
Guazi bersembunyi di balik tubuh Weiruo, pemuda tersebut berjalan di belakang gadis tersebut semenjak masuk ke tempat pelatihan milik Weiruo.
Aura membunuh terus menekannya sejak pemuda tersebut menginjakkan kakinya di halaman tempat pelatihan. Dia merasa ada seseorang yang menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam hingga mampu membunuhnya.
“T-Tuan ... aku merasa ada yang tidak beres,” bisik Guazi.
“Tidak ada. Tempat ini sepenuhnya aman, tidak ada orang yang cukup gila untuk menyerang tempat ini,” ujar Weiruo yang terus berjalan dengan santai.
Guazi mengekor di belakang, tapi rasa takutnya semakin kuat seiring bertambah dalam pemuda tersebut melangkah.
“Nona...,” panggil Laohua.
“Laohua? Ke mana yang lain?”
“Mereka pergi ke belakang.”
Laohua menatap lurus ke arah Weiruo, lebih tepatnya pada Guazi yang mendelik di balik sosok Weiruo.
“Nona, apa saya tidak cukup kuat untuk anda? Sampai anda mencari harimau lain...,” ucap Laohua dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Tidak. Dia menjadi bawahanku atas keinginannya sendiri.”
Weiruo mengelus pucuk kepala Laohua pelan dan mengusap air mata yang sempat terjatuh melewati pipi mungil Laohua.
“Apa Da Feng di sini?” tanya Weiruo.
“Iya! Tuan Da Feng sedang berada di atas!” Laohua menunjuk gedung besar di belakangnya.
“Baiklah. Aku pergi dulu, kau bisa mengakrabkan diri dengan Guazi, dia pemuda yang baik.”
Weiruo pergi meninggalkan Laohua sendirian bersama Guazi.
Kalimat Weiruo seolah mengatakan jika Laohua tidak perlu takut pada Guazi. Namun, yang seharusnya ia khawatirkan bukanlah Laohua, melainkan Guazi.
Sementara itu Weiruo sudah berada di satu ruangan bersama Da Feng, gadis tersebut membaca laporan yang diberikan oleh Yu Shuyan secara rutin padanya.
“Sepertinya suasana hatimu sedang bagus,” ucap Da Feng tiba-tiba.
“Apakah terlihat jelas?” Weiruo mengambil secangkir teh di depannya dan menyeruput teh tersebut tanpa mengalihkan pandangan dari selembar kertas di hadapannya.
“Kau tidak berhenti tersenyum.”
“Aku memang sedang bahagia, Da Feng.”
Da Feng memanyunkan bibirnya kesal dan melemparkan pisau kecil ke papan kayu yang tergantung jauh dari tempat mereka berdua.
***
Seorang wanita duduk di bangku restoran yang tengah ramai pembeli. Dia hanya duduk melihat secangkir teh yang tersaji di meja miliknya.wanita tersebut menoleh ke sekitar sesekali, seolah tengah menunggu sesuatu.
Sorot matanya kemudian jatuh pada sosok gadis bertopeng yang masuk ke dalam restoran. Tatapan keduanya saling bertemu sesaat sebelum gadis tersebut mempercepat langkah kaki menuju ke arahnya.
__ADS_1
“Jinzi, ayo ke lantai atas,” ajaknya.
Wanita tersebut mengiyakan dan mengikuti gadis tersebut ke lantai tiga yang tidak memiliki satupun pengunjung.
“Bukankah hidangan akan semakin mahal?”
“Tidak apa, aku yang akan membayar.” Weiruo melepas topengnya dan sedikit menata rambutnya yang berantakan.
Xing Jinzi juga melepas topeng yang menutup bagian mata kanannya.
Weiruo sedikit terkejut melihat paras cantik Xing Jinzi. Sekalipun terdapat sebuah bekas luka di sekitar mata kanannya, hal itu tidak menurunkan kecantikan Xing Jinzi.
“Apa kau merasa kurang nyaman?” tanya Xing Jinzi yang menyadari Weiruo terus melihatnya.
“Tidak. Aku hanya terkejut karena parasmu yang begitu cantik,” puji Weiruo.
Xing Jinzi tersenyum tipis, wanita tersebut juga memuji kecantikan Weiruo.
Mereka menghabiskan malam berdua dengan canda tawa bersama, bahkan Weiruo menyewa seluruh lantai tiga karena tidak ingin seseorang mengganggu waktu mereka.
***
Jendela dibuka perlahan dengan begitu hati-hati hingga tidak menimbulkan sedikitpun suara.
Sosok misterius melompat masuk ke dalam ruangan kecil yang hanya berisi tempat tidur dan perabot sederhana lain. sosok tersebut berjalan mengendap menuju sisi ruangan yang tertutup oleh sekat pembatas.
Begitu sekat dibuka, sebuah pedang bergerak dengan begitu cepat ke arah kepala sosok misterius tersebut. Namun, ia berhasil menghindar dan bergerak mundur beberapa langkah.
