
Weiruo menarik jarum perak dari tangan kiri Fu Yaran. Fu Cheng duduk melihat dari samping dengan wajah yang begitu tegang, bahkan dirinya tak beranjak dari kursi selama berjam-jam hanya untuk melihat Weiruo mengobati putrinya.
“Saya harus mengurangi kadar racun di tubuhnya, ini akan memakan waktu cukup lama,” ujar Weiruo.
“Berapa lama itu? Nona Ruo tidak usah khawatir, aku akan menyiapkan apapun yang kau butuhkan!”
“Mungkin besok pagi.”
“Baiklah! Aku akan segera menyiapkan tempat tinggal untukmu!”
Fu Cheng berjalan keluar dengan tergesa-gesa, pria tersebut tentu ingin menyiapkan yang terbaik agar Weiruo merasa nyaman.
Weiruo tersenyum tipis dan mengeluarkan sebuah buku usang, buku tersebut berisi ratusan resep pil yang sampai sekarang belum sepenuhnya ia coba.
Dengan hati-hati Weiruo membalik halaman demi halaman buku tersebut, mencari resep pil yang dibutuhkan olehnya.
Tangan Weiruo terhenti, tiba-tiba kepalanya terasa begitu sakit. Gadis tersebut memijit keningnya pelan. Weiruo tahu kepalanya terasa begitu sakit bukan karena penyakit atau apa, tapi karena begitu banyak pikiran yang mengganggu dirinya.
...***...
Fu Cheng menemui Weiruo setelah pengobatan putrinya selesai, pria tersebut mengajak Weiruo berbincang cukup banyak hal tentang apa yang terjadi di dunia pendekar dalam beberapa waktu terakhir.
Begitu banyak informasi yang Weiruo dapatkan, semua itu ia ingat dengan baik karena siapa tahu berguna di masa depan nanti.
“Aku memanggilmu kemari sebenarnya bukan karena masalah putriku saja,” celetuk Fu Cheng tiba-tiba.
“Apa maksud anda?”
Fu Cheng menarik napas dalam sebelum menjelaskan tujuan lainnya.
Setelah penyerangan yang menimpa putrinya, mana mungkin Fu Cheng bisa tinggal diam, dalam waktu dekat dirinya akan segera memimpin pasukan untuk menyerang Sekte Laut Darah.
Di Sekte Cakar Naga memang tersedia banyak pil, namun jumlahnya tidak sebanyak yang biasa dimiliki oleh sekte besar setingkatnya, mengingat di Sekte Cakar Naga tidak memiliki satupun ahli pil, semua pil dibeli melalui asosiasi ahli pil.
Dengan sulitnya pasokan pil, Fu Cheng berniat mengajak Weiruo untuk bergabung bersama sektenya. Namun, hanya dalam kurun waktu pertempuran dengan Sekte Laut Darah, setelah itu Weiruo bisa pergi.
“Pertanyaan saya adalah ... bagaimana sekte anda tidak memiliki satupun Ahli Pil, Senior Fu?” tanya Weiruo.
“Itu ... aku sendiri tidak mengerti, sangat sulit mencari Ahli Pil yang mau bergabung, begitu dapat mereka tidak bertahan lama dan pergi dari sekteku,” Fu Cheng sedikit bercerita sembari memandangi langit malam.
“Sebenarnya itu tawaran yang menarik, saya juga memiliki sebuah ‘hal’ yang perlu dilakukan kepada Sekte Laut Darah.”
__ADS_1
“Hmm, menarik. Bagaimana jika kita membuat kesepakatan, Nona Ruo?”
“Kesepakatan? Jangan sampai itu merugikan saya, Senior.” Weiruo menyeruput tehnya dengan tenang.
“Haha, baik aku mengerti. Hmmm ... bagaimana jika kau membantu menyiapkan pasokan pil untuk sekteku, lalu aku akan membantumu membereskan ‘hal’ pentingmu!”
“Sebenarnya kekuatan saya tidaklah seberapa kuat....”
“Keselamatmu akan kujamin, Nona!”
Weiruo tersenyum tipis dan memandangi bulan yang bersinar di tengah gelapnya langit malam.
“Mohon kerja samanya, Senior.”
...***...
“Ada apa, Shulong?” Weiruo menatap Shulong yang berdiri di hadapannya dengan kebingungan.
Sudah tengah malam, tiba-tiba Shulong datang mengetuk pintu kamarnya.
“Aku mendengar semuanya! Kau berencana membalas dendam dan berperang! Aku tidak bisa menerimanya!” ucap Shulong.
