
Weiruo menghabiskan waktunya untuk mengistrahatkan diri dan menyembuhkan luka dalam yang dialaminya.
Aroma bunga segar memenuhi kamar mandi tempat Weiruo membersihkan dirinya, Weiruo begitu menikmati air hangat dan berendam begitu lama.
Tidak ada pelayan yang membantu karena Weiruo ingin sendirian, setelah membawakannya air hangat, Weiruo langsung meminta para pelayan untuk meninggalkannya sendiri.
Weiruo menatap langit-langit ruangan tersebut, merasa kesal karena dirinya begitu lemah, jika bukan karena keberuntungannya mungkin ia akan tewas karena para pembunuh sebelumnya.
“Pisauku habis,” gerutunya.
***
Pagi harinya Xuan Yiru mendatangi kamar Weiruo, wanita tua tersebut sudah begitu lama tidak menemui Weiruo sehingga ingin menemuinya.
“Kau sudah besar,” celetuk Xuan Yiru.
Weiruo hanya tersenyum tipis, terakhir Xuan Yiru menemui Xuan Weiruo sekitar setahun yang lalu sebelum wanita tua tersebut pergi ke Kota Angin Barat untuk mengistirahatkan dirinya dari kehidupan istana.
Xuan Yiru mengamati Weiruo, gadis yang dulunya penakut dan pendiam kini terlihat begitu berbeda. Sorot matanya menjadi begitu tajam, bayangan gadis penakut pada diri Weiruo seolah hilang begitu saja.
Keduanya begitu canggung, Xuan Yiru kebingungan harus mulai berbicara dari mana karena ia tidak begitu dekat dengan Weiruo.
Weiruo menyeruput tehnya pelan, ia tahu jika Xuan Yiru kebingungan dengan suasana sekarang yang begitu canggung. Menurut ingatan Xuan Weiruo, Xuan Riyu bersikap cukup dingin padanya.
Bukan tanpa alasan, identitas Xuan Weiruo dulu adalah sebuah aib, anggota keluarga kerajaan yang penakut bahkan pada pelayan tentu membuat Xuan Yiru tidak senang dengan kehadiran cucu pertamanya tersebut.
Sebuah sentuhan menyadarkan Xuan Yiru, Weiruo akhirnya memulai perbincangan kecil dengan wanita tersebut.
***
Seminggu telah berlalu, sudah waktunya Weiruo dan ibunya kembali. Dalam perjalanan kali ini ada tambahan satu orang, tak lain adalah Xuan Yiru.
“Dia ... berbeda dari sebelumnya,” ucap Xuan Yiru tiba-tiba.
Xuan Riuyi hanya tersenyum tipis, wanita tersebut melihat ke luar jendela kereta kuda. Weiruo menaiki kuda di samping kereta kuda dan tengah berbincang dengan Da Feng.
__ADS_1
Tiba-tiba kereta kuda terhenti, Weiruo juga menghentikan kudanya, menatap tajam ke arah sekelompok orang yang menghadang di depan.
“Apa orang yang sebelumnya?” tanya Xuan Riuyi khawatir.
“Bukan, mereka lebih lemah,” jawab Weiruo setengah berbisik.
Laohua terlihat sedikit takut, gadis kecil tersebut tentu masih trauma dengan kejadian sebelumnya.
“Siapa kalian? Jangan menghalangi jalan,” gerutu Weiruo, suasana hatinya kini sedang begitu buruk sehingga tidak ingin berlama-lama.
Kelompok berisi belasan orang tersebut langsng maju menyerang, sebagian dari mereka menggunakan sihir untuk menyerang.
“Ah ... suasana hatiku sedang begitu buruk hari ini.”
Da Feng melirik Weiruo, sekelompok orang di hadapan mereka sekarang tentu memiliki tingkat bela diri yang tidak rendah sehingga berani menyerang begitu saja. Namun, Da Feng tahu jika kemampuan bertarung Weiruo jauh melebihi tingkatan bela dirinya sekarang.
Weiruo mengeluaran sebuah pedang dan maju bersama prajurit yang mengawal mereka.
Tidak butuh waktu lama untuk menaklukkan kelompok penyerang tersebut, bahkan Weiruo membunuh separuh dari mereka seorang diri, tidak memberi kesempatan untuk para pengawal menunjukkan kemampuan mereka.
Sebenarnya Xuan Riuyi tahu jika Weiruo kini memiliki kemampuan bela diri, tapi ia tidak menyangka jika Weiruo bisa bertindak sejauh itu.
