Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 38-Lembah Darah


__ADS_3

Keheningan menyelimuti ruang latihan milik Weiruo, ia dan Da Feng saling menatap dalam diam.


“Jadi kau tahu....”


“Ya.”


Weiruo memijit keningnya pelan, ia lupa jika Da Feng juga seorang pendekar, lalu bawahannya yang kadang masuk seenaknya ke kediaman Weiruo.


“Apa ada orang lain yang tahu?” tanya Weiruo dengan suara yang begitu berat.


“Tidak, siapa yang berani masuk seenaknya ke tempat ini?”


“Kau.”


Da Feng hanya terkekeh pelan melihat respon Weiruo, pemuda tersebut kemudian menjelaskan jika selain dirinya tidak ada orang lain yang mengetahui jika Weiruo pergi selama dua minggu sebelumnya.


Weiruo menghembuskan napas pasrah. Kembali pada tujuan awalnya mengajak Da Feng bertemu, Weiruo menjelaskan rencananya untuk mencari keberadaan Laohua dan membawanya kembali.


Sepanjang Weiruo menjelaskan Da Feng mendengarkan dengan serius, sesekali menolak rencana yang menurutnya terlalu beresiko.


Da Feng mengeluarkan sebuah peta, membukanya di atas meja dan menjelaskan lokasi dari Lembah Darah.


“Kau sepertinya begitu paham tentang benua ini.”


“Sebelum bertemu denganmu aku selalu berpindah tempat tinggal. Aku Pendekar tanpa sekte, tanpa organisasi ... juga tanpa keluarga.”


Weiruo tidak merespon, matanya fokus pada peta yang telah ditandai oleh Da Feng. Jika ingin pergi ke Lembah Darah Weiruo harus melewati Kekaisaran Huangjin, seingatnya hubungan antara kekaisaran tersebut dengan Kekaisaran Xifeng kurang baik.


“Kapan kita akan pergi?” tanya Da Feng.


“Besok malam.”


***


Keesokan harinya seperti yang dikatakan oleh Weiruo, ia dan Da Feng memulai perjalanan ketika malam tiba.


Keduanya menungganggi kuda di tengah gelapnya malam, suara tapak kaki kuda mengiringi malam mereka.


Tidak ada cahaya bulan yang menerangi jalan mereka, ketika memasuki hutan Weiruo akan menggunakan batu cahaya untuk menerangi jalan. Sesekali ia akan melihat sekitar dan memastikan tidak ada orang lain selain mereka.

__ADS_1


Da Feng memimpin jalan karena pemuda tersebut lebih memahami jalur menuju Kekaisaran Huangjin.


Perjalanan mereka berjalan dengan cukup lancar, tidak terasa sudah tiga hari berlalu bagi keduanya, sesekali mereka akan beristirahat agar kondisi kuda mereka terjaga dan tidak tumbang di tengah perjalanan.


Weiruo menarik tali kudanya dan meminta Da Feng untuk berhenti sejenak.


“Ada apa? Tidak ada tempat teduh di sekitar sini.”


Weiruo tidak menjawab, malah meminta pemuda tersebut untuk diam sedangkan dirinya terlihat sibuk mencari sesuatu.


“Apa kau mendengarnya? Suara pertarungan.”


“Ya, aku baru mendengarnya.” Da Feng menghampiri Weiruo dengan kudanya, mengatakan jika mereka kini tengah berpacu dengan waktu.


Lembah Darah bekerja atas dasar sebuah misi yang diberikan oleh orang lain. Penculikan Laohua tentu saja misi yang dikerjakan oleh mereka, setelah tiba di markas sesegera mungkin mereka pasti akan menyerahkan Laohua ke orang yang memberikan mereka misi itu.


“Baik—“


“Tuan Pendekar!”


Da Feng menoleh ke asal suara, terlihat seorang gadis berlari ke arah mereka. keadaan gadis tersebut terlihat kacau, terdapat banyak bercak darah di pakaiannya. Matanya meneteskan air mata, terlihat jelas ketakutan di kedua mata gadis tersebut.


Belum sampai gadis tersebut mendatangi Da Feng, pemuda tersebut sudah lebih dulu menghunuskan pedang ke arahnya.


“T-Tuan Pendekar tolong selamatkan keluarga saya ... ada begitu banyak binatang spiritual menyerang kami.”


“Bukan urusanku—apa yang kau lakukan?” Da Feng terkejut melihat Weiruo yang memacu kudanya ke arah gadis tersebut datang.


“Tcih.”


