
Xuan Xiumei menggigit bibir bawahnya kesal, tatapan kebencian terlihat jelas dari sorot matanya.
Weiruo segera memalingkan pandangannnya dan pergi setelah mengucapkan ucapan selamat pada ayahnya.
Acara terus berlanjut dan berakhir ketika tengah malam hampir tiba, Weiruo kembali ke kediamannya dengan langkah malas. Sepanjang acara setelah penyerahan hadiah kedua adik kembarnya terus meliriknya dengan tatapan kebencian yang dapat Weiruo rasakan dengan jelas.
“Kenapa mereka sangat berbeda denganmu?” celetuk Da Feng tiba-tiba.
“Mungkin turunan dari Ibu mereka. Sudahlah biarkan saja....”
“Waaa ... Nona tolong saya!”
Yinyi berlari ke arah Weiruo, lalu bersembunyi di belakang gadis tersebut sambil menunjuk ke satu arah dan terus meminta Weiruo untuk menolongnya.
Bayangan kecil melesat dengan cepat bersembunyi dari balik bayangan benda-benda di sekitar. Sedetik kemudian bayangan dengan kilat keemasan tersebut melompat ke arah Weiruo.
“Hap! Kena kau!”
Weiruo berhasil menangkap bayangan kecil tersebut yang ternyata adalah seekor kucing kecil dengan tanda emas di dahinya. Kucing kecil tersebut meronta-ronta dan menggeram kesal karena Weiruo menangkapnya.
Weiruo mengenali sosok kecil di tangannya sekarang sebagai Kucing Kilat, binatang spiritual yang cukup sulit ditemui. Bagaimana kucing tersebut berada di istana sekarang juga membuat Weiruo penasaran.
Kucing Kilat cukup sulit dijinakkan dan begitu mudah kabur jika belum benar-benar jinak.
Kuling Kilat tinggal di hutan dan sulit ditemui, jika berada di istana mungkin ada seseorang yang membawanya. Namun, Weiruo tidak bisa menebak siapa yang membawanya.
Xuan Xiuyuan dan Xuan Xiumei, Weiruo tidak yakin jika mereka yang membawanya karena menjinakkan Kucing Kilat termasuk hal yang sulit dan merepotkan.
“Jangan kabur lagi, kasihan pemilikmu nanti,” ucap Weiruo.
***
Seorang pemuda berjalan dengan buru-buru di tengah gelapnya malam, matanya meneliti ke sekitar dengan hati-hati.
“Sial! Ke mana kaburnya kucing itu!” umpatnya kesal.
“Oh? Apa yang Pangeran Pertama lakukan di sini?”
Pemuda tersebut yang tak lain adalah Xuan Xiuyuan, ia hampir melompat saking kagetnya, pandangannya segera beralih pada sosok yang berdiri di atas gerbang paviliuun.
“Kau ... anak buah Putri Mahkota?”
Da Feng hanya mengangguk sebagai balasan, tidak bicara sepatah katapun.
“Bukan urusanmu! Aku hanya ... berjalan-jalan,” ujarnya sebelum melangkah pergi.
“Ya ... sepertinya Kucing Kilat itu milik orang lain.” Da Feng melompat turun dan berjalan dengan malas memasuki paviliun.
Xuan Xiuyuan tersentak, segera berbalik untuk memanggil Da Feng, sayangnya pemuda tersebut sudah pergi jauh sehingga mau tidak mau Xuan Xiuyuan berlari menyusulnya.
Xuan Xiuyuan menghentikan langkahnya di halaman paviliun yang begituu luas, terlihat di sisi lain Weiruo sibuk bermain dengan seekor kucing kecil.
__ADS_1
Pemuda tersebut ingin mengatakan sesuatu, hanya saja mulutnya seolah tertahan oleh sesuatu sehingga tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.
Weiruo menyadari kehadiran Xuan Xiuyuan, dengan senyum ramah segera menyambut kedatangannya.
“Apa yang kau lakukan di sini, Adikku?” tanyanya.
“Bukan urusanmu!” Xuan Xiuyuan memalingkan wajahnya dan berencana pergi.
“Jangan seperti itu, apa kau ingin aku menjadi pemilik kucing kecil ini?”
Xuan Xiuyuan tersntak, buru-buru berbalik dan memandang Weiruo tajam. Bagaimana Weiruo tahu jika Kucing Kilat itu miliknya? Seingatnya selain saudari kembarnya tidak ada yang tahu tentang keberadaan kucing tersebut.
Kekesalan Xuan Xiuyuan bertambah begitu melihat kucing kecil di tangan Weiruo bersikap begitu manja dan patuh pada apapun yang diucapkan oleh Weiruo, padahal ketika bersamanya Kucing Kilat tersebut begitu agresif.
“Kembalikan!”
Xuan Xiuyuan mengulurkan tangannya, meminta agar Weiruo menyerahkan kucing tersebut padanya.
“Tidak. Seharusnya kau berterima kasih terlebih dahulu karena aku sudah menjaga kucingmu ini.” Weiruo tersenyum tipis.
“Untuk apa aku berterima kasih? Kucing itu hanya mempermainkanmu! Dia pasti akan kabur lagi ketika kau lengah!” tolak Xuan Xiuyuan.
Weiruo hanya menggeleng pelan dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya, hal itu membuat Xuan Xiuyuan semakin kesal.
