
Seorang gadis terbaring tidak sadarkan diri di atas tempat tidur. Kelopak mataya sedikit bergerak, kemudian ia membuka matanya dengan perlahan. Ia mengamati sekitar, merasa asing dengan ruang tersebut.
Gadis tersebut bangkit dari tempatnya dan segera berjalan ke arah pintu, ketika ia menarik pintu seorang gadis i saat bersamaan juga membuka pintu tersebut dari luar.
“Sudah sadar, Nona? Atau perlu kupanggil Tuan Putri?”
Gadis tersebut panik dan segera menundukkan kepalanya. Sebisa mungkin ia menutupi wajahnya dan berusaha menghindari tatapan gadis muda di hadapannya sekarang.
“Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Bagaimana lukamu?”
“S-sudah membaik. Apa kau yang menolongku?”
“Ya, bisa dibilang demikian.”
Weiruo tersenyum tipis dan mengajak gadis tersebut untuk berbincang sejenak.
Weiruo tidak menyangka jika gadis di hadapannya sekarang adalah Zhang Qinzie, Putri Mahkota dari Kekaisaran Lanjiang.
Keadaan Kekaisaran Lanjiang saat ini sedang kacau karena pemberontakan dari pangeran kedua mereka, Zhang Jin. Di tengah kekacauan itu Putri Zhang Qinzie menghilang entah ke mana.
Tidak disangka Zhang Qinzie berada di Kota Gohu. Merasa jika Weiruo tidak akan berniat jahat, Zhang Qinzie mulai bercerita tentang masalah yang dialaminya selama ini.
Akibat pemberontakan keadaan istana kacau balau, Zhang Yin, kakak pertama dari Zhang Qinzie secara diam-diam mengirim Zhang Qinzie agar dirinya aman dari Zhang Jin yang tentu saja akan menggunakan gadis tersebut untuk mengancam Zhang Yin.
Sudah sebulan Zhang Qinzie berada di Kota Gohu tanpa mengetahui sedikitpun kabar tentang kakaknya, gadis tersebut tentu ingin segera kembali ke istana, tapi ia menyadari jika kehadirannya akan menjadi beban untuk sang kakak.
Zhang Qinzie menceritakan cukup banyak hal dan Weiruo mendengarkan semuanya dengan baik.
“Maaf ... aku terlalu banyak berbicara.”
“Tidak apa, tapi akan lebih baik jika anda berhati-hati di masa depan, jangan mudah percaya kepada siapapun. Lalu ... kukembalikan ini.” Weiruo menyerahkan sebuah lencana pengenal milik Zhang Qinzie.
Weiruo beranjak dari tempatnya dan pergi untuk memeriksa para tukang yang memperbaiki Balai Obatnya.
Zhang Qinzie berpamitan setelah berterima kasih berkali-kali kepada Weiruo dan mengatakan jika akan membalas kebaikan Weiruo suatu hari nanti.
__ADS_1
Keesokan harinya Zhang Qinzie datang ke Balai Obat, tanpa basa-basi langsung membantu Qi Jia membersihkan taman dan mengepel lantai. Weiruo merasa aneh melihat Zhang Qinzie yang bekerja tanpa henti bersama Qi Jia.
“Nona akan pergi ke mana?” tanya Qi Jia yang melihat Weiruo berjalan ke gerbang.
“Hutan, sebentar saja, tidak perlu khawatir.”
Qi Jia hanya mengangguk paham dan melanjutkan pekerjaannya.
***
Langkah kaki Weiruo mengantar gadis tersebut melewati hutan, sepanjang perjalanan Weiruo sesekali memetik tanaman spiritual yang tumbuh dengan subur di hutan tersebut.
Weiruo begitu menikmati suasana hutan, udara yang sejuk juga membuatnya merasa begitu nyaman.
Tanpa ia sadari, Weiruo berjalan terlalu jauh hingga tibalah dirinya di sebuah lembah di bawah kaki gunung.
Di sudut lembah tumbuh begitu banyak tanaman spiritual, dengan hati-hati Weiruo mendekati tempat tersebut. Namun, langkahnya segera berhenti ketika mendengar suara yang datang mendekat.
Dari balik batu besar Weiruo mengintip, sedikit terkejut melihat seekor binatang spiritual berwujud ular raksasa bergerak mendekati tanaman-tanaman tersebut.
Sisiknya berwarna putih, dengan ujung ekornya berwarna kemerahan. Panjangnya sekitar dua puluh meter, sepasang tanduk kecil mencuat di samping kiri dan kanan kepala ular tersebut.
