Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 93- Akhir Dari Peperangan III


__ADS_3

Seorang gadis kecil berjalan dengan kesal di belakang seorang pria tua berjenggot panjang di depannya. Di dalam pelukannya seekor burung dengan bulu merah keemasan hanya bisa terdiam tak berani memberontak sedikitpun.


“Shulong, kenapa kau bersikap seperti ini?” tanyanya dengan nada kesal.


Yang ditanya tidak menjawab, pria tua tersebut malah mempercepat langkah kakinya tanpa peduli dengan geraman Laohua.


Laohua memanyunkan bibirnya dan mengekor di belakang Shulong. Ia kesal dan marah, ingin rasanya menendang pantat pria tua tersebut dan berlari darinya. Namun, tidak sekali dua kali Laohua mencoba untuk kabur dan berakhir diseret kembali oleh Shulong.


Mereka sudah melakukan perjalanan yang cukup lama, Laohua begitu penasaran dengan kabar Weiruo sekarang.


“Um?”


Langkah gadis tersebut terhenti. Suara beberapa orang pria telah menarik perhatiannya. Matanya melirik ke arah Shulong pergi, sudah cukup jauh. Gadis kecil tersebut akhirnya diam-diam mendekat dan mencuri dengar apa yang para pria tersebut bicarakan.


“Benar, dia tewas saat membalaskan dendam pelayan setianya!”


“Putri Xuan Weiruo itu ... dalam beberapa waktu terakhir semakin gila! Tak kusangka ia akan berakhir seperti itu.”


“Sudahlah, ayo habiskan minuman kita–”


“Paman sekalian!”


“Ah–astaga! Anak siapa ini?”


Laohua memandangi ketiganya dengan seksama. Tidak ada tanda-tanda jika mereka adalah orang yang jahat, gadis tersebut kemudian bertanya tentang apa yang mereka bicarakan sebelumnya.


Ketiganya saling memandangi dengan kebingungan sebelum akhirnya menceritakan pada Laohua tentang kabar kematian Putri Mahkota Kekaisaran Xifeng yang baru-baru ini tersebar.


Laohua terdiam membeku, tidak ingin mendengar lebih jauh, ia langsung saja berlari ke arah Shulong pergi.


“Shulong! Shulong! Berhenti!” panggilnya.


Shulong menghembuskan napas malas sebelum berbalik.


“Ada apa?” tanyanya, dengan suaranya yang begitu khas.


Laohua tidak menjawab, ia menarik lengan pakaian Shulong dan membawanya ke dalam gang sepi untuk berbicara.


“Ada apa? Harimau kecil, cepat katakan!” perintahnya dengan nada suara tidak bersahabat.


“Apa kau sudah tahu berita yang tengah dibicarakan penduduk kota?” tanya Laohua.


“Apa maksudmu?”


“Nona ... telah tewas dalam sebuah peperangan. Perang antara Sekte Cakar Naga dan Sekte Laut Darah....” Laohua menatap Shulong penuh amarah. “Itu adalah saat di mana kau membawaku!” lanjutnya hampir berteriak karena marah.


“Apa? Tuan Putri tewas?” Shulong bertanya.


“YA, DIA TEWAS KARENAMU! JIKA SAJA KAU TIDAK MEMBAWAKU ... JIKA SAJA KAU TIDAK MENURUTI EGO TIDAK JELASMU ITU....” Laohua tidak bisa berkata lebih jauh.


Laohua mengepalkan kedua tangannya erat, matanya berkaca-kaca, tak lama kemudian ia menangis.


“Aku bertindak seperti ini demi kebaikan kita semua!”


“AKU TIDAK PEDULI! AKU HANYA MAU NONA SEBAGAI TUANKU! HANYA NONA! DIALAH RUMAHKU!” teriak Laohua putus asa.


“Kau pembunuh! Kau yang membunuh Tuanku ... takdir binatang suci ini ... lebih baik aku mati saja jika Nona berakhir seperti ini....”

__ADS_1


Shulong tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya berdiri di sana, memandangi Laohua dan Chie yang tengah dilanda kesedihan.


...***...


Kabar kematian Putri Mahkota tentu menggemparkan seluruh ibukota.


Lalu berita menggilanya permaisuri juga menjadi bahan pembicaraan semua orang.


Permaisuri mereka yang terkenal begitu tenang dan penuh wibawa tak disangka berteriak menolak jasad putrinya sendiri, bahkan mengancam akan bunuh diri jika putrinya dimakamkan di makan keluarga kerajaan.


Hal itu tentu membuat posisi Xuan Riuyi tergeser sehingga posisi permaisuri untuk sementara waktu digantikan oleh Lai Lixue, selir pertama.


Jika Xuan Riuyi masih bersikap demikian, mungkin saja posisinya sebagai permaisuri akan segera jatuh dan tergantikan oleh selir pertama.


Malam itu, di Paviliun Anggrek Hitam, suara gumaman terus terdengar dari kamar milik Weiruo.


Wanita itu berbaring di atas tempat tidur dan terus bergumam memanggil nama putrinya.


Ia tidak akan pernah menerima fakta kematian Weiruo, sebanyak apapun buktinya ia tidak akan menerima hal itu.


“Bibi...,” panggil Da Feng pelan.


“Nak Da Feng....”


Da Feng berjalan mendekat dengan beberapa makanan yang masih hangat.


Matanya menatap Xuan Riuyi penuh rasa bersalah.


