Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 42-Harimau Putih Dan Phoenix


__ADS_3

“Khiee!”


Seekor burung dengan bulu merah menyala mendarat di atas patung, ukurannya setara dengan pria dewasa, matanya menatap tajam semua orang yang ada di sana.


“Burung kecil, kemana saja dirimu ketika Tuanmu terluka?” celetuk Laohua.


“Diamlah kucing bodoh,” sahut Chie kesal.


“S-siapa kalian?” tanya Ca Hongqi waspada.


Pria tersebut merasa begitu tertekan oleh aura milik Laohua, ditambah keberadaan Chie membuatnya kesulitan menjaga posisinya.


Aura milik Laohua begitu menekan siapapun yang ada di sana, belum lagi dengan aura milik Chie, keduanya melepaskan tekanan yang begitu luar biasa.


“Berani sekali kau bertanya ketika aku masih berbicara.”


Laohua berjalan mendekati Ca Hongqi, menarik tangan pria tersebut dan melepas genggamannya dari Weiruo. Ca Hongqi tidak bisa melepaskan tangannya dari Laohua, ketika Ca Hongqi berusaha keras menarik tangannya, Laohua melempar pria tersebut hingga menghantam tembok dengan begitu keras.


Darah segar mengalir dari sudut bibir Ca Hongqi, pria tersebut langsung memerintahkan anggota sektenya untuk menyerang Laohua.


Kedua tetua langsung menyerang Laohua dengan sekuat tenaga. Namun, Laohua dapat dengan mudah menghindari tiap serangan dan menyerang balik, kedua tetua tersebut mengalami luka dalam setelah mendapat satu pukulan dari Laohua.


Sementara itu Chie mengepakkan sayapnya dan melepaskan bulu-bulu ke arah pada murid sekte yang berusaha mendekati Weiruo.


Sedetik setelah mengenai tubuh musuhnya, bulu tersebut berubah menjadi api yang membakar musuh dengan begitu ganas.


Teriakan panik keluar dari mulut murid Sekte Teratai Emas, sebagian melepas jubah luar mereka yang terbakar oleh api milik Chie.


Chie mengepakkan sayapnya sekali lagi, menciptakan angin yang begitu kuat sehingga membuat semua orang terlempar jauh ke belakang.


Sementara api miliknya melahap musuh dengan ganas, Chie mendekati Weiruo, mengelus kepalanya ke tubuh Weiruo dan menciptakan sebuah api yang menyelimuti gadis tersebut.


Berbeda dengan api yang ia gunakan untuk menyerang, api tersebut perlahan menyembuhkan luka-luka yang dialami oleh gadis tersebut.

__ADS_1


Ca Hongqi yang melihat itu terbelalak tidak percaya. Api penyembuhan hanya ada satu di seluruh dunia, Api Phoenix, yang hanya dimiliki oleh Burung Phoenix yang legendaris, satu dari empat binatang suci yang menjaga empat arah mata angin.


Legenda empat binatang suci yang agung, sudah ratusan tahun sejak terakhir kali mereka terlihat oleh manusia.


“Sedang melamun apa?”


Ca Hongqi diam mematung mendengar suara itu, ketika menoleh Laohua sudah ada di sampingnya, dengan senyuman tipis yang penuh arti.


Sebuah pukulan mendaratdi perut Ca Hongqi, pria tersebut dapat merasakan dengan jelas jika tulang rusuknya mengalami keretakan, tidak lama Ca Hongqi kehilangan kesadarannya.


Pertarungan belum berakhir, keributan yang dihasilkan oleh pertarungan sebelumnya menarik perhatian para tetua serta murid sekte sehingga begitu banyak orang kini sudah tiba dan mengepung mereka.


Laohua tersenyum tipis melihat begitu banyaknya orang yang datang, gadis tersebut mengumpulkan tenaga dalam sebelum melepaskan auman keras yang dipenuhi oleh energi miliknya.


Semua orang langsung menutup telinga mereka begitu mendengar auman Laohua, tapi sekuat apapun mereka menutup telinga serta menahan auman Laohua dengan tenaga dalam tidak ada satupun dari mereka yang bertahan lama hingga akhirnya jatuh pingsan satu per satu.


