
Hutan Kabut, hutan luas yang dihuni ribuan binatang spiritual. Hutan yang sangat berbahaya jika dimasuki oleh manusia biasa.
Semakin dalam melangkah, maka semakin bahaya pula binatang spiritual yang ada di sana.
Di tengah hutan yang gelap, sosok Weiruo dengan pedang berlumur darah berdiri di gundukan jasad binatang spiritual yang baru saja dihabisi olehnya. Weiruo mengusap wajahnya kasar, rasanya ingin sekali mencakar wajahnya sendiri saking frustasinya gadis tersebut.
Kekuatan yang selama ini ia miliki, apa tujuannya memiliki kekuatan itu? Apa gunanya? Kepalanya begitu berisik, Weiruo melepaskan semua emosinya pada semua binatang spiritual di hutan tersebut.
“Apa gunanya aku memiliki kekuatan ini?!”
Weiruo memandangi langit malam yang gelap gulita, tidak ada bulan maupun bintang, mereka bersembunyi di balik awan gelap.
Dunia ini menganut hukum rimba, yang kuatlah yang berkuasa. Tidak hanya tentang uang, jika kau kuat apapun bisa kau dapatkan dengan mudah.
“Kuat ... aku akan menjadi kuat! Tidak akan kubiarkan siapapun menyentuh orang yang kusayangi! Aku akan membunuh mereka! Aku akan membunuh mereka semua!”
Tangan Weiruo mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya menembus kulit tangannya, tetesan daran jatuh mengenai tanah di bawahnya. Namun, Weiruo tidak peduli dengan rasa sakit itu, ia hanya berjalan semakin dalam ke dalam Hutan Embun, ke tempat terdalam yang paling ditakuti.
...***...
Da Feng melirik Weiruo yang sibuk membaca surat dari seekor burung pengantar surat yang baru saja tiba di kediaman Weiruo. Da Feng mengenali burung merpati tersebut sebagai milik Yu Shuyan, sepertinya pria tua tersebut mengirimi Weiruo surat lagi.
Setelah pertemuannya terakhir kali, Weiruo tidak menemui Yu Shuyan dan yang lain selama seminggu lamanya. Dia menghilang, tidak satupun surat Yu Shuyan yang dia balas sebanyak apapun ia mengirim.
Sebenarnya Da Feng mengikuti Weiruo selama seminggu itu. Namun, ia menjaga jarak sejauh mungkin dan hanya melihat dari kejauhan. Selama Weiruo tidak keluar dari wilayah kekaisaran, maka gadis tersebut masih bisa mengendalikan dirinya.
Weiruo membakar surat tersebut dan beranjak dari tempatnya. Sontak Da Feng langsung menghalangi langkah Weiruo.
“M-mau pergi ke mana?” tanyanya waspada.
“Aku akan menemui Senior Fu Cheng, tidak usah khawatir, aku hanya ingin mengobati putrinya. Aku akan pergi bersama Shulong, mungkin dia berniat kembali ke sana. Tidak usah ikut, aku tidak akan gegabah.”
“Baiklah.”
__ADS_1
Weiruo pergi meninggalkan Da Feng. Gadis tersebut menemui Shulong dan menjelaskan niatnya untuk menemui Fu Cheng.
Shulong menyetujui tanpa keraguan, karena Weiruo datang tengah malam, hanya Shulong yang mengetahui keberadaannya. Laohua dan Chie tengah berlatih tenaga dalam, sedangkan yang lain sudah tertidur pulas.
Weiruo langsung berangkat malam itu juga. Dengan kecepatan yang mereka miliki, tidak butuh waktu yang lama untuk tiba di Sekte Cakar Naga.
Kedatangan Weiruo cukup mengejutkan Fu Cheng karena lebih cepat dari perkiraan sehingga ia tidak sempat menyiapkan sambutan untuknya.
“Tidak usah terlalu dipikirkan Senior Fu, lebih baik anda membawa saya pada Nyonya Fu Yaran.”
Fu Cheng segera mengantar Weiruo ke kediamannya, sedangkan Shulong, ia tidak ikut, melainkan pergi ke Gunung Naga. ‘Ingin mengenang tempat persembunyian,’ begitulah ucapnya.
Begitu tiba di kamar putri Fu Cheng, Weiruo disambut dengan aroma kurang sedap yang memenui ruangan tersebut.
Fu Cheng melirik Weiruo sungkan, takut aroma yang ada di ruangan tersebut mengganggunya. Namun, melihat Weiruo yang tidak terlihat terganggu membuat Fu Cheng sedikit tenang.
“Nona Ruo, bau ini berasal dari putriku,” ujar Fu Cheng putus asa.
Weiruo memeriksa denyut nadi Fu Yaran yang begitu lemah, wanita tersebut tidak bisa bergerak dengan leluasa, matanya memandangi Weiruo dengan penuh harap.
