
“Shaaa!”
Pria tersebut segera menarik ular putih kecil yang melompat ke arahnya, begitu dirobek tubuhnya ular tersebut jatuh ke tanah dan berubah menjadi kabut.
Ia awalnya dapat mengatasi belasan yang melompat padanya, namun seiring berjalannya waktu semakin banyak ular yang menyerang sehingga dirinya mulai kesulitan melawan balik.
Ular-ular tersebut mulai menggigitnya satu per satu, meninggalkan sebuah luka gigitan beracun.
Tak bisa menahan diri, pria tersebut akhirnya melepaskan energi dalam jumlah besar untuk menyapu kabut tebal di sekelilingnya.
Begitu kabut hilang ular-ular putih yang menyerang juga menghilang bersamaan.
Sebuah tawa kecil mengejutkan pria tersebut, dia menoleh dengan tergesa-gesa, menemukan Shema yang berdiri tegap dengan tubuh setengah ularnya.
Matanya merah menyala, lidah ularnya menjulur keluar, tatapannya penuh akan nafsu membunuh memandangi pria tersebut.
Kesal, ia langsung saja maju menyerang dengan tangan kosong. Tiap serangannya berhasil Shema hindari. Wanita tersebut tidak melawan balik dan hanya menghindar, dan ketika ada kesempetan barulah Shema mengoyak tangan pria tersebut hingga terputus.
“AARGH!” teriaknya penuh kesakitan.
Tubuhnya kini bergetar, ia kehilangan begitu banyak darah dalam waktu singkat, belum lagi racun yang menyebar begitu cepat ke seluruh tubuhnya.
“Dasar siluman rendahan!” hinanya.
“Dasar manusia rendahan! Kau tak pantas mengucapkan kalimat itu!”
Shema mendekatinya, tanpa basa-basi langsung menusuk kedua mata pria tersebut dengan jarinya.
Teriakan histeris langsung terdengar, darah mengalir deras dari kedua mata pria tersebut. Ia jatuh bergling di tanah memegangi kedua matanya yang kini telah dibutakan oleh Shema.
Shema berbalik dan pergi, membiarkan pria tersebut mati dengan penuh penderitaan.
...***...
Weiruo menebas ke arah Kong Woonji, sayangnya pria tersebut berhasil menghindar dan mengendalikan boneka mayatnya untuk menyerang Weiruo.
Gadis tersebut terus bertarung menghadapi Kong Woonji dalam waktu yang begitu lama. Begitu banyak boneka mayat milik Kong Woonji yang berhasil dimusnahkan olehnya, Weiruo sendiri terus mengonsumsi pil agar kondisinya tetap stabil.
Keduanya terus bergerak hingga tanpa disadari telah memasuki area terlarang Sekte Laut Darah.
Sebuah tebing di atas lautan yang dalam, tempat tersebut dipenuhi oleh formasi khusus sehingga binatang spiritual yang tersegel di bawah sana tidak dapat naik ke permukaan.
Sampai sekarang tak satupun orang di dunia luar yang tahu wujud asli makhluk tersebut, hanya ketua sekte dari generasi ke generasilah yang hanya mengetahui hal itu.
Kabut tipis menutupi tempat tersebut, tapi baik Weiruo maupun Kong Woonji tak sedikitpun kesulitan untuk menyerang satu sama lain.
Weiruo menelan sebuah Pil Energi untuk memulihkan tenaga dalamnya yang hampir terkuras habis.
Melawan Kong Woonji bukan perkara yang mudah, tenaga dalam pria tua tersebut seperti tak ada habisnya mengendalikan begitu banyak boneka mayat dalam satu waktu.
Yang membuat Weiruo ingin sekali membunuh Kong Woonji bukan hanya perbuatan pria tua tersebut pada Xing Jinzi, melainkan juga pada gurunya, Yue Hua.
__ADS_1
Kematian Yue Hua masih menjadi misteri yang begitu sulit Weiruo pecahkan, mendengar ucapan Kong Woonji sebelumnya membuat Weiruo yakin jika pria tua di hadapannya ini ada sangkut pautnya dengan kematian Yue Hua atau hilangnya Sekte Dewi Bulan.