Da Feng memacu kudanya dan mengikuti Weiruo sesegera mungkin. Keduanya akhirnya tiba di tempat di mana terdapat sebuah rombongan kecil tengah diserang oleh sekelompok binatang spiritual.


Binatang spiritual tersebut berwujud kera dengan ukuran hampir mengimbangi orang dewasa, memiliki bulu berwarna coklat keemasan serta dua pasang tangan.


Pengawal rombongan tersebut nampak kewalahan menahan serbuan kera-kera tersebut, sebagian dari mereka terlihat sudah mulai kelelahan.


“Chie, bantu aku.”


Chie, burung api di pundak Weiruo terbang setelah mendapat perintah. Chie terbang cukup tinggi sebelum menyemburkan bola-bola api dari mulutnya.

__ADS_1


Weiruo tidak tinggal diam dan maju menyerang dengan sebilah pedang di tangannya.


Weiruo bergerak cepat mengayunkan pedangnya, tiap gerakan pedangnya dialiri tenaga dalam sehingga dapat dengan mudah menembus kulit kera-kera tersebut.


Da Feng datang tidak lama setelah Weiruo, pemuda tersebut langsung melempar pisau beracun dari kejauhan, membuat kera-kera tersebut lemas karena racun di dalam pisau sebelum dihabisi oleh Weiruo.


Dalam waktu yang cukup singkat kera-kera tersebut mulai tumbang, kedatangan Weiruo membalik keadaan dengan begitu cepat. Melihat temannya mati kera-kera yang lain segera pergi sebelum menjadi sasaran pisau Da Feng selanjutnya.


Para pengawal rombongan merasa tertolong sehingga langsung berterima kasih begitu kelompok kera tersebut pergi.


“Apa nama makhluk ini?” tanya Weiruo sembari menunjuk jasad kera menggunakan pedangnya.


“Kera Emas. Mereka hidup dalam kelompok, sering kali menyerang rombongan yang melewati wilayah mereka,” jelas Da Feng. “Simpan jasadnya, kulit mereka bisa dijual,” lanjutnya.


“Begitu, ya.”


Tidak berselang lama gadis yang tadi menghampiri Da Feng kembali dengan napas terengah-engah karena langsung berlari begitu Da Feng memacu kudanya mengikuti Weiruo.


“Tuan dan Nona Pendekar, aku sangat berterima kasih atas pertolongan kalian berdua,” ucap seorang pria dengan tubuh cukup kekar.


“Namaku Qin Liumin, lalu dia putriku, Qin Suyin. Aku tidak tahu apa yang dapat kuberikan sebagai balasan kebaikan kalian,” Qin Liumin tersenyum canggung.


“Tidak perlu memikirkannya, lagipula kami harus segera melanjutkan perjalanan,” sahut Weiruo.


“Apa kalian akan pergi ke wilayan Kekaisaran Huangjin?” tanya Qin Liumin.


Weiruo mengiyakan, buru-buru Qin Liumin menawarkan diri untuk mengantar Weiruo sebagai bentuk ucapan terima kasih. Weiruo menolak, ia tidak akan singgah karena berencana pergi langsung ke Lembah Darah.


Lagipula jika ia pergi dalam rombongan tersebut akan memperlambat waktu sedangkan ia dan Da Feng harus datang ke lembah Darah secepat mungkin.


Qin Liumin terlihat sedikit sedih, tapi dirinya juga tidak memaksa karena tahu jika ada kalanya seorang pendekar harus melakukan perjalanan secepat mungkin, jika Weiruo ikut dengan rombongannya besar kemungkinan akan memperlambat perjalanan gadis tersebut.


“Nona, aku adalah seorang pedagang di ibukota kekaisaran. Nona bisa datang ke kediamanku jika membutuhkan sesuatu, hutang budi ini akan selalu kuingat. Boleh aku tahu nama kalian?”


“Ruo. Aku akan datang suatu saat nanti.”


Weiruo tersenyum tipis, setelah Da Feng mengenalkan dirinya dan sedikit percakapan kecil Weiruo mengajak pemuda tersebut untuk segera melanjutkan perjalanan.


Saat ini keduanya berada di wilayah perbatasan Kekaisaran Huangjin, jika ingin pergi ke Lembah Darah harus melewati kekaisaran tersebut.

__ADS_1


Menurut perkiraan Da Feng mereka akan tiba setidaknya lima hingga tujuh hari, mengingat Lembah Darah berada di wilayah yang begitu sulit dijangkau oleh orang biasa.


Weiruo tidak peduli berapa lama waktu yang diperlukan untuk tiba di sana, yang terpenting untuknya adalah menjemput Laohua dan membawanya kembali.


__ADS_2