Wanita yang biasanya murah senyum itu kini terbaring lemah. Tatapan matanya kosong tanpa adanya keinginan untuk hidup, bibirnya kering, terus memanggil nama sang anak.


“Bibi, minum ini, Bibi pasti haus.”


Wanita tersebut langsung menerima tanpa pikir panjang, setelah sedikit tiupan pelan ia meminum teh tersebut hingga habis.


“Nak ... ayo mencari Ruo'er!” ajaknya.


“Kita akan melakukannya nanti.”


“Nanti? Kapan ... itu....”


Wanita tersebut kehilangan kesadaran, Da Feng langsung menahan tubuhnya, kemudian membaringkan Xuan Riuyi.


“Setelah saya menenangkan diri.”


...***...


Guazi duduk diam di atas batu besar di halaman depan tempat pelatihan.


Ekor harimaunya berayun ke kanan dan ke kiri perlahan. Pemuda tersebut melamun cukup lama di bawah naungan pohon rindang di belakangnya.


Telinganya sedikit bergerak, pemuda tersebut segera turun dan pergi ke gerbang depan.


“Tuan Yu ... Tuan Da Feng tidak ingin siapapun masuk ke tempat ini untuk sementara waktu,” ucapnya.


“Apa? Aku adalah bawahan Nona Ruo, bagaimana bisa aku dilarang masuk?” Yu Shuyan mengelus jenggot panjangnya kesal, tapi ia juga tidak berani melangkah ke dalam.


“Guazi, biarkan Tuan Yu masuk,” suara Da Feng terdengar dari kejauhan.

__ADS_1


Guazi berbalik, menyadari Da Feng berjalan ke arah mereka.


“Baik, Tuan Yu, silakan.” Guazi segera menyingkirkan dirinya dari hadapan Yu Shuyan.


Pria tua tersebut melangkah menghampiri Da Feng. Keduanya berbincang beberapa kalimat sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam.


“Anda berniat memakamnya di sini?” tanya Yu Shuyan.


“Benar. Permaisuri benar-benar menolak keberaan jasad itu. Daripada mengambil resiko yang begitu tinggi, lebih baik seperti ini,” jawab Da Feng pasrah.


Keputusan yang sedikit sulit. Jika warga kota mengetahui hal ini tentu akan merusak nama keluarga kerajaan. Namun, jika ia memaksa pemakaman jasad Weiruo di makam keluarga kerajaan tentu akan membuat Xuan Riuyi menggila dan bukan tidak mungkin melakukan aksi bunuh diri.


“Hm?”


Da Feng bangkit dari tempatnya, ia membuka jendela dan memandangi gerbang masuk.


Seorang pria paruh baya berdiri di sana, seorang diri tanpa satupun pendamping.


Guazi menghadangnya. Seperti yang Da Feng katakan, tidak ada yang boleh melangkah masuk tanpa seizinnya.


Da Feng mengenali sosok itu, Fu Cheng.


Pemuda tersebut tidak bisa berkata-kata lagi, ia turun, lalu menghampiri Fu Cheng yang berdiri tegap di depan gerbang.


“Senior–”


“Tolong terima permintaan maafku!”


Fu Cheng bersujud di hadapan mereka semua.


Da Feng terkejut, buru-buru mengangkat tubuh Fu Cheng agar segera berdiri.


“Senior ... Ini bukan kesalahan anda–”


“TIDAK! SEMUA INI TERJADI KARENAKU! JIKA SAJA AKU TIDAK MENGUNDANG NONA RUO KE SEKTEKU....”


Fu Cheng terduduk lemas, matanya berkaca-kaca. Sebanyak apapun Da Feng mengatakan jika hal itu bukanlah kesalahannya, tetap saja Fu Cheng terus memikirkan hal itu, sudah berhari-hari ini dirinya tidak tidur karena dihantui oleh rasa bersalahnya.


“Bawa aku ... bawa aku menemui Kaisar dan Permaisuri!”


Fu Cheng menggenggam lengan Da Feng memohon padanya. Ia terlalu takut untuk menemui kaisar dan permaisuri, rasa bersalah itu telah membuat keberaniannya hilang begitu saja.


Da Feng mengangguk tanpa bicara. Setelah menenangkan diri, mereka segera pergi ke istana.


Kedatangan mereka cukup menggemparkan seisi istana, baru kali ini mereka melihat langsung sosok Fu Cheng yang terkenal begitu kuat.


Fu Cheng datang dengan niat meminta maaf, ia disambut dengan baik.


Sosok yang dikenal begitu mengerikan itu kini bersujud di hadapan Xuan Riuyi dan sang suami, ia menolak untuk bangkit hingga keduanya menerima satu hal yang tak disebutkan olehnya.


“Baiklah, Tuan Pendekar Fu, kami akan menerimanya, tolong segera bangkit,” ucap Xuan Riuyi pelan.


Mendengar suara wanita tersebut membuat Fu Cheng semakin tak sanggup untuk bangkit.


Jika dia berada di posisi Xuan Guoxin, mungkin dirinya akan murka dan menghajar sosok yang kini bersujud di hadapannya. Namun, Xuan Guoxin terlihat tenang, walaupun sorot matanya menunjukkan kesedihan mendalam.


Pada akhirnya ia bangkit dan kembali mengucapkan permohonan maafnya.

__ADS_1


“Lalu, hal yang akan aku berikan....”


__ADS_2