“Ya, aku akan berperang karena sebuah dendam! Apa kau merasa tidak senang, Shulong? Di mana kesetiaanmu sebelumnya?” Weiruo bertanya dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
“Haha, aku mengerti, Shulong. Bebaslah! Pergi dariku! Cari Tuanmu! Jangan kembali padaku, Shulong, karena selamanya aku bukanlah Tuanmu!”
Weiruo tertawa lepas, tak peduli jika sudah tengah malam, gadis tersebut terus tertawa hingga membuat Shulong merasa begitu muak.
“CUKUP! Ini adalah pertemuan terakhir kita! Aku pergi!”
Shulong melangkah pergi, pada beberapa langkah pertama Shulong sempat berhenti sebelum kembali melanjutkan langkah dengan lebih cepat.
Weiruo menatap kepergian Shulong tanpa ada keinginan sedikitpun untuk mencegahnya.
“Kaluarlah! Udara malam ini sangat dingin.”
Weiruo melangkah masuk tanpa menutup pintu kediamannya, beberapa saat kemudian Da Feng masuk dan menutup pintu tersebut.
“Kau ... kau gila!” ucap Da Feng penuh amarah.
“Aku? Aku memang sudah gila sejak awal!”
__ADS_1
Weiruo duduk di sebuah kursi dan mengeluarkan sebotol arak, begitu tutupnya dibuka, aroma arak tersebut langsung saja memenuhi ruangan.
“Ayo minum!” ajak Weiruo penuh semangat.
Da Feng menolak ajakan Weiruo, pemuda tersebut hanya duduk melihat Weiruo yang menenggak habis sebotol arak begitu saja.
Weiruo terus berbicara tidak jelas dan tertawa kecil pada Da Feng. Ya, Weiruo memiliki toleransi yang begitu rendah terhadap alkohol. Namun, akhir-akhir ini gadis tersebut begitu sering minum hingga mabuk berat.
“Hahaha, aku ... senang....”
Da Feng mengepalkan tangannya erat, ingin rasanya pemuda tersebut mengumpat. Namun, harus ia tahan sebaik mungkin.
“Kenapa ... kenapa kau bersikap seperti ini? Kau merelakan segalanya, untuk balas dendam....”
“Kenapa? Karena aku memiliki dendam! Aku akan membalaskan kematiannya! Akan kubuat dia menderita sebelum ajal menjemputnya!”
“Tapi apakah harus seperti ini? Kau meninggalkan semuanya demi sebuah dendam?”
“YA!”
Da Feng menahan napas untuk sesaat, pikirannya ikut kacau, pemuda tersebut menyahut botol arak Weiruo dan menenggak habis arak di dalamnya.
“Keputusanmu sangatlah beresiko!”
“Aku menyukai hal beresiko! Tidak usah khawatir, aku akan menjaga diriku. Kau bisa kembali ke istana, sampaikan salamku pada Ibu, lalu kau bisa pergi jika kau mau.”
Weiruo tersenyum tipis, gadis tersebut memang dalam keadaan setengah sadar, tapi masih bisa berbicara dengan begitu lancar.
“Aku mengerti.”
Da Feng berdiri dan meletakkan botol arak yang sudah kosong di atas meja. Pemuda tersebut menghembuskan napas pelan sebelum melangkah pergi meninggalkan Weiruo.
“Kau yakin? Melepaskan semua yang kau miliki?”
“Aku yakin, Da Feng. Tolong sampaikan salamku pada Ibu dan Ayahku, katakan jika aku sangat menyayangi mereka. Lalu, bisakah aku meminta bantuan untuk menyampaikan pesanku pada Shema? Dia sudah bebas dariku mulai sekarang.”
“Aku mengerti. Selamat tinggal, jaga dirimu.”
Da Feng menutup pintu dengan hati-hati. Kini hanya tersisa Weiruo seorang dengan aroma arak yang memenuhi ruangan tersebut.
Weiruo mengeluarkan sebotol arak lagi, tidak peduli jika dirinya sudah menghabiskan lima botol arak, gadis tersebut terus melanjutkan menenggak habis arak dalam beberapa kali teguk.
__ADS_1
“Aku memang sudah gila,” gumamnya pelan. “Aku melepaskan segalanya demi balas dendam ... ya, aku tidak peduli,” lanjutnya.
Weiruo beranjak dari kursi dan berjalan ke arah tempat tidur, gadis tersebut melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan segera memejamkan matanya.