Ular tersebut bergerak lambat ke arah Weiruo, seolah tengah memperhatikan keadaan sekitar. Di sisi lain Weiruo mengeluarkan sebuah pisau kecil dan melemparnya ke satu arah.
Terdengar suara kecil dari batu yang jatuh, ular tersebut segera berbalik dan mendatangi asal suara. Memanfaatkan hal itu, Weiruo diam-diam pergi meninggalkan tempat tersebut.
Tidak jauh Weiruo melangkah, ular tersebut secara tiba-tiba sudah berada di belakang Weiruo.
Weiruo melompat ketika ular tersebut menghantam tanah dengan begitu kuat dengan ekornya. Tanah bekas serangan itu mengalami kerusakan yang parah, entah bagaimana jika Weiruo tidak menghindar tepat waktu.
“Sepertinya memang harus bertarung.”
Sebuah pedang keluar dari cincin ruang milik Weiruo, perlahan energi berwarna putih melapisi pedang tersebut.
Ular tersebut bergerak cepat menyerang Weiruo, gerakannya lincah dan tidak memiliki celah sehingga Weiruo kesulitan untuk menyerang balik.
__ADS_1
Weiruo melompat menghindari ekor ular tersebut, kemudian melancarkan sebuah serangan energi ke tubuhnya. Serangan tersebut berhasil melukai ular tersebut dan darah segar segera mengalir membasahi lukanya.
Dengan menahan rasa sakit, ular tersebur mengeluarkan kabut putih dari sekitar tubuhnya, dengan cepat kabut tersebut menutupi sekitar.
Pandangar Weiruo menjadi begitu terbatas, kabut begitu tebal sehingga Weiruo kesulitan melihat sekitar, bahkan jarak pandangnya kini tidah lebih satu meter.
Namun, Weiruo tidak merasa takut, malah merasa tertantang dan mengalirkan lebih banyak energi ke dalam pedangnya. Mengandalkan indra pendengarnya, Weiruo perlahan berjalan menjauh.
Sebuah suara datang mendekat dengan cepat, Weiruo langsung menggunakan pedangnya dan menahan mulut ular tersebut yang hendak melahapnya.
Weiruo mendorong mulut ular tersebut dengan sekuat tenaga, sedetik kemudian mengaluarkan sebuah pisau dan melemparkannya tepat mengenai tubuh ular tersebut.
Ketika ular tersebut lengah, Weiruo melepaskan sebuah serangan energi dan langsung membuatnya tumbang ke tanah.
“Tidak! Jangan bunuh aku!”
Weiruo segera menghentikan pedangnya yang hampir memotong leher ular tersebut. Keterkejutan dirasakan oleh Weiruo karena baru pertama kali melihat seekor binatang spiritual berbicara.
“Tolong jangan bunuh aku, aku akan menuruti perintahmu, tapi jangan membunuhku.”
“Kau seorang siluman?”
“Benar.”
Ular tersebut bangkit dengan sisa tenaga miliknya, kemudian separuh tubuh atasnya menjadi sosok wanita dengan rambut putih perak serta pupil mata semerah darah. Wajahnya pucat pasi, mulutnya sedikit bergetar ketika berbicara, entah karena kehabisan tenaga atau karena takut.
“Kau menyerangku lebih dulu, untuk apa aku mengampunimu?” Weiruo menghunuskan pedangnya tanpa ragu.
“Aku hanya mempertahankan diri, sudah ada begitu banyak orang yang datang untuk membunuhku, jadi aku melakukan itu secara tidak sadar.”
“Aku tidak akan melupakan masalah itu begitu saja. Katakan padaku keuntungan apa yang kudapat jika aku mengampunimu?” Weiruo menatap tajam siluman di hadapannya tersebut.
“Aku ... aku tidak tahu keuntungan apa yang dapat kuberikan di masa depan, tapi aku akan membalas kebaikanmu di masa depan nanti.”
“Ha? Jawaban macam apa itu? Aku ingin jawaban yang jelas, bukan tidak mungkin kau akan melukaiku di masa depan ketika kekuatanmu pulih. Lagipula...,” Weiruo menghentikan kalimatnya sejenak sebelum melanjutkan, “Aku tidak butuh seorang bawahan sepertimu.”
__ADS_1
Wanita ular tersebut terkejut, tapi segera membungkuk di hadapan Weiruo. Sekali lagi, ia meminta Weiruo untuk mengampuninya.
“Lalu katakan padaku ... apa keuntungaku mengampunimu?”