
Seekor harimau duduk diam di atas batu besar. Ukuran tubuhnya hampir lima kali ukuran harimau biasa, dengan bulu keemasan dan mata merah menyala.
Tiba-tiba harimau tersebut bersikap waspada, matanya menatap lurus ke depan tanpa berkedip.
Dari balik pepohonan seorang gadis berjalan keluar dengan santainya. Darah segar menetes dari bilah pedang di tangan kanannya.
“Di sini rupanya,” ucapnya.
“Gadis manusia, sepertinya aku akan makan menu baru hari ini.” harimau tersebut turun dari batu besar tempatnya beristirahat.
Kakinya yang besar menginjak tanah, meninggalkan jejak pada tiap langkahnya.
Weiruo mengalirkan tenaga dalam ke pedangnya, gadis tersebut berlari maju menyerang di saat bersamaan dengan harimau tersebut.
Weiruo menghindari cakaran dari harimau tersebut dan menyerang dengan energi pedang. Namun, serangan Weiruo tidak mampu melukai harimau tersebut karena ada sebuah energi yang melindungi tubuhnya.
Karena serangan pertama mereka sama-sama gagal, keduanya mundur secara bersamaan.
Weiruo mengangkat pedangnya, cahaya putih keluar dari pedang tersebut dan sesaat kemudian cahaya tersebut membentuk lima buah pedang energi.
Kelima pedang tersebut melayang di sekitar Weiruo dan menyerang dengan begitu cepat sesuai dengan keinginannya.
Banyaknya serangan yang datang membuat harimau tersebut sedikit kesulitan, terlebih dengan ukuran tubuhnya yang besar.
Sedikit demi sedikit luka berhasil Weiruo ciptakan di tubuh harimau tersebut setelah cukup lama bertarung.
“DASAR MANUSIA!”
Harimau tersebut mengaum dengan begitu keras dan menghasilkan dorongan yang cukup kuat untuk mendorong mundur Weiruo.
Tubuh besarnya melompat ke arah Weiruo untuk menerkamnya. Sayangnya, Weiruo berhasil bereaksi cepat dan menahan kaki depan harimau yang hendak menekan tubuhnya.
Mulut harimau tersebut terbuka lebar siap memakan kepala Weiruo. Namun, Weiruo berhasil menendang perut harimau tersebut sesaat sebelum taring-taringnya menerkam Weiruo.
Weiruo memusatkan tenaga dalam ke pedangnya dan mengayunkan pedang tersebut dengan kuat, memaksa harimau raksasa tersebut melompat mundur.
“Ya ... aku tidak terbiasa dengan tubuh besar ini.”
Tubuh besar harimau tersebut mulai bercahaya, kemudian secara perlahan berubah bentuk menjadi sosok manusia. Ketika cahaya menghilang, sesosok pemuda dengan tubuh kekar tersenyum miring ke arah Weiruo.
Pemuda tersebut meregangkan tubuhnya sebentar dengan aura membunuh yang terus keluar dari tubuhnya.
“Sekarang ayo bertarung dengan serius!” ucapnya penuh semangat.
Kedua tangan pemuda tersebut diselumiti energi merah keemasan, kuku-kukunya menajam dengan bulu harimau yang memenuhi kedua telapak tangannya.
Pemuda tersebut melesat dengan cepat ke arah Weiruo. Dengan satu ayunan tangan ia melepas tiga energi ke arah Weiruo.
__ADS_1
Weiruo melepaskan tebasan energi yang langsung menghancurkan tiga aliran energi yang dilepaskan ke arahnya.
Pedang dan cakar saling beradu, tidak segan Weiruo melepaskan serangan dengan energi yang besar untuk menyerang. Lokasi sekitar tempat mereka bertarung sedikit demi sedikit mulai mengalami kerusakan akibat serangan yang terus meleset dan gagal.
“Kuat juga dirimu, gadis manusia!”
Pemuda tersebut mengusap darah segar dari sudut mulutnya. Dia tetap tersenyum bersemangat untuk menghadapi Weiruo, sekalipun serangannya terus gagal, tapi hal itu membuatnya semakin bersemangat.
Weiruo tidak sedikitpun merespon, dirinya malah fokus mendengar suara samar dari para prajurit yang bertarung di luar hutan. Ia harus segera menyelesaikan pertarungannya dan pergi membantu para prajurit.
“Apa kau mengkhawatirkan para prajurit kota? Hahaha ... binatang spiritual itu tidak akan berhenti menyerang tanpa perintah dariku! Akulah penguasa hutan ini!” ucapnya dengan bangga.
“Ya, tapi tidak akan lama!”
Pemuda tersebut terlihat kesal dan mengepalkan kedua tangannya dengan begitu kuat.