Laohua menatap langit malam yang gelap, suasana begitu sunyi karena semua orang dalam kondisi tidak sadarkan diri dan hanya dirinya serta Chie yang tersisa.


“Dia seharusnya segera datang, aku sudah menahan kekuatanku.”


Tubuh Laohua bersinar, kemudian ketika sinar menghilang Laohua kembali ke wujud semulanya, begitupun dengan Chie.


Sesaat setelah kembali ke wujud semulanya Laohua jatuh pingsan.


***


Da Feng melompat ke atas atap bangunan di depannya, pemuda tersebut sudah berpisah cukup jauh dengan Weiruo dan berharap Weiruo dapat menghadapi orang-orang yang mengejarnya.


Seorang pria dengan tubuh kekar dengan gesit menyusul Da Feng, dengan pedangnya yang besar pria tersebut menyerang Da Feng.


Da Feng segera menghindar dan menarik keluar pedangnya, pertarungan sengit akhirnya terjadi.


Awalnya Da Feng tidak kesulitan karena hanya melawan pria tersebut, tapi pergerakannya mulai terbatas ketika yang lain ikut menyerangnya.

__ADS_1


Da Feng bertahan dengan cukup baik, ketika ada celah ia berhasil memotong lengan salah satu murid sekte yang berusaha menyerangnya.


Pria kekar yang menyerang Da Feng tentu saja murka melihat muridnya kehilangan lengan kanannya akibat Da Feng. Pria tersebut kemudian mengeluarkan auranya untuk menekan Da Feng.


Serangan demi serangan berhasil Da Feng tahan, di saat bersamaan ia juga berhasil menyerang balik pria tersebut.


Sebuah serangan berhasil ditahan, tapi Da Feng juga kehilangan keseimbangan karena serangan tersebut dialiri tenaga dalam dengan jumlah yang begitu besar. Da Feng terdorong ke samping, melihat kesempatan itu pria kekar tersebut kembali melancarkan serangan dan berhasil melukai lengan Da Feng.


“Menyerahlah,” ucap pria kekar tersebut.


“Untuk apa aku menyerah pada orang-orang seperti kalian.”


Melihat senyum Da Feng membuat pria tersebut murka, ketika hendak melancarkan serangan berikutnya terdengar suara auman yang begitu keras.


Mereka segera menutup telinga karena auman tersebut berlangsung cukup lama dan mengandung tenaga dalam yang membuat mereka mengalami tekanan.


Energi di dalam auman tersebut begitu besar sehingga setiap ornag yang mendengarnya kesulitan untuk menjaga kesadaran mereka.


Memanfaatkan kesempatan tersebut Da Feng melakukan tebasan ke arah leher pria di hadapannya saat ini. Karena tekanan dari auman yang masih berlanjut pria tersebut telat menyadari serangan Da Feng dan tewas seketika setelah bilah pedang Da Feng menebas leher pria tersebut.


Tidak lama kemudian auman berhenti, orang-orang yang mengepung Da Feng jatuh tak sadarkan diri sehingga pemuda tersebut dapat bernapas lega.


Da Feng tidak punya banyak waktu karena mungkin saja Weiruo kesulitan menghadapi musuh yang datang, terlebih setelah adanya auman tadi mungkin saja Weiruo juga terkena efek tekanannya.


Setelah cukup lama mencari akhirnya pemuda tersebut menemukan keberadaan Weiruo.


“Apa yang terjadi di sini?” Da Feng turun dan menghampiri Weiruo yang berusaha untuk berdiri.


“Akan kuceritakan nanti, kita harus pergi dari tempat ini secepatnya sebelum mereka sadar.”


Da Feng menuruti perintah Weiruo, ia menggendong Laohua sedangkan Weiruo membawa Chie.


Sepanjang jalan mereka menuju jalan keluar tidak ada orang lain yang mengejar seperti sebelumnya, yang mereka temukan hanyalah begitu banyak orang pingsan di semua tempat yang ada di sekte tersebut.

__ADS_1


Da Feng jelas heran dengan kondisi tersebut, tapi di saat bersamaan juga merasa sennag karena dengan begitu mereka bisa keluar dari Sekte Teratai Emas tanpa kesulitan.


Keduanya pergi menjauh, menghilang dalam gelapnya malam.


__ADS_2