
Rencana penyerangan ke Sekte Laut Darah akan dilaksanan dalam kurun waktu dua minggu mendatang.
Demi penyerangan itu Fu Cheng memanggil seluruh pendekar sekte yang tengah berada di luar. Weiruo pun tidak hanya diam saja, dia membuat pil siang dan malam tanpa henti, ratusan pil sudah ia hasilkan dalam waktu itu.
Pengobatan Fu Yaran untungnya berjalan dengan baik, kondisinya sedikit membaik, wanita tersebut kini sudah bisa berbicara dengan normal. Namun, masih belum bisa beranjak dari tempat tidur.
Semua pendekar yang akan mengikuti penyerangan itu berlatih memperkuat diri mereka. Karena kali ini merupakan pertarungan yang akan melibatkan hidup dan mati mereka, juga tentang nama sekte yang mereka banggakan.
Weiruo melihat dari kejauhan, puluhan pendekar berlatih bersama di halaman luas. Rasanya seperti nostalgia, gadis tersebut melihat selama berjam-jam tanpa bergerak dari tempatnya.
“Nona Ruo, apakah kau ingin melihat dari dekat?” tanya Fu Cheng yang kebetulan melewati kediaman Weiruo.
“T-tidak perlu, saya hanya penasaran saja.”
Fu Cheng tersenyum tipis, rasanya sedikit kasihan melihat Weiruo yang begitu kesepian akhir-akhir ini.
Weiruo melihat Fu Cheng yang berjalan menjauh, gadis tersebut memainkan tangannya dan mengeluarkan roh bela diri mungilnya.
“Xiayu, kau terlihat begitu senang,” ucap Weiruo sembari memainkan jemarinya.
Roh ikan kecil tersebut menggerakkan ekor gemulainya di udara dan berenang mengitari Weiruo penuh semangat.
“Apa keputusanku salah? Xiayu, aku putus asa.”
Weiruo berjalan masuk ke kamar, ia menutup pintu dan duduk di lantai begitu saja. Gadis tersebut memandangi Xiayu yang berenang di udara mengitari kamarnya, seutas senyum menghiasi wajah gadis tersebut melihat Xiayu yang kegirangan mengitari ruangan Weiruo.
...***...
Belasan ribu pendekar telah dikumpulkan, hari ini adalah hari yang ditentukan. Penyerangan yang telah disiapkan selama dua minggu terakhir, hari ini mereka semua telah siap bertarung hingga mati.
Weiruo bergabung bersama Fu Cheng, pria tersebut tidak sendirian memimpin barisan, ada selusin pendekar yang berdiri di belakangnya, mereka adalah tetua yang selama ini menjadi pilar kekuatan Sekte Cakar Naga.
“Siapa itu?”
Fu Cheng melihat ke satu arah yang langsung diikuti oleh Weiruo. Gadis tersebut menaikkan alis terkejut melihat sosok yang dikenalinya.
“Da Feng! Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.
“Nona Ruo mengenalinya?”
“Tentu. Dia kenalanku.”
Da Feng melangkah mendekat, pemuda tersebut hanya mengangkat bahunya tak acuh sebagai respon pertanyaan yang Weiruo lontarkan padanya.
“Apa kau tidak melaksanakan perintahku?” tanya Weiruo sekali lagi.
“Aku melakukannya, hanya saja meninggalkanmu itu ... sulit.”
__ADS_1
Da Feng mengenalkan dirinya pada Fu Cheng, mendengar niat Da Feng untuk mengikuti penyerangan, Fu Cheng sedikit ragu untuk mengiyakan melihat ekspresi buruk Weiruo sehingga meminta persetujuan dari gadis tersebut.
“Da Feng, pergilah! Bukankah aku sudah menyuruhmu pergi?”
“Ya terserahku. Senior Fu, biarkan saya ikut. Saya harus sedikit mengawasinya,” ucap Da Feng.
Weiruo tidak bisa berbuat banyak, lagipula Fu Cheng juga merasa senang jika Da Feng bergabung sebagai tambahan kekuatan mereka.
Da Feng tertawa kecil melihat ekspresi tidak senang Weiruo. Mau sekeras apaoun Weiruo melarangnya, Da Feng tetaplah Da Feng, berbuat seenaknya tidak peduli jika Weiruo akan mengamuk setelahnya.
...***...
“Shulong? Dari mana saja dirimu?”
Laohua menghampiri Shulong yang baru saja melangkah masuk ke tempat pelatihan mereka. melihat wajah murung Shulong membuat Weiruo lebih penasaran apa yang dilakukan oleh Shulong beberapa hari terakhir.
“Laohua, ayo kita pergi dari sini,” ajak Shulong.
Gadis tersebut langsung kehilangan senyumnya, Laohua tanpa berpikir langsung menolak ajakan Shulong. Tempat ini adalah rumahnya dan Weiruo adalah tuannya, dia tidak akan pergi meninggalkan Weiruo.
Shulong menghembuskan napas kasar, pria tua tersebut berlalu begitu saja melewati Laohua.
