Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 91-Akhir Dari Peperangan


__ADS_3

Fu Cheng mendarat ke tanah, kedua tangannya bersimbah darah, begitu banyak luka di tubuhnya. Tangan kanannya menenteng kepala Gang Xue Hai yang telah terpisah dari tubuhnya.


Matanya masih terbuka lebar, terlihat jelas tatapan tidak percayanya sebelum menemui ajal.


Binatang spiritual raksasa yang dilepas Gang Xue Hai masih mengamuk di atas sana, tapi ada begitu banyak tetua dari Sekte Cakar Naga yang menghadapinya.


Fu Cheng melempar kepala Gang Xue Hai, pria tersebut mendengus kesal sebelum pergi membantu tetua sektenya.


Kehilangan ketua sekte mereka, pasukan dari Sekte Laut darah mulai kehilangan semangat mereka, sedikit demi sedikit mundur secara teratur ke dalam sekte.


Sementara peperangan masih berlanjut di sana, Da Feng bersandar di pohon untuk mengistirahatkan diri. Dia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, pemuda tersebut mengeluarkan sebuah botol giok kecil dan menelan habis semua pil di dalamnya.


“Di mana dia?” gumamnya putus asa karena tak kunjung menemukan keberadaan Weiruo.


Sedikit yang ia ketahui tentang lokasinya sekarang ini, yang ia tahu hanya sedikit tentang keberadaan Tebing Laut Darah yang menjadi tempat disegelnya binatang spiritual tingkat tinggi.


Semburan api tadi, Da Feng yakin ada hubunganna dengan binatang spiritual yang disegel. Yang dia khawatirkan adalah kemungkinan Weiruo berada di lokasi binatang spiritual tersebut karena terakhir ia lihat Kong Woonji mengejar Weiruo ke sana.


“Astaga, tidak ada tenaga sedikitpun,” keluh Da Feng.


Ia sudah kehilangan begitu banyak darah dari luka-lukanya, mungkin Da Feng membutuhkan cukup banyak waktu untuk menyembuhkan diri.


Da Feng bersila, memulai proses penyembuhan diri secepat mungkin.


Setelah beberapa waktu akhirnya ia kembali membuka mata, untungnya tidak ada orang lain yang mengganggu proses penyembuhan tubuhnya.


Da Feng bangkit dari posisinya, ia meregangkan tubuh dan memijit pelan pundak kanannya yang terasa pegal.


Da Feng kembali melangkah ke Tebing Laut Darah, matanya terus mencari ke sekitar untuk mencari petunjuk keberadaan Weiruo, ia terus mengikuti jejak pertarungan yang tersisa sebagai petunjuk.


Langkahnya kemudian berhenti di depan sebuah tebing yang tepat berada di atas laut. Tiba-tiba hatinya tidak tenang, ia melihat ke sekitar dengan teliti untuk mencari tanda-tanda keberadaan Weiruo di sana.


Namun, yang bisa ia temukan hanya boneka mayat tanpa kepala yang bercecer di mana-mana, sudah pasti Weiruo lah pelakunya.


Da Feng memeriksa kondisi sekitar, tanah bibir tebing terlihat menghitam dan suhunya terbilang tinggi, mungkin efek semburan api sebelumnya.


“Jangan bilang kau jatuh ke sana.”


Da Feng melihat ke bawah, tidak terlalu jelas apa yang ada di bawah tebing tersebut, yang jelas air laut tepat berada di bawah sana.

__ADS_1


Haruskah ia turun? Da Feng sedikit kebingungan. Namun, setelah berpikir sedikit lama akhirnya pemuda tersebut memutuskan untuk mencari jalan turun ke bawah tebing.


Raungan terdengar begitu keras, Da Feng melihat dari kejauhan binatang spiritual raksasa yang kewalahan menghadapi para pendekar dari Sekte Cakar Naga.


“Yah, mereka pasti bisa mengatasinya.”


Da Feng menoleh ke sekitar untuk mencari jalan menuju ke bawah tebing, karena mustahil melompat begitu saja ke bawah sana dengan kondisinya yang sekarang.


Cukup lama Da Feng berjalan, sedikit sulit menemukan jalan di tengah gelapnya malam. Setelah cukup lama mencari barulah Da Feng menemukan jalan yang aman untuk turun ke bawah.


“Nak Da Feng.” panggil Fu Cheng.


“Senior Fu. Bagaimana dengan binatang spiritual itu?” tanya Da Feng begitu Fu Cheng mendarat di hadapannya.


“Berhasil diatasi oleh Tetua yang lain. apa yang kau lakukan di sini? Di mana Nona Ruo?”


Da Feng menggeleng pelan, kemudian menjelaskan jika dirinya sendiri juga tengah mencari keberadaan Weiruo.


Mendengar penjelasan Da Feng membuat Fu Cheng sedikit tidak tenang. Keduanya kemudian bersama turun ke bawah tebing untuk mencari keberadaan Weiruo.