Crash
Satu boneka mayat berhasil Weiruo tumbangkan. Napasnya sedikit tidak beraturan setelah pertarungan dalam waktu yang begitu lama.
Keempat boneka yang tersisa bukanlah boneka mayat biasa, Weiruo yakin mereka berasal dari mayat pendekar tingkat tinggi yang telah dimodifikasii sedemikian rupa.
“Berapa banyak lagi pil yang akan kau makan? Sebanyak apapun tidak akan mengubah takdir kematianmu!”
Kong Woonji maju bersama keempat boneka mayatnya, mereka bersamaan menyerang Weiruo dan memaksa gadis tersebut untuk terus bertahan.
“Sebanyak apa? Sebanyak yang aku miliki!”
Weiruo mengangkat pedangnya lurus dan mengambil kuda-kuda, mengalirkan tenaga dalam ke pedang yang ada di tangannya.
“Teknik Mata Langit!”
Mata Weiruo menyala sesaat, gadis tersebut segera melangkah maju menyerang.
Teknik Mata Langit adalah teknik khusus untuk melihat aliran tenaga dalam milik lawan. Teknik itu sebenarnya baru-baru ini dipelajari oleh Weiruo dan hanya pernah ia gunakan sekali sebelumnya saat latihan.
Teknik Mata Langit akan sangat berguna untuk menyerang nadi spiritual lawan, hanya saja kekurangan teknik itu adalah konsumsi tenaga dalamnya yang begitu besar sehingga Weiruo tidak bisa menggunakannya dalam jangka waktu panjang.
Kong Woonji tersenyum miring dan mengarahkan ketiga boneka mayatnya untuk maju, mereka bersamaan menyerang Weiruo dengan senjata mereka masing-masing.
Weiruo memperhatikan Kong Woonji dengan teliti, seluruh tenaga dalam pria tersebut sepenuhnya ia alirkan ke kedua telapak tangannya. Kemudian tenaga dalam Kong Woonji dialirkan ke dalam boneka mayat yang dikendalikan olehnya.
Weiruo membelokkan serangan yang mengarah pada lehernya, ia beeputar dan menebas salah satu kepala boneka mayat Kong Woonji.
Kekesalan terlihat jelas di wajah keriput Kong Woonji. Seorang gadis yang ia pikir akan tewas setelah beberapa serangan kecil ternyata masih bertahan setelah mendapat begitu banyak luka fatal. Tidak peduli berapa banyak boneka mayat yang Kong Woonji keluarkan, Weiruo terus menghadapi mereka semua dan terus melangkah maju pada Kong Woonji.
Jarum-jarum beracun melesat ke arah Kong Woonji, ia segera menggunakan boneka mayatnya untuk menghadang semua jarum beracun tersebut.
Weiruo sedikit kesal, racun-racun itu tidak akan bekerja pada boneka mayat tersebut, sehingga sebanyak apapun yang Weiruo berikan tidak akan berefek apapun pada mereka.
Weiruo berhasil menebas satu dari tiga boneka mayat yang tersisa. Ia tidak bisa banyak menghabiskan waktu hanya untuk menghadapi Kong Woonji, Weiruo terus bergerak menyerang karena tenaga dalamnya yang sedikit demi sedikit terkuras akibat Teknik Mata Langitnya.
“Kita lihat seberapa lama dirimu bertahan!” Kong Woonji mengeluarkan teknik elemen untuk menyerang Weiruo.
Dirinya semakin terpojok, pergerakannya begitu terbatas akibat kondisi tubuh serta perbedaan kekuatannya dengan Kong Woonji yang begitu jauh.
“Xiayu, aku butuh bantuanmu!”
Selain dengan boneka mayat, Kong Woonji juga berada dalam posisi yang begitu menguntungkan karena roh bela diri yang selalu melindungi pria tua tersebut.
Setitik cahaya muncul dan perlahan membentuk sosok mungil Xiayu. Ikan kecil tersebut berputar dan bersikap seolah begitu khawatir pada tuannya.
Cahaya ekor Xiayu mengenai luka Weiruo, dalam waktu sekian dekit langsung menyembuhkan luka tersebut. Weiruo terdiam seketika, ia tak pernah mengetahui kemampuan dari Xiayu, bahkan tidak terlalu mengandalkan rol spiritualnya itu untuk ikut bertarung bersamanya.
