
Weiruo melihat dari kejauhan, sebuah kota yang terlihat begitu sepi tak ubahnya kota kosong tak berpenghuni.
Di luar gerbang kota tergeletak begitu banyak bangkai hewan berlumuran darah, bau anyir memenuhi udara di sekitar, jika manusia biasa mungkin saja sudah memuntahkan isi perutnya mencium aroma busuk yang begitu kuat.
Weiruo melepaskan aura miliknya untuk menakuti binatang buas yang bersembunyi di kejauhan.
Weiruo mengetuk gerbang kota cukup kuat dan mengatakan identitasnya agar lebih mudah memasuki kota.
Karena mendengar identitas Weiruo, para penjaga gerbang tidak berpikir panjang dan segera membukakan pintu gerbang. Begitu masuk ia disambut oleh para prajurit penjaga kota.
Prajurit yang sebelumnya senang, langsung menunjukkan ekspresi kecewa mereka karena hanya Weiruo seorang yang datang.
Memang benar mereka mendengar kabar jika putri mahkota memiliki kemampuan bela diri, tapi jika datang seorang diri ke tempat berbahaya seperti sekarang, bukankah hanya akan mengantar nyawa?
“Antar aku ke kepala prajurit kota.”
Seorang prajurit maju dan mengenalkan dirinya sebagai wakil kepala prajurit. Karena kepala prajurit sedang terluka parah akibat pertempuran terakhir, kuasa atas seluruh prajurit kota untuk sementara dipegang olehnya.
“Baiklah, ayo kita bicara sebentar.”
Weiruo dituntun ke ruang istirahat para prajurit untuk berbicara.
“Maaf, Tuan Putri, kami tidak bisa menyajikan sesuatu yang lebih layak,” ucap wakil kepala prajurit sedikit lesu.
“Tidak apa, aku mengerti kondisi kalian. Tuan, siapa namamu?”
“Panggil saja saya Cen Gu.”
“Baiklah, Tuan Cen Gu. Aku akan menanyakan hal-hal kecil terlebih dahulu.”
Weiruo mulai bertanya tentang kondisi kota, lalu berlanjut cukup lama dan membahas cukup banyak hal.
Kondisi kota kacau sudah hampir sebulan lamanya, binatang buas dan binatang spiritual semakin buas menyerang dan berusaha menerobos masuk ke kota.
Demi menghalangi mereka para prajurit berjuang mati-matian melawan binatang spiritual serta binatang buas yang menyerang. Tidak sedikit dari mereka yang terluka bahkan tewas dalam pertempuran.
Karena kondisi kota yang penuh bahaya dan dapat diserang oleh binatang spiritual kapan saja, para pedagang enggan untuk datang kota sehingga bahan pangan terus menipis dari waktu ke waktu.
Walikota bahkan sudah membuka gudangnya untuk membantu penduduk kota, tapi masalah tetap saja sulit untuk ditangani.
__ADS_1
Jumlah prajurit yang terluka terus bertambah dari waktu ke waktu sehingga kekuatan tempur berkurang sedikit demi sedikit, Cen Gu khawatir prajurit gagal melindungi kota tempat tinggal mereka.
Untuk saat ini hanya tersisa kurang dari seratus prajurit yang siap pertarung, sebagian besar prajurit di kota mengalami luka parah dan tidak sedikit yang tewas.
“Tenang saja, aku akan membantu. Pertama, bahan pangan.”
Weiruo mengayunkan tangannya, sebuah cahaya keluar dari cincin di tangannya, cahaya tersebut kemudian semakin membesar dalam waktu singkat, sedetik kemudian cahaya tersebut berubah menjadi begitu banyak kotak kayu berisi sayuran, buah, dan daging.
“Itu setidaknya cukup untuk beberapa hari ke depan.”
Masalah kedua adalah prajurit terluka, Weiruo diantar Cen Gu ke bangunan tempat para prajurit mendapat perawatan.
Semua prajurit di sana adalah seorang pendekar, walaupun hanya di tingkat awal untuk memperkuat diri mereka.
Cen Gu hanya bisa melongo melihat Weiruo mengeluarkan begitu banyak pil dan menyembuhkan para prajurit dengan mudahnya.
Cen Gu memang kerap mendengar betapa hebatnya seorang ahli pil dalam ilmu pengobatan, tapi baru kali ini ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Weiruo menyembuhkan para prajurit tanpa kesulitan.
Teng teng
“Apa itu?” tanya Weiruo.