“Para pengawal bisa mengatasi itu, kenapa kau turun tangan? Itu sangat berbahaya,” omelan keluar dari mulut Xuan Riuyi tanpa henti, Weiruo hanya bisa pasrah ketika sang ibu membersihkan bercak darah di wajahnya.
“Perasaanku menjadi sedikit lebih baik setelah melawan mereka.” Weiruo tersenyum lebar dan mencium pipi Xuan Riuyi karena merasa gemas melihat ibunya terus mengomel.
“Astaga....”
***
Kedatangan Xuan Yiru tentu disambut oleh Xuan Guoxin sekalipun pria tersebut hampir gila karena berkas yang terus bertambah setiap harinya.
Setelah perjalanan yang melelahkan, Weiruo segera kembali ke kediamannya dan beristirahat, ternyata Yinyi sudah menunggu Weiruo, gadis tersebut begitu senang Weiruo kembali dengan selamat.
Da Feng juga kembali ke salah satu kamar di Paviliun Anggrek Hitam, sedangkan Laohua akan tinggal bersma Xuan Riuyi. Awalnya Laohua ingin tinggal bersama Weiruo, tapi Xuan Riuyi begitu ingin Laohua bersamanya dan membujuk gadis kecil tersebut.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri dan beristirahat, Weiruo mulai mempelajari ilmu pengobatan dan pembuatan pil.
Weiruo mengeluarkan beberapa tanaman spiritual dan tungku pil miliknya, malam ini Weiruo ingin membuat pil dari resep yang baru saja dipelajari olehnya.
Gadis tersebut terus membuat pil hingga tidak dirasa malam tiba, karena merasa bosan akhirnya Weiruo pergi keluar istana untuk sekedar berjalan-jalan menikmati malam.
Weiruo melompat dari atas ke atap tanpa menimbulkan suara yang keras, tanpa dirasa dirinya sudah cukup jauh dari istana.
Langkah Weiruo terhenti dan tertuju pada satu bangunan besar. Balai Obat masih saja didatangi pembeli sekalipun malam telah tiba, di bagian belakang bengunan tersebut merupakan area khusus untuk orang-orang tertentu, pengurus Balai Obat contohnya.
Mata Weiruo hanya tertuju pada seorang pria tua yang sibuk meracik pil, raut wajah pria tua tersebut terlihat buruk, pil-pil berwarna hitam berceceran di sampingnya, sebagian sudah retak dan hancur.
Weiruo duduk dan memperhatikan dari jauh, pria tua tersebut terus membuat pil sekalipun dirinya gagal berkali-kali.
“Sepertinya resep pil ini.” Weiruo menutup buku di tangannya.
Weiruo mengenali tanaman spiritual yang dipakai pria tersebut untuk membuat pil dan mengingat dengan samar resep pil yang pernah ia baca sebelumnya.
Tanaman yang dipakai pria tua tersebut sesuai resep, hanya saja pada pertengahan pria tersebut memasukkan bahan yang seharusnya dimasukkan paling akhir, serta sedikit kesalahan lain.
“Berhenti melakukan hal yang sia-sia, resep pil itu salah,” Weiruo melompat turun dan secara terang-terangan mengatakan kalimat itu.
Pria tua tersebut jelas terkejut karena saking fokusnya membuat pil sehingga tidk waspada dengan sekitar, tapi keterkejutannya berubah menjadi amarah setelah mendengarkata-kata Weiruo.
“Tahu apa kau soal pil? Aku, Yu Shuyan, tidak pernah gagal dalam membuat pil!” ucap pria tersebut dengan bangga mengenalkan dirinya.
“Tidak pernah gagal? Lalu apa yang itu?” Weiruo menunjuk pil-pil yang gagal dibuat Yu Shuyan dan berantakan di lantai.
“Hmph! Itu hanya percobaan! Aku akan membuat pil dengan sempurna sekarang juga! Jika aku berhasil, kau harus berlutut di hadapanku dan mengakui kesalahanmu!”
“Aku kau sedang membuat taruhan? Rasanya tidak adil jika hanya aku yang memiliki taruhan di sini, apa yang bisa kau berikan untukku jika kau gagal dan aku bisa membuktikan bahwa resep pilmu salah? Hmm?” tantang Weiruo.
“Aku akan mmeberimu pil dalam jumlah tertentu!”
“Aku tidak butuh itu ... bagaimana jika tempat ini?” Weiruo menunjuk Balai Obat, tentu Yu Shuyan memahami maksud Weiruo.
__ADS_1
“Baik! Aku bertaruh seluruh Balai Obat kepadamu!”