“Katakan, Gun Donghai atau Kong Woonji yang mengirim kalian.”
“Kau tidak perlu tahu itu!”
Sosok tersebut maju menyerang, Xing Jinzi langsung menahan tiap serangan yang dilancarkan dan menyerang balik sekuat tenaga.
Keduanya beradu serangan cukup lama hingga akhirnya Xing Jinzi berdiri di samping jendela.
Wanita tersebut melihat bulan yang tertutup awan malam dan tersenyum tipis. Dia melompat keluar melempar jarum beracun ke beberapa arah.
“Keluar dan hadapi aku!” teriaknya.
Xing Jinzi melompat melewati atap bangunan yang dilewatinya. Di belakangnya belasan sosok misterius mengejarnya dengan hawa membunuh yang begitu kuat.
Wanita tersebut hanya tersenyum kecil dan bergerak lebih cepat, menggiring semua pembunuh tersebut keluar dari kota.
Menyadari lokasinya jauh dari keramaian, Xing Jinzi berhenti berlari dan berbalik pada belasan pembunuh di belakangnya. Xing Jinzi mengangkat pedangnya dan mengalirkan tenaga dalamnya ke dalam pedang tersebut.
Xing Jinzi mengambil napas panjang dan menghembuskannya pelan. Pedangnya mulai bercahaya sedikit demi sedikit, ketika diayunkan meninggalkan berkas cahaya untuk sesaat.
“Tarian Sayap Ngengat!”
Tubuh Xing Jinzi bergerak mengayunkan pedangnya dengan begitu indah layaknya tengah menari. Tiap ayunan pedang melepaskan sebuah energi ke depan yang bergerak dengan begitu cepat.
__ADS_1
Energi pedang tersebut mengenai beberapa pembunuh yang gagal menyadari serangan Xing Jinzi yang hampir tak terlihat di tengah gelapnya malam.
Namun, serangan yang dihasilkan tidaklah terlalu dalam, hanya sebatas sayatan kecil yang hanya mengluarkan sedikit darah.
“Xing Jinzi! Tamatlah riwayatmu!”
Xing Jinzi mengangkat pedangnya dan menahan energi pedang yang menebas ke arahnya.
“Coba tebak siapa yang akan mati malam ini!” Xing Jinzi mengambil kuda-kuda.
Pedangnya bertemu dengan pedang pembunuh tersebut, Xing Jinzi mendorongnya mundur dan menahan serangan lain yang datang kepadanya.
Gerakan Xing Jinzi yang begitu lembut seolah mengejek para pembunuh yang terus-terusan gagal meninggalkan luka pada tubuhnya.
“Khuuhk!”
Salah satu dari pembunuh tersebut jatuh berlutut setelah memuntahkan darah, kemudian satu per satu disusul oleh pembunuh yang lain.
“Jangan-jangan ... serangan tadi?!”
Pemimpin kelompok pembunuh tersebut memandang Xing Jinzi penuh amarah. Yang dipandang hanya tersenyum tipis sembari mengelus pedangnya yang kotor oleh darah.
“Ketahui siapa musuh kalian, orang rendahan.”
“Hmph! Memang seperti informasi yang ada! Xing Jinzi ... Sang Kupu-Kupu Malam.”
“Nama yang indah.” Xing Jinzi memainkan pedangnya, ia melirik ke sekitar, merasa ada yang sedikit janggal.
Pertarungan kembali berlanjut, tidak sulit bagi Xing Jinzi mengimbangi mereka semua berkat racun yang ada di pedangnya, satu per satu pembunuh mulai kesulitan mengendalikan tubuh mereka berkat racun yang masuk dari luka-luka mereka.
Dengan mulut yang tak hentinya mengeluarkan darah, pemimpin pembunuh tersebut mengutuk dirinya karena telah meremehkan Xing Jinzi. Bahkan setelah luka berat akibat pertarungan sebelumnya, wanita tersebut masih bisa mengimbangi mereka semua dengan begitu mudah.
“Hahaha ... pertunjukan yang menarik!”
Seorang pria terbang mendekati mereka dengan menaiki seekor binatang spiritual berbentuk burung raksasa.
Ekspresi Xing Jinzi menjadi buruk seketika, wanita tersebut menggenggam pedangnya dengan lebih erat.
“Gun Donghai!”
“Xing Jinzi ... ayo kita akhiri semua ini!”
“Hmph! Majulah, pria tua!”
Xing Jinzi menggenggam pedangnya, ia ayunkan pedang tersebut dan melepas energi pedang dalam jumlah yang besar sebelum melompat tepat di belakang pedang tersebut.
Wanita tersebut entah kenapa secara tiba-tiba tersenyum. Ia tahu jika lawannya kini berada di posisi yang jauh lebih menguntungan. Namun, entah kenapa tidak ada ketakutan di dalam hatinya.
-------
PENGUMUMAN
__ADS_1
Aku mau hiatus dulu ya, sekitar 2 mingguan.
Dadaah