“Serangan, bel akan dibunyikan ketika saat-saat genting. Dua kali, artinya binatang spiritual akan menyerang,” jelas Cen Gu.
Weiruo mengikuti mereka, ia kagum dengan kegigihan para prajurit yang bahkan tidak menunggu kondisi benar-benar pulih untuk bertarung melindungi kotanya.
Sesampainya di gerbang kota, Weiruo bisa melihat ratusan binatang spiritual berjalan ke arah kota. Mereka mengeluarkan aura yang begitu mengerikan.
Namun, para prajurit terlihat tidak ragu mengangkat senjata mereka, di balik gerbang masuk kota, para prajurit telah bersiap dengan senjata mereka. Ketika pintu gerbang dibuka, mereka akan maju menyerang musuh yang ada di luar sana.
“Tuan Putri, tolong anda berlindung bersama penduduk yang lain, gerbang kota ini ... kami akan menjaganya dengan nyawa kami,” ujar Cen Gu.
“Berlindung? Aku tidak perlu melakukan itu, aku akan membantu kalian menghadapi mereka.”
Weiruo menghampiri tim medis yang berbaris tidak jauh dari para prajurit. Mereka juga tidak menunjukkan rasa takut dihadapkan ratusan binatang mengerikan tersebut.
Weiruo mengeluarkan beberapa botol giok berisi pil penyembuh, dengan puluhan pil tersebut mereka akan lebih mudah menangani para prajurit yang terluka.
“Tuan Putri....”
__ADS_1
“Anda...?"
“Cen Dou, Kakak dari Cen Gu, sekaligus Kepala Pasukan Kota Sinyu.”
Cen Dou berusaha membujuk Weiruo untuk berlindung bersama sisa penduduk yang lain, pria tersebut tentu takut jika terjadi sesuatu pada Weiruo nanti.
“Aku akan bertarung bersama kalian. Jika anda terus melarang, akan kukirim surat peringatan istana untukmu.”
Cen Dou hanya bisa menutup mulutnya rapat-rapat, sekeras apapun dirinya berusaha membujuk Weiruo tidak akan membuat keputusan gadis tersebut berubah.
Para pemanah menyiapkan busur mereka di atas gerbang kota, tiap panah sudah dilapisi dengan racun pelumpuh yang akan melumpuhkan gerakan binatang spiritual yang menyerang.
Gerbang perlahan dibuka, menampakkan ratusan binatang spiritual yang menyerbu dari kejauhan.
Cen Dou mengangkat bilah pedangnya, menghunuskannya ke depan. Pria tersebut menarik napas panjang sebelum berteriak dengan begitu lantang.
“PASUKAN! SIAPKAN DIRI KALIAN UNTUK PERTEMPURAN HIDUP DAN MATI!” teriaknya.
Para prajurit kemudian berteriak bersamaan setelah mendengar perintah Cen Dou.
Tidak peduli jika mereka mati di medan pertempuran, para pasukan mengangkat pedang mereka tinggi-tinggi dengan tekad yang begitu kuat.
“Tuan Putri, jika keadaan tidak memungkinkan ... tolong pergi sejauh mungkin,” bisik Cen Dou.
“Tuan Cen Dou, pertempuran ini akan kita menangkan apapun caranya.”
Weiruo mengeluarkan pedangnya dan menarik napas dalam melihat ratusan binatang spiritual yang berlari ke arah kota.
“PASUKAN! MAJU!” teriak Cen Dou.
Para prajurit berteriak dengan lantang dan maju satu per satu keluar dari gerbang kota.
Weiruo bersama Cen Dou berlari di depan memimpin pasukan. Ketika jarak sudah semakin dekat, Weiruo mengeluarkan aura membunuh dan melangkah lebih cepat.
Cen Dou terbelalak kaget begitu merasakan aura milik Weiruo, pria tersebut sudah berkali-kali bertarung dengan pendekar, tapi baru pertama kali merasakan aura membunuh sekuat yang Weiruo miliki.
Dalam satu ayunan pedang Weiruo langsung membelah binatang spiritual kecil yang melompat ke arahnya menjadi dua bagian.
Satu per satu binatang spiritual yang menyerang berhasil dibunuh oleh Weiruo dengan begitu mudah. Langkahnya tidak behenti begitu saja, ia terus bergerak membuka jalan ke barisan belakang.
__ADS_1
Energi asing tiba-tiba saja menghampirinya, untuk sesaat sebelum menghilang begitu saja.
Weiruo tersenyum tipis sebelum melompat ke dalam hutan dengan jasad binatang spiritual sebagai pijakannya.