Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 28-Auman


__ADS_3

Weiruo membawa Laohua menjauh dari rombongan, para pembunuh segera mengikuti Weiruo sebelum gadis tersebut pergi terlalu jauh. Weiruo bisa merasakan tubuh Laohua bergetar karena ketakutan, gadis kecil tersebut bisa saja menangis, tapi Laohua berusaha menahan tangisnya.


Dengan teknik meringankan tubuh yang berhasil ia pelajari, Weiruo bergerak melompati dahan pohon di depannya dengan mudah, langkahnya ringan dan segera mereka sudah jauh dari rombongan.


Namun, belasan orang sudah mengikuti Weiruo dan menyeimbangi kecepatan larinya.


Weiruo tidak terkejut karena sudah menduga sejak awal jika dirinya akan disusul sesegera mungkin setelah merebut Laohua. Belasan orang tersebut kemampuannya jelas di atas Weiruo, gadis tersebut harus berpikir keras untuk menyingkirkan mereka semua dalam waktu bersamaan.


“Tidak apa, aku akan melindungimu,” bisik Weiruo pada Laohua.


Setelah berbisik demikian, Weiruo mengeluarkan pisau kecil miliknya dan melempar tiga pisau ke arah para pembunuh yang mengejarnya. Dua pembunuh berhasil menangkisnya, tapi satu berhasil terkena pisau di bagian kakinya karena lengah.


Pisau milik Weiruo sudah diolesi racun pelumpuh, setidaknya membutuhkan waktu satu jam bagi pendekar untuk menyembuhkan diri dari efek racun tersebut.


Weiruo berhenti dan melompat turun, di saat bersamaan seorang pria mendarat di dahan pohon yang sebelumnya Weiruo pijaki.


Satu orang maju menghadapi Weiruo, gadis tersebut menggunakan teknik pedang yang berhasil ia pelajari dan mengalahkan pembunuh tersebut dengan mudah.


Melihat rekannya tewas begitu saja, sekelompok pembunuh tersebut kemudian maju bersamaan menyerang Weiruo.


Bertahan maupun menyerang balik tentu sulit Weiruo lakukan terlebih keberadaan Laohua di pelukannya, satu-satunya yang bisa Weiruo lakukan adalah menghindar sembari bergerak sejauh mungkin.


Namun, karena perbedaan yang begitu terlihat akhirnya Weiruo terpojok, lengan kirinya terkena tebasan salah satu pembunuh dan mengalami luka yang cukup lebar. Laohua yang melihat luka di tangan Weiruo merasa begitu takut dan gemetar ketakutan.


“Serahkan anak itu!” salah satu pembunuh tersebut berbicara dengan lantang.


“Dia berada di bawah perlindunganku, ambil jika kalian bisa,” ucap Weiruo.


Tentu saja ucapan Weiruo barusan langsung membuat pemimpin kelompok pembunuh tersebut emosi sehingga menyuruh anak buahnya untuk menyerang Weiruo bersamaan.


“Hmph!”


Weiruo menangkis semua serangan yang datang sekuat tenaga, tiap dirinya menangkis serangan, tubuhnya akan terdorong mundur karena tenaga pembunuh bayaran tersebut.


Tangan kiri Weiruo menahan tubuh Laohua di pelukannya, walaupun lengannya terluka, Weiruo masih bisa bergerak dengan cukup baik.


Merasa geram karena anak buahnya tidak kunjung mengalahkan Weiruo dan mengambil Laohua, pemimpin pembunuh tersebut langsung turun tangan menghadapi Weiruo.

__ADS_1


Menghadapi beberapa pembunuh saja sudah membuat Weiruo kewalahan, sekarang malah pemimpin pembunuh bayaran turun tangan langsung tentu membuat Weiruo kesulitan menghadapi mereka semua.


Pertarungan mereka begitu sengit, tapi jelas jika Weiruo berada di pihak yang tidak diuntungkan.


Sebuah hantaman datang dari atas, Weiruo berhasil menghindar sehingga hantaman pedang berat tersebut mengenai tanah dan mengakibatkan retakan yang cukup luas.


“Kakak ... Laohua takut,” bisik laohua dengan suara bergetar karena takut.


“Tidak apa, aku di sini.”


Napas Weiruo mulai tidak beraturan, luka-luka sayatan di tubuhnya tak henti mengeuarkan darah karena dirinya terus bergerak.


Para pembunuh mulai menyerang Weiruo dengan sepenuh tenaga, sedangkan Weiruo sudah hampir mencapai batasnya karena energinya terus terkuras.