Melihat sikap Shulong membuat Laohua kesal, gadis tersebut berlari kecil untuk menemui yang lain.
Tidak berselang lama Laohua kembali menemui Shulong bersama Chie. Shulong hanya melirik sejenak ketika Laohua mendatanginya.
“Aku ... berpikir bukan dialah Tuan yang ditakdirkan untukku,” jawab Shulong ragu.
“Kau salah! Aku merasa Nona adalah dia yang ditakdirkan untukku!” bantah Laohua dan Chie kompak.
Shulong hanya menggeleng pelan. Sebenarnya ia berencana membawa Laohua dan Chie bagaimanapun caranya.
Mereka terus berdebat cukup lama hingga satu ucapan Laohua menghentikan mereka.
“Jangan bilang ... kekuatannya masih tertinggal di dalam dirimu!” ucap Laohua kesal.
“Apa maksudmu?!”
“BENAR, BUKAN? KEKUATAN JAHATNYA PASTI MASIH ADA PADA DIRIMU!” teriak Laohua.
“TUTUP MULUTMU!”
Shulong mengibaskan tangannya, seketika itu juga angin kencang menghempaskan Laohua dan Chie ke belakang dengan begitu kuat.
“Benar ... kau masih sama! Dasar pengkhianat!”
Mata Laohua berkaca-kaca, gadis kecil tersebut melangkah ke belakang memandangi Shulong penuh rasa kecewa.
__ADS_1
“Pengkhianat? Jaga ucapanmu, Laohua! Kau tidak mengetahui apapun!”
“Aku mengetahuinya! Aku tahu kau mengkhianati kami! Kau melakukannya lagi, Shulong....”
Laohua menggigit bibir bawahnya, matanya berkaca-kaca, gadis tersebut hanya melihat Shulong penuh harap.
“JAGA UCAPANMU!”
Aura membunuh memenuhi tempat tersebut, Laohua menahan energi Shulong sekuat tenaga. Kekuatan keduanya beradu, menyebabkan getaran di bangunan yang mereka tempati sekarang.
“Aku akan tetap bersama Nona! Jangan pernah mengajakku pergi meninggalkannya!” ucap Laohua tegas.
Shulong mendecih pelan, ia meghilang dan dengan cepat sudah berada di belakang Laohua. dalam sekali serangan gadis tersebut langsung kehilangan kesadaran dan jatuh ke lantai.
Tangan Shulong bergerak cepat mencekik leher Chie, mengalirkan aliran petir yang langsung membuatnya pingsan.
Di gedung lain, Meigui memeluk Ye Nian erat. Aura membunuh yang dilepaskan oleh Shulong menyebar begitu luas hingga membuat mereka semua ketakutan.
Lan Meili juga hanya bisa diam tertunduk di samping Meigui karena ketakutan.
Namun, beruntung aura membunuh itu menghilang tidak lama setelah muncul.
Keduanya saling memandang penuh heran, menebak apa yang membuat Shulong begitu marah hingga mengeluarkan aura membunuh sekuat itu.
“Apakah harus kita periksa?” tanya Lan Meili
“Ayo kita periksa.”
Lan Meili berjalan beriringan dengan Meigui, keduanya sedikit takut ketika memasuki bangunan yang biasa ditinggali oleh Weiruo. Namun, mereka memaksakan untuk memberanikan diri dan masuk ke sana.
Begitu tiba di ruang yang biasa digunakan oleh Shulong, mereka tak menemukan satupun orang di sana, seolah tempat tersebut tak didatangi sebelumnya.
“Ke mana mereka pergi?” tanya Lan Meili.
“Entahlah, bangunan ini benar-benar kosong.”
Keduanya saling memandang ragu. Namun, tidak ada yang dapat mereka lakukan, karena jika Weiruo, Da Feng, dan mereka menghilang, tidak ada yang tahu perginya ke mana kecuali diri mereka sendiri.
Seekor burung kecil hinggap di jendela ruang kosong tersebut, di kakinya terikat sebuah surat kecil. Meigui yang penasaran langsung mengambil surat tersebut dan membaca isinya.
“L-Lan Meili! Lihat ini!”
Lan Meili yang merasa dipanggil langsung menghampiri dan membaca surat tersebut dengan seksama.
Keduanya terdiam dan saling memandang tidak percaya. Mereka mengenali tulisan di kertas tersebut sebagai milik Da Feng. Di surat tersebut tertulis bahwa mereka semua boleh pergi meninggalkan ibukota dan memutuskan hubungan dengan Weiruo.
Meigui menyerahkan kertas tersebut pada Lan Meili dan pergi meninggalkannya, bahkan gadis tersebut tidak berbalik ketika Lan Meili memanggilnya.
__ADS_1
Lan Meili membaca surat tersebut sekali lagi, ia yakin tidak salah membaca isi suratnya. Bibirnya tertarik menunjukkan sebuah senyuman, tapi tidak jelas apakah gadis tersebut senang atau sedih.