Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 49-Sekte Dewi Bulan


__ADS_3

Sekte Dewi Bulan, satu dari sepuluh sekte terbesar di Benua Yingguang, serta satu dari enam sekte aliran putih terkuat di benua tersebut.


Sekte Dewi Bulan terkenal dengan teknik berpedang mereka yang begitu indah, ada begitu banyak pendekar kuat berasal dari sekte tersebut.


Tidak ada murid laki-laki di sekte tersebut, Sekte Dewi Bulan hanya menerima murid perempuan saja selama mereka berdiri.


Namun, keberadaan Sekte Dewi Bulan yang begitu dikagumi oleh begitu banyak orang secara tiba-tiba menghilang begitu saja dalam satu malam. Dikabarkan terjadi pembantaian karena sebuah dendam pada sekte tersebut.


Tidak ada satupun orang yang selamat, bahkan anggota sekte yang berada di luar sektepun dikejar dan dibunuh di malam yang sama.


Hilangnya sekte tersebut dalam satu malam menjadi berita mengejutkan di seluruh benua tersebut. Lalu ada satu lagi rumor yang sama mengejutkannya dengan kabar hilangnya Sekte Dewi Bulan. Dikabarkan ketua sekte tidak berada di sekte ketika pembantaian terjadi, sehingga anggota Sekte Dewi Bulan dalam keadaan kacau balau ketika tidak ketua sekte yang memimpin mereka.


Hingga saat ini misteri hilangnya Sekte Dewi Bulan menjadi misteri yang tidak pernah terpecahkan bahkan setelah puluhan tahun lamanya.


Weiruo menutup buku teknik pedang yang ada di tangannya setelah Da Feng mengakhiri ceritanya.


“Kapan aku bisa keluar?” tanya Weiruo.


“Sampai garis-garis itu hilang.”


Weiruo hanya duduk dengan pasrah ketika Da Feng terus-terusan melarangnya untuk keluar.


Setelah pembentukan Inti Jiwa, di sekitar dahi akan terbentuk garis pola dengan warna yang sama dengan warna Inti Jiwa yang dibentuk.


Weiruo menggosok dahinya pelan, berharap garis-garis pola berwarna putih di dahinya segera menghilang.


Walaupun begitu Weiruo tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya mengetahui warna Inti Jiwa yang dibentuk olehnya.


Dalam dunia pendekar terdapat lima warna Inti Jiwa yang dapat dibentuk oleh seseorang; jingga, merah, ungu, biru, lalu putih sebagai warna yang paling sulit dibentuk.


Tentu saja proses pembentukan membutuhkan waktu yang berbeda serta rasa sakit yang berbeda untuk tiap warna tersebut. Inti Jiwa dengan warna putih tentu membutuhkan waktu paling lama serta rasa sakit yang lebih besar.


Rasanya kepala Weiruo seperti ingin meledak pada tahap akhir pembentukan Inti Jiwa, pantas saja Da Feng terus memperingatkannya agar tetap fokus. Jika Weiruo gagal menahan rasa sakit itu dan menyerah bisa saja mengalami kegagalan serta luka pada Inti Spiritual nantinya.


“Apa masih terasa sakit? Dulu aku butuh waktu seharian penuh untuk meredakan rasa sakitnya.”


Da Feng mengingat-ingat bagaimana dirinya mengeluh seharian penuh akibat rasa sakit di kepalanya setelah pembentukan Inti Jiwa.

__ADS_1


Weiruo tersenyum tipis melihat sikap Da Feng, tentu gadis tersebut mengerti jika Da Feng khawatir, mengingat Da Feng tidur seharian penuh setelah pembentukan. Enam bulan sebelumnya Da Feng berhasil membentuk Inti Jiwa dengan warna biru yang terbilang langka.


“Kau istirahat saja, aku akan berbicara dengan anak-anak itu.”


Da Feng berjalan keluar dari kamar Weiruo, menemui anak-anak yang dimaksud, tidak lain adalah Laohua, Chie, serta Yinyi.


Weiruo membiarkan Da Feng karena memang benar Weiruo membutuhkan istirahat, rasa sakit di kepalanya masih terus berlanjut hingga sekarang.


...***...


Xuan Riuyi tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya setelah mendengar cerita dari Weiruo jika gadis tersebut berhasil membentuk Inti Jiwa berwarna putih yang begitu langka, satu dari ratusan ribu kemungkinan.


Namun, Xuan Riuyi juga merasa khawatir, ia tahu dunia pendekar bukanlah tempat yang selalu aman setiap waktu, bukan tidak mungkin akan ada seseorang yang menyerang putrinya jika mengetahui kabar Inti Jiwa putih.


Xuan Guoxin yang juga berada di sana hanya bisa menunjukkan ekspresi kebahagiaan serta bangga pada Weiruo.


Weiruo meminta kedua orang tuanya untuk merahasiakan hal itu, sampai dirinya cukup kuat untuk menjaga semua orang yang dekat dengannya.


