
Meigui berlari, melewati puluhan jasad pendekar yang terbaring berlumuran darah di tanah. Yang ia cari hanya satu, Ye Jinhai.
“G-Guru!”
Buru-buru Meigui menghampiri sosok Ye Jinhai yang kini terbaring di tanah, dengan hati-hati Meigui mengecek nadi sang guru. Namun, harapannya hilang seketika menyadari tidak ada tanda-tanda kehidupan dari gurunya.
Dengan tangan bergetar Meigui mengecek napas Ye Jinhai, nihil, Meigui benar-benar tidak bisa menemukan tanda-tanda kehidupan di tubuh gurunya.
Gadis tersebut berbalik, menatap Ye Nian dengan mata berkaca-kaca. Meigui bangkit, memeluk Ye Nian dengan erat.
Akhirnya tangis Ye Nian pecah, bocah tersebut menangis sejadi-jadinya di pelukan Meigui.
Sementara itu Weiruo melihat dari kejauhan, baginya yang sudah menghadapi begitu banyak misi dengan taruhan nyawa, hal di hadapannya saat ini bukanlah hal yang mengejutkan. Tapi Weiruo juga paham dengan perasaan Meigui serta Ye Nian, siapa yang tidak sedih ketika keluarga mereka tiada? Bahkan Weiruo juga selalu memikirkan tentang keselamatan keluarganya yang sekarang.
Weiruo memanggil Da Feng, meminta pemuda tersebut menggali tanah untuk mengubur semua pendekar yang tewas di pertempuran.
Ye Nian tidak berhenti menangis, sekalipun Meigui sudah berusaha menenangkannya, Ye Nian tetap menangis memeluk jasad sang kakek.
Bagaimana bisa Ye Nian berhenti menangis jika sosok yang telah merawatnya sedari kecil telah pergi. Satu-satunya yang berada di samping Ye Nian ketika dirinya terbaring sakit selama berhari-hari hanyalah sang kakek, bagaimana bisa Ye Nian tidak histeris?
“Ye Nian...,” panggil Weiruo.
Ye Nian menoleh pada gadis tersebut, kemudian berlari dan memeluk Weiruo ketika gadis tersebut memberi isyarat padanya.
Weiruo memberi isyarat pada Da Feng serta Shulong untuk memindahkan jasad Ye Jinhai. Berbeda dengan pendekar Sekte Kabut yang jasadnya dijadikan satu dan tidak peduli bagaimana posisi mereka, Da Feng menguburkan jasad pendekar Sekte Gunung Hijau dengan lebih baik.
Makam dari pendekar Sekte Gunung Hijau dibuat di bawah bukit tempat sekte tersebut berdiri dengan sebuah batu besar bertuliskan ‘Pendekar Sekte Gunung Hijau’ di atasnya.
Butuh waktu lama untuk menenangkan Ye Nian serta Meigui, terlebih Ye Nian yang menolak untuk meninggalkan kuburan kakeknya.
Akhirnya setelah sedikit bujukan Weiruo berhasil membawa Ye Nian pergi.
***
__ADS_1
Weiruo duduk di samping jendela kamarnya dan menatap jalanan kota yang ramai. Da Feng pergi untuk mencari informasi penyerangan yang terjadi pada Sekte Gunung Hijau kemarin, sedangkan Shulong juga pergi untuk mencari keberadaan siluman yang dirumorkan.
Sebenarnya Weiruo juga ingin pergi, tapi Shulong memintanya agar tetap di penginapan dan mengawasi Ye Nian serta Meigui.
Weiruo menghembuskan napas pelan, memikirkan apa yang harus ia lakukan pada Ye Nian serta Meigui.
Dua hari sebelumnya Da Feng tiba-tiba menemuinya dan mengatakan jika Sekte Gunung Hijau tengah dalam masalah
Weiruo tentu tidak tega terlebih setelah Da Feng mengatakan jika Sekte Gunung Hijau tengah dikepung oleh Sekte Kabut. Ye Jinhai memiliki hubungan yang cukup baik dengannya, jadi Weiruo tidak bisa mengabaikan mereka dan mengajak Da Feng serta Shulong untuk pergi ke Sekte Gunung Hijau.
“Apa aku harus menjaga mereka?” Weiruo memandang langit biru yang cerah, bertanya pada dirinya sendiri.
Karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Weiruo akhirnya memilih untuk berlatih.
