
Waktu terus berjalan, jam berganti jam, hari berganti hari. Entah sudah berapa lama Weiruo berada di dunia ingatannya ini. Sampai kapan? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Weiruo.
Sampai kapan dirinya melihat gadis kecil itu disiksa? Sampai kapan dia menahan diri agar tidak berteriak dan menangis? Perlahan pikirannya kosong.
Hari ini mungkin sedikit lebih tenang, ayahnya tidak berada di rumah, entah ke mana perginya pria tersebut.
Weiruo kecil berjalan-jalan di sekitar gang rumahnya, gang kecil di ujung kota yang kumuh. Bau alkohol sudah tidak asing di hidung kecilnya.
‘Ini ... ingatan yang mana?’ tanya Weiruo dalam batinnya.
Ia tidak terlalu ingat dengan kenangan masa kecilnya, kecuali siksaan dari sang ayah yang hampir tidak pernah absen setiap harinya.
“Nona kecil, mau ke mana?”
Weiruo kecil menghentikan langkah kakinya begitu seorang wanita dari arah berlawanan bertanya demikian.
“Hanya jalan-jalan, Bibi.”
“Begitu. Itu ... bisa bantu aku mengambil kunci yang jatuh di selokan? Tanganku tidak bisa meraihnya karena besi penutupnya.”
“Tentu!”
Weiruo kecil mengikuti wanita tersebut ke sebuah selokan di pinggir jalan.
“Di mana kuncinya?” tanya Weiruo kecil karena tidak menemukan kunci di bawah sana.
“Mungkin sedikit tertutup lumpur, tadi masih di sana.” wanita tersebut merogoh tasnya mencari sesuatu.
Weiruo kecil menunduk lebih bawah agar dapat melihat lebih jelas, sayangnya tidak ada kunci di dalam selokan tersebut.
“Bibi—hmph!”
Wanita tersebut mengencangkan cengkramannya pada Weiruo kecil dan semakin menekan kain yang ia gunakan untuk menutup mulut Weiruo.
“Tunggu! Ini tidak ada di ingatanku!” teriak Weiruo.
Ia berusaha meraih Weiruo kecil. Namun, tidak berhasil seperti biasa.
Tidak berselang lama Weiruo kecil akhirnya tidak sadarkan diri. Beberapa orang pria turun dari mobil yang terparkir di pinggir jalan.
Weiruo tidak bisa melakukan apapun selain melihat. Namun, ia yakin kejadian ini tidak ada di ingatannya. Ada sesuatu yang salah, ingatannya telah berubah.
“PERSETAN DENGAN INGATAN!”
Weiruo melepas energi yang luar biasa besar hingga menyebabkan gempa ringan. Semua yang ada di sana terkejut, menatap Weiruo secara bersamaan sedetik setelah teriakannya terdengar.
Suara retakan entah dari mana terdengar. Dunia ingatan tersebut membeku, semuanya diam seketika. Retakan muncul sedikit demi sedikit hingga akhirnya dunia tersebut hancur dan Weiruo kembali ke ruang gelap tanpa batas.
Kesadaran Weiruo mulai menghilang perlahan, ia tidak bisa bergerak dan hanya mengambang di udara kosong begitu saja.
Setitik cahaya bergerak ke arahnya, perlahan wujudnya berubah ketika ia semakin dekat dengan Weiruo.
Seekor ikan koi berwarna emas. Tubuhnya tidak terlalu besar, tapi memiliki ekor lebar yang bergerak gemulai di udara.
__ADS_1
Ikan koi tersebut semakin mendekat hingga akhirnya tiba di hadapan Weiruo. Mata merahnya memandangi Weiruo sejenak sebelum ia berenang menembus dada gadis tersebut.
Pandangan Weiruo gelap. Namun, tidak berlangsung lama karena ia segera membuka matanya kembali.
Weiruo berusaha mengatur napasnya kembali, dadanya terasa sedikit sesak dan pikirannya begitu kacau. Matanya menyapu sekitar, mendapati ruangan tersebut nampak kacau karena energi yang dilepaskan olehnya.
Ia bangkit dan membersihkan pakaiannya dari debu. Entah berapa lama dia berada dalam latihan tertutup. Sepertinya sekarang masih siang hari karena masih ada cahaya yang masuk dari sela-sela dinding kayu.
Ketika membuka pintu, sosok Da Feng menyambutnya, pemuda tersebut tersenyum tipis melihat Weiruo keluar dalam keadaan baik-baik saja.
“Apa roh bela diri yang kau bentuk?” tanyanya.
“Seekor ikan!”
Energi keemasan muncul di sekitar Weiruo sebelum membentuk wujud seekor ikan koi berwarna emas. Ikan tersebut melayang mengitari Weiruo seolah begitu senang bisa muncul di hadapannya.
Sementara Weiruo asik bermain dengan roh bela dirinya, Da Feng menunjukkan ekspresi lain.
Sedikit kecewa mungkin? Atau kasihan? Da Feng bingung harus mengatakan apa. Namun, melihat Weiruo yang senang membuatnya memilih untuk diam.
“Umm ... ada hal penting yang ingin kusampaikan,” ujar Da Feng ragu.
“Apa itu?”