Kedua orang tua Weiruo tentu menuruti gadis tersebut, selama itu akan menjaga Weiruo, mereka tidak akan keberatan.


Setelah mengobrol bersama mereka, Weiruo berpamitan pada keduanya dan segera kembali ke Paviliun Anggrek Hitam.


“Apa rencanamu selanjutnya?” tanya Da Feng.


Da Feng menuang teh ke cangkir di depannya. Daripada seorang bawahan, Da Feng terlihat seperti sahabat bagi Weiruo, keduanya begitu dekat dan akrab.


“Aku ingin membangun sekte.”


“Uhuk—kuh.”


Da Feng hampir memuntahkan teh di mulutnya. Membangun sebuah sekte cukup sulit dilakukan, selain mencari murid, juga harus menyiapkan begitu banyak hal agar sekte tetap berjalan dari waktu ke waktu.


“Apa mungkin itu janji yang kau maksud setahun yang lalu?”


“Benar! Bagaimana menurutmu?”


Weiruo tersenyum lebar dan menatap Da Feng cukup lama, membuatnya sedikit tidak nyaman, karena Da Feng yakin dirinya akan diseret ke dalam rencana itu.

__ADS_1


“Membangun sekte bukan hal yang mudah, akan ada begitu banyak masalah yang mungkin saja muncul. Selain melatih murid, kau juga harus memutar otak dan mencari cara agar sektemu terus berjalan, contohnya membuka sebuah usaha atas nama sektemu. Lalu satu hal penting yang harus dimiliki sebelum membangun sebuah sekte, ilmu bela diri! Dalam sebuah sekte atau organisasi pasti ada jurus atau teknik yang hanya dipelajari di sekte itu, apa kau memilikinya?”


“Aku sepertinya sudah memiliki semua itu,” jawab Weiruo.


Da Feng tidak bisa mengatakan apapun melihat Weiruo dengan santainya menjawab pertanyaan yang ia lontarkan.


Teknik beladiri memang banyak dijual di toko kebutuhan para pendekar, tapi semua teknik yang dijual tentu bukan teknik khusus ataupun ciri khas suatu sekte maupun organisasi, teknik yang dijual biasanya teknik umum yang termasuk dasar bela diri atau teknik dari sekte yang telah hancur sehingga teknik tersebut tidak dapat diturunkan ke penerus sekte.


Lalu Weiruo dengan mudahnya mengatakan sudah memiliki teknik untuk diajarkan. Da Feng penasaran dari mana Weiruo mendapatkan hal itu.


“Pertama, mencari murid. Bagaimana kau akan melakukannya?” Da feng bertanya, kini terlihat lebih serius dari sebelumnya.


“Aku berencana mencari mereka sendiri. Aku akan mulai mencari murid setelah menyesuaikan diri dengan kekuatanku yang sekarang.”


Weiruo pergi setelah meminum teh di cangkirnya, ia berencana mencari tempat yang pas untuk melatih calon muridnya nanti.


Weiruo pergi ke ruang kerja kaisar untuk menemui ayahnya, kebetulan Panglima Gong juga ada di sana untuk memberikan laporan kepada kaisar.


“Putriku, apa yang kau perlukan?” tanya Xuan Guoxin.


“Aku akan membicarakannya nanti, seperti Panglima Gong memiliki hal penting yang perlu disampaikan.” Weiruo melirik Panglima Gong.


Panglima Gong segera menyadari maksud Weiruo dan menyampaikan laporan tentang penyerangan di dekat perbatasan.


Weiruo menaikkan alisnya mendengar laporan yang disampaikan oleh Panglima Gong, yang mana terjadi penyerangan di sebuah desa kecil di perbatasan, Panglima Gong berencana akan mengirimkan pasukan untuk mengamankan wilayah tersebut.


“Kirim seratus orang pasukan!” perintah Xuan Guoxin.


Panglima Gong segera mengundurkan diri setelah menerima perintah demikian, kini hanya ada Weiruo serta ayahnya di ruangnya tersebut.


“Aku akan pergi ke desa itu, Ayah.”


Xuan Guoxin meletakkan lembaran kertas di tangannya, dengan tatapan tidak senang melihat Weiruo yang berdiri di hadapannya.


“Tidak boleh, terlalu berbahaya.”


“Aku bisa menjaga diri, pasukan kerajaan akan tiba dalam waktu tiga hari, kita tidak akan tahu apa yang terjadi di desa sebelum kita tiba di sana. Aku dan Da Feng akan tiba dalam kurang dari tiga hari, jadi tidak usah khawatir.”

__ADS_1


Weiruo segera pergi setelah pamit, Xuan Guoxin juga tidak berencana menghentikan gadis tersebut karena tahu akan percuma melarang Weiruo jika gadis tersebut sudah bertekad untuk melakukan sesuatu.


__ADS_2