Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 86-Peperangan III


__ADS_3

Tanah yang sebelumnya hijau ditumbuhi oleh rerumputan kini memerah karena darah. Begitu banyak mayat bertumpuk, bau anyir menyebar di langit perang malam itu.


Seorang pria berdiri tegap di atas tumpukan jasad pendekar yang telah dihabisi olehnya.


Pedangnya berbalut darah, dengan senyum lebar pria tersebut memainkan pedang yang ada di tangannya.


Pandangannya jatuh pada sosok gadis yang berdiri di hadapannya. Ia tak menunjukkan rasa takut, memandang pria tersebut penuh dendam yang mendalam.


“Gadis muda, ingin melawanku?”


“Gun Donghai! Akan kupastikan jika nyawamu lenyap malam ini juga!” serunya.


Ia tak lain adalah Weiruo. Setelah begitu lama mencari akhirnya berhasil menemukan keberadaan Gun Donghai.


Pantas saja pria tersebut begitu ditakuti, melihat bagaimana kondisi mayat para pendekar Sekte Cakar Naga yang telah dibunuh olehnya membuat Weiruo cukup tahu betapa kejamnya pria tersebut.


“Hmph! Gadis muda, perlu seribu tahun bagimu untuk mengalahkanku!” Gun Donghai melepaskan energinya.


Weiruo mengeratkan genggaman pada pedangnya, malam ini dendamnya harus terbalaskan. Kematian Yinyi tidak akan pernah ia maafkan bahkan hingga ajal menjemputnya.


Pedang Weiruo menahan serangan Gun Donghai. Tubuhnya sedikit demi sedikit terdorong mundur, memaksanya untuk mundur dan menghindari serangan pria tersebut.


Tiga Peri Bulan, sebuah teknik berpedang yang terbagi menjadi tiga bagian. Weiruo melakukan gerakan pada bagian pertama, di mata gadis tersebut berputar dan memberikan serangan yang dihunuskan dengan cepat.


Gun Donghai tidak terlalu kesulitan untuk menghindari serangan Weiruo. Namun, pada hunusan terakhir pedang Weiruo berhasil menggores lengannya.


Luka tersebut tidak terlalu dalam, bahkan hanya setitik darah yang keluar sebelum luka tersebut sembuh begitu saja berkat kecepatan penyembuhan milik Gun Donghai.


“Heh, menarik!”


Sebuah roh bela diri berwujud kelelawar berjalan mendekat, bulu dan kulitnya berwarna hitam, matanya merah menyala dan memiliki 4 buah tangan.


Weiruo tidak gentar, walaupun roh bela diri milik Gun Donghai mengeluarkan energi membunuh yang begitu kuat, tapi Weiruo tidak terlihat ragu untuk kembali bertarung.


Dengan isyarat gerakan, kelelawar tersebut melompat ke arah Weiruo. Ketika berada di udara seekor roh bela diri berwujud ular menerjang ke arahnya. Keduanya langsung jatuh ke tanah, ular tersebut langsung melilitkan tubuhnya ketika mereka jatuh ke tanah.

__ADS_1


Da Feng mendarat di samping Weiruo, pemuda tersebut melihat sekitar sebelum beralih pada Gun Donghai.


“Dua orang? Baiklah! Majulah!”


Weiruo berlari saat itu juga, ia mengayunkan pedangnya secara horizontal, tapi Gun Donghai langsung saja menahan serangan gadis tersebut dengan pedangnya.


Da Feng tidak tinggal diam, ia melemparkan jarum-jarum beracun dan menyerang langsung dengan pedangnya.


Jarum-jarum tersebut mengenai tangan Gun Donghai. Namun, tak terlihat sedikitpun kekhawatiran di mata Gun Donghai.


Ketika serangan Da Feng datang, Gun Donghai tanpa keraguan menangkap pedang Da Feng. Tidak ada setetespun darah yang jatuh, tangan Gun Donghai tak terluka sama sekali.


“Teknik Tubuh Baja....”


Da Feng melepas genggaman pada pedangnya, pemuda tersebut meraih belati dan menebas ke arah leher Gun Donghai.


Gun Donghai menghindar dengan gesit, tangannya meraih lengan Da Feng dan melempar pemuda tersebut menjauh sementara tangannya yang lain mendorong Weiruo.


Gun Donghai melepaskan aura membunuhnya, aura yang begitu pekat, bahkan lebih kuat dari Weiruo.


Bahwa dirinya dan Weiruo dapat memenangkan peperangan ini, bahwa dirinya dan Weiruo akan kembali dengan aman ke rumah.


Gun Donghai berteriak dengan semangat membara, pedangnya terayun membelah tanah. Energi itu melesat dengan cepat ke arah Da Feng, beruntungnya pemuda tersebut berhasil menghindar sebelum tubuhnya terbelah menjadi dua bagian.