Dengan cepat siang berganti malam, Shulong kembali dan menemui Weiruo yang menemani Meigui di kamarnya.
“Bagaimana?” tanya Weiruo begitu Shulong masuk ke ruangan.
Weiruo terliht kecewa, tapi ia juga tidak berharap banyak karena Binatang Suci telah menyembunyikan diri mereka selama ratusan tahun setelah perang besar-besaran ratusan tahun lalu.
“Kita akan kembali ke istana dalam tiga hari. Meigui, pulihkan dirimu.”
Meigui mengangguk paham, gadis tersebut sedari kemarin tidak keluar dari kamarnya, hanya diam mengurung diri. Malam ini baru bisa menemui Weiruo, tapi tetap saja Meigui tidak banyak bicara.
Weiruo mengajak Shulong pergi dan membiarkan Meigui sendirian, gadis tersebut berniat menemui Ye Nian, sayangnya Ye Nian masih menolak menemui siapapun.
***
Hari terus berganti, Weiruo mengajak Meigui serta Ye Nian kembali bersamanya ke Kota Zhongxin, di sana keduanya akan aman di bawah perlindungan Weiruo.
Agak sulit membujuk Ye Nian, bocah tersebut harus ditidurkan dengan paksa agar Weiruo dapat membawanya. Weiruo melihat dengan jelas jika Ye Nian lebih kurus dari sebelumnya, itu karena Ye Nian menolak untuk memakan apapun selama tiga hari terakhir. Jika bukan karena bujukan Meigui, mungkin Ye Nian benar-benar tidak memakan apapun.
Mereka segera memacu kuda meninggalkan kota. Sebenarnya mereka bisa saja melakukan perjalanan tanpa menggunakan kuda, tapi Weiruo memilih menggunakan kuda karena memikirkan kondisi Meigui dan Ye Nian yang masih belum stabil.
__ADS_1
Mereka tiba setelah perjalanan yang begitu lama, Weiruo mengirim Meigui ke tempat pelatihan dan meminta Shulong untuk mengawasi Meigui, takutnya gadis tersebut kabur dan mendatangi Sekte Kabut.
Malam ini Weiruo duduk di kamarnya menikmati camilan yang dibawakan oleh Yinyi.
Sudah hampir 2 minggu Da Feng pergi, gadis tersebut hanya mengharapkan yang terbaik karena Sekte Kabut bukanlah sekte yang dapat diremehkan.
Weiruo memalingkan pandangannya ke luar jendela, lalu sedetik kemudian sosok dengan pakaian serba hitam melompat turun dari pohon.
“Aku kembali!” Da Feng membuka penutup wajahnya dan tersenyum lebar.
“Sepertinya kau mendapat informasi berharga. Masuklah.”
Da Feng melompat masuk begitu Weiruo berkata demikian, pemuda tersebut duduk di hadapan Weiruo dan menghembuskan napas panjang.
“Bagaimana?” tanya Weiruo.
“Dugaanmu benar! Tidak ada satupun anggota Sekte Gunung Hijau yang membunuh murid Zu Chong. Murid Zu Chong tewas karena pertikaian dengan salah seorang tetua sekte. Tetua itu tidak ingin menjadi tersangka dan memanfaatkan keberadaan murid-murid Sekte Gunung Hijau yang berada di sekitar lokasinya membunuh murid itu,” Da Feng menjelaskan dengan teliti.
Tidak lupa juga Da Feng menjelaskan siapa saja yang terlibat. Zai Hu adalah tetua yang Da Feng maksud. Alasan Zai Hu membunuh murid tersebut adalah penolakan yang terjadi setelah ia menawari murid tersebut menjadi murid didiknya daripada Zu Cheng.
“Jadi seperti itu. Karenanya sebuah sekte telah musnah.”
Cangkir teh di tangan Weiruo mengalami retakan halus karena secara tidak sadar Weiruo memegang cangkir terlalu kuat.
“Apa ada informasi lain?”
“Tidak ada, sangat sulit mencari informasi di sana, penjagaannya sangat ke—uhuk!”
Da Feng menutup mulutnya, darah segar menetes dari sela-sela jari tangan yang menutup mulutnya.
“Ah...?”
Mulut Da Feng bergetar, napasnya mulai tidak beraturan dan wajahnya menjadi pucat dalam waktu singkat.
__ADS_1