Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 75-Seorang Teman


__ADS_3

“Tuan Putri!”


Cen Dou berlari ke arah Weiruo yang baru saja melangkah keluar dari hutan. Pria tersebut terlihat begitu khawatir dan waspada di saat bersamaan.


Para prajurit termasuk Cen Dou terkejut ketika binatang spiritual yang sebelumnya menyerang dengan buas tiba-tiba saja berhenti menyerang dan mundur secara teratur ke dalam hutan.


Cen Dou dan para prajurit tentu senang karena serangan berhenti. Namun, mereka langsung khawatir karena Weiruo berada di dalam hutan.


Untung saja Weiruo tidak terluka parah, gadis tersebut berjalan dengan santai ke arah Cen Dou hanya hampir menangis karena khawatir.


Weiruo meminta semua prajurit untuk kembali ke kota dan memulihkan diri mereka.


Kedatangan mereka disambut oleh walikota dan penduduk kota yang lain. Sorak sorai penuh kebahagiaan menyambut para prajurit yang kembali ke dalam kota.


Walikota menyambut Weiruo dan menawarkan agar Weiruo bermalam di kediamannya, walikota menjelaskan dirinya akan memberikan yang terbaik agar Weiruo nyaman.


Weiruo mengiyakan, ia berencana tinggal hingga esok dan membantu pemulihan kota walaupun tidak seberapa.


Weiruo tidak langsung beristirahat, ia membantu penduduk kota memulihkan diri mereka akibat kurangnya gizi dalam beberapa waktu terakhir.


Setelah memastikan semua prajurit mendapat perawatan, barulah Weiruo beristirahat di kamar yang telah disiapkan oleh walikota. Kamar tersebut luas dan memiliki banyak perabot mewah di dalamnya.


Pagi datang begitu cepat, Weiruo bahkan tidak sempat menikmati tidur walau untuk sesaat.


Walikota sedikit enggan membiarkan Weiruo kembali ke ibukota, ia merasa sambutan darinya tidaklah pantas untuk Weiruo. Berkali-kali walikota meminta maaf pada Weiruo karena merasa apa yang disediakan di kediamannya tidak cukup untuk Weiruo seorang.


Penduduk kota mengantar kepergian Weiruo, banyak dari mereka yang menangis haru, tidak sedikit dari mereka yang mengucapkan terima kasih karena berkat bantuan Weiruo anggota keluarganya berhasil menyambut hari esok.


Weiruo meninggalkan kota bersama Baise, kuda tersebut berlari meninggalkan kota dengan begitu cepat dan masuk ke dalam hutan.


“Tuan....”


Guazi melangkah keluar dari balik pohon besar, pemuda tersebut menatap Weiruo dengan tatapan polosnya, ia tak ubahnya anak kecil yang ditinggal oleh orang tuanya sendirian.


“Aku akan kembali ke rumahku, apa kau ikut?” tanya Weiruo.


“Tentu! Saya akan mengikuti ke manapun anda pergi!”


Guazi memanggil kesepuluh binatang spiritual pilihannya, mereka berjalan keluar dari persembunyian mereka mendekati Weiruo.


Weiruo melarang Guazi menggunakan wujud harimaunya ketika berada di kota, keberadaan siluman cukup di waspadai sehingga akan berbahaya bagi Guazi jika menggunakan wujud harimau ataupun setengah harimaunya.


Guazi mengangguk-angguk paham dan berjanji akan melakukan perintah Weiruo.

__ADS_1


Mereka segera berangkat dengan Weiruo sebagai pemimpin, Guazi menunggangi salah satu binatang spiritual dan berada di samping gadis tersebut sepanjang perjalanan.


Butuh waktu tiga hari sebelumnya ketika ingin pergi ke Kota Sinyu, kali ini karena tidak banyak beristirahat mungkin mereka bisa tiba lebih cepat dari sebelumnya.


Weiruo menarik tali kekang Baise agar kuda tersebut mengurangi kecepatan larinya.


Sosok misterius berdiri di tengah jalan yang harus mereka lewati, sosok tersebut diam tidak berbicara, hanya diam berdiri menghadap ke arha rombongan Weiruo.


“Hei! Menyingkir—“


“Bisakan anda menepi?” potong Weiruo.


Sosok tersebut tidak menjawab, ia diam tidak sedikitpun memberi respon pada Weiruo.


Weiruo waspada, jika sosok tersebut berniat bertarung, mungkin dia bisa menang dengan jumlah yang sekarang.


Sosok tersebut akhirnya bergerak. Namun, hanya satu langkah sebelum tubuhnya terhuyung dan jatuh ke tanah begitu saja


Weiruo menaikkan alisnya, gadis tersebut memeriksa sekitar dengan auranya, memastikan tidak ada orang lain selain mereka. Setelah dirasa aman Weiruo turun dari Baise dan menghampiri sosok tersebut.


Dengan hati-hati menyingkirkan topi bambu sosok tersebut, ia melihat ke jalan yang baru saja dilalui sosok tersebut, banyak bercak darah menghiasi tanah.


Weiruo membuka cadar yang menutupi wajah sosok tersebut. Paras yang begitu cantik, Weiruo memujinya dalam hati.


Wajah wanita tersebut pucat, bibirnya penuh bercak darah dengan beberapa luka menggores wajahnya.


“Guazi, kemari!”


“Baik, Tuan.”


Guazi turun dari serigala tunggangannya, dengan perintah Weiruo ia membawa tubuh wanita tersebut ke tempat teduh di bawah pohon rindang.


Weiruo memasukkan sebuah pil ke mulut wanita tersebut dan mengalirkan tenaga dalam untuk membantunya memulihkan diri.


Butuh waktu cukup lama hingga wanita tersebut siuman, ia kebingungan melihat Weiruo yang duduk di sampingnya. Wanita tersebut melamun melihat Weiruo yang sibuk dengan obat racikan di depannya.


“Bagaimana kondisimu?” tanya Weiruo tanpa menoleh.


“Baik. Kau yang menolongku, Nona?” wanita tersebut balik bertanya.


“Ya, kau pingsan di tengah jalan.”


Wanita tersebut mengganti posisinya agar lebih nyaman, rasa nyeri di pundak kirinya membuat wanita tersebut mendesis pelan. Namun, wanita tersebut sadar jika rasa sakitnya tidak separah sebelumnya.

__ADS_1


“Apa mereka semua berada di bawah kekuasaanmu?” tanyanya setelah melihat sekitar dan melihat sepuluh binatang spiritual beristirahat tidak jauh dari lokasi mereka.


“Begitulah. Minum ini.”


Wanita tersebut menerima secangkir teh dari Weiruo, aromanya begitu menenangkan penuh dengan aroma herbal. Ia menyeruput teh tersebut, sensasi hangat melewati tenggorokannya, rasanya begitu nyaman dan menyegarkan.


“Kau tidak takut aku meracuninya?” Weiruo tersenyum tipis.


“Tidak. Aku percaya padamu dalam sekali lihat.”


“Bagaimana jika penglihatanmu salah?” Weiruo memainkan belati kecil di tangannya.


“Ya ... aku sangat yakin dengan diriku.”


Weiruo tertawa kecil, ia mengeluarkan sepotong roti dari dalam cincin ruang dan memberikannya pada wanita tersebut.


Guazi yang melihat dari kejauhan buru-buru mendekati Weiruo dan meminta roti yang sama dengan yang Weiruo berikan pada wanita tersebut.


“Siapa namamu, Nyonya?”


“Xing Jinzi. Lalu siapa namamu, Nona?”


“Weiruo, Xuan Weiruo.”


Xing Jinzi menggoyangkan cangkir tehnya pelan, ia berusaha mengingat-ingat sesuatu.


“Putri Mahkota Kekaisaran Xifeng?”


“Ya. Lupakan identitas itu, aku sedang berada di luar istana.”


Weiruo bersandar pada pohon dan menghembuskan napas pelan. Setelah meneguk habis teh miliknya, Weiruo bertanya pada Xing Jinzi ke mana wanita tersebut berencana pergi.


“Aku hanya seorang pengembara, tujuan selanjutnya ... aku belum menentukan.”


“Sepertinya ada banyak tempat yang ingin kau kunjungi.”


Xin Jinzi mengiyakan ucapan Weiruo dan tertawa kecil, ia menjelaskan ingin melihat berbagai tempat di dunia. Ia sangat ingin menikmati banyak pengalam dari berbagai tempat yang berbeda.


“Aku pernah ke Kota Zhongxin ketika masih kecil, itu sudah sangat lama, aku ingin ke sana setelah ini.”


“Ingin pergi bersama?”


“Ide bagus. Apakah kita seorang teman sekarang?”

__ADS_1


“Ya, mungkin seperti itu.”


Xing Jinzi tersenyum tipis, wanita tersebut kemudian sedikit menceritakan pengalamannya selama berkelana selama bertahun-tahun pada Weiruo dan menghabiskan waktu cukup lama bersama.


__ADS_2