
“Kau-uhuk!” pemuda tersebut menutup mulutnya dan terus terbatuk.
Weiruo hanya melihat dari balik jeruji penjara, tangan pemuda tersebut segera dibasahi oleh darah segar.
“Apa separah itu?” Weiruo menoleh ke sekitar untuk memastikan keadaan.
“Bukan urusanmu!”
Pemuda tersebut hendak bangkit dari posisinya tapi bahkan untuk menggerakkan kedua tangannya sudah terasa begitu berat, napasnya juga mulai tidak beraturan dan pandangannya menjadi kabur.
“Sepertinya parah,” celetuk Weiruo.
“Perlu bantuan? Katakan obat apa untuk racun itu.”
“Pil ... Teratai...,” lirih pemuda tersebut.
“Tunggu sebentar.”
Weiruo berjalan ke luar, masih sama seperti sebelumnya, penjaga yang berjada di pintu masih tertidur pulas, Weiruo merasa kurang yakin dengan kualitas penjaga di wilayah istana setelah melihatnya.
Gadis tersebut melompati tembok yang tertutup pohon lebat, setelah mengenakan topeng segera Weiruo pergi ke Asosiasi Teratai Biru. Setibanya di sana Weiruo langsung pergi ke bagian yang menjual pil serta tanaman spiritual.
“Ada banyak jenis Pil Teratai, Pil Teratai biasa, Pil Teratai Emas, Pil Teratai Es, dan Pil Teratai Langit. Asosiasi hanya memilliki Pil Teratai biasa dan Pil Teratai Emas.”
Weiruo terdiam, dia hanya mendengar jika pemuda tersebut meminta Pil Teratai tapi tidak mendengar keseluruhan apa yang diucapkan sebelumnya.
“Aku beli keduanya.”
Gadis yang menamani Weiruo mengangguk paham dan mengambil beberapa pil yang dibutuhkan Weiruo.
Pil Teratai Emas memiliki harga yang terbilang tinggi untuk satu butir pil sehingga Weiruo hanya membeli satu Pil Teratai Emas, sedangkan Pil Teratai yang memiliki harga lebih murah Weiruo membeli satu botol berisi lima buah pil.
Weiruo menuruni tangga seorang diri, tengah malam seperti sekarang sangat sedikit pengunjung yang datang. Lantai satu Asosiasi Teratai Biru juga terlihat begitu sepi, penyewa stan di sana tentu memilih beristirahat dan melanjutkan penjualan esok hari.
Sesampainya Weiruo di penjara bawah tanah istana, Weiruo menemukan pemuda tersebut tengah duduk bermeditasi di tempat yang sama sebelum Weiruo meninggalkannya.
“Ini.” Weiruo mengeluarkan satu butir Pil Teratai dan memberikannya pada pemuda tersebut.
Pemuda tersebut membuka matanya, dengan ragu menerima pil pemberian Weiruo. Setelah meneliti pil tersebut beberapa saat, akhirnya pemuda tersebut menelan Pil Teratai dan mulai memulihkan diri.
“Sebagai bayarannya, berikan aku racun yang kau miliki.”
“Untuk apa?”
“Aku hanya ingin memilikinya.”
__ADS_1
Pemuda tersebut mengeluarkan sebuah botol giok kecil dan melemparkannya pada Weiruo. “Anggap saja sebagai bayaran pil tadi,” ucapnya sebelum bangkit dan pergi ke sudut selnya.
“Tunggu!”
Weiruo menghentikan langkahnya dan menoleh ketika pemuda tersebut memanggilnya.
“Apa?”
“Bebaskan aku.”
“Membebaskanku? Tentu aku bisa, tapi kau harus menjadi bawahanku.”
Pemuda tersebut menaikkan alisnya dan langsung membatalkan keinginannya untuk meminta Weiruo membebaskannya.
Weiruo hanya terkekeh sebelum pergi meninggalkan penjara istana.
***
“Nona pasti senang,” gumam Yinyi yang tengah membawa keranjang berisi kue dari kediaman permaisuri.
Yinyi memang kerap kali mendatangi kediaman permaisuri hanya untuk sekedar melihat keadaan Xuan Riuyi. Malam ini Xuan Riuyi tidak bisa tidur sehingga menghabiskan waktu mengobrol bersama Yinyi, ketika Yinyi ingin kembali, wanita tersebut meminta Yinyi membawa sepiring kue untuknya dan Weiruo.
Malam ini terasa begitu sunyi, tapi di wilayah bagian selatan istana hal itu sudah menjadi hal wajar dan Yinyi sudah terbiasa akan hal itu. Namun, entah kenapa malam ini Yinyi merasa kurang nyaman dengan keadaan sunyi di sekitar kediaman Weiruo.
