Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 57-Wabah Penyakit


__ADS_3

Mo Yangcen mengumpat dalam diam melihat orang-orang dari klannya gagal mengacaukan fokus Weiruo, malah mereka yang gagal membuat pil akibat ulah mereka.


Mo Jangyun juga hanya bisa menahan emosinya melihat betapa tidak becusnya kedua orangnya tersebut.


Kompetisi terus berlanjut dan sering kali terdengar suara ledakan dari tungku para peserta. Ketegangan begitu terasa entah itu dari peserta maupun penonton yang melihat.


Waktu terus berjalan dan satu per satu peserta berhasil membuat pil mereka. Namun, tidak sedikit dari mereka yang menunjukkan ekspresi kecewa karena pil yang dihasilkan hanya memiliki kualitas rendah, sedangkan mereka diharuskan membuat pil dengan kualitas menengah.


Akhirnya babak ketiga berakhir, semua peserta menghembuskan napas lega setelah berjuang selama enam jam membuat pil.


Tidak menunggu waktu lama, para penilai segera memeriksa pil yang dibuat dengan teliti dan mencatat hasil penilaian yang mereka berikan.


Weiruo melihat Da Feng yang masih di tempatnya, pemuda tersebut memberi isyarat dukungan pada gadis tersebut.


‘Tidak masalah jika kau gagal, kau sudah berusaha,' suara Da Feng terdengar di kepala Weiruo.


‘Aku tidak akan gagal,’ Weiruo membalas telepati pemuda tersebut.


Karena membutuhkan waktu untuk menilai semua pil yang ada, para peserta diberi waktu untuk beristirahat sebelum pengumuman pemenang kompetisi.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya semua peserta kembali dikumpulkan. Ketegangan dapat dirasakan dengan jelas melihat begitu banyak tetua dari Asosiasi Tungku Emas yang berkumpul.


Sebelum mengumumkan tiga pemenang utama, terlebih dahulu diumumkan sepuluh peserta dengan penilaian terbaik setelah ketiga pemenang utama, barulah Ketua Asosiasi Tungku Emas mengumumkan tiga orang yang menjadi pemenang utama kompetisi tersebut.


“Untuk juara pertama dalam kompetisi ini ... Nona Ruo! Dengan keberhasilan membuat tiga pil dengan kualitas tinggi!”


Weiruo melangkah ke atas panggung dan menerima sebuah medali serta sebuah cincin ruang dari ketua asosiasi.


Setelah pengumuman diadakan pesta kecil untuk semua peserta, hanya saja Weiruo tidak berniat untuk mengikuti pesta itu sehingga langsung meninggalkan Asosiasi Tungku Emas.


“Maaf, apa kau benar Nona Ruo?” tanya seorang pria tua yang datang menghampiri Weiruo.


“Benar. Apa ada sesuatu yang kau butuhkan, Tuan?”


Pria tua tersebut mengajak Weiruo ke tempat yang nyaman sebelum memulai perbincangan.

__ADS_1


“Ketua Asosiasi kami tertarik dengan bakatmu yang luar biasa itu,” ucap pria tua tersebut sebagai basa-basi sebelum mengatakan tujuannya.


“Maaf, aku tidak ingin bergabung dengan asosiasi maupun sekte apapun untuk saat ini,” tolak Weiruo.


Weiruo sudah menduga akan terjadi hal seperi sekarang ini. Sebelumnya ia sudah mencari sedikit informasi dan mendengar jika tidak jarang para peserta akan menjadi anggota Asosiasi Tungku Emas setelah kompetisi berakhir.


Setelah mencari informasi ternyata setelah kompetisi banyak tetua yang akan menawari para peserta tersebut untuk masuk ke asosiasi mereka, sama seperti yang dilakukan pria tua di hadapan Weiruo saat ini.


Pria tua tersebut terlihat kecewa mendengar penolakan dari Weiruo. Bahkan setelah menjelaskan keuntungan bergabung dengan asosiasi Weiruo tetap menolak.


Setelah ditolak berkali-kali, tetua tersebut akhirnya menyerah dan membiarkan Weiruo pergi.


Da Feng menyambut Weiruo di gerbang, pemuda tersebut tidak sendirian, terlihat Ye Nian dan yang lain berdiri di belakang Da Feng.


“Tidak kusangka kau mendapat posisi pertama,” ucap Da Feng.


Weiruo hanya tersenyum kecil dan mengajak mereka untuk kembali ke ibukota.