“Hmph! Sepertinya kau begitu percaya diri dengan kemampuanmu. Tapi ... dibanding diriku yang berlatih di bawah ajaran tetua terbaik di sekteku ... kau tidak apa-apanya!”
Xuan Xiuyuan mengeluarkan energi yang begitu kuat, sayangnya hal itu tidak menggoyahkan Weiruo sedikitpun, gadis tersebut masih berdiri dengan tegap, bahkan melindungi Yinyi dari tekanan energi pemuda tersebut.
Xuan Xiuyuan terbelalak kaget, ia sedikit melangkah mundur dan menatap Weiruo tidak percaya.
Weiruo dengan cepat menarik energi miliknya, ekspresinya masih sama yang membuat keberanian Xuan Xiuyuan mulai goyah.
“Kau!”
Xuan Xiuyuan mengeluarkan sebilah pedang dan mengarahkannya ke arah Weiruo, hanya saja tangannya sedikit bergetar, hal itu terlihat jelas di mata Weiruo.
“Jika kau berhasil mengalahkanku, kucing ini akan kukembalikan.”
Tanpa pikir panjang Xuan Xiuyuan mengiyakan dan meminta agar Weiruo segera mempersiapkan diri.
Weiruo mengangguk kecil sebelum mengeluarkan pedang miliknya.
Keheningan malam menambah ketegangan di antara keduanya, Xuan Xiuyuan mengalirkan tenaga dalamnya ke dalam pedang dan memandang Weiruo tajam.
Xuan Xiuyuan berlari dan melompat ke arah Weiruo, pedangnya diayunkan dengan kuat langsung terarah ke leher Weiruo.
Weiruo mengangkat pedangnya, tanpa sedikitpun kesulitan membelokkan serangan Xuan Xiuyuan sehingga pemuda tersebut hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan.
Dentingan antara dua bilah pedang yang beradu terdengar di tengah heningnya malam. Xuan Xiuyuan tidak bisa menyembunyikan kekesalannya karena tiap serangannya bukan hanya ditahan, tapi juga dibelokkan tanpa kesulitan oleh Weiruo.
Napas Xuan Xiuyuan mulai memburu, pemuda tersebut mulai kesulitan melancarkan serangan pada Weiruo.
__ADS_1
Weiruo akhirnya membelokkan serangan Xuan Xiuyuan, kali ini pedang Xuan Xiuyuan terlempar begitu jauh karena pemuda tersebut tidak memegang pedangnya dengan begitu baik.
Xuan Xiuyuan tertegun sejenak, menatap pedangnya yang tergeletak di tanah dengan tidak percaya.
Sulit bagi Xuan Xiuyuan menerima kenyataan bahwa Weiruo mengalahkannya. Orang yang dulu dianggap sebagai sosok lemah dan bodoh, kini berdiri di hadapannya tanpa adanya sedikitpun rasa takut seperti dulu.
“Yuan, sadarlah.”
Xuan Xiuyuan mengedipkan matanya, memandang Weiruo kebingungan.
Sedetik kemudian Xuan Xiuyuan kembali pada sifat aslinya, pemuda tersebut meminta Weiruo agar segera mengembalikan kucingnya.
“Tentu akan kukembalikan. Dengan satu syarat.”
“Apa itu?”
Xuan Xiuyuan menunggu jawaban dari Weiruo, walaupun sedikit kesal tapi Xuan Xiuyuan tidak mengeluarkan suara hingga Weiruo mengatakan syaratnya.
“Katakan, apa yang terjadi padamu sebelum kembali ke istana.”
Senyum Weiruo menghilang, membuat Xuan Xiuyuan terdiam seketika karena perasaan tertekan yang secara tiba-tiba menghampirinya.
“Apa maksudmu? Aku baik-baik saja selama ini! Siapa yang mampu melukaiku yang hebat ini?”
“Kau pikir aku tidak menyadarinya? Aliran energi di dalam tubuhmu sangat tidak stabil, Yuan. Katakan padaku, aku mungkin bisa membantu,” ucap Weiruo.
“Jangan mengada-ada! Aku—arrgh!”
Xuan Xiuyuan berteriak kesakitan begitu Weiruo menekan bahu kanannya.
“Katakan!”
“Iya iya! Aku terluka!” ucap Xuan Xiuyuan setengah berteriak karena rasa sakit di bahu kanannya.
“Selain aku siapa lagi yang mengetahui ini?” Weiruo melepas cengkramannya dan bertanya pada Xuan Xiuyuan.
“Tidak ada.”
“Jangan bilang kau menyembunyikan ini karena harga dirimu itu?”
Weiruo tersenyum mengejek. Dengan sikap Xuan Xiuyuan, pastinya pemuda tersebut tidak ingin orang lain tahu tentang sosok dirinya yang lemah.
Xuan Xiuyuan hanya bisa mengangguk lemah, yang langsung ditanggapi tawa kecil oleh Weiruo.
“Aku bisa membantumu, Adikku.”
“Aku bisa pulih tanpa bantuanmu!”
Xuan Xiuyuan buru-buru mengambil Kucing KIlat dari tangan Yinyi dan pergi tanpa menoleh sedikitpun pada Weiruo.
“Harga dirinya begitu tinggi!” celetuk Da Feng yang sedari tadi duduk diam di dahan pohon.
__ADS_1
Weiruo hanya tersenyum, gadis tersebut mengambil pedang Xuan Xiuyuan yang tertinggal sebelum masuk ke kediamannya.