
Pagi telah tiba dan Weiruo sudah bersiap untuk menemui Fu Cheng di Asosiasi Teratai Biru.
Ditemani Xiao Lang, Weiruo bertemu dengan Fu Cheng. Seperti yang dirumorkan, Weiruo bisa melihat ketidakramahan di wajah pria tersebut.
Pada awal keduanya bertemu, Fu Cheng tidak berbicara sepatah katapun, begitu juga Weiruo, gadis tersebut diam dan menunggu Fu Cheng memulai percakapan karena pada dasarnya Fu Cheng lah yang membutuhkan dirinya.
“Nona, langsung saja pada intinya, aku ingin membeli Bunga Cahaya Bulan, setidaknya yang berumur 10 tahun,” Fu Cheng akhirnya buka suara dan langsung mengatakan apa tujuannya.
“Tentu aku memiliki apa yang Tuan Fu inginkan.” Weiruo mengeluarkan Bunga Cahaya Bulan berumur 20 tahun dan meletakkannya di atas meja, dirinya sudah kehabisan bunga berusia 10 tahun.
Fu Cheng sedikit terkejut, pria tua tersebut tidak menyangka Weiruo bisa dengan mudahnya mengeluarkan Bunga Cahaya Bulan berusia 20 tahun di hadapannya tanpa memikirkan jika Fu Cheng mengambilnya dan pergi begitu saja.
“Nona, berapa harga bunga ini?” tanya Fu Cheng.
“Berikan harga yang sesuai,” jawab Weiruo cepat.
Fu Cheng terkejut, itu artinya pria tua tersebut harus menentukan harga yang pantas untuk setangkai bunga di hadapannya sekarang.
Fu Cheng mengerti jika perbedaan satu tahun pada tanaman spiritual sudah dapat menaikkan harganya hinga ribuan koin emas. Di hadapannya sekarang terdapat Bunga Cahaya Bulan berusia 20 tahun yang tentu memiliki harga yang tidak biasa.
“Dua belas ribu, apa masih kurang?”
Weiruo mengetuk pelan pegangan kursi, dengan cepat Fu Cheng memahami maksud Weiruo dan menaikkan harga menjadi 15.000 koin emas.
Belum sempat Weiruo berbicara, suara ketukan pintu terdengar, karyawan di luar mengatakan jika ada seseorang yang ingin menemui Fu Cheng dan mengatakan jika Fu Cheng mungkin tidak bisa menolaknya.
Fu Cheng meminta maaf pada Weiruo sebelum beranjak dari tempatnya dan menemui orang yang sudah menunggu Fu Cheng.
Weiruo berbalik, melihat Fu Cheng yang berusaha menenangkan seorang balita.
“Tuan Fu, tidak apa untuk membawa mereka masuk,” ucap Weiruo.
Fu Cheng yang mendengar itu kemudian mengajak seorang wanita untuk masuk ke dalam sembari menggendong balita yang terus menangis.
Gadis kecil di gendongan Fu Cheng terus merengek dan terus memanggil Fu Cheng dengan sebutan kakek.
__ADS_1
“Nona, maafkan saya yang mengganggu pertemuan anda,” ucap seorang wanita yang datang bersama gadis kecil tersebut.
“Jika benar-benar harus bertemu, aku merasa tidak masalah.”
Weiruo mengalihkan pandangannya pada gadis kecil di pelukan Fu Cheng, terdapat bercak-bercak hitam di sekitar lengan dan leher gadis kecil tersebut. terlihat Fu Cheng mengelus punggung gadis kecil tersebut pelan sembari menyanyikan lagu pengantar tidur dengan suara pelan.
Gadis kecil tersebut akhirnya tertidur setelah cukup lama berada di pelukan Fu Cheng, kemudian Fu Cheng menyerahkan gadis kecil tersebut ke pelukan wanita yang duduk di sampingnya.
“Tuan Fu, sepertinya ada yang tidak beres dengannya,” celetuk Weiruo karena melihat gadis kecil tersebut terlihat tidak nyaman.
Fu Cheng menghembuskan napas pelan, matanya mengisyaratkan sebuah kesedihan mendalam.
“Dia cucuku, tepat sebulan yang lalu terjadi sebuah penyerangan yang membuatnya harus menahan sakit demi menghadapi racun di dalam tubuhnya.” Fu Cheng mengelus wanita yang duduk tepat di sampingnya, yang ternyata adalah putri semata wayang Fu Cheng.