Ye Jinhai tidak akan tinggal terlalu lama di ibukota karena sudah cukup lama meninggalkan sektenya, sehingga setelah berbincang dengan Weiruo berencana untuk kembali ke sekte.


Weiruo memberikan hadiah kecil sebagai hadiah perpisahan kepada Ye Nian serta Meigui.


“Apa masalahmu dengan Klan Mo sudah berakhir?” tanya Da Feng tiba-tiba.


Da Feng tentu tidak yakin jika masalah Weiruo dengan Klan Mo selesai begitu saja dalam satu malam, mengingat betapa kuat kekuasaan Klan Mo di ibukota.


“Mungkin kita akan menyelesaikannya hari ini.”


Da Feng menghembuskan napas pelan sebelum mengeluarkan pedangnya, sepertinya hawa membunuh yang terus ia rasakan sejak keluar dari gerbang kota memang benar dari para pembunuh yang mengincar mereka.


Sekelompok orang dengan pakaian serba hitam muncul di hadapan mereka berdua, hawa membunuh terpancar dengan kuat dari sekelompok orang tersebut.


Pertarungan segera terjadi, baik Weiruo maupun Da Feng tidak kesulitan menghadapi sekelompok pembunuh tersebut.


Selain kemampuan bela diri, keduanya juga tidak ragu menyerang dengan racun yang membuat pergerakan pembunuh tersebut terganggu.

__ADS_1


Pertarungan tidak berlangsung lama, semua pembunuh berhasil dikalahkan. Namun, salah seorang dari mereka berhasil kabur ketika ada kesempatan.


Weiruo tidak menghentikannya, bahkan melarang Da Feng mengejar.


“Biarkan tuan mereka sadar siapa yang mereka hadapi.”


Weiruo berbalik kepada kudanya dan meminta Da Feng untuk segera naik ke kudanya, gadis tersebut ingin segera kembali ke rumahnya setelah begitu lama pergi.


***


Da Feng menurunkan kecepatan kudanya, pemuda tersebut berbalik pada Weiruo yang berada di belakangnya.


Hanya dengan tatapan saja Weiruo sudah mengerti maksud Da Feng dan langsung mengiyakan, keduanya memacu kuda ke sebuah kota kecil yang berada di jalur mereka menuju Ibukota Kekaisaran Xifeng.


Ketika keduanya tiba di gerbang kota, dua orang prajurit penjaga gerbang menghadang mereka.


“Kota sedang dalam isolasi karena wabah yang menyebar di dalam kota,” jelas prajurit tersebut.


“Wabah? Apa pihak kekaisaran sudah mengetahui hal itu?” Weiruo turun dari kudanya dan menghampiri kedua prajurit tersebut.


Kedua prajurit tersebut saling menatap sebelum salah satu dari mereka buka suara.


Walikota sebenarnya sudah mengirim surat kepada kaisar sejak tiga hari yang lalu, tapi sampai sekarang tidak ada sedikitpun kabar dari kaisar, padahal hanya membutuhkan waktu satu hari dari kota kecil tersebut ke ibukota dengan menunggangi kuda.


“Biarkan kami masuk, aku mungkin bisa membantu.”


Prajurit penjaga gerbang tersebut terlihat ragu, tapi setelah melihat penampilan Weiruo keduanya akhirnya mengizinkan Weiruo untuk masuk ke kota.


Salah satu dari mereka menemani Weiruo melihat keadaan kota. Weiruo dan Da Feng meninggalkan kuda mereka di luar gerbang kota karena takut kedua kuda tersebut ikut tertular wabah.


Prajurit tersebut mengantar keduanya menuju kediaman walikota yang terbilang jauh letaknya dari gerbang kota.


Sepanjang jalan Weiruo banyak melihat penduduk kota yang berjalan dengan susah payah menahan sakit. Rumah-rumah tertutup rapat dan hanya segelintir orang yang keluar.


Prajurit tersebut juga menjelaskan sejak kemunculan wabah, penduduk kota langsung menutup rapat-rapat rumah mereka karena takut tertular.

__ADS_1


Sesampainya di kediaman walikota, Weiruo langsung menemui walikota dan membahas tentang wabah yang menyebar di seluruh kota tersebut.


Setelah perbincangan yang cukup panjang akhirnya walikota membawa Weiruo serta Da Feng ke sebuah danau yang terletak tepat di samping kota, yang mana merupakan asal dari wabah mematikan yang menyerang kota.


__ADS_2