Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 53-Akhir Dari Serangan


__ADS_3

Serangan manusia gunung tidak hanya terjadi di istana saja, seluruh ibukota jatuh dalam pertempuran sengit sejak manusia gunung menerobos masuk dan menyerang penduduk kota.


Melihat banyaknya pasukan yang menyerang Weiruo tidak tinggal diam, ia dan Da Feng berpisah untuk membantu yang lain.


Weiruo berhasil menumbangkan sekelompok manusia gunung yang hendak menangkap seorang gadis. Ucapan terima kasih tak hentinya keluar dari mulut gadis palayan yang ditolong oleh Weiruo.


“Cari tempat aman!” perintah Weiruo sebelum pergi meninggalkan gadis tersebut karena melihat dua orang pemuda-pemudi yang dikepung oleh belasan manusia gunung.


Weiruo mengeluarkan sebotol kecil cairan racun dari dalam cincin ruangnya, kemudian menuang racun tersebut untuk melapisi pedangnya.


Pedang Weiruo bergerak cepat memberikan luka tebasan pada tubuh manusia gunung tersebut, walaupun tidak dalam tapi luka yang diberikan tidak sedikit. Selain itu racun di pedang Weiruo masuk ke dalam kulit manusia gunung tersebut dan menyebabkan mereka semua merasakan sensasi panas pada luka mereka.


Kedua pemuda-pemudi tersebut melihat adanya kesempatan sehingga langsung melumpuhkan sekelompok manusia gunung yang sebelumnya mengepung mereka berdua.


“Terima kasih,” ucap seorang pemuda setelah berhasil membuat manusia gunung di hadapannya pingsan.


“Ya. Sembuhkan diri kalian sebelum kembali bertarung, masih ada banyak musuh.”


Kedua pemuda-pemudi tersebut menerima sebuah pil penyembuh yang dilempar oleh Weiruo.


“Sepertinya kau Ahli Pil, apa kau datang ke ibukota untuk mengikuti Kompetisi Ahli Pil?” tanya gadis di hadapan Weiruo.


Weiruo diam sejenak untuk memahami pertanyaan gadis di hadapannya.


Kompetisi Ahli Pil adalah kompetisi yang diadakan oleh Asosiasi Tungku Emas tiap satu tahun sekali, Weiruo mendengar kabar jika kompetisi tahun ini akan diadakan dalam waktu dua minggu mendatang.


“Benar. Lebih baik membantu yang lain daripada membahas hal itu sekarang.” Weiruo menunjuk manusia gunung yang mengejar beberapa orang pelayan.


Keduanya segera meninggalkan Weiruo untuk membantu pelayan-pelayan tersebut.


“Mereka sepertinya tidak bisa membunuh orang,” gumam Weiruo.


Weiruo mengangkat pedangnya, sedetik kemudian menebas leher manusia gunung di hadapannya sekarang.


Manusia gunung yang menyerang mulai berkurang, istana kini dipenuhi oleh darah dan jasad entah itu manusia gunung atau orang tidak bersalah yang menjadi korban.

__ADS_1


Da Feng kembali kepada Weiruo setelah membereskan sekelompok manusia gunung yang menyerang sisi lain istana.


Penyerangan manusia gunung di luar istana juga berhasil ditangani dengan cepat berkat bantuan para pendekar yang kebetulan berada di ibukota. Para prajurit istana berhasil mengamankan beberapa orang manusia gunung untuk diintrogasi.


Pertemuan dihentikan setelah penyerangan itu, Kaisar Rong Juyan mengirim begitu banyak bantuan agar penduduk kota dapat memulihkan diri. Pasukan penjaga juga diperkuat, gerbang ibukota kini dijaga oleh selusin lebih penjaga.


Xuan Guoxin setelah penyerangan berakhir langsung menemui Weiruo dan menanyai keadaannya, bahkan Yinyi hampir menangis melihat pakaian Weiruo yang berlumuran darah.


“Kita akan kembali besok,” ucap Xuan Guoxin.


“Ayah, bolehkah aku menetap di ibukota untuk beberapa waktu? Aku ingin melakukan beberapa hal.”


Xuan Guoxin ingin menolak, tapi menyadari jika larangannya tidak berarti bagi Weiruo akhirnya pria tersebut mengizinkan dengan syarat bahwa gadis tersebut tidak diperbolehkan melakukan hal yang berbahaya.


“Tentu.”


Seperti yang Xuan Guoxin katakan, pagi harinya kereta kuda sudah siap untuk kembali ke istana.


