Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 65-Serangan Sekte Kabut


__ADS_3

Weiruo tiba di istana setelah menempuh perjalanan selama dua hari lamanya, gadis tersebut tidak menunda lebih lama dan segera pergi ke tempat pelatihan untuk menemui Shulong serta yang lain.


Shulong mengelus janggut panjanganya sejenak setelah mendengar penjelasan Weiruo tentang apa yang didengarnya di Sekte Gunung Peri.


Sebenarnya Shulong tidak terlalu yakin sama seperti Weiruo, tapi tidak ada salahnya untuk mencari tahu terlebih dahulu.


“Saya akan mengikuti anda,” ucap Shulong sebagai jawaban akhir.


“Baik, kita akan pergi besok.”


Weiruo kemudian pergi setelah mendapat jawaban dari Shulong, karena jawaban dari Shulong adalah keputusan akhir apakah ia akan pergi atau tidak.


***


Da Feng meletakkan secangkir teh miliknya di atas meja, pagi ini Weiruo baru saja tiba di Kota Turong, sementara Weiruo beristirahat di kamar miliknya, Da Feng memilih untuk pergi ke luar untuk mencari informasi.


“Tuan Muda, apakah anda duduk sendirian?” seorang gadis tiba-tiba saja mendatangi meja Da Feng dan bertanya demikian.


Tanpa banyak bicara Da Feng mengeluarkan pedangnya, membuat gadis tersebut melangkah mundur dan hampir berteriak karena terkejut.


Da Feng meletakkan pedangnya di sebelah tempatnya duduk, membuat tidak ada ruang tersisa untuk orang lain.


“Sudah ada yang menempati,” ucap Da Feng sebelum menyeruput teh miliknya.


“A-ah b-baiklah.”


Gadis tersebut melangkah pergi dengan kecewa, bibirnya agak memanyun karena kesal dengan respon Da Feng.


Da Feng sendiri tidak memikirkan respon gadis tersebut dan melanjutkan menikmati teh serta camilannya.


Berbagai macam informasi berhasil didapat oleh Da Feng setelah duduk begitu lama di tempatnya, sekalipun tidak banyak bergerak, tapi telinga Da Feng mampu mendengar semua percakapan dengan cukup jelas.


Da Feng mengernyitkan dahinya ketika mendengar satu topik percakapan yang menarik perhatiannya, Da Feng sedikit menoleh untuk mencari sumber percakapan dan menemukan beberapa orang tua yang duduk pada satu meja.


***


Di sebuah perbukitan hijau yang luas, ratusan pendekar berkumpul untuk mengepung sebuah sekte kecil yang dibangun di bawah salah satu bukitt.

__ADS_1


Sementara itu di gerbang sekte kecil tersebut, sosok anak kecil yang baru berusia belasan tahun menggenggam erat pakaian milik seorang pria tua di sampingnya.


“Nian’er, masuklah.”


Ye Nian kecil menggeleng pelan, malah semakin erat menggenggam pakaian sang kakek.


Ye Jinhai tersenyum tipis, tapi matanya menunjukkan kesedihan yang mendalam. Walaupun tidak menunjukkannya, tapi Ye Jinhai tidak bisa menyembunyikan rasa takut di kedua matanya.


Hari ini Sekte Kabut benar-benar datang setelah perselisihan tanpa alasan yang jelas selama hampir dua minggu lamanya.


Semua berawal dua minggu lalu, ketika beberapa anggota sektenya kembali ke sekte dengan kondisi tubuh penuh luka.


Mereka mengatakan jika mereka diserang di tengah perjalanan dengan alasan tidak jelas.


Ye Jinhai awalnya mengira mereka diserang oleh pendekar dari sekte aliran hitam, tapi keesokan harinya beberapa orang anggota Sekte Kabut datang untuk meminta penjelasan atas kematian salah seorang murid unggulan mereka yang disebabkan oleh murid-murid dari Sekte Gunung Hijau.


Tentu saja Ye Jinhai tidak bisa memberi penjelasan karena tidak satupun murid di sektenya merasa menyerang murid dari Sekte Kabut, terlebih hingga membunuhnya.


Karena tidak mendapat jawaban yang jelas dari Ye Jinhai, salah satu tetua yang juga guru dari murid yang tewas tersebut menyatakan permusuhan antara kedua belah pihak.