Dinding tebing yang begitu licin membuat mereka sedikit kesulitan, terlebih kondisi yang begitu gelap.


Keduanya tiba di dasar tebih setelah beberapa saat, tidak sulit bagi keduanya untuk melihat ke sekitar sehingga mereka memutuskan untuk berpencar mencari Weiruo.


Da Feng mendongak, memperhitungkan lokasi jika seseorang terjatuh dari atas tebing.


“Eh ... pedang itu....”


Ia sedikit berlari kecil mendekati sebuah pedang yang tertancap dalam di tanah. Tidak salah lagi itu adalah milik Weiruo. Jika pedangnya berada di bawah tebing, berarti ada kemungkinan Weiruo juga berada di sekitar pedang tersebut.


Da Feng terus mencari dan memanggil Weiruo berulang kali, tapi tak ada sedikitpun jawaban, hanya suara laut yang terdengar begitu keras.


Tiba-tiba aroma aneh tercium. Penasaran, Da Feng akhirnya mengikuti aroma tersebut.


“Ukh!”


Tubuh Da Feng membeku seketika, napasnya tiba-tiba menjadi begitu sesak melihat apa yang ada di hadapannya.


Sesosok mayat perempuan yang telah hangus terbakar, seluruh kulitnya telah terbakar habis, wajahnya sudah tidak dapat dikenali, keadaannya terlihat begitu mengenaskan.

__ADS_1


Da Feng mengerjapkan matanya berusaha berpikir jernih. Mungkin itu orang lain, bukan Weiruo.


Da Feng segera mengalihkan pandangan dan mencari sekitar, sayangnya yang Da Feng temukan adalah mayat lain yang terlihat seperti laki-laki, tubuhnya sudah terpisah menjadi beberapa bagian dan jatuh di tempat yang terpisah.


“Mustahil. Pasti bukan dia!” gumam Da Feng.


Sekali lagi Da Feng meneliti mayat perempuan tersebut. Benar-benar tidak bisa dikenali sehingga sulit bagi Da Feng untuk mengetahui identitasnya.


Da Feng menggenggam erat pedang Weiruo, bibirnya bergetar ingin mengatakan sesuatu, namun gagal menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan.


“Nak Da Feng, bagaimana?” tanya Fu Cheng yang berjalan mendekati Da Feng.


Da Feng menoleh pada Fu Cheng, napasnya terasa begitu berat, ia kebingungan ingin mengatakan apa pada pria tua di hadapannya itu.


“Itu ... mungkinkah?”


Dengan putus asa Da Feng mengangguk, pemuda tersebut tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Matanya berkaca-kaca, tapi sekuat mungkin menahan diri agar tidak meneteskan air mata.


“Tolong berbaliklah, Senior.”


Fu Cheng segera mengalihkan pandangannya dan membelakangi Da Feng yang sibuk menutupi mayat tersebut.


Sebenarnya Da Feng sedikit tidak percaya, apakah ini mayat Weiruo atau bukan. Namun, jelas-jelas ia melihat Weiruo pergi ke Tebing Laut Darah dan tidak kembali bahkan ketika dirinya menyusul.


Da Feng mengajak Fu Cheng untuk kembali ke atas. Dengan sedikit harapan yang tersisa pemuda tersebut mencari ke seluruh Sekte Laut Darah. Namun, setelah berjam-jam mencari bahkan hingga matahari terbit tak bisa ia temukan tanda-tanda keberadaan Weiruo.


Sekali lagi Da Feng berusaha memastikan. Mayat tersebut wajahnya telah hancur karena terbakar, kulitnya pun bernasib sama dan terkelupas di beberapa bagian.


Ukuran tubuhnya benar-benar mirip dengan Weiruo, hal itu membuat Da Feng semakin frustasi karena sangat besar kemungkinan mayat di hadapannya adalah Weiruo.


“Tuan Da Feng, itu bukan Tuanku, kan?” Shema bertanya dengan mata yang berkaca-kaca.


Da Feng tidak menjawab, hanya mengalihkan pandangannya, menolak menatap wanita tersebut.


Shema tahu arti pandangan Da Feng, ia berteriak dan berlari ke mayat tersebut. ia dekatkan wajahnya, berusaha mencari aroma sang tuan.


“Tidak! Bagaimana bisa ada aroma Tuanku! Tuanku! Tuanku, bangunlah....”


Isak tangis Shema terdengar. Yang sebelumnya bertarung bagaikan monster yang haus darah kini menangis begitu keras. Shema menangis dan memeluk mayat Weiruo, terus memanggil nama gadis tersebut berharap yang terjadi hanyalah sebuah mimpi.

__ADS_1


“AARGH!”


Da Feng berteriak frustasi, ia duduk membelakangi Shema. Napasnya memburu, pemuda tersebut menjambak rambutnya sendiri. Butiran bening melewati pipi pemuda tersebut, ia menangis dalam diam dan mengutuk dirinya sendiri.


__ADS_2