“Kita kembali dahulu. Akan kujelaskan di ruangan kita.”
Weiruo menaikkan alisnya heran. Namun, tidak bertanya dan mengikuti pemuda tersebut kembali ke gedung utama tempat pelatihan.
“Dinding energi?” Weiruo menyadari Da Feng memasang dinding energi di sekitar ruangan mereka sekarang, entah apa tujuan pemuda di hadapannya itu.
“Berjanji?”
“Ya."
"Baiklah."
Da Feng mengepalkan tangannya, ingin mengucapkan sesuatu. Namun, begitu ragu.
“Katakan!” perintah Weiruo.
“Ini ... tentang Yinyi,” ucap Da Feng lirih.
“Ada apa dengannya?”
Weiruo ikut tegang, apa yang terjadi pada Yinyi hingga Da Feng bersikap demikian?
“Dia ... dia tewas, demi melindungi Yang Mulia Permaisuri.”
Da Feng langsung menahan napasnya begitu energi membunuh yang begitu kuat memenuhi ruangan. Dia tahu akhirnya akan seperti ini, sebab itulah dirinya memasang dinding pelindung agar aura membunuh Weiruo tidak menyebar terlalu luas.
“KATAKAN PADAKU! SIAPA PELAKUNYA?!”
Kerah pakaian Da Feng dicengekeram begitu erat dan ditarik kasar oleh Weiruo, kemarahan terlihat jelas di mata gadis tersebut.
__ADS_1
“Gun Donghai dari Sekte Laut Darah. Aku telah menyelidikinya, alasan penyerangan itu karena pertikaian dengan seorang pendekar aliran putih.”
“Hilangkan dinding pelindung ini!”
“Tarik aura membunuhmu!” Da Feng menggenggam erat tangan Weiruo.
Aura membunuh Weiruo perlahan mulai menipis. Namun, tidak bisa hilang sepenuhnya.
Da Feng melepaskan genggamannya dari Weiruo, langsung saja gadis tersebut melompat keluar dari jendela.
“Ukh!”
Setetes darah jatuh ke lantai, Da Feng segera menyeka sudut bibirnya. Dia tak pernah merasakan aura membunuh itu sebelumnya. Aura membunuh itu benar-benar kuat dan penuh kebencian, tak pernah sebelumnya ia merasakan aura membunuh dari Weiruo yang sekuat itu.
Namun, mengesampingkan itu, Da Feng langsung menyusul Weiruo ke istana.
Di sisi lain Weiruo sudah tiba di istana. Begitu tiba ia bisa merasakan dengan jelas perubahan atmosfer di rumahnya itu.
Para penjaga menyambutnya. Namun tak banyak bicara karena merasakan tekanan yang begitu kuat dari gadis tersebut.
Weiruo berlari ke kediaman ibunya. Begitu tiba, dirinya langsung disambut oleh sosok ibundanya tercinta, yang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan mata sembab dan kondisi yang acak-acakan.
“Ibu...,” panggil Weiruo pelan.
“Putriku? Putriku!” Xuan Riuyi segera bangkit dari posisinya. Dengan bantuan pelayan, wanita tersebut berjalan susah payah menhampiri Weiruo.
“Putriku ... Yinyi ... dia kehilangan nyawanya demi Ibu! Yinyi....”
Tubuh lemah Xuan Riuyi jatuh ke lantai. Weiruo langsung menahannya, tubuh ibunya bergetar, tangisnya tak henti terus menyebutkan nama Yinyi.
“Yinyi ... putri kecilku!”
Weiruo memeluk Xuan Riuyi, ia tahu betul alasan ibunya begitu histeris. Bagaimana tidak, Yinyi sudah bersama dengannya sejak kecil, selalu bersama dengannya. Yinyi tumbuh besar bersamanya, Xuan Riuyi sudah menganggap Yinyi sebagai putri keduanya, tidak enggan memberikan kasih sayang padanya.
Kini Yinyi tewas demi dirinya, tentu membuat Xuan Riuyi mengalami syok dan trauma.
“Ibu, aku ingin melihat Yinyi untuk terakhir kalinya.”
Weiruo melepas pelukan ibunya perlahan, meminta pelayan menjaga ibunya sebelum pergi meninggalkannya.
Keluar dari kamar sang ibu, Da Feng sudah menunggu di luar. Namun, Weiruo mengabaikannya dan terus berjalan ke aula.
Tubuh Yinyi masih disimpan di sana, para prajurit mengatakan jika Yinyi akan dimakamkan setelah upacara penghormatan untuknya selesai.
Weiruo membuka peti tempat tubuh Yinyi disimpan. Wajah pucat Yinyi menyambutnya begitu Weiruo membuka peti tersebut. Wajah pucat pasi yang dingin dan kaku.
“Da Feng,”panggilnya.
“Ya?”
“Panggilkan pelukis terbaik di ibukota! Aku mau dia datang hari ini juga! Jika dia menolak penggal kepalanya!”
“B-baik!”
__ADS_1
Da Feng pergi meninggalkan Weiruo. Gadis tersebut menatap tubuh kaku Yinyi, butiran bening melewati pipinya, ia menangis.
Seorang diri, menangis tanpa suara tanpa satupun orang tahu.