Mau bagaimanapun Ye Jinhai tidak bisa memberi jawaban untuk tetua tersebut karena memang bukan murid-muridnya lah membunuh anak didik dari tetua tersebut.


Hari ini mungkin adalah hari terakhir Sekte Gunung Hijau berdiri, dibanding kekuatan Sekte Kabut yang tidak jauh di bawah Sekte Cakar Naga, Sekte Gunung Hijau tak ubahnya batu kerikil untuk mereka.


Ye Jinhai berdiri menghadap ratusan musuh di hadapannya, ia tidak khawatir jika harus mati untuk membela sektenya, hanya saja ia tidak mungkin membiarkan Ye Nian terjun ke medan perang.


“HARI INI ADALAH HARI TERAKHIR SEKTEMU BERDIRI! KUPERINGATKAN SEKALI LAGI, BERHENTI MELINDUNGI PARA PEMBUNUH ITU DARIKU!” teriak tetua Sekte Kabut yang memimpin ratusan orang tersebut.


Ye Jinhai menghembuskan napas pasrah, tidak ada yang dapat ia jelaskan, hari ini Ye Jinhai akan melakukan yang terbaik untuk melindungi sektenya.


“Ketua Sekte, saya akan berdiri di samping anda hingga akhir!” ucap Meigui penuh keyakinan.


Ye Jinhai menoleh pada gadis tersebut, rasa takut serta khawatir menjadi satu di hati pria tua tersebut.


“Meigui ... muridku yang paling cerdas, bawalah Nian’er bersamamu,” ucap Ye Jinhai pelan.


Tubuh Meigui bergetar, matanya tiba-tiba saja terasa panas dan mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


“T-tidak! Nian’er akan ikut dengan kakek!” bantah Ye Nian.


“Nian’er—“


“SERANG!”


Ratusan pendekar secara serempak maju menyerang, hawa membunuh langsung memenuhi tempat tersebut dalam waktu singkat.


Ye Jinhai menarik keluar pedangnya dan memerintahkan semua anggota sekte untuk menyiapkan diri mereka.


“Kakek!”


Ye Nian berusaha mengejar Ye Jinhai yang maju ke medan pertempuran, tapi Meigui sudah lebih dulu menarik Ye Nian kembali ke dalam sekte.


Perpedaan kekuatan terlihat jelas, jumlah pendekar dari Sekte Gunung Hijau memang hampir mengimbangi Sekte Kabut, sayangnya ilmu bela diri dari pendekar Sekte Gunung Hijau tidaklah tinggi karena mereka lebih mengutamakan ilmu pembuatan pil daripada bela diri.


Meigui melangkah mundur dengan Ye Nian bersamanya, hatinya ragu, tapi jika memaksa maju maka ia harus meninggalkan Ye Nian sendirian, Meigui tidak bisa melakukan itu.


Dengan segenap kemampuannya Meigui menerobos puluhan pendekar dari Sekte Kabut yang mengarah padanya, tidak peduli jika tubuhnya terluka dan terus melangkah maju.


Meigui menguatkan kedua kakinya dengan tenaga dalamnya dan mengayunkan pedangnya membentuk sebuah lingkaran sempurna, ketika musuh berusaha menghindar Meigui memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kabur.


“Ukh!”


Hampir saja Meigui terjatuh, gerakan sebelumnya yang ia gunakan belumlah sempurna dan cukup membebani tubuhnya.


Namun, Meigui tidak menghentikan langkahnya dan terus melangkah melewati satu demi satu musuh di hadapannya.


“T-tidak! Kakek!”


Meigui menoleh ke belakang, terlihat Ye Jinhai keslitan menghadapi belasan orang sekaligus.


“Kakak, kita harus kembali!” ucap Ye Nian yang sudah menitikkan air mata.


“Tidak bisa! Ketua memerintahkan saya untuk membawa anda pergi ke tempat aman, maafkan saya!”


Mendengar jawaban Meigui membuat Ye Nian histeris seketika, bocah kecil tersebut berusaha memberontak dari gendongan Meigui.

__ADS_1


Hanya saja tenaga Ye Nian tidak cukup kuat untuk lepas dari Meigui. Karena takut Ye Nian memberontak untuk kedua kalinya, Meigui akhirnya menekan titik akupuntur Ye Nian agar tidak memberontak dan membuatnya kesulitan bertarung.


__ADS_2