Serangan Gun Donghai menjadi lebih cepat dan kuat. Baik Weiruo dan Da Feng mulai kesulitan menghadapinya, mereka sedikit demi sedikit mulai terdorong mundur oleh serangan itu.


“Arrgh!”


Darah mengalir dari mulut Da Feng, pemuda tersebut terbaring lemah setelah mendapat pukulan telak di dadanya.


Napasnya terasa begitu sesak, Da Feng berusaha bangkit sekalipun tubuhnya bergetar menahan sakit. Pandangannya sedikit kabur, ia menopang tubuhnya dengan pedang yang kini sudah retak di beberapa bagian.


Gun Donghai memang bukan lawan yang mudah, tapi Da Feng tidak akan mundur hanya dengan serangan itu.


Dia sudah lama mengikuti Weiruo, dia sudah tertular penyakit tidak takut mati milik Weiruo. Rasa takut yang harusnya Da Feng rasakan tidak muncul sama sekali, dia malah bersemangat menghadapi Gun Donghai yang jelas jauh lebih kuat darinya.

__ADS_1


“Kuh ... ha ... hahaha!”


Tawa lepas Gun Donghai terdengar begitu jelas. Dengan mulut bersimbah darah pria tersebut tertawa dan memuji Weiruo yang berhasil memberikan luka dan menanamkan racun pada tubuhnya.


Weiruo tidak peduli dengan ucapan Gun Donghai, gadis tersebut menelan sebuah Pil Energi sebelum kembali menyerang.


Pertarungan menjadi jauh lebih sengit, luka mulai menghiasi tubuh Weiruo dan pakaiannya kini basah entah oleh darahnya atau darah musuh yang dihabisinya.


Da Feng adalah yang paling banyak mendapat luka, pemuda tersebut tidak bisa bergerak secepat sebelumnya karena rasa sakit tiap ia bergerak walau hanya selangkah saja.


Gun Donghai masih terlihat baik-baik saja, walaupun terluka dirinya masih bisa bergerak dengan leluasa, berbeda dengan Weiruo dan Da Feng yang mulai kesulitan melawannya.


Seringai bahagia muncul di wajahnya, pria tersebut begitu terhibur dengan pertarungannya saat ini.


Gun Donghai menahan serangan Da Feng dengan mudah, bibirnya tersenyum bahagia melihat kedua lawannya itu mulai kelelahan dan kesulitan untuk melawan dirinya.


Da Feng secara tiba-tiba tersenyum, sebah jarum ia ludahkan ke mata Gun Donghai. Tak menduga serangan itu, akhirnya Gun Donghai terlambat merespon sehingga jarum tersebut menancap tepat di sebelah kanan matanya.


Gun Donghai mulai kesulitan membuka mata kanannya, rasanya begitu menyakitkan ketika pria tersebut memaksa untuk membuka mata kanannya. Tak ada pilihan lain, akhirnya Gun Donghai hanya bisa menggunakan mata kirinya yang tersisa.


Memanfaatkan kebingungan Gun Donghai, Da Feng menepis pedang Gun Donghai dan menusuk dada pria tersebut.


Sayang sekali, serangan Da Feng tidak terlalu dalam karena tenaganya yang terbatas. Gun Donghai yang murka langsung saja membanting tubuh Da Feng hingga pemuda tersebut tidak sadarkan diri.


Dari belakang Weiruo melompat tinggi, dalam satu serangan pedangnya menembus leher Gun Donghai. Darah langsung mengalir dengan deras dari luka tersebut. Gun Donghai sudah tidak bisa merespon serangan Weiruo, dengan tenaga terakhirnya berusaha meraih tubuh gadis tersebut. Namun, tangannya jatuh sebelum dapat menyentuh seujung pakaian Weiruo.


Weiruo menatap mayat Gun Donghai, masih dengan pedangnya yang berlumur darah, gadis tersebut menusuk dada Gun Donghai hingga menembus ke tanah.


“YINYI! LIHATLAH AKU DARI ATAS SANA! AKU BERHASIL MEMBUNUHNYA!”


Tubuh Weiruo jatuh terduduk lemas, air mata mulai menetes membasahi pipinya. Dendamnya akhirnya terbalas, dendam kematian Yinyi yang membuatnya begitu frustasi akhirnya terbalaskan.


“AAAAAAH!” teriak Weiruo penuh emosi. Setelah menahan diri akhirnya ia bisa berteriak dengan lega. Ketika dendam sudah terbalas, kepalanya terasa begitu ringan.


Akhirnya dengan tangannya sendiri ia menghabisi Gun Donghai.

__ADS_1


__ADS_2