“Ini salahku ... aku gagal melindunginya! Jika saja aku tidak membawanya!” Fu Cheng mengepalkan tangannya begitu kuat hingga kuku-kukunya menembus kulit, menyebabkan luka dalam yang mengeluarkan darah tanpa henti.
Weiruo berusaha menenangkan Fu Cheng. Walaupun tidak yakin bisa benar-benar menyelamatkan Fu Yaran, Weiruo berjanji akan melakukan yang terbaik.
Fu Cheng menyeka air matanya sebelum menceritakan awal mula putrinya berakhir seperti sekarang.
Tiga bulan yang lalu, entah ada angin apa, tiba-tiba saja Fu Yaran mengatakan jika ingin menjadi seorang pendekar seperti ayahnya.
Mendengar permintaan Fu Yaran tentu membuat Fu Cheng senang. Walaupun sudah terbilang terlambat bagi putrinya untuk menjadi seorang pendekar. Namun, Fu Cheng tidak peduli dan tetap melatih putri kesayangannya itu dengan hati-hati.
Lalu pada dua bulan setelah memulai latihan, Fu Cheng berniat mengajak Fu Yaran melihat lebih dekat tentang dunia pendekar di luar sana.
Namun, Fu Cheng lepas pengawasan pada Fu Yaran dan membiarkannya pergi seorang diri ketika dirinya disibukkan dengan surat mendadak dari salah seornag tetua sektenya.
__ADS_1
Fu Yaran yang pergi seorang diri bertemu dengan salah satu tetua dari Sekte Laut Darah. Kecantikan Fu Yaran membuat tetua Sekte Laut Darah tersebut tertarik padanya.
Sebagai salah seorang tetua sekte yang terkenal kekuatannya, ia tak ragu menggunakan identitasnya untuk membujuk Fu Yaran agar mau meminum segelas arak dengannya.
Tentu saja ajakan itu ditolak oleh Fu Yaran karena wanita tersebut tidak bisa minum minuman keras seperti itu.
Ajakan yang terus menerus ditolak membuat tetua Sekte Laut Darah tersebut kesal, pasalnya baru kali ini ajakannya ditolak mentah-mentah.
Tanpa keraguan ia akhirnya menyerang Fu Yaran. Untungnya Fu Cheng datang tepat waktu sehingga pria tersebut gagal membunuh Fu Yaran yang tak berdaya.
Namun, sekalipun Fu Cheng berhasil menghentikan pria tersebut untuk membunuh putrinya, sebuah racun mematikan telah tertanam di tubuh Fu Yaran.
Pada awalnya Fu Yaran hanya merasa tubuhnya semakin melemah. Namun, semakin lama aroma tak sedap keluar dari tubuh Fu Yaran dan wanita tersebut sering memuntahkan darah ketika batuk.
Fu Cheng berusaha mencari ahli pil terbaik untuk membantunya, hanya saja begitu sulit bagi Fu Cheng menemukan orang yang dapat menyembuhkan putrinya.
Awalnya Fu Cheng berniat meminta bantuan dari Lao Binyi, ahli pil yang digadang adalah yang terbaik di Benua Tiankong. Namun, Fu Cheng yakin wanita tua tersebut akan menolaknya karena dendam di antara mereka berdua.
“Dendam?”
“Benar. Akulah yang merusak separuh wajahnya itu.”
Weiruo menghembuskan napas pelan, wajah tak ubahnya harta bagi seorang wanita, dan Fu Cheng merusak wajah Lao Binyi, ahli pil terbaik Sekte Pedang Langit, sekaligus yang terbaik di Benua Tiankong. Tidak usah sampai meminta pertolongan, wanita tua tersebut pasti akan langsung membunuh Fu Cheng begitu bertemu dengannya.
“Racun Darah Iblis ini memang sulit untuk disembuhkan, sayapun baru pertama kali menangani ini.”
“Nona Ruo. Jika kau berhasil menyembuhkan Putriku, aku bersumpah akan membantumu kapanpun kau membutuhkannya! Aku akan langsung datang membantumu sejauh apapun itu!”
“Senior Fu jangan seperti itu. Bantuan anda selama ini juga sangat membantu saya.”
Weiruo kembali memeriksa Fu Yaran. Membantu Fu Yaran mungkin tidaklah seberapa, mengingat semenjak pertemuan terakhirnya dengan Fu Cheng dulu, Fu Cheng selalu memberikannya bantuan tanpa berpikir seberapa sulit dan merepotkannya itu.
Sikap Fu Cheng itulah yang membuat Weiruo menghormati Fu Cheng dan benar-benar menganggap Fu Cheng sebagai orang yang baik, jauh dari rumor yang selalu terdengar di telinganya.
__ADS_1