“Aku akan membunuhmu!”
“Coba saja.”
Weiruo melepaskan tiga tebasan energi di saat bersamaan yang berhasil dihindari oleh pemuda tersebut, ketiga serangan yang Weiruo lepaskan mengenai batu besar di belakang hingga terbelah menjadi beberapa bagian.
Pemuda tersebut tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Serangan Weiruo yang sebelumnya bahkan tidak mampu membelah pohon di sekitar mereka, kini malah membelah batu besar layaknya tahu.
“Kau!”
“Ya, ayo sedikit serius.”
Sedikit demi sedikit pemuda tersebut mulai terpojok, tenaganya mulai menipis setelah menahan begitu banyak serangan dari Weriuo.
“Arrgh!”
Dengan tubuh bergetar pemuda tersebut berusaha bangkit, tapi bilah pedang sudah berada di depan lehernya ketika ia hendak bangkit dari posisinya.
“Ada kata-kata terakhir?” tanya Weiruo.
Tidak ada jawaban, pemuda tersebut hanya memalingkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Weiruo.
“Baiklah, selamat tinggal!”
“TUNGGU AAAH!”
Hanya tersisa sedikit jarak antara pedang Weiruo dan leher pemuda tersebut. Weiruo langsung menghentikan pedangnya di saat yang tepat, ia penasaran apa yang ingin dikatakan siluman di hadapannya itu.
“Iya?” tanya Weiruo dengan sudut bibir yang tertarik.
“Apa kau masih menyayangi nyawamu, Tuan Harimau?” sindir Weiruo karena pemuda tersebut tidak kunjung bicara.
__ADS_1
“Iya! Aku masih sayang nyawaku! Aku akan membuat kesepakatan denganmu, bagaimana?”
“Seperti apa kesepakatannya?” Weiruo mendekatkan pedangnya ke leher pemuda tersebut, sedikit mengejek.
“Kau lepaskan aku, sebagai gantinya aku tidak akan menyerang kota itu! Baik aku maupun bawahanku!” ujarnya.
“Tidak tertarik!”
“Aku akan pergi jauh dari sini!”
“Tidak tertarik juga.” Weiruo tertawa kecil melihat ekspresi tidak senang pemuda tersebut.
“Lalu apa? Apa yang membuatmu tertarik?” tanya pemuda tersebut putus asa.
“Sebagai ganti dari nyawamu, jadilah milikku.”
“Apa kau jatuh cinta padaku?” pemuda tersebut melihat Weiruo sedikit tidak percaya.
“Seleraku bukan dirimu! Bagaimana tawarannya?”
“Dengan syarat kau tidak akan mengurungku.”
“Tidak akan kulakukan hal itu kecuali memang harus kulakukan.”
“Baiklah, Tuan. Mulai sekarang aku, Guazi, akan menjadikanmu Tuanku.”
Weiruo menyimpan pedangnya, energi samar-samar yang dia rasakan beberapa waktu sebelumnya perlahan menghilang.
Wujud Guazi mulai berubah menjadi manusia normal, tanpa cakar panjang dan tangan berbentuk cakar harimau.
“Apa kau menarik mundur pasukanmu?”
“Ya. Saya tengah mengatur mereka untuk datang kemari menyambut anda.”
Guazi merapikan pakaiannya yang berantakan, pemuda tersebut menjelaskan jika dirinya berniat memberikan seluruh pasukannya kepada Weiruo.
Namun, Weiruo menolaknya. Jika semua binatang spiritual tersebut bersamanya mungkin akan menarik perhatian selama perjalanan pulang nanti.
“TIDAK! Anda harus menerimanya sebagai tanda kesetiaan saya!” Guazi memohon pada Weiruo.
“Saya akan mempersembahkan mereka yang terkuat untuk anda!”
Guazi terus memohon pada Weiruo hingga gadis tersebut mengizinkan. Setelah menunggu waktu yang cukup lama, sekelompok kecil binatang spiritual datang pada mereka.
Dari ratusan binatang spiritual yang berada di batas kekuasaan Guazi, hanya ada 10 ekor yang datang pada mereka.
Guazi menjelaskan masing-masing dari mereka setidaknya sekuat Pendekar Roh tahap awal. Dengan adanya mereka akan menguntungkan Weiruo di masa depan nanti.
__ADS_1
“Dia adalah Tuan baru kalian! Hidup mati kalian berada di tangannya! Apa kalian mengerti! Bersujud padanya!”
Kesepuluh binatang spiritual tersebut bersujud bersamaan di hadapan Weiruo, dengan itu maka mereka sudah memberikan kesetiaan mereka kepada Weiruo.