Ternyata bukan hanya Xuan Guoxin saja, kedua kaisar yang lain juga berniat kembali ke negara mereka masing-masing karena tidak ingin anggota keluarga mereka dalam bahaya.


Weiruo tinggal di penginapan terbaik yang ada di ibukota setelah mengantar ayahnya, penginapan yang ditinggali Weiruo tidak mengalami banyak kerusakan setelah penyerangan manusia gunung karena memiliki begitu banyak penjaga yang ahli bela diri bekerja di tempat tersebut.


Karena masih 2 minggu sebelum Kompetisi Ahli Pil dimulai, Weiruo menghabiskan waktunya untuk berlatih tenaga dalam, begitu juga dengan Da Feng yang tinggal di kamar yang bersebelahan dengan milik Weiruo.


Hari berlalu begitu saja, kekacauan di kota sudah teratasi sedikit demi sedikit. Kerusakan yang disebabkan oleh serangan manusia gunung juga sudah mulai diperbaiki.


Malam tiba dan jalanan kota kini sudah kembali ramai seperti biasanya. Weiruo dan Da Feng pergi ke luar untuk mencari tempat makan yang enak karena bosan dengan makanan yang ada di penginapan.


Karena Da Feng tidak terlalu lapar, pemuda tersebut berpisah dengan Weiruo untuk mencari toko yang menjual arak.


Sudah begitu lama sejak terakhir kali Da Feng minum arak, pemuda tersebut rindu dengan sensasi arak yang melewati tenggorokannya.


Sementara Da Feng berkeliling kota untuuk mencari toko arak terbaik, Weiruo sudah tiba di restoran besar yang letaknya tidak jauh dari penginapan tempatnya menginap.


Lantai satu dan dua cukup ramai pengunjung sehingga Weiruo naik ke lantai tiga yang kosong. Setelah memesan makanan Weiruo duduk di salah satu meja kosong di lantai tersebut.

__ADS_1


Tidak berselang lama hidangan yang dipesan Weiruo disajikan di atas mejanya. Karena Weiruo memesan di lantai 3 maka makanan yang dipesan juga makanan dengan kualitas tinggi sesuai dengan harganya.


Di tengah waktu santai Weiruo menikmati hidangan di mejanya, sekelompok pemuda naik ke lantai 3, dilihat sekilas Weiruo tahu jika mereka semua berada di bawah pengaruh alkohol.


Mereka berjalan melewati meja Weiruo, bau arak tercium jelas dari tubuh mereka.


Salah satu dari mereka tiba-tiba berhenti dan berbalik pada Weiruo, dengan tubuh terhuyung pemuda tersebut menghampiri Weiruo.


“Nona cantik ... apa kursi di depanmu kosong?” tanyanya begitu sampai di meja Weiruo.


“Apa kau buta dan tidak bisa melihat bahwa aku hanya duduk sendiri?” Weiruo mengambil sepotong daging dan memasukkan daging tersebut ke dalam mulutnya.


“Kebetulan sekali hik ... kami akan duduk denganmu.”


Pemuda tersebut mendekati kursi yang berhadapan dengan Weiruo dan berancana duduk di kursi tersebut.


Namun, belum sampai pemuda tersebut mendaratkan pantatnya di atas kursi, sebuah jarum perak sudah lebih dulu menancap di atas kursi tersebut.


“Tempat itu sudah ada yang memesan.” Weiruo menatap pemuda tersebut sinis.


“Nona, tidakkah kau merasa beruntung karena sudah menarik perhatianku?” pemuda tersebut terlihat tidak senang dan menatap Weiruo dengan tatapannya yang begitu arogan.


“Aku mau muntah hanya dengan melihat wajahmu,” ucap sinis Weiruo.


Ucapan Weiruo langsung membuat ekspresi pemuda tersebut menjadi begitu buruk, kedua alisnya menurun dan tatapannya berubah menjadi begitu tajam.


“Nona, apa kau tahu siapa aku?” pemuda tersebut menunjuk dirinya.


“Tidak. Memang kenapa? Anak bangsawan? Kau terlalu sombong hanya karena posisi orang tuamu itu.”


“Gadis sialan! Jaga mulutmu! Apa kau tidak tahu siapa Tuan Muda kami?” salah satu dari sekelompok pemuda tersebut berteriak pada Weiruo.


“Aku ingin tahu siapa pemuda sombong ini.”


“Dia adalah Tuan Muda Mo Yangcen! Tuan Muda dari Klan Mo, satu dari tiga klan paling berpengaruh di kekaisaran!”

__ADS_1


__ADS_2