Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 87-Peperangan IV


__ADS_3

“Da Feng....”


Weiruo memeriksa denyut nadi Da Feng, kondisi pemuda tersebut cukup buruk setelah menerima begitu banyak luka. Tenaga dalamnya kini tak beraturan, Weiruo segera mengalirkan tenaga dalamnya untuk membantu pemuda tersebut.


Napasnya kembali normal, Weiruo menghembuskan napas lega akan hal itu.


“Sial,” umpat Da Feng begitu mendapatkan kembali kesadarannya.


“Sudah mati ... kita membunuhnya.”


Da Feng tertawa pelan. Akhirnya tujuan mereka telah tercapai, kini hanya perlu menyelesaikan pertarungan yang tersisa.


“Tubuhku tidak bisa bergerak bebas, ini sangat menyakitkan,” keluh Da Feng.


Serangan terakhir Gun Donghai benar-benar luar biasa sakit bagi Da Feng, sepertinya beberapa tulangnya patah akibat itu, bergerak sedikit saja rasanya begitu menyakitkan baginya.


Weiruo mengeluarkan sebuah pil dan membantu Da Feng mengkonsumsinya. Untuk beberapa waktu mereka hanya diam di sana, di tengah belasan pendekar yang bertarung satu sama lain.


“Aku akan membantu yang lain, pergilah memulihkan diri!” perintah Weiruo.


“Aku akan melakukan itu tanpa kau minta. Tubuhku seperti remuk saja,” ucap Da Feng yang berusaha berdiri dengan tubuh yang bergetar hebat.


Weiruo tertawa kecil dan membantunya untuk berdiri. Melanjutkan bertarung hanya akan memperparah kondisi Da Feng, Weiruo meminta pemuda tersebut bergabung ke barisan belakang untuk memulihkan diri sepenuhnya.


Masih ada begitu banyak pendekar dari Sekte Laut darah yang bergerak ke darahnya, Weiruo menelan Pil Energi sebelum menghadapi mereka semua.


“YUE HUA!”


Weiruo tersentak ketika sebuah suara berteriak dengan begitu lantang, gadis tersebut segera menoleh untuk mencari pemilik suara tersebut.


“Hmph!” seorang pria tua dengan tubuh kurus bungkuk turun dari udara.


Matanya terlihat tidak bersahabat penuh kebencian, dia memandangi Weiruo penuh akan keinginan membunuh.


Di sisi lain Weiruo juga merasa aneh dengan pria tua di hadapannya. Apa hubungannya dengan Yue Hua, gurunya? Dilihat dari cara pria tua tersebut melihat Weiruo, gadis tersebut yakin hal itu bukanlah hal yang bagus.


“Siapa kau? Siapa Yue Hua?” tanya Weiruo yang sudah bersiap dengan pedangnya.


“Yue Hua ... itu bukan urusanmu. Tapi kau ... pasti kau adalah muridnya!” teriak pria tua tersebut lancang.


“Tetua Kong telah turun tangan, habislah gadis itu!”


“Cepat mundur!”

__ADS_1


Weiruo melirik beberapa pemuda yang bergerak menjauhi mereka berdua. Dia benar-benar tidak salah dengar, mereka memanggil pria tua di hadapannya sebagai ‘Tetua Kong’, tidak salah lagi ia adalah Kong Woonji.


“Kong Woonji, apa kau yang membunuh Xing Jinzi?” tanya Weiruo memastikan.


“Hmm? Tidak tidak, Si Besar Gun Donghai itu yang melakukannya. Sayang sekali melihat mayat cantik itu dibuang begitu saja, jadi kujadikan dia sebagai koleksiku!” Kong Woonji tertawa seraya mengelus janggut panjangnya.


“Apa kau temannya? Atau saudarinya? Ya ... kau tidak terlihat mirip dengannya.”


“Tutup mulutmu!” geram Weiruo.


“Hahaha! Semangat anak muda yang membara! Beruntung dirimu karena mati di tanganku!” Kong Woonji mengayunkan tangannya, tiga buah boneka mayat muncul seketika di hadapan pria tua tersebut.


Sebuah benang spiritual muncul dari jari-jari Kong Woonji dan bergerak memasuki tubuh boneka mayat tersebut dan menghilang begitu saja.


Mata ketiga boneka mayat tersebut menyala merah sesaat, jari mereka bergerak dan kepala mereka terangkat secara bersamaan.


Dengan satu ayunan tangan mereka maju menyerang Weiruo secara bersamaan, ketiganya menyerang secara bergantian. Namun, tak satupun dari serangan itu yang mampu melukai Weiruo.


Cakar mereka tajam layaknya pisau, tiap beradu dengan pedang Weiruo langsung menghasilkan suara yang nyaring di telinga.


‘Tubuh mereka telah dimodifikasi!’ batin Weiruo kesal.