“Xiayu, aku membutuhkan kekuatanmu!” ucap Weiruo.
__ADS_1
Xiayu berputar dengan semangat, setelah sekian lama menunggu akhirnya Weiruo memanggilnya.
Dengan Xiayu di sampingnya, Weiruo kembali menyerang. Kondisinya yang sedikit membaik membuatnya bergerak lebih lincah dan cepat, membuat Kong Woonji kesulitan membaca pergerakan Weiruo.
“Xiayu, maju!”
Di saat kedua boneka mayat Kong Woonji lengah, Weiruo menebas leher mereka bersamaan.
Xiayu melesat cepat ke arah Kong Woonji. Roh bela diri berwujud wanita tanpa wajah itu berusaha mengahalanginya, namun Xiayu berhasil menghindar dan terus menyibukkannya.
Weiruo memanfaatkan celah yang terbuka, dengan tenaga penuh mengayunkan pedangnya ke leher Kong Woonji.
Pedang Kong Woonji langsung menahan serangan Weiruo. Pria tua tersebut mulai kewalahan menghadapi weiruo yang menyerangnya sepenuh tenaga, berbeda dengan pertarungan yang sebelumnya.
“Kau! Apa-apaan kau ini?” ucap Kong Woonji.
Weiruo tidak menjawab, dirinya kini benar-benar fokus menyerang Kong Woonji. Hanya ada satu kesempatan saat ini, ketika pria tua tersebut telah kehabisan boneka mayat dan roh bela dirinya yang disibukkan dengan Xiayu.
Kong Woonji benar-benar terdorong mundur dengan cepat, tiap serangan Weiruo dipenuhi tenaga yang tidaklah sedikit sehingga membuatnya kesulitan menghadang tiap serangan.
Langkahnya terhenti, Kong Woonji menyadari dirinya berada di ujung jurang dan di saat bersamaan Weiruo menebas ke arah lehernya.
Tanpa pikir panjang ia mundur, pedang weiruo gagal memenggalnya. Namun, sebuah luka tebasan yang begitu lebar menghiasi lehernya.
Weiruo melempar jarum ke kedua pergelangan tangan Kong Woonji, mengunci aliran tenaga dalamnya.
Kong Woonji mengumpat dengan mulut bersimbah darah. Roh bela dirinya langsung menghilang begitu saja ketika pria tersebut tidak dapat mengendalikan tenaga dalamnya.
Namun, ketenangan Weiruo hanya sesaat. Kong Woonji dengan tenaga terakhirnya menciptakan sebuah benang energi yang melilit tubuh Weiruo ketika gadis tersebut lengah dan menariknya jatuh dari tebing.
“Amukan Dewi Bulan; Bulan Darah!”
Weiruo melepaskan diri dengan mudahnya. Di atas udara ia mengangkat pedangnya dan mengumpulkan tenaga dalam yang tertisa.
Ia menebas dengan cepat ke arah Kong Woonji, pria tua tersebut berusaha menahan serangan Weiruo. Namun, bahkan pertahanan terkuatnya sekalipun tak mampu menahan satu dari sekian banyak tebasan energi yang datang padanya.
Tubuhnya terpotong, Kong Woonji hanya bisa berteriak menahan rasa sakit yang menelan tubuhnya sebelum kepalanya terpenggal.
Pandangan Weiruo kabur seketika, seuruh tenaga dalamnya habis saat itu juga, darah mengalir dari mata dan hidungnya.
Samar sepasang mata menyala terlihat dari dasar tebing berkabut tersebut, sosoknya yang begitu besar tertutup kabut di atas laut.
Suara napas yang begitu berat terdengar, perasaan buruk langsung menghampiri Weiruo.
Suhu mulai naik begitu cepat, cahaya dalam skala besar muncul dari bawah sana. Semakin jauh ke bawah semakin tinggi pula suhu di sekitar Weiruo.
‘Sial!’
Semburan api mendekat begitu cepat, Weiruo memejamkan matanya saat itu juga.
Tidak ada sedikitpun tenaga yang tersisa, gadis tersebut hanya bisa menerima takdir kematian yang segera datang padanya.
__ADS_1