Sebuah tebasan mengarah ke kepala Weiruo, gadis tersebut langsung menahan tebasan tersebut dengan segenap kekuatannya.


Tanah tempat Weiruo berpijak mengaami kerusakan hingga akhirnya runtuh, tubuh Weiruo terjatuh dan terbentur batu yang ada di bawahnya.


“K-Kakak....”


Laohua mulai meneteskan air mata, dirinya panik sekaligus takut. Gadis kecil tersebut panik melihat darah mengalir dari sudut bibir Weiruo.


“Tangkap dia, lalu bunuh gadis pengganggu itu!” perintah pemimpin pembunuh bayaran yang sudah turun ke bawah tanah.


“T-tidak! Jangan lukai Kakak!” Laohua memeluk tubuh Weiruo dengan erat, tubuh gadis kecil tersebut bergetar hebat karena ketakutan.


Beberapa pembunuh berjalan mendekat, melihat itu Laohua menjadi begitu ketakutan.


Ketika para pembunuh hanya tersisa beberapa langkah dari Laohua, tiba-tiba Laohua bangkit dari tempatnya.


Laohua berbalik, sorot matanya menjadi tajam, iris mata Laohua yang sebelumnya berwarna biru gelap kini menyala, pupilnya menyipit layaknya hewan buas, di saat bersamaan aura tipis menyelimuti tubuh mungil Laohua.


“MENJAUH DARIKU! ROOAAAAR!”


Sebuah teriakan yang diikuti dengan auman memekakkan telinga memenuhi tempat tersebut, para pembunuh langsung menutup kedua telinga mereka karena teriakan Laohua barusan mengandung energi dalam yang begitu kuat.


Auman Laohua berlangsung cukup lama hingga akhirnya satu per satu pembunh tersebut tumbang ke tanah, bahkan pemimpin mereka sekalipun tidak mampu menahan energi itu.

__ADS_1


Cahaya di mata Laohua memudar, sedetik kemudian gadis kecil tersebut jatuh pingsan.


***


Weiruo bangkit perlahan, kepalanya masih terasa pusing dan seluruh tubuhnya terasa begitu nyeri.


“Sial, aku pingsan,” gerutunya kesal, baginya pingsan adalah saat di mana kewaspadaanya menghilang dan nyawanya dapat terancam kapan saja.


“Laohua?”


Dengan hati-hati Weiruo menggendong Laohua yang kehilangan kesadaran, entah apa yang terjadi selama dirinya pingsan, yang terpenting sekarang adalah kembali ke rombongan ibunya.


Xuan Riuyi begitu bahagia mengetahui Weiruo bisa kembali padanya, setelah perbincangan singkat, Weiruo meminta para pengawal untuk melanjutkan perjalanan.


Weiruo beserta rombongannya tiba di Kota Dongfeng setelah seharian menempuh perjalanan.


Keduanya menuju paviliun tempat tinggal Xuan Yiru, ibu suri, tempat tersebut berada di bagian pinggir kota dan memiliki area yang luas. Sesampainya di sana mereka disambut oleh Xuan Yiru, wanita tua tersebut menyambut Xuan Riuyi dan mengajaknya untuk berbincang di taman, sedangkan Weiruo pergi kamar yang sudah disediakan.


“Kau jangan coba untuk kabur,” ucap Weiruo pada Da Feng yang akan berpisah dengannya. Da Feng pergi ke kamar untuk para pengawal dan prajurit sehingga harus berpisah.


“Ya, aku tahu, lebih baik khawatirkan dirimu sendiri.”


Weiruo hanya tersenyum tipis sebelum pergi meninggalkan Da Feng. Seorang pelayan membukakan pintu untuk Weiruo, setelah gadis tersebut masuk pelayan menutup pintu dan pergi.


Kini Weiruo seorang diri di kamar luas tersebut, ibunya pergi bersama ibu suri sedangkan Laohua ditempatkan di kamar lain.


Weiruo melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan menghembuskan napas panjang.


“Sial, sakit sekali.”


Weiruo kembali berdiri setelah beberapa, ia melepas jubahnya, menampilkan pakaian penuh bercak darah.


Karena khawatir para pembunuh sadar dan kembali mengejar Weiruo hanya mengenakan jubah dan menutupi aroma darah dengan wewangian yang ia bawa.


Luka lebar di lengan kirinya hanya ia perban dengan kain, itupun tidak rapi karena terburu-buru.


Wajah Weiruo sedikit pucat, gadis tersebut masih merasa begitu letih akibat pertarungan sebelumnya, aura membunuh menekannya dengan kuat dan masih membuat Weiruo merasa tidak nyaman.

__ADS_1


...----------------...



__ADS_2