“Putri dan cucuku....” Fu Cheng tersenyum lembut sembari mengelus pucuk kepala wanita tersebut.
“Maaf jika aku menghabiskan waktu Nona, untuk Bunga Cahaya Bulan ini....”
“Tuan Fu, mari membicarakannya secara pribadi.” Weiruo tersenyum tipis.
“Aku baru ingat jika bunga yang dijual kemarin paling murah seharga 70.000, aku akan memberikan harga yang sesuai.”
Weiruo menyerahkan bunga tersebut, membuat Fu Cheng merasa bingung karena sebelumnya Weiruo menolak harga 15.000 koin emas darinya.
“Lima belas, sembuhkan cucu dan putri anda.”
Tubuh Fu Cheng bergetar, nampak terkejut dengan ucapan Weiruo barusan.
“Putriku ... dia kehilangan suaminya, tubuhnya terkena racun yang terus menggerogoti tubuhnya.” Fu Cheng tersenyum kecut, kesedihan terlihat jelas di matanya.
“Tuan Fu adalah seseorang yang kuat, aku yakin anda bisa menyembuhkan putri dan cucu anda.”
Fu Cheng segera membayar Bunga Cahaya Bulan dan mengatakan jika dirinya mungkin akan bertemu Weiruo lagi di masa depan.
Setelah Fu Cheng pergi, Weiruo tidak ingin berlama-lama dan segera pergi dari tempat tersebut.
__ADS_1
“Ini.”
Xiao Lang menerima sekantung uang dari Weiruo, keduanya berbicara beberapa hal sebelum akhirnya berpisah.
“Aku sudah mengatakan pada Yinyi untuk tidak menungguku.”
Weiruo tersenyum kecil sebelum kembali melanjutkan langkahnya, karena dirinya sudah mengatakan jika akan pergi seharian, maka Weiruo bisa dengan leluasa pergi ke manapun.
Dengan semua uang yang dimilikinya, Weiruo tidak perlu berpikir tentang harga ketika membeli barang.
Pakaian, makanan, aksesoris, dan banyak barang Weiruo beli dari toko-toko di jalan yang dilewatinya. Namun, bukannya memilih untuk dirinya sendiri, Weiruo membelikan semua barang tersebut untuk ibunya dan Yinyi.
Setelah membeli cukup banyak barang, Weiruo melanjutkan perjalanannya, tapi kini dengan tujuan berbeda, mencari penginapan di mana Ye Jinhai dan Ye Nian tinggal.
Weiruo sebelumnya sudah meminta Xiao Lang untuk membantunya mencari, untung saja Xiao Lang berhasil mengetahui penginapan tempat Ye Jinhai tinggal.
“Kakak!” panggil Ye Nian melihat Weiruo yang datang ke tempatnya.
Weiruo menyapa Ye Nian sebelum bertemu Ye Jinhai, gadis tersebut mengajak Ye Jinhai untuk berbicara empat mata.
Ye Jinhai tidak tahu apa tujuan Weiruo sehingga begitu kebingungan, tapi pria tersebut tetap melakukan apa yang dikatakan Weiruo dan mengajaknya ke restoran yang terletak tidak jauh dari penginapan tempatnya tinggal.
Weiruo memesan satu ruang makan pribadi dan mengajak Ye Jinhai untuk berbicara sejenak.
Setelah berbincang sesaat, Weiruo mengeluarkan sebuah kotak kayu dari cincin ruang. Ye Jinhai tentu terkejut karena cukup mengenali kotak tersebut.
“Saya harap bisa bertemu Ye Nian dalam keadaan yang sehat.” Weiruo tersenyum tipis sebelum berpamitan.
Ye Jinhai yang sebelumnya masih terkejut dengan apa yang ada di berikan oleh Weiruo segera kembali ke alam sadar dan menyusul gadis tersebut.
“Terima kasih! Sungguh aku berterima kasih padamu.” Ye Jinhai hendak berlutut, tapi Weiruo sudah lebih dulu mencegahnya dan meminta agar Ye Jinhai segera membuat obat untuk Ye Nian.
“Nona, jika kau menemukan kesulitan di masa depan, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membantumu.”
Weiruo mengangguk sebelum pergi meninggalkan Ye Jinhai yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Karena sudah cukup lama berjalan-jalan, Weiruo memutuskan untuk kembali ke istana. Namun, sebuah dorongan membuat gadis tersebut langsung menghentikan langkahnya.