Tiba-tiba sebuah tangan menarik Yinyi, sensasi dingin dari sebuah benda tajam bisa Yinyi rasakan di lehernya. Tubuh Yinyi seolah kaku dan tidak bisa melakukan perlawanan.
Yinyi ditarik mundur oleh sosok pemuda tersebut, bisa gadis tersbeut rasakan benda tajam siap menembus lehernya kapan saja.
“Berhenti atau dia akan kehilangan nyawanya.”
Sekelompok prajurit yang datang seketika menghentikan langkahnya ketika pemuda tersebut berkata demikian.
Salah seorang prajurit mengangkat pedangnya, tapi pemuda tersebut dengan cepat menekan belati di leher Yinyi.
“Ugh...,” rintih Yinyi, darah segar mengalir dari goresan yang baru saja dibuat pemuda tersebut.
Pemuda tersebut berjalan mundur dengan menjadikan Yinyi sebagai tamengnya. Namun, baru beberapa langkah sebuah pisau kecil berhasil mengenai kaki kanan pemuda tersebut.
Serangan itu jelas mengejutkan semua orang di sana, di saat bersamaan sosok Weiruo melesat ke arah pemuda tersebut dan melepaskan Yinyi dari genggaman pemuda yang kini mengerang kesakitan karena kaki kanannya terasa begitu sakit.
Weiruo bahkan tidak memberi kesempatan pemuda tersebut bereaksi, dirinya sudah lebih dulu melancarkan sebuah tendangan yang langsung membuatnya terpental.
“Lancang sekali kau!”
Pemuda tersebut hampir tidak bisa menghindari serangan Weiruo karena tubuhnya terasa lemas.
__ADS_1
“Sepertinya racun milikmu bekerja dengan baik.” Weiruo tersenyum tipis.
Pemuda tersebut akhirnya terpojok, belati Weiruo mengarah langsung ke leher pemuda tersebut, gadis tersebut terlihat tidak ragu untuk menebas leher pemuda di hadapannya sekarang.
“Kau menganggu orang yang salah, aku tidak akan segan membunuhmu.”
Weiruo menarik senjatanya dan berbalik pada prajurit yang masih terdiam di belakangnya.
“Bawa dia ke penjara! Hukumannya akan kuputuskan secara pribadi!”
***
Keesokan harinya Weiruo langsung menemui pemuda tersebut di penjara, terlihat kedua kaki pemuda tersebut diborgol oleh penjaga penjara.
“Tinggalkan aku sendiri, aku ingin berbicara dengannya empat mata.”
Penjaga yang mengantar Weiruo tidak berani melawan perintah Weiruo sehingga dirinya meninggalkan Weiruo bersama pemuda tersebut.
“Penawaranku masih berlaku.”
“Tch, gadis lemah sepertimu ingin menjadikanku bawahanmu? Jangan bermimpi!”
“Membuat kekacauan di Balai Obat, melakukan penyanderaan, penyerangan di dalam istana. Penjara satu tahun sepertinya sudah cukup,” ujar Weiruo.
Pemuda tersebut terlihat terkejut mendengar penjelasan Weiruo barusan, dalam waktu satu tahun sudah cukup membuat pemuda tersebut tewas karena racun yang ada di dalam tubuhnya.
“Bagaimana?”
Weiruo hanya berdiri menatap pemuda tersebut dengan senyum penuh arti, gadis tersebut sudah mencari tahu tentang Pil Teratai, pil tersebut banyak digunakan untuk racun serta penyakit yang cukup fatal. Jika melihat kondisi pemuda tersebut sebelumnya, Weiruo yakin jika kondisinya cukup buruk.
“Apa keuntunganku menjadi bawahanmu?” pemuda tersebut tersenyum miring mengejek Weiruo.
“Cukup banyak ... sumber daya, buku jurus, dan banyak lagi. Kau akan menjadi bawahanku untuk sementara waktu, setelah itu kau bebas ingin pergi atau tinggal.”
Pemuda tersebut berpikir sejenak, sebenarnya mengikuti Weiruo bukanlah hal buruk pikirnya, tapi dirinya sudah terbiasa dengan kebebasan, menjadi bawahan orang lain bukanlah cara kerjanya.
Terlebih dirinya memiliki masalah dengan Weiruo akibat ulahnya kemarin malam.
“Jika sampai matahari tenggelam kau tidak segera membuat keputusan maka aku sudah tidak bisa menolongmu.”
Weiruo mengangkat tangannya pasrah dengan keputusan pemuda tersebut, kemudian pergi begitu saja.
“T-tunggu! Aku akan mengikutimu!”
“Pilihan yang bagus. Siapa namamu?”
__ADS_1
“Da Feng.”