Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 59-Rumah Baru


__ADS_3

Weiruo mengecek bangkai ikan di hadapannya sekarang. Gadis tersebut berhati-hati karena duri dari ikan tersebut mengandung racun yang kuat.


“Sepertinya racun yang mencemari air berasal dari kantung ini.”


Karena sumber racun sudah dibawa keluar dari air, maka giliran Weiruo untuk memasukkan obat penawar ke dalam air.


Weiruo menuang beberapa botol cairan obat yang sudah diracik olehnya tadi malam. Setelah tercampur dengan obat, hanya perlu menunggu hingga kandungan racun di dalam air danau menghilang.


Kesehatan penduduk kota sepenuhnya membaik setelah mereka mengonsumsi obat yang diberikan Weiruo, mereka kini mulai melakukan aktivitas seperti semula, kecuali kegiatan yang berhubungan dengan danau.


Walaupun sumber wabah telah teratasi, Weiruo masih merasa belum tenang sehingga mengajak Shulong untuk mengecek ke sekitar danau, ia penasaran makhluk seperti apa yang mampu mengoyak tubuh Ikan Seribu Duri separah itu.


Butuh waktu lama bagi keduanya untuk menyusuri sungai yang begitu besar, akhirnya Weiruo menemukan sosok ular raksasa yang tengah bergelut dengan buaya besar.


Namun, karena perbadaan ukuran yang begitu besar, buaya tersebut mati begitu saja setelah ular raksasa tersebut melilit tubuhnya dan mematahkan tulang-tulangnya.


Ular tersebut memiliki deretan gigi tajam yang menghalangi mangsa untuk kabur dari dalam mulutnya.


Weiruo memerintahkan Shulong untuk menghabisi ular tersebut, karena jika dibiarkan Weiruo takut ular tersebut menyerang penduduk kota.


Mengetahui semua masalah sudah teratasi begitu saja membuat walikota merasa begitu lega.


Walikota ingin memberikan Weiruo hadiah, tapi gadis tersebut menolak, lagipula ia menginginkan hadiah apapun.


Weiruo tidak berlama-lama di kota tersebut, setelah memastikan tidak ada satupun orang yang masih terjangkit wabah, Weiruo segera kembali ke ibukota.


Kedatangan Weiruo disambut oleh sang ibu tercinta, Xuan Riuyi tak hentinya memeriksa kondisi Weiruo setelah mendapat kabar jika putrinya tersebut singgah di kota yang tengah terjangkit wabah.


Xuan Riuyi bernapas lega melihat Weiruo dalam keadaan sehat.


Setelah berbincang sejenak dengan sang ibu, Weiruo kembali ke kediamannya dan membersihkan diri sebelum pergi ke halaman belakang.


Di halaman belakang Ying terlihat sibuk mengayunkan pedang kayunya, gerakannya cepat dan tajam, sesekali Ying akan berputar lalu menebas udara kosong.


“Sepertinya kau berlatih dengan giat selama aku pergi.”


Ying hampir melompat saking kagetnya, ia benar-benar tidak menyadari kehadiran Weiruo, tiba-tiba saja gadis tersebut sudah berada tidak jauh di belakangnya.


Ying menghampiri Weiruo dan mengatakan jika ia berlatih dengan giat selama Weiruo pergi, bahkan sering kali dirinya berlatih hingga tengah malam tanpa ia sadari.


Semenjak mengikuti Weiruo, Ying menyadari seberapa lemah dirinya di mata para pendekar sehingga bertekad untuk menjadi kuat.

__ADS_1


“Tempat ini terlalu kecil untuk kalian. Sebentar lagi kalian harus pindah ke tempat lain.”


Weiruo mengajak Ying ke Balai Obat untuk menemui Yu Shuyan. Ying tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat Yu Shuyan yang begitu terkenal dengan kesombongannya bersikap sopan di hadapan Weiruo.


Ying hanya diam sepanjang keduanya berbincang, ia takut mengganggu Weiruo.


Setelah perbincangan berakhir, Yu shuyan mengantar Weiruo dan Ying ke sebuah tempat yang sudah lama telah ia siapkan.


Ketiganya berkeliling dan Yu Shuyan mengenalkan tiap bangunan tersebut dengan begitu rinci.


Ying juga mendengarkan tiap penjelasan Yu Shuyan dengan sungguh-sungguh setelah tahu jika tempat tersebut akan menjadi tempatnya berlatih mulai sekarang.


Yu Shuyan meninggalkan mereka setelah urusannya selesai. Kini hanya tersisa Ying serta Weiruo di tempat luas yang begitu sunyi itu.


Weiruo mengeluarkan dua pedang kayu dan menyerahkan salah satunya kepada Ying.


“Aku ingin melihat perkembanganmu.”


Ying mengangguk paham dan menyiapkan kuda-kuda sebelum menyerang.


Weiruo menahan tiap serangan dari Ying dengan mudah, bahkan Weiruo juga tidak kesulitan membelokkan serangan yang dilancarkan oleh Ying.


“Kau tidak boleh mengayunkan pedangmu seperti itu.”


Ying bangkit dan mengambil pedang kayu miliknya, walaupun ia dikalahkan denga mudah, tapi hal itu tidak membuatnya bersedih.


“Apa ada yang salah dari caraku mengayunkan pedang?” tanya Ying.


“Banyak.”


Weiruo mengajak Ying ke tempat teduh sebelum mulai membahas apa yang saja kesalahan gadis tersebut.


“Jangan mengayunkan pedangmu dengan penuh emosi. Aku tahu kau menyimpan dendam, tapi jika kau meluapkannya seperti itu, yang ada kepalamu yang lebih dulu terpenggal.”


Ying tersentak, ia juga menyadari jika dirinya mengayunkan pedangnya dengan penuh emosi, tapi Ying sendiri tidak mengerti cara mengatasi hal itu.


“Jangan memikirkan hal yang tidak perlu, fokus saja cara paling tepat untuk mengalahkan musuhmu.”


Ying mengangguk paham mendengar penjelasan Weiruo, keduanya kemudian menghabiskan waktu untuk berlatih bersama.


***

__ADS_1


Chuhua, Heiyu, serta Yubai terlihat begitu antusias dengan tempat tinggal mereka yang baru.


Bangunan tersebut begitu luas dan memiliki puluhan kamar di dalamnya, belum lagi ruang latihan, perpustakaan, dan ruangan tambahan lainnya.


Selain bangunan yang besar, juga terdapat sebuah halaman luas yang nantinya dapat mereka gunakan untuk berlatih, ada cukup banyak perlengkapan latihan yang disiapkan di dalam gudang senjata.


Ketiga anak tersebut awalnya sedih karena harus pergi dari kediaman Weiruo, tapi mereka juga sadar jika mereka tidak bisa merepotkan baik Weiruo maupun Yinyi untuk mengurus mereka.


Weiruo memberikan mereka masing-masing sebuah buku teknik bela diri yang cocok dengan teknik berlatih mereka, meminta ketiganya berlatih dengan giat.


Selain buku teknik bela diri, Weiruo juga memberikan sejumlah uang, mengingat mereka semua harus mengurus diri mereka sendiri mulai sekarang.


Laohua juga ikut bersama Weiruo, ia merasa bosan berada di istana terus-menerus.


“Nona, bolehkah aku tinggal di tempat ini?” tanya Laohua tiba-tiba.


Weiruo menatap Laohua sejenak, gadis kecil tersebut terlihat begitu berbeda dari setahun yang lalu.


Sejak kejadian di Sekte Teratai Emas, ingatan dari Harimau Putih perlahan memasuki kepala Laohua, menyadarkan gadis kecil tersebut akan identitas aslinya.


Laohua bersikap jauh lebih dewasa dari umur aslinya, mau bagaimanapun ia memiliki ingatan Harimau Putih berumur ratusan tahun, tidak mungkin gadis kecil tersebut bersikap kekanak-kanakan.


“Jika kau ingin demikian maka tidak masalah, mungkin kau bisa mengajak Chie dan Shulong denganmu.”


“Tentu, Nona.”


Laohua pergi meninggalkan Weiruo untuk mencari kamar mana yang akan ditempatinya nanti.


***


Sebulan sudah berlalu sejak kepindahan Ying ke rumah baru mereka, ia berlatih dengan begitu giat sejak kepindahannya.


Weiruo sering mengunjungi mereka ketika sedang senggang, selain melihat perkembangan latihan dari mereka berempat, Weiruo kadang akan memberikan mereka pil untuk meningkatkan energi dalam mereka.


Hari ini Ying datang bersama Da Feng, keduanya baru saja mengunjungi Yu Shuyan untuk urusan bisnis.


Di halaman terlihat Ying sibuk berlatih, bergitu juga dengan Chuhua, Heiyu, serta Yubai. Namun, tidak terlihat Laohua maupun Shulong.


Chie terbang ke arah Weiruo begitu menyadari tuannya datang, burung tersebut tak hentinya mengeluskan kepalanya kepada Weiruo.


Ying segera menyadari kedatangan Weiruo dan menyambutnya.

__ADS_1


“Aku ingin melihat perkembangan latihanmu. Lawanlah Da Feng,” ucap Weiruo tiba-tiba.


__ADS_2