Weiruo mengangkat pedangnya, bergerak memutar melepas sebuah tebasan yang mengasilkan energi pedang yang melesat begitu cepat. Energi tersebut langsung saja membelah salah satu boneka mayat Kong Woonji menjadi dua bagian.


Tidak butuh waktu lama untuk Weiruo mengatasi ketiga boneka mayat tersebut. Kong Woonji tidak terlihat terlalu panik kehilangan boneka mayat tersebut. Kehilangan beberapa tidak akan terlalu berpengaruh baginya, masih ada begitu banyak boneka mayat di dalam cincin ruangnya.


“Mari lihat seberapa lama kau akan bertahan.”


Kong Woonji mengeluarkan lebih banyak boneka mayat dan engendalikan mereka secara bersamaan untuk menyerang Weiruo.


...***...


Pasukan kekaisaran yang dipimpin oleh Panglima Gong segera berangkat setelah mendapat perintah dari kaisar.


Ratusan orang bergerak cepat ke Sekte Laut Darah dengan tujuan melindungi Putri Kekaisaran mereka, Xuan Weiruo.


Pasukan terbaik dikirim oleh Xuan Guoxin, lebih dari separuh pasukan kekaisaran pergi dalam misi tersebut, menyebabkan berkurangnya penjagaan secara drastis.


Pasukan bergerak cepat dan tidak melewatkan tiap detik yang berharga, istirahatpun hanya mereka lakukan kurang dari enam jam dalam sehari. Tidak perlu khawatir tentang kuda, kuda yang mereka bawa adalah kuda terbaik dengan stamina yang begitu tinggi, tidak masalah jika melakukan perjalan yang begitu jauh dengan istirahat yang begitu minim.


“Panglima, ada tiga orang yang bergerak ke arah kita!” seru satu dari sepuluh prajurit pilihan yang dipilih oleh Panglima Gong.


Mendengar ucapan bawahannya membuat Panglima Gong langsung mengalihkan pandangannya dan menmukan tiga orang gadis terngah memacu kuda begitu cepat ke arah mereka.

__ADS_1


Ketiganya segera mengurangi kecepatan kuda mereka begitu tiba di hadapan Panglima Gong.


Gadis yang sedikit asing baginya, pria tersebut segera menanyakan maksud mereka menemuinya.


“Izinkan kami mengikuti pasukan anda!” ucap seorang gadis yang terlihat seperti memimpin kedua gadis di belakangnya.


“Kami akan pergi ke medan perang! Bukan tempat bermain para gadis!” tolak Panglima Gong.


“Kami tahu itu! Kalian dalam misi melindungi Putri Mahkota, kami juga pergi untuk melindungi guru kami!”


Panglima Gong jelas terkejut, barulah pria tersebut ingat jika tuan putri pernah menyinggung tentang memiliki murid.


“Terserahlah. Kami akan tetap pergi sekalipun kalian menolak!” ucap gadis pemimpin tersebut kesal tak kunjung mendapat jawaban dari Panglima Gong.


“Tentu, tapi kalian harus bergerak cepat!”


Ketiganya mengangguk bersamaan, segera dengan tambahan tiga anggota baru mereka melanjutkan perjalanan menuju Sekte Laut Darah.


Tidak ada istirahat, mereka berjalan tanpa henti dalam pasukan besar tersebut. karena jika beristirahat terlalu lama, bukan tidak mungkin peperangan telah dimulai dan tuan putri mereka dalam bahaya.


Panglima Gong memimpin pasukan melewati jalan pintas yang ia ketahui. Sedikit berbahaya, namun itulah jalan tercepat jika ingin menyusul Weiruo.


“Berhenti!” perintah Panglima Gong.


Mereka langsung menarik tali kuda mereka seperti perintah pria tersebut. dari kejauhan terlihat rombongan kecil tengah berjalan dengan susah payah ke arah mereka.


“K-kita selamat! Ada pasukan prajurit di sini!” ucap seornag pria yang memimpin rombongan kecil tersebut.


“Siapa kalian? Apa yang terjadi pada kalian?” tanya Panglima Gong.


“Kami hanya penduduk desa kecil di sisi lain hutan ini, kami tengah mencari tempat perlindungan setelah desa kami habis diserang binatang spiritual! Tuan Prajurit, mohon bantu kami,” pintanya putus asa sembari bersujud di hadapan Panglima Gong.


“Aku mengerti, beberapa pasukanku akan mengantar kalian.”


Orang-orang tersebut langsung saja bersujud dan mengucapkan terima kasih yang begitu mendalam.


Sebelum pergi, Ying memberi sekantung kecil uang pada mereka. Mereka segera berpisah setelah itu.


Gadis tersebut memandang langit di kejauhan, hatinya tidak tenang.


Ia, Meigui, dan Lan Meili sepakat untuk menyusul Weiruo, sedangkan anak-anak yang lain harus tetap berada di ibukota.


Pilihan yang begitu beresiko. Namun, jika untuk Weiruo yang telah memberi mereka kesempatan hidup, matipun mereka rela.

__ADS_1


__ADS_2