Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 72-Pergerakan Sekte Kabut


__ADS_3

Yinyi berjalan ke halaman belakang, gadis tersebut membawa sebuah gulungan kecil di tangannya.


“Nona, ada surat dari Tuan Yu.”


Weiruo menghentikan ayunan pedangnya dan segera menghampiri Yinyi.


Weiruo menerima surat tersebut dan membacanya, ekspresinya langsung berubah setelah membaca habis isi surat tersebut.


“Ada apa?” tanya Da Feng yang melihat dari kejauhan.


“Kau ingat Lan Meili?”


“Ya, aku sedikit mengingatnya.”


“Sepertinya dia dalam masalah. Aku akan pergi menemuinya.”


Da Feng mengangguk dan melihat Weiruo pergi begitu saja.


Tidak butuh waktu lama bagi Weiruo untuk tiba di Balai Obat, begitu tiba Yu Shuyan langsung menyambutnya dan mengantar gadis tersebut menemui Lan Meili.


Weiruo masuk ke sebuah ruangan di mana Lan Meili berada. Hanya ada Lan Meili seorang, tatapannya kosong, penampilannya sedikit acak-acakan dan wajahnya terlihat pucat.


“Meili, apa yang terjadi?”


Lan Meili menoleh pada Weiruo setelah mendengar suaranya, gadis tersebut langsung berdiri dari tempatnya dan berjalan mendekati Weiruo.


“Nona Ruo ... sekteku ... saudariku ... sudah tiada....”


Lan Meili menggenggam kedua lengan Weiruo dengan begitu erat, mulutnya bergetar, matanya berkaca-kaca, Lan Meili kesulitan mengucapkan kalimat yang ingin diucapkan olehnya.


Weiruo menuntun Lan Meili kembali ke tempat duduk, meminta gadis tersebut menenangkan diri sebelum menjelaskan apa yang terjadi padanya.


Dengan suara bergetar, Lan Meili mulai menceritakan semuanya.


Beberapa hari sebelumnya, sektenya mendapat serangan dari Sekte Kabut. Perbedaan jumlah serta kekuatan membuat Sekte Gunung Peri kalah dalam waktu yang begitu singkat seolah tanpa perlawanan.


Semua anggota sekte dieksekusi satu per satu begitu mereka kalah dalam pertarungan.


Lan Meili dan saudarinya, Lan Limei, awalnya berhasil kabur berkat bantuan sang guru. Namun, keduanya berhasil dikejar oleh anggota Sekte Kabut.


Lan Limei, dengan kekuatan terakhirnya, mendorong Lan Meili jatuh ke bawah tebing. Lan Meili berhasil selamat berkat aliran sungai yang berada di bawah tebing tersebut.


“Saudariku ... dia tewas tepat di depan mataku.”


Lan Meili menjambak rambutnya, merasa begitu frustasi. Bayangan saudarinya menghantui pikiran Lan Meili dan membuat hampir gila karena rasa bersalah.


Weiruo berusaha menenangkan Lan Meili, dengan hati-hati menjauhkan tangan Lan Meili dari wajahnya agar tidak melukai diri sendiri. Lan Meili seperti orang gila, mulutnya terus bergumam mengutuk Sekte Kabut yang telah menghancurkan hidupnya.

__ADS_1


Guru yang telah merawatnya, saudari kembarnya yang telah menemaninya dalam susah maupun senang, mereka tewas di hari yang sama, terlebih terjadi tepat di depan mata Lan Meili.


Mungkin dirinya sudah terlalu lelah, Lan Meili tidak sadarkan diri bersandar pada Weiruo.


Weiruo membersihkan air mata yang membasahi pipi Lan Meili, kemudian memanggi Yu Shuyan untuk membantunya memindahkan Lan Meili ke tempat tidur.


“Nona...,” panggil Yu Shuyan ragu melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Weiruo.


“Tuan Yu ... jika saja aku terlibat dalam perang, apakah anda bersedia membantu saya?”


“Nona, kenapa anda masih bertanya? Saya akan membantu anda dengan semua yang saya miliki! Bahkan jika saya harus kehilangan nyawa saya, saya tidak akan keberatan!” ucap Yu Shuyan dengan begitu yakin.


“Terima kasih. Tolong jaga Lan Meili sebentar, aku akan kembali nanti.”


“Baik, Nona.”


***


Da Feng mengeluarkan sebuah peta dan membuka peta tersebut di atas meja. Pemuda tersebut memberi tanda di beberapa tempat dan menjelaskannya kepada Weiruo.


Konflik antara Sekte Pedang Langit dan Sekte Laut darah terus meluas, ditambah dengan pergerakan Sekte Kabut yang seharusnya tidak ikut campur membuat masalah semakin runyam.


Untung saja tidak ada pergerakan dari Sekte Cakar Naga, yang berarti mereka tidak ingin ikut campur dengan permasalahan kedua sekte tersebut, atau mungkin ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk ikut campur.


“Sekte Gunung Peri dan Sekte Gunung Hijau dimusnahkan begitu saja oleh Sekte Kabut, mereka sepertinya terus bergerak untuk memperluas wilayah kekuasaan mereka.” Weiruo terlihat gelisah melihat tiap tanda yang digambar oleh Da Feng.


“Sepertinya sudah waktunya menunjukkan keberadaan sektemu, apa nama sektenya?”


“Entahlah, sepertinya aku butuh lebih banyak anggota.”


Weiruo memandangi Ying yang tengah berlatih, hanya 4 orang, rasanya begitu kurang jika ingin membentuk sekte.


“Aku akan mencarikan orang untukmu.”


“Ide bagus.”


Da Feng berdiri dari tempatnya dan memandang ke luar jendela.


“Bagaimana dengan Lan Meili? Lalu Meigui dan Ye Nian?” tanyanya.


“Meigui, aku takut dia masih terbawa dendamnya, jika bergabung dengan sekte ... bukankah itu akan mengekangnya. Tidak perlu khawatir, dia di bawah pengawasanku.”


Weiruo menghembuskan napas pelan, pikirannya masih tidak tenang jika memikirkan tentang Sekte Kabut yang terus menyerang sekte-sekte kecil.


“Aku pasti akan membalas perbuatan mereka!” geram Weiruo.


“Aku menolak!”

__ADS_1


Pintu tiba-tiba terbuka, sosok Shulong melangkah masuk ke dalam tanpa basa-basi. Dalam sekali lihat Weiruo tahu jika Shulong sedang dalam suasana hati yang buruk.


“Apa kau berusaha menghalangiku, Shulong? Aku tidak akan melakukannya sekarang, mungkin nanti ketika aku sudah cukup kuat.”


“Tidak! Balas dendam tidak sejalan dengan jalan kebaikan!”


“Hmm? Jalan kebaikan?”


“Tuan pertama saya sangatlah membenci balas dendam, selalu mengajarkan kebaikan di manapun dia berada!” Shulong mengelus jenggot putih panjangnya.


“Jangan samakan aku dengan Tuan Pertamamu, aku tidak sebaik itu.”


Shulong mendengus kesal sebelum pergi begitu saja, tanpa pamit ataupun sepatah kata lain.


Weiruo memalingkan pandangan, dia tahu maksud Shulong. Mau bagaimanapun dia tidak bisa disamakan dengan tuan pertama empat Binatang Suci.


Weiruo tidak sebaik itu, dia bukan orang yang mudah melupakan sebuah dendam. Jika Shulong ingin menyamakannya dengan tuannya yang sebelumnya, tentu Weiruo jauh berbeda.


“Aku pergi.”


“Ya.”


***


Kasim mengumumkan kedatangan Weiruo, gadis tersebut masuk ke ruang kerja kaisar begitu mendapat izin.


“Putriku, apa yang membawamu datang kemari?” tanya Xuan Guoxin.


“Ayah, aku ingin Ayah memperkuat pertahanan di tiap bagian kekaisaran, kekacauan terjadi di berbagai tempat, kita harus selalu waspada,” ujar Weiruo.


“Ayah mengerti, ayah akan mengirimkan surat ke perbatasan.”


“Lalu ... kudengar ada kekacauan di wilayah selatan, apa yang terjadi di sana?”


Xuan Guoxin awalnya tidak ingin menjelaskan, tapi setelah melihat ekspresi penasaran Weiruo akhirnya menunjukkan surat dari wilayah selatan yang baru saja tiba tadi pagi.


Di dalam surat tertulis jika di wilayah perbatasan terjadi kekacauan akibat serangan binatang spiritual yang terus meningkat setiap harinya.


Bahan pangan yang menipis setiap hari dan akses ke wilayah luar yang tertutup membuat penduduk di tempat tersebut benar-benar kesulitan. Mereka takut pasukan penjaga gagal melindungi kota kecil mereka dari serangan binatang spiritual.


“Aku akan pergi ke sana.”


“Jangan! Terlalu berbahaya!” larang Xuan Guoxin.


“Ayah, aku tahu cara menjaga diri.”


Weiruo berpamitan sebelum pergi meninggalkan Xuan Guoxin.

__ADS_1


__ADS_2