
Pasukan yang dibawa oleh Panglima Gong tiba ketika perang telah berakhir. Penyesalan terlihat di mata pria tersebut ketika mengetahui dirinya terlambat datang. Tak disangka olehnya melalui jalan pintas tetap memakan waktu lama, padahal ia sudah cukup yakin dengan pilihannya.
Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian dari pasukan Sekte Cakar Naga. Mereka tentu kebingungan mengapa pasukan istana datang ke peperangan dua sekte.
“Ying? Kenapa kau berada di sini?” tanya Da Feng dengan suara sedikit serak.
“Saya datang untuk Guru! Di mana dia sekarang?” Ying tersenyum lebar.
Ia buru-buru turun dari kuda dan menghampiri Da Feng. Melihat sorot mata Da Feng langsung membuat Ying kehilangan senyumnya. Apakah pemuda tersebut tidak senang dengan kehadirannya?
“Dia ... maafkan aku ... dia tewas dalam peperangan....”
Ying terdiam, gadis tersebut melangkah ke depan mendekati Da Feng dengan tatapan penuh ketidakpercayaan.
“Anda jangan berbohong!” ucapnya setengah berteriak.
Da Feng hanya menggeleng pelan. Mendengar pembicaraan mereka tentu mengejutkan Panglima Gong yang berada di belakang mereka, pria tersebut langsung menghujani Da Feng dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Weiruo.
Da Feng menceritakan semua yang ia ketahui, dari awal hingga akhir perang itu. Panglima Gong langsung jatuh terduduk ke tanah setelah mendengar habis cerita Da Feng.
Sungguh Panglima Gong hampir kehilangan kesadaran saking terkejutnya mendengar berita kematian Weiruo.
Da Feng segera mengantar mereka melihat jasad Weiruo. Begitu melihat jasad tersebut Ying langsung saja berteriak histeris, Meigui dan Lan Meili juga tak kalah terkejutnya melihat itu.
Panglima Gong hanya bisa terdiam di sana, kepalanya kini penuh pikiran tentang bagaimana ia menjalaskan hal ini pada kaisar dan permaisuri, terlebih permaisuri. Weiruo adalah anak semata wayangnya, kematian Weiruo pasti akan menjadi pukulan berat baginya.
Da Feng mengajak pria tersebut untuk berbicara secara pribadi dan meninggalkan yang lain terlebih dahulu.
“Bagaimana kita akan menjelaskan ini pada Yang Mulia Permaisuri?” tanya Panglima Gong putus asa.
“Aku juga sedang memikirkannya.”
Keduanya berdiam selama beberapa waktu, pada akhirnya mereka hanya memutuskan untuk kembali dan mengatakan apa adanya, karena akan mustahil jika mereka menyembunyikan kematian Weiruo.
__ADS_1
Fu Cheng menghampiri keduanya, meminta agar Da Feng ikut dengannya untuk berbicara empat mata dengannya. Da Feng hanya menyetujui dan mengikuti Fu Cheng manjauh.
“Nak Da Feng, katakan padaku, siapa sebenarnya Nona Ruo?” tanya Fu Cheng.
Setelah cukup lama memendam rasa penasarannya, akhirnya Fu Cheng memberanikan diri untuk bertanya. Sudah lama ingin tahu identitas Weiruo, tapi baru kali inilah dirinya memberanikan diri setelah melihat kedatangan Panglima Gong.
“Dia ... adalah Putri Mahkota Kekaisaran Xifeng. Anda pasti terkejut tentang ini ... lalu ... jangan terlalu memikirkannya. Ini kesalahan saya, saya gagal melindunginya.”
Da Feng tersenyum kecut, pikirannya saat ini begitu kacau tentang banyak hal. Pemuda tersebut tidak menunggu jawaban dari Fu Cheng dan pergi meninggalkannya.
Panglima Gong dan Da Feng tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama di sana dan memutuskan untuk kembali ke istana.
Sebelum pergi Da Feng mengucapkan salam perpisahannya pada Fu Cheng dan meminta pria tua tersebut untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri.
Fu Cheng mengepalkan tangannya begitu kuat, kuku-kuku jarinya menusuk telapak tangannya hingga meneteskan darah. Bagaimana bisa Fu Cheng tidak menyalahkan diri ketika dia tidak bisa membantu Weiruo, padahal gadis tersebut telah menyelamatkan orang terpenting dalam hidupnya.
Tidak ada yang bisa ia lakukan, hanya bisa melihat pasukan kekaisaran yang berjalan pergi begitu saja.
...***...
Kedatangan mereka disambut oleh kaisar dan permaisuri. Kekhawatiran terlihat jelas di mata mereka, Xuan Riuyi lah yang paling antusias dengan kedatangan mereka semua.
Hanya saja senyuman Xuan Riuyi menghilang ketika tak menemukan keberadaan putri semata wayangnya.
Ia menghampiri Da Feng yang berdiri di samping kudanya. Tubuhnya masih penuh luka, tatapannya kosong, dan tak terlihat sedikitpun senyum di wajahnya.
“Nak, di mana Putriku?” tanyanya dengan suara pelan.
Da Feng tidak langsung menjawab, mulutnya membeku, seolah menolak untuk berbicara. Dia memegang tangan Xuan Riuyi dengan begitu hati-hati, rasa bersalah menyelimutinya ketika melihat tatapan wanita tersebut.
Pada akhirnya setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, Da Feng memberanikan diri untuk berbicara.
“Maafkan saya ... saya tidak bisa melindunginya,” suaranya begitu parau, Da Feng tidak berani berbicara lebih banyak dari itu.
__ADS_1
Pemuda tersebut bersujud di bawah kaki Xuan Riuyi, ia mulai terisak. Hatinya diliputi perasaan bersalah, pikirannya begitu kacau sejak kejadian itu.
“Apa maksudmu? Di mana Putriku?”
Panglima Gong berjalan menghampiri Xuan Riuyi dan menjelaskan segalanya dengan penuh rasa penyesalan.
Teriakan histeris Xuan Riuyi langsung terdengar begitu mengetahui kondisi putrinya, buru-buru ia berlari ke salah satu kereta kuda dan mencari mayat putrinya.
Wanita tersebut membuka kain yang menutup mayat yang telah hangus terbakar, melihat kondisi mayat itu membuatnya langsung lemas seketika. Air matanya mengalir deras, tangisnya pecah dan ia menangis begitu keras.
“BUKAN! DIA BUKAN PUTRIKU!” teriaknya.
“DIA BUKAN PUTRIKU! BAWA DIA PERGI DARI SINI!”
Teriakan histeris Xuan Riuyi mengejutkan Xuan Guoxin, pria tersebut langsung memeluk istrinya dengan erat.
Xuan Riuyi terus berteriak dan menolak keberadaan mayat tersebut, ia terus memerintahkan Da Feng untuk membawanya pergi dari istana.
“Dia bukan Putriku ... suamiku, kau percaya padaku, ‘kan? Dia bukan Putri kita!” ucapnya di tengah isak tangis.
Xuan Riuyi berjalan ke arah Da Feng yang berlutut di tanah. Wanita tersebut memegang kedua pundak Da Feng dengan begitu erat.
“K-kalian pasti sedang bercanda! B-benar, ‘kan? Kalian pasti sedang bercanda seperti biasanya!” dengan suara gemetar Xuan Riuyi bertanya demikian.
Da Feng menggelengkan kepalanya lemah. Jawaban Da Feng membuat Xuan Riuyi kehilangan tenaganya, dia terduduk lemas di hadapan Da Feng dan memandangi pemuda tersebut penuh ketidakpercayaan.
“BUKAN! KAU PASTI SALAH MEMBAWA ORANG! DIA BUKAN PUTRIKU!” teriaknya.
Sekuat apapun Xuan Riuyi mengguncang tubuh Da Feng, pemuda tersebut tetap diam tak bersuara. Ia terlalu takut untuk berbicara, rasa bersalah telah menyelimuti hatinya. Bahkan ia tak berani melihat kedua mata wanita di hadapannya sekarang.
Xuan Riuyi menangis sejadi-jadinya, wanita tersebut menolak mayat Weiruo dan melarang suaminya memakamkan jasad tersebut di makam keluarga kerajaan.
“Jika kau berani memakamkan mayat itu di makam keluarga kerajaan atas nama putriku, aku akan memotong leherku sendiri!” ancamnya pada Xuan Guoxin.
__ADS_1
Ucapan Xuan RIuyi tentu mengejutkan Xuan Guoxin, tak menyangka jika istrinya berani berucap demikian.
Pria tersebut memeluk Xuan Riuyi dengan erat dan berusaha menenangkannya. Sebenarnya dia sendiri juga tengah dilanda kesedihan atas kepergian Weiruo. Namun, ia lebih tahu jika Xuan Riuyi lah yang paling membutuhkan penenang saat ini.