
Udara begitu dingin ketika malam tiba, di sebuah kota kecil Weiruo berjalan berdampingan dengan Da Feng menuju sebuah restoran untuk beristirahat sejenak.
Setelah memesan makanan Weiruo diam tanpa mengucapkan sedikit katapun. Da Feng sendiri juga tidak berniat memulai percakapan karena mengerti jika Weiruo lelah setelah perjalanan tanpa henti selama seminggu terakhir.
Da Feng tidak mengerti bagaimana bisa Weiruo bisa bertahan menempuh perjalanan begitu jauh dengan hanya beristirahat selama kurang dari enam jam.
Tidak masalah jika kuda yang mereka pakai termasuk binatang spiritual, mereka tidak akan kelelahan sekalipun menempuh perjalanan selama tiga hari tanpa istirahat. Karena kedua kuda yang Weiruo tungganggi hanya kuda biasa mau tidak mau Weiruo harus sering beristirahat dan mengurangi kecepatan lari kudanya agar tidak mati kelelahan.
Sesampainya mereka di kota yang mereka singgahi saat ini, Weiruo menjual kedua kuda tersebut.
Hidangan datang tidak lama setelah mereka memesan, Da Feng menikmati hidangannya, sedangkan Weiruo tidak terlihat tertarik untuk menyantap hidangan di mejanya.
“Isi perutmu, memasuki wilayah musuh juga membutuhkan tenaga,” ucap Da Feng sembari meletakkan sepotong daging di atas nasi milik Weiruo.
Weiruo hanya tersenyum tipis sebelum menyantap hidangannya.
***
Lembah Darah berada di sebuah lembah yang terletak di antara dua gunung besar. Di sekitar Lembah Darah terdapat kabut yang membuat tempat tersebut begitu tertutup dari dunia luar.
Begitu memasuki kabut maka jarak pandang akan berkurang dengan drastis. Selain begitu tebal kabut tersebut juga mengandung racun di dalamnya, siapapun yang tidak dapat bertahan dari racun tersebut akan pingsan dalam waktu hitungan menit setelah memasuki kabut. Jika tidak beruntung akan dimangsa hewan spiritual yang mendiami wilayah tersebut.
Saat ini Weiruo dan Da Feng nampak berjalan melewati jalan setapak di tengah kabut yang begitu tebal.
Sebelum memasuki kabut keduanya sudah mengkonsumsi pil khusus sehingga racun di dalam kabut tidak akan berefek kepada mereka. Namun, yang menjadi masalah saat ini adalah binatang spiritual yang bisa muncul kapan saja dan menyerang mereka.
Chie yang diam di pundak Weiruo terus melihat sekitar. Walaupun Chie hanya Burung Api yang termasuk binatang spiritual tingkat rendah, Chie sedikit berbeda karena selalu mengerti apa yang Weiruo katakan sejak burung kecil tersebut dapat berdiri dengan kedua kaki mungilnya.
Kekhawatiran Weiruo sepertinya terlalu berlebihan karena keduanya tiba di Lembah Darah tanpa bertemu satupun binatang spiritual.
“Ingat, bersikap biasa saja.”
Da Feng memberikan sebuah lencana milik Lembah Darah, meminta Weiruo untuk memasangnya di luar jubah yang ia kenakan saat ini.
“Bukankah kau hanya mengambil satu?”
“Aku menemukan yang lain terjatuh.”
__ADS_1
Da Feng segera mengajak Weiruo untuk masuk ke Lembah Darah. Dengan adanya tanda pengenal mereka dapat dengan mudah masuk ke Lembah Darah.
“Apa kita harus berpencar?” bisik Weiruo.
“Tidak, ikuti aku.”
Weiruo berjalan mengikuti ke mana Da Feng pergi, tidak ada satupun anggota Lembah Darah yang menyadari gerak-gerik mereka karena baik Da Feng dan Weiruo tidak menunjukkan sedikitpun ekspresi mencurigakan.
Tidak lama keduanya tiba di sebuah bangunan besar, Da Feng masuk diikuti oleh Weiruo.
Cukup lama Da Feng berjalan seraya mengecek tiap tulisan yang tergantung di pintu ruangan.
“Tidak ada, sepertinya kita terlambat,” ucap pemuda tersebut pelan setelah mengecek ruangan teraktir.
“Lalu ke mana lagi kita harus pergi?” tanya Weiruo.
“Pergilah keluar, aku akan menyusul.”
Weiruo mengangkat alisnya, rencana Da Feng menurutnya tentu beresiko. Jika nantinya terjadi sesuatu Weiruo akan kesulitan untuk membantu pemuda tersebut.
Seolah mengerti arti tatapan Weiruo, Da Feng menepuk pundak gadis tersebut dan berkata, “Tenang saja, aku cukup ahli dalam hal ini. Tunggu saja di luar bersama burung kecil itu.”
***
Weiruo menunggu di luar area kabut beracun, Chie hingga di atas dahan pohon besar yang kini digunakan Weiruo untuk bersandar.
Keadaan begitu sunyi, selain itu atmosfer di sekitar Weiruo terasa cukup buruk.
Tidak lama Da Feng datang, pemuda tersebut berjalan dengan sedikit tertatih. Weiruo yang melihat itu buru-buru menghampiri Da Feng dan menanyakan apa yang terjadi di dalam.
“Tidak ada, aku hanya sedikit ceroboh dan menabrak barang,” jelas pemuda tersebut.
“Begitu, ya. Lalu apa ada informasi yang kau dapat dari sana?”
“Sekte Teratai Emas. Bocah itu di kirim ke Sekte Teratai Emas. Sekte itu berada di wilayah Kekaisaran Huangjin.”
“Itu artinya kita harus pergi ke wilayah utara. Malam ini kita kan beristirahat.”
__ADS_1
Weiruo memanggil Chie, berniat mengajak Da Feng kembali ke kota kecil sebelumnya. Namun, Da Feng menolak dan mengajak Weiruo untuk langsung pergi ke Kekaisaran Huangjin.
“Sebelumnya kau meminta untuk beristirahat, sekarang mengajak untuk melanjutkan perjalanan?” Weiruo menaikkan sebelah alisnya dan menatap Da Feng penuh selidik.
“Bocah itu dalam bahaya, ada baiknya kita segera membawanya kembali sebelum terlambat.”
Weiruo melirik Da Feng sejenak sebelum mengiyakan saran pemuda tersebut. keduanya kembali ke kota dan membeli kuda baru sebelum memulai perjalanan.
***
Di sebuah kamar mewah seornag gadis kecil terbaring di atas tempat tidur. Rambunya berwarna putih keperakan, wajahnya yang mungil membuat gadis tersebut terlihat menggemaskan.
Ketika gadis kecil tersebut membuka matanya, sepasang mata berwarna biru cerah terlihat kebingungan melihat langit-langit ruang asing tempatnya terbaring.
Ia bangkit, melihat sekitar dan dan menyadari jika kamar tersebut bukanlah kamar yang selama ini ia tinggali.
Tiba-tiba pintu terbuka, sesosok pria dengan tubuh tinggi tegap berjalan masuk. Rambutnya hitam kecoklatan, sebagian diikat dengan rapi sehingga membuat pria tersebut nampak begitu berwibawa.
“Nona kecil sudah bangun?”
“Ini di mana? Paman siapa?” tanya balik gadis tersebut pada sosok pria di hadapannya sekarang.
“Kau berada di Sekte Teratai Emas. Aku Ca Hongqi, Ketua Sekte Teratai Emas,” pria tersebut mengenalkan dirinya dengan senyum ramah.
Gadis kecil tersebut terlihat sedikit waspada, ia bangkit dari tempat tidurnya dan bertanya satu hal lagi pada pria tersebut.
“Paman, bagaimana bisa Laohua ada di sini?”
Pria tersebut tersenyum dan mendekati Laohua, melihat itu Laohua berusaha meghindar, tapi usahanya sia-sia di hadapan Ca Hongqi.
“Paman adalah teman ibumu. Paman sangat merindukanmu! Apa kau sudah melupakan pamanmu ini? Paman selalu mencari keberadaanmu!” Ca Hongqi memeluk Laohua.
Laohua langsung memberontak karena merasa tidak nyaman, gadis kecil tersebut meminta Ca Hongqi untuk memulangkannya ke Weiruo.
“Biarkan pamanmu ini melampiaskan rasa rindunya. Apa tidak boleh?” Ca Hongqi memelas.
Laohua tentu saja merasa tidak tega, gadis kecil tersebut mendatangi Ca Hongqi, mengatakan jika pria tersebut harus memulangkannya setelah melepas rasa rindu.
__ADS_1
“Tentu, paman akan memulangkanmu nanti!”
Ca Hongqi memeluk Laohua setelah berucap demikian, terlihat senyum bahagia di wajahnya.