaha menenangkan Weiruo.
Weiruo tidak bisa menahan auranya, aura membunuh membeludak keluar dengan begitu singkat menguasai seluruh paviliun.
Da Feng berusaha menahan tekanan itu dengan energinya. Namun, rasanya begitu sesak duduk di samping Weiruo.
“Hentikan! Kau bisa melukai orang lain dengan auramu!”
“AKU TIDAK BISA! AKU BISA GILA KARENA INI! AKU MARAH, DA FENG! KENAPA HARUS YINYI?!” teriak Weiruo yang sudah tidak bisa membendung emosinya.
“HENTIKAN!”
Da Feng terbatuk pelan, darah mengalir dari sudut bibirnya. Tekanan dari aura membunuh Weiruo tidak seperti biasanya, kali ini benar-benar seluruh aura membunuh ia keluarkan tak peduli dengan resikonya.
Melihat Da Feng yang tak henti menenangkannya membuat Weiruo tidak tega, gadis tersebut menarik kembali aura miliknya. Air matanya menetes, ia terisak pelan di pelukan Da Feng.
Da Feng hanya menepuk pelan pucuk kepala Weiruo, dia tidak menjawab ucapan Weiruo dan membiarkannya bergumam sebanyak yang ia mau.
...***...
“Nona? Apa yang anda lakukan di sini?” tanya Yu Shuyan melihat Weiruo yang sudah berada di taman belakang Balai Obatnya.
“Tuan Yu, mulai sekarang, kuasa atas Balai Obat akan kembali padamu. Kau bisa melakukan apapun pada tempat ini tanpa perlu persetujuan dariku, toh sejak awal taruhan kita hanya sekedar permainan belaka,” ucap Weiruo.
“A-apa? Apa maksud anda? Tempat ini berkembang karena anda! Bagaimana bisa anda melepasnya?” Yu Shuyan menatap Weiruo tidak percaya.
Apa ada yang salah pada kepala Weiruo hingga berucap demikian dengan gampangnya?
“Tempat ini akan kembali ke tanganmu seutuhnya. Selanjutnya aku tidak akan mengganggumu lagi.”
Weiruo pergi tanpa bicara lebih lanjut, membuat Yu Shuyan kebingungan.
Apa itu artinya Weiruo sudah tidak membutuhkan Balai Obat lagi? Atau ada alasan lain yang membuatnya melepas Balai Obat dan dirinya?
__ADS_1
Apa kematian Yinyi ada sangkut pautnya dengan sikap Weiruo yang sekarang? Yu Shuyan mengacak rambutnya saking frustasinya pria tua tersebut, apa yang harus ia lakukan sekarang?
Sementara itu Weiruo sudah tiba di tempat pelatihan. Laohua langsung menyambutnya begitu gadis tersebut memasuki gerbang.
Melihat wajah tanpa ekspresi Weiruo membuat Laohua sedih. Ia sudah menemui Weiruo beberapa kali setelah gadis tersebut kembali ke istana. Namun, ekspresi kesedihannya tidak bisa hilang dan tidak berubah hingga sekarang.
“Laohua ... jika kau menemui seseorang yang ditakdirkan menjadi tuanmu, apa yang akan kau lakukan?” tanya Weiruo tiba-tiba.
“Uh? Orang lain yang ditakdirkan? N-Nona jangan bercanda! Saya merasa Nona lah orang yang ditakdirkan untuk saya! Tidak ada orang lain!” bantah Laohua.
“A-apa Nona tidak membutuhkan saya?”
Weiruo menggeleng pelan. Laohua nampak khawatir melihat sikap Weiruo yang begitu aneh.
“Saya tidak peduli! Jika anda bukan yang ditakdirkan, saya akan tetap kembali pada Nona!” Laohua mengusap kasar air mata yang menetes, sekuat tenaga gadis kecil tersebut menahan tangisnya.
“Khiiee!” Chie mendarat di samping Laohua.
Weiruo memandang burung merah tersebut, ukurannya sedikit lebih besar sejak terakhir kali ia melihat Chie. Apa mungkin karena peningkatan tenaga dalamnya? Weiruo merasa senang melihat pertumbuhan Chie yang begitu pesat, rasanya baru kemarin ketika Chie baru menetas.
“Guru?”
“Ah, kalian....”
Ying berjalan bersama anak-anak yang lain, mereka penasaran apa yang dilakukan oleh Weiruo.
“Mulai sekarang kalian boleh pergi. Kalian carilah guru yang lebih baik! Hiduplah dengan bebas di tempat baru! Lan Meili, Meigui, kalian juga hiduplah dengan bebas dan damai, jangan mengikutiku lagi.”
Ucapan Weiruo sontak mengejutkan mereka semua, mereka saling memandang sebelum menanyakan apa maksud ucapan Weiruo.
“Mulai sekarang aku ingin kalian hidup tanpa diriku!”
“Apa maksud anda?” Meigui maju selangkah, matanya menunjukkan rasa penasaran yang mendalam.
“Ada satu hal yang perlu kulakukan. Anggap saja aku telah mati, hiduplah tanpa diriku.”
“T-Tunggu, Nona!”
Laohua berusaha meraih tangan Weiruo. Namun, gadis tersebut bergerak terlalu cepat sehingga Laohua gagal menghentikannya.
Da Feng muncul secara tiba-tiba dan menghadang Laohua yang hendak menyusul Weiruo. Laohua langsung menepis tangan Da Feng dan bertanya-tanya tujuan pemuda tersebut.
“Seperti yang dia katakan. Pilihan kalian hanya dua, tetap di sini tanpa kejelasan darinya, atau pergi dan memulai hidup baru.”
__ADS_1
“Kenapa ... kenapa Nona berkata seperti itu?” tanya Laohua.
“Dia tengah dilahap oleh emosinya, dendam telah menguasainya. Jika dia mengambil keputusan yang salah...,” Da Feng menghentikan kalimatnya. Dia menghembuskan napas pelan dan pergi mengikuti Weiruo yang entah pergi ke mana.