
Walikota menjelaskan gejala awal yang dirasakan oleh penduduk yang terjangkit wabah.
Awalnya mereka akan megalami gatal ringan yang berlanjut ke demam tinggi. Selain demam juga muncul bercak hitam di sekitar wajah mereka.
Walikota sudah mengisolasi kota sehingga tidak sembarang orang dapat keluar masuk kota dengan bebas. Selain itu walikota juga menyiapkan bangunan yang khusus digunakan untuk merawat penduduk dengan kondisi kritis.
Setelah mengetahui asal dari wabah yang menyerang kotanya, walikota melarang penduduk kota menangkap ikan di danau dan menggunakan air dari danau tersebut, terlebih untuk mereka yang tinggal di dekat danau.
Air danau tidak terlihat berbahaya, bahkan warnanya masih seperti danau pada umumnya, airnya jernih bahkan masih terlihat ikan-ikan kecil berenang di tepian danau.
Weiruo mengambil sedikit air dengan tangannya, setelah memeriksa cukup lama akhirnya Weiruo menyadari jika air di danau benar-benar tercampur oleh racun. Ikan-ikan kecil yang berenang di tepi danaupun nyatanya merupakan jenis ikan yang tahan dengan air beracun.
“Apa sebelum terjadi wabah ada hal aneh dari danau ini?” tanya Weiruo.
“Tidak. Danau terlihat baik-baik saja. Aku sudah menanyai penduduk yang tinggal di sekitar danau, mereka juga tidak melihat keanehan sebelum wabah menyebar,” jelas walikota.
“Da Feng, coba cek ke dalam.”
Da Feng menuruti perintah Weiruo, pemuda tersebut melepas pakaian luarnya dan menelan sebuah pil sebelum masuk ke dalam air.
“Apakah dia akan baik-baik saja?” tanya walikota khawatir melihat Da Feng yang dengan tenang masuk ke dalam danau.
“Aku tidak akan menyuruhnya demikian jika terlalu berbahaya.”
Tidak berselang lama Da Feng muncul ke permukaan air untuk mengambil napas, segera pemuda tersebut berenang ke tepian.
“Sepertinya ada bangkai binatang spiritual beracun di dasar danau.” Da Feng menunjuk ke satu arah.
Da Feng kemudian menjelaskan jika ukuran bangkai binatang spiritual tersebut terlalu besar jika hanya diangkat olehnya, letaknya pun juga terlalu dalam dan berada di sela-sela batuan di dasar danau.
Weiruo kemudian meminta walikota untuk mengumpulkan orang yang mampu berenang, terutama pria.
Walikota tidak menunda waktu lebih lama dan segera memrintahkan para prajurit untuk berkumpul.
Mereka memiliki tubuh yang cukup bagus, tapi Weiruo masih kurang yakin apakah mereka dapat membantu atau tidak.
Mereka melepas zirah karena tahu akan menyulitkan ketika menyelam nanti.
__ADS_1
Da Feng membagikan tali yang nantinya akan digunakan untuk mengangkat bangkai binatang spiritual nanti. Tidak lupa Weiruo juga memberikan masing-masing dari mereka pil anti racun.
Para prajurit segera masuk ke dalam danau bersama Da Feng yang memimpin mereka.
Di luar danau selain Weiruo serta walikota, ada belasan penduduk yang melihat dari kejauhan karena begitu penasaran dengan apa yang dilakukan oleh walikota mereka.
Weiruo sesekali melihat mereka, merasakan tatapan aneh dari sekumpulan ornag yang melihat tidak jauh darinya.
“Sepertinya anda merasa tidak nyaman dengan tatapan mereka,” ucap walikota setelah melihat Weiruo yang terlalu sering melihat ke arah sekelompok orang yang melihat dari kejauhan.
Sikap walikota menjadi lebih hormat mengetahui jika Weiruo berniat membantu kotanya.
“Tidak.”
Weiruo lebih memilih untuk mengabaikan semua itu dan memperhatikan danau yang terlihat begitu tenang.
Tidak berselang lama Da Feng muncul ke permukaan bersamaan dengan belasan prajurit yang masuk ke dalam air.
‘Ukurannya terlalu besar dan berat, mustahil membawanya ke permukaan.’
Da Feng menyampaikan kondisi di dasar danau melalui telapati.
Da Feng mengangguk paham dan memberi perintah agar belasan prajurit tersebut kembali ke daratan.
Weiruo mengeluarkan sebuah kertas dan menulis surat di atasnya sembari menunggu Da Feng kembali.
“Setelah beristirahat antar surat ini pada Ayahku, lalu minta Shulong untuk segera kemari.”
Weiruo menyerahkan surat yang sudah ia tulis kepada Da Feng. Karena mengambil bangkai binatang spiritual tersebut terlalu beresiko, Weiruo berencana untuk mengobati penduduk kota terlebih dahulu.
Namun, niat baik Weiruo sepertinya tidak ditanggapi dengan baik oleh penduduk kota, tatapan sinis dari orang-orang di sekitar dapat Weiruo rasakan dengan jelas.
“Sepertinya mereka masih teringat dengan masalah dua minggu yang lalu,” ucap seorang pemuda yang menjadi pasien pertama Weiruo.
“Apa yang terjadi?” tanya Weiruo.
Karena banyak yang menolak Weiruo ketika gadis tersebut ingin memeriksa mereka, pemuda tersebut lah satu-satunya yang mengajukan diri agar Weiruo memeriksanya.
__ADS_1
Pemuda tersebut menjelaskan jika dua minggu yang lalu ada sekelompok besar pendekar yang membuat kekacauan di kota, menyebabkan banyak kerusakan yang merugikan penduduk kota sehingga hampir seluruh penduduk kota menolak kehadiran pendekar sampai saat ini.
Setelah memeriksa pemuda tersebut Weiruo memberikannya sebutir pil.
“Ini akan meredakan rasa sakitnya. Aku akan membuat banyak pil obatnya nanti.”
Weiruo berbalik pada orang-orang yang tebrbaring lemah di tempat tersebut, terlihat jelas mereka menolak keberadaan Weiruo karena masih merasa sakit hati dengan perbuatan sekelompok pendekar dua minggu yang lalu.
Weiruo melepas topengnya dan menunjukkan sebuah tanda pengenal, sontak semua yang ada di tempat tersebut terbelalak kaget.
“Jika kalian tidak percaya dengan para pendekar, maka kalian harus percaya dengan Tuan Putri kalian ini.”
Weiruo mendatangi seorang pria, kemudian membuka mulutnya dengan paksa dan memasukkan sebuah pil untuk meredakan rasa sakit.
Sebelum Weiruo melakukan hal yang sama pada mereka, para pasien lain langsung membuka mulut mereka begitu Weiruo tiba di samping tempat tidur mereka. begitu seterusnya hingga semua mendapat pil dari gadis tersebut.
Weiruo segera pergi setelah semua orang di bangunan tersebut meminum pil darinya. Gadis tersebut pergi ke kediaman walikota untuk membuat obat penawar.
***
Shulong serta Da Feng tiba di kota setelah dua hari berlalu, mereka juga datang bersama kereta kuda berisi bantuan dari kaisar.
Sebenarnya shulong bisa saja menggunakan wujud naganya, tapi ia ingat jika Weiruo melarangnya membuka identitas begitu saja.
Setibanya di kota rombongan Da Feng segera disambut oleh walikota. Kondisi kota juga perlahan membaik terutama kesehatan para penduduk yang sudah kembali berkat bantuan Weiruo.
Shulong pergi ke danau bersama Weiruo dan Da Feng. Setelah mendapat sedikit penjelasan, pria tua tersebut masuk ke dalam danau.
Tidak butuh waktu lama bagi Shulong untuk mengambil bangkai binatang spiritual tersebut, tidak sampai sepuluh menit Shulong keluar dari air dengan bangkai ikan raksasa di tangannya.
Walikota tidak bisa menutup rasa terkejutnya melihat Shulong menyeret ikan dengan besar lima kali ukuran beruang dewasa tanpa masalah sedikitpun.
Bau amis ikan langsung tercium begitu ikan tersebut dibawa ke permukaan, belum lagi bau busuk dari kantung aneh yang keluar dari kulit ikan tersebut.
“Ikan Seribu Duri, aku pernah melihatnya sekali dulu,” ucap Da Feng.
“Tubuhnya sudah hancur sebagian.”
__ADS_1
Weiruo mengecek ikan raksasa tersebut, tubuh ikan tersebut sudah hilang hampir separuhnya, dan dilihat dari bentuk dagingnya yang hancur, Weiruo langsung mengerti jika ikan tersebut diserang